Archive for the Category »Travel «

Grand Palace, Pagoda, dan Pattaya
Esok harinya kami check out dari hotel, karena nanti malam kami akan nginap di tempat lain. Ada cerita lucu di sini. Seperti hotel2 lain, di masing-masing kamar disediakan sandal kamar. Nah sandal kamar di hotel ini bagus banget. Modelnya seperti anyaman, dan warnanya merah maroon. Aku sempet naksir dan berniat membawanya, karena setau aku, sandal kamar itu biasanya boleh dibawa pulang. Tapi mengingat kapasitas tasku yang semakin berkurang karena diisi beberapa oleh-oleh, aku mengurungkan niatku. Sebelum pergi, kami sarapan dulu di restoran hotel. Di sini seorang temenku yang muslim sempat salah ambil makanan haram, dan setelah dia tau kesalahannya, dia menjadi mual-mual terus. Rupanya dia lupa peringatan tour guide kami pada hari sebelumnya, supaya kami berhati-hati jika mau makan. Selesai sarapan, kami menunggu di lobby hotel. Di sinilah kami mendapat pesan dari pihak hotel, bahwa jika ada yang membawa sandal hotel, mohon agar membayarnya. Jika tidak mau bayar, mohon dikembalikan ke kamar hotel.. Hahaha.. ternyata banyak temenku yang membawa sandal itu dalam tasnya. Karena mereka punya pikiran yang sama denganku, bahwa sandal itu gratis dan boleh dibawa. Seorang temen bilang, biasanya dia gak pernah bawa sandal hotel. Tapi karena sandal yang ini modelnya bagus, dia pun tertarik membawanya. Akhirnya dengan menahan malu, beberapa temenku itu mengembalikan sandal-sandal itu kembali ke kamar. Ada-ada aja ya..
Kami lalu berangkat. Tujuan pertama adalah Grand Palace. Di sini banyak bangunan2 indah yang layak dilihat, dan difoto.

5-palace

Ada juga sebuah tempat untuk berdoa bagi mereka. Kami yang tidak tau itu tempat apa, ikut2an ngantri bersama orang-orang untuk masuk ke tempat itu. Begitu udah sampe dalam, aku berkata dalam hati, lho kok cuma gitu doang? Oh ya, di lokasi ada jasa penyewaan pakaian tradisional Thailand, untuk kemudian difoto. Ada juga jasa foto bersama dengan latar belakang istana, sambil membawa spanduk yang bertuliskan ucapan selamat datang (atau sejenis itu, aku udah lupa :-D ). Nantinya kita akan disuruh membayar foto itu.
Setelah dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke Pagoda yang aku lupa namanya. Untuk menuju ke sana, kami harus naik perahu. Di perahu itu ada seorang wanita yang memegang banyak rangkaian bunga. Lalu guide kami menjelaskan, bahwa wanita itu akan mengalungkan rangkaian bunga itu kepada kami. Tapi tidak gratis. Nanti kami akan diminta membayarnya. Jadi kalo memang tidak berniat membayar, lebih baik menolak kalungan bunga itu. Hohoho.. ini mah namanya jual paksa rela. Tapi karena harganya tidak terlalu mahal, maka kebanyakan dari kami menerima kalungan bunga itu dan membayarnya. Sesampai di Pagoda itu, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat. Puncaknya ternyata sangat tinggi. Aku cuma naik sampe setengah jalan, nggak berani sampe ke atas. Hmm.. ternyata aku phobia ketinggian :-) Di lokasi itu ternyata ada juga tempat yang menjual souvenir. Yang belum puas belanja tadi malam, silakan belanja lagi.

6-pagoda

Setelah selesai melihat2, kami naik bis dan pergi ke sebuah kebun binatang yang ada atraksi sejenis sirkus. Di sana kami melihat atraksi harimau dan buaya. Waktu aku nonton atraksi buaya yang berlangsung di sebuah kolam, dan ngeliat orangnya sampe terpeleset dan terjatuh-jatuh, yang terlintas di pikiranku adalah, “Susah yang cari duit. Sampe mempertaruhkan hidup begitu, main-main dengan buaya.”

6-buaya

Dari kebun binatang itu, kami lalu naik bis menuju Pattaya. Ini adalah sebuah kota di Thailand yang terkenal dengan kehidupan malamnya, jika kamu tau yang kumaksud. Di sini ada klab-klab malam yang menampilkan atraksi2 dewasa, baik dari wanita beneran, atau dari waria-waria cantik. Setelah check ini di hotel, dan dilanjutkan makan malam, guide lokal kami mengajak rombongan untuk menonton atraksi itu. Tapi nggak tau ya, apakah karena memang para peserta tour itu kebetulan orang-orang yang tidak suka dugem, atau hanya karena sungkan dengan para wanita peserta tour, ternyata yang mau ikutan si guide itu hanya 3 orang. Dari 27 orang peserta tour. Hmm.. aku cukup salut dengan temen2ku itu. Dan aku jadi sebel ama agen tour yang bikin jadwal acara ini. Seharusnya kalo memang peserta tour tidak berminat nonton atraksi2 itu, gak usah dijadwalkan dalam agenda. Kan lebih baik kami mendatangi lokasi wisata lain. Akhirnya selama menunggu beberapa temen yang nonton atraksi dewasa itu, kami yang lain hanya berputar-putar di pasar yang ada sekitar klab. Setelah selesai, kami pun kembali ke hotel.

Belanja dan Belanja Lagi, dan Kembali ke Tanah Air
Esok harinya, kami check out, untuk menuju Bangkok lagi. Bener2 gak ada gunanya dateng ke sini, selain cuma jadi catatan bahwa aku pernah ke kota ini. Dalam perjalanan, kami singgah di 4 tempat belanja. Yang pertama ada sebuah tempat pembuatan perhiasan dari batu-batu berharga. Tentu saja harganya mahal-mahal. Secara aku bukan pemakai perhiasan, aku gak tertarik beli. Jadi cuma liat-liat doang. Oh ya, ada anggota rombongan yang merupakan suami istri. Lucunya, sementara si istri lagi asik ngeliat-liat perhiasan, diam-diam si suami keluar dari ruangan dan duduk di kursi depan toko, di sebuah tempat yang tidak begitu gampang dilihat orang. Ketika aku keluar toko dan kebetulan bertemu orang itu, aku bilang bahwa dia dicari-cari istrinya di dalam. Dianya cuma senyum-senyum, lalu bilang memang dia sengaja berpisah dari istrinya. Katanya, dari pada nantinya nggak tega nolak permintaan istrinya untuk dibeliin perhiasan, mendingan menghindar saja. Hihihi.. lucu juga.
Btw, di depan toko perhiasan itu, banyak kendaraan2 umum khas Thailand yang bentuknya antik.

7-antik

Setelah dari sana, kami mampir di tempat penghasil madu dan olahannya. Ada madu yang masih berwujud seperti aslinya, ada royal jelly yang udah diolah dalam bentuk kapsul, ada produk2 kecantikan seperti pelembab muka, dll. Harganya lumayan mahal juga euy… Tempat selanjutnya yang kami datangi adalah sebuah toko yang menjual beraneka makanan khas Thailand. Ada yang terbuat dari buah-buahan, ada yang dari hewan darat/laut. Di setiap makanan itu ada sample yang dapat dicicip. Di sini lagi-lagi ada seorang teman yang tidak berhati-hati, sehingga tercicip oleh dia suatu jenis makanan haram. Setelah menelannya, baru terbaca oleh dia terbuat dari apa makanan yang dia cobain tadi. Halah.. jangan2 dia kemaruk. Mentang-mentang sample gratis, maunya dicobain semua :-D .
Tempat terakhir yang kami datangi adalah sebuah kompleks pertokoan dan mall. Barangkali masih ada yang belum puas beli oleh-oleh, diberikan kesempatan untuk belanja-belanja lagi, untuk ngabisin baht yang masih ada, dari pada dibawa pulang kembali.
Selanjutnya kami menuju bandara. Makan malam di bandara. Lalu terbang ke Jakarta. Nyampe kembali ke tanah air sudah tengah malam. Lalu melanjutkan perjalanan naik bis menuju Bandung.

Akhir Cerita yang Tidak Begitu Happy
Setelah bis berhenti di suatu tempat yang jadi base camp kami, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Aku pulang menggunakan taxi. Setelah sampai ke rumah, pas mau bayar, aku bingung nyari2 dompetku. Karena agak lama, si supir pun bertanya, “Kenapa, Mbak?” “Ini, Pak. Dompet saya kok nggak ada di tas ya.” Si supir lalu berbaik hati ikut mbantu nyariin, barangkali jatuh ke lantai mobil. Tapi memang nggak ada. Untungnya aku inget bahwa aku naruh sebagian uang di tas baju. Aku pun ngambil uang itu untuk bayar ke supirnya. Lalu aku turun dan masuk rumah. Di dalam rumah, kembali aku nyari2 dompet itu di tasku. Sampe akhirnya aku yakin bahwa dompet itu beneran hilang. Terakhir aku megang dompet itu waktu di pesawat, waktu aku hendak ngeluarin uang untuk bayar snack. Mungkin waktu aku memasukkan dompet itu kembali ke tas, naruhnya nggak pas, jadi malah jatuh. Soalnya seingatku, selama perjalanan setelah turun pesawat sampe ke Bandung lagi, aku tidak pernah desak-desakan ama orang, sehingga kemungkinan bahwa aku dicopet kok kayaknya kecil ya. Dan pagi-pagi buta itu pun jadi pagi yang sibuk buat aku. Nyari2 buku tabungan dan lembar tagihan kartu kredit (untuk dapetin nomor kartu kreditku), lalu menelepon ke call center bank-bank itu untuk melaporkan kehilangan serta minta pemblokiran. Lalu berusaha menelepon temen seperjalananku, nyari info nomor telepon tour guide kami, untuk ndapetin nomor telepon agen bis yang membawa kami. Meski kemungkinan kecil, tapi siapa tau dompet itu jatuh di bis. Dan memang akhirnya info yang aku dapet, gak ada dompet jatuh di bis.
Ngomong-ngomong, hari itu udah hari Senin, dan aku udah harus masuk kerja lagi. Dan siangnya aku lalu minta ijin untuk mulai ngurus segala-segala yang hilang itu: KTP, SIM, STNK, kartu ATM, dan kartu kredit. Huuh.. ribet juga ya.. Makanya jangan mau deh kehilangan dompet. Repot :-( . Tapi ya sudahlah, lain kali aku harus lebih hati-hati.

Akhirnya selesai juga tulisan ini. Hehehe.. panjang bener ya.. Untung hari ini libur, jadi sempet bikin tulisan ini.. :-)

Category: Travel  Tags: ,  2 Comments

Ini cerita perjalanan setaun yang lalu, tanggal 19 – 22 Juni 2008. Waktu itu dengan temen2 dari sebuah komunitas, kami melakukan perjalanan untuk tujuan benchmark ke Batam. Lalu nyambung jalan2 ke negara tetangga. Btw, seperti sudah kubilang, aku pergi bersama sebuah komunitas, urusannya juga urusan komunitas, bukan urusan kantorku. :-)
Tulisan akan kubagi menjadi beberapa sub bagian. Sebagian besar adalah tentang apa yang kurasakan dan kualami. Selamat membaca..

Mereka Bilang Aku Hilang
Hari pertama, 19 Juni 2008.
Perjalanan dari Bandung dimulai sekitar jam 01.30 dini hari, karena kami berencana menggunakan pesawat yang berangkat dari Jakarta sekitar jam 5 – 6 pagi (udah lupa persisnya). Temen2 seperjalananku adalah orang-orang yang baru pernah kutemui 1 kali, dan paling banyak 2 kali (pertemuan pertama adalah pada saat pengarahan tentang perjalanan ini). Jadi wajar aja kalo kami belum saling hapal wajah2 temen yang lain. Pada saat di bis menuju Jakarta, guide kami bilang, tiket pesawat kami tidak ada nomor kursinya. Jadi nanti kami bisa duduk di mana aja. Tapi kalo mau, masih dimungkinkan ngetekin tempat buat temen yang belakangan. Sampai di bandara, setelah check in dan ngurusin bagasi (dibantu oleh orang dari tour and travel), kami berjalan menuju pesawat. Karena antrian lewat pintu masuk depan nampak agak panjang, aku memilih masuk melalui pintu belakang pesawat. Dan karena seingatku tadi si guide-nya bilang bahwa tempat duduknya bebas, aku pun duduk di kursi kosong yang di belakang. Aku pikir, daripada aku jalan ke depan lagi, trus di sana gak nemu tempat kosong, ntar malah harus kembali ke belakang lagi. Setelah agak lama duduk, dari arah depan, ada seorang ibu berjalan ndeketin aku. Aku ingat dia adalah salah satu anggota rombongan kami, meski aku belum tau namanya. Dia nanya ke aku, “Anisah ya?” “Iya,” jawabku. “Oh.. itu temen2 di depan nyariin, dikira ketinggalan di mana, kok gak bareng ama yang lain,” kata dia. Aku pun jadi bengong. Setelah kami mendarat dengan selamat di Batam, baru aku denger cerita lengkap versi mereka. Rupanya si guide dan beberapa temen yang berhasil naik pesawat duluan telah mengetek tempat duduk sesuai jumlah rombongan. Dan karena aku misah sendiri duduk di belakang, sehingga ketika dihitung, jumlah anggota rombongan kurang 1, mereka ngira ada yang ketinggalan di bandara. Yang lebih bikin susah, mereka nggak inget yang nggak ada itu wajahnya seperti apa. Huehehehe.. lucu banget. Aku membela diri dengan berkata, “Lho katanya duduknya bebas, bisa di mana aja.” Gara-gara kejadian itu, sepanjang sisa perjalanan, aku yang paling dicari duluan kalo kami mau pindah-pindah lokasi. Gak papa lah, jadi beken.. :-D

Kunjungan Kerja di Batam *halah*
Sampe di Batam, setelah menaruh barang di hotel, kami melakukan kunjungan kerja di 2 -3 perusahaan di sana. Di salah satu perusahaan manufaktur, tamu yang hendak melakukan benchmark ke pabrik harus mengenakan sepatu khusus yang tujuannya untuk menjaga kebersihan ruangan kerja. Bentuknya lucu, kayak sepatu bayi :-)

1-sepatu

Sore dan malamnya, kami punya waktu untuk jalan-jalan di kompleks pertokoan di Batam. Beberapa temen sudah belanja oleh2 makanan untuk temen-temen kantornya. Hehehe.. baru nyampe Batam kok udah beli oleh-oleh makanan. Padahal perjalanan masih jauh. Tapi rupanya justru itu disengaja mereka. Bahkan ada temen yang langsung memaketkan oleh-oleh itu ke Bandung, supaya tidak repot bawa-bawa kemana-mana (di masa itu belum ada lagunya Mbah Surip yang “Tak gendong kemana-mana” itu). Hmm..mungkin karena mereka pikir lebih murah beli oleh-oleh di Batam, dari pada nantinya harus beli oleh-oleh di luar.. Eh.. tapi ini cuma perkiraan aku lho.. :-D

Berangkat ke Singapura
Hari kedua, 20 Juni 2008.
Esok paginya, setelah sarapan, kami ke pelabuhan Batam Center untuk naik ferry ke Singapura. Di pelabuhan itu, beberapa temen sempet heboh karena ngeliat ada Jonathan Frizy mau nyeberang juga. Oh ya bagi yang nggak tau, Jonathan Frizy itu salah satu pemain sinetron yang cukup ngetop. Lalu ada temen (perempuan, tentu saja), memberanikan diri ndeketin si Jonathan itu dan minta foto bareng. Begitu si Jonathannya bersedia, beberapa yang lain ikut2an mendekat dan minta foto juga. Temen yang laki2 cuma ngeliat sambil senyum-senyum, atau bantuin memoto. Aku ditanyain mereka, “Gak mau ikutan foto?” Aku jawab, “Nggak ah, malu ikut2an heboh gitu.” Lagian, cuma Jonathan Frizy gitu lho.. Kalo misalnya si.. ah sudahlah.. ntar pada bosen kalo nama itu disebut lagi.. hahaha…
Aku cuma mikir, ternyata jadi seleb itu harus ramah ya.. Kayak si Jonathan itu, lagi mau nyeberang pun harus meluangkan waktunya buat ngelayani permintaan foto dari para fansnya..
Btw, pada saat ferry mau berangkat, terlihat sebuah pelangi di langit yang memang sedang hujan rintik-rintik. Dan hey.. bukankan lebih menarik memotret pelangi daripada memotret seleb?

2-pelangi

Beberapa Jam di Singapura
Setelah sampe di Singapura, seperti biasa, kunjungan standarnya adalah ke patung singa berekor ikan di Merlion Park. Untung kali ini aku ikut rombongan tour yang mana sudah disediakan bis untuk ke taman itu. Soalnya pengalaman 2 tahun sebelumnya, dua kali ke tempat itu dengan menggunakan taxi, supir taxi selalu bingung waktu aku dan temenku menyebutkan bahwa kami mau ke Merlion. Sampe kami harus menjelaskan bahwa kami hendak ngeliat patung yang jadi lambang kota Singapura.

3-merlion-park

Ngomong-ngomong, kayaknya patung itu lebih indah jika dilihat pada malam hari. Karena ada banyak lampu di sekitarnya.

Setelah dari Merlion Park, kami diajak ke sebuah tempat belanja yang katanya barang2nya original (aku lupa namanya). Tapi harganya mahal. Abis itu, baru kami diajak ke Bugis Junction. Sebuah tempat belanja juga, tapi kelasnya agak murah. Kalo mau cari2 souvenir, mending ke sini aja. Atau ke sebuah pertokoan yang dikenal dengan nama Mustapha. Di 2 tempat itu, bisa didapat oleh-oleh yang harganya agak miring. Tapi tetep.. bayarnya pake dollar Singapura :-D
Setelah belanja-belanja dan dilanjutkan makan siang di sebuah tempat makan yang terletak di Jalan Pisang, kami kemudian ke Bandara Changi, untuk terbang ke tujuan berikutnya, yaitu Bangkok. Ini pertama kalinya aku masuk ke bandara itu. Sebelum-sebelumnya, aku cuma pernah naik ferry Batam – Singapura – Batam.

4-changi

Pasar Malam di Bangkok
Kami mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok menjelang malam. Di sini juga sudah ada bis yang menjemput kami. Dan sebelum masuk pintu bis, ada seorang gadis Thailand mengenakan busana daerah yang mengalungkan rangkaian bunga kepada tiap kami, dan ada petugas yang memfotonya. Rupanya itu salah satu layanan dari agen tour kami. Sayangnya pas sampe giliranku, ternyata bunga udah habis. Aku memang berada di urutan belakang, karena sibuk moto-moto suasana bandara :-D . Oh ya, di sini kami mendapat seorang guide lokal, orang Thailand, tapi bisa berbahasa Indonesia, meski dengan logat yang lucu.
Setelah semua naik bis, kami menuju hotel. Di tengah jalan, kami singgah makan malam dulu. Btw, seharian itu kami seperti businessman yang sibuk. Sarapan di Batam, makan siang di Singapura, lalu makan malam di Bangkok. Sesampai di hotel, kami mendapat kamar, beberes, lalu diajak keluar lagi untuk ngeliat Suan Lum Night Bazaar. Tujuannya tidak lain selain nyari souvenir2 khas Thailand. Di sini ada kejadian lumayan lucu. Jadi ada temen saya, perempuan tentu saja, sangat ngotot waktu menawar barang. Ngotot dan ribut. Jadi pada saat dia menawar gantungan2 kunci dengan keukeuh, si staf tokonya rupanya agak pusing dengan kerewelan dia, jadi asal bilang iya aja. Karena dia dapet harga murah, wajar dong kalo aku jadi tertarik ikutan. Eh pas aku mau beli barang itu juga, si pemilik tokonya gak mau ngasih harga yang sama dengan harga yang didapat temenku itu. Ketika aku bilang bahwa barusan saja temenku beli dengan harga murah, dia nampak kesal. Dia bilang, stafnya telah salah kasih harga ke temenku itu. Dia bilang telah memarahi stafnya itu, dan dia gak akan mau ngasih harga segitu ke aku. Hohoho.. kok dia keselnya ke aku.. Ya sudahlah, aku batal beli barang itu. Meski setelah nanya ke beberapa toko lain, terbukti bahwa temenku itu memang dapet harga yang terlalu murah. Pantesan si pemilik toko itu mukanya jadi masam gitu.

Bersambung..

Category: Travel  Tags: , ,  2 Comments

Sebenarnya acara di Jakarta itu sudah kami ketahui dari seminggu sebelumnya. Tapi undangan resmi beserta info jumlah peserta yang boleh diajak baru kami dapatkan pada hari Senin tanggal 15 September 2008. Jadi baru pada hari itulah aku dan Bu Deby merencanakan perjalanan. Memesan bus, mendata nama-nama peserta, dll. Khusus untuk peserta, tidak susah kami dapatkan. Berbagai media tersedia, dari mulai via telepon atau SMS, FlexiMilis, dan yang paling up to date adalah via plurk. Ya, ternyata plurk itu berguna untuk mengundang orang pada saat kita gak tau nomor telepon dan alamat emailnya. Makasih buat Mas Amal yang merespon secara positif undangan kami meski hanya via plurk :-D Jadi kami pun berangkat hari Rabu tanggal 17 September 2008, sekitar jam 12 siang. Agak meleset dari jadwal jam 11.30, karena ada sedikit sambutan dari perwakilan manajemen. Total yang berangkat 24 orang, berkurang dari rencana semula 28 orang. Btw, sampai Rabu pagi jumlah peserta terdaftar masih 28 orang. Sedangkan kapasitas bis hanya 27 orang. Aku udah sempet menyatakan pengunduran diri. Tapi ternyata menjelang detik-detik keberangkatan, beberapa Flexter menyatakan berhalangan, sehingga akhirnya aku pun terbawa. Oh ya, 24 orang itu terdiri dari 2 orang dari Telkom DIVRE III, 3 orang dari Telkom RDC, 7 blogger (dari Batagor dan BBV) dan 12 Flexter. Dari 7 blogger itu ternyata 6 di antaranya adalah mahasiswa/alumni STT Telkom a.k.a IT Telkom. Sehingga terdengar candaan bahwa ini adalah rombongan wisata IT Telkom. Ditambah lagi 3 dari 5 orang Telkomnya pun merupakan lulusan STT Telkom. Tapi ini hanyalah kebetulan semata, tidak ada unsur rekayasa. :-D Kami sempet istirahat sholat sebentar di salah satu rest area di tol Cikampek. Kemudian kami sampai di pintu tol Pondok Gede sekitar jam 14.15. Terperangkap dalam kemacetan Jakarta, kami sampai di lokasi acara yaitu Café Manchester United Sarinah sekitar jam 15.30. Setelah selama beberapa saat harus antri untuk mengisi buku tamu, akhirnya kami bisa masuk ke dalam café itu. Tentu saja tidak ada makan-makan, karena bulan puasa. Kami hanya duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol. Tamu-tamu lain makin banyak yang berdatangan, dari berbagai komunitas. Eh.. kayaknya dari tadi aku belum menyebutkan acara apa ini sebenarnya. Ini adalah launching situs Pasar Kreasi, penyerahan hadiah lomba Flexter Blogging, dimulainya lomba fotografi, yang dikemas dalam suatu acara berjudul “Silaturahmi Komunitas Kreatif”. Jika dulu penghuni situs MyFLexiLand dijuluki Flexter, maka penghuni situs Pasar Kreasi diberi nama Komunitas GEMA++ (Games, Edutainment, Music, Animation, Graphic Design, Photography).
Berbagai komunitas itu membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai minatnya. Kecuali Mas Koen yang mungkin karena merasa sebagai tuan rumah, sehingga berusaha hinggap di berbagai meja untuk menyapa banyak orang. Meski akhirnya dia berakhir duduk bersama komunitas yang paling sesuai dengan jiwanya, yaitu komunitas blogger. Acara secara keseluruhan biasa-biasa saja, seperti yang ditulis Pak Budi Rahardjo. Apalagi karena mulainya yang terlambat dari jadwal, maka ada beberapa acara yang dipadatkan, bahkan dihilangkan. Ada sambutan2 pejabat Telkom yang nampaknya kurang begitu didengarkan karena semua asik ngobrol sendiri-sendiri, penyerahan hadiah lomba Flexter Blogging, dan peresmian situs Pasar Kreasi yang ditandai dengan ditekannya tombol sirene oleh perwakilan komunitas GEMA++, Flexter dan Blogger. Yang cukup menghibur bagiku hanya penampilan band KANDA yang kabarnya baru akan meluncurkan albumnya menjelang lebaran. Btw, band KANDA adalah singkatan dari Kami ANak bersauDAra. Jadi personelnya merupakan kakak adik dalam satu keluarga.
Menjelang saat adzan maghrib, acara seremonial itu berakhir. Para undangan dipersilakan mengambil hidangan buka puasa. Ada satu kejadian lucu di sini. Pak Jojo, salah satu rekan kami dari RDC, memang tidak menjalankan puasa. Jadi setelah mengambil air minum, beliau langsung meminumnya. Aku yang melihatnya lalu mengingatkan, “Pak, jangan minum dulu.” “Lho kan udah adzan?” tanya beliau. “Belum, Pak. Mereka baru antri ngambil makanan, tapi sebenernya belum adzan. Takutnya nanti orang-orang lain menyangka udah adzan, lalu ikut-ikutan minum. Kan kasian..” Beliau pun terlihat malu dan meletakkan gelasnya. Hihihi.. gak papa sih Pak, namanya juga gak tau.. :-D Setelah makan dan sholat maghrib, rombongan dari Bandung pun pamit. Perjalanan masih jauh, dan esok harinya masih harus masuk kantor. Sempet terjebak macet di sekitar KM 44 – 48, dan sejenak mampir istirahat di KM 57, akhirnya kami sampai kembali di kantor Flexi Center Juanda sekitar jam 12 malam. Itu pun belum selesai. Banyak yang masih harus menempuh perjalanan ke Dayeuh Kolot, Cimahi, dll. Huh.. memang hari yang melelahkan. Untuk itu aku harus mengucapkan terima kasih kepada mereka-mereka yang telah bergabung bersama kami, merelakan waktu kerja, waktu kuliah, atau waktu luangnya untuk ikut pergi ke Jakarta. Catatan khusus buat Diki yang sampe bela2in kerja selama di bis, demi bisa ikutan tapi tanpa mengabaikan kewajiban pekerjaan. Menempuh total waktu 12 jam, sementara efektif di acaranya hanya sekitar 3 jam. Tapi syukurlah dari beberapa orang yang bicara, mereka menyatakan bahwa hari itu menyenangkan. Mungkin bukan karena acaranya, tapi kesempatan bertemu temen2 dari kota lain dan bertukar pikiran dengan mereka. Apapun itu, semoga mereka gak kapok kalo lain kali diajak capek-capek kayak gini lagi. :-D Oh ya, ucapan terima kasih juga layak disampaikan kepada panitia acara, khususnya Cak Usma. Dengan segala ketidaksempurnaan acara, kami harap Cak Usma tidak kapok mengundang kami ke acara2 lain. :-D Tulisan lain yang terkait bisa dibaca di blog-blog berikut ini:
1. Adham Somantrie
2. Budi Rahardjo
3. Chika Nadya
4. Ikhlasul Amal
5. Kuncoro Wastuwibowo
6. Yudha P. Sunandar
7. dll

Btw, ada satu hal yang terlupa di acara tersebut. Janji Mas Koen untuk ngajak para juri (internal dan eksternal) berfoto bersama tidak terpenuhi. Mungkin karena juri yang tidak lengkap datang, mungkin karena keriweuhan acara, pokoknya gak ada yang inget rencana itu. Padahal, karena aku gak datang di acara kopdar juri sebelumnya, aku gak pernah kenalan dengan para juri eksternal itu. Tapi ya sudahlah, udah lewat gitu lho… Mungkin lain kali, ada kesempatan lain kita bisa bertemu lagi :-D

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam rangka peringatan Hari Bakti Pos dan Telekomunikasi yang jatuh pada tanggal 27 September, Telkom kembali akan memberikan penghargaan Best Channel Award, yang salah satu kategorinya adalah penghargaan untuk para mitra Authorized Dealer. Jika tahun lalu aku mendapat tugas untuk menilai outlet di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya (aku pernah menceritakannya di blog-ku yang lain), maka tahun ini aku mendapat bagian pergi ke kota Menado dan Denpasar.
Seperti yang aku tulis di sini, perjalananku dimulai sejak Rabu dini hari. Malam sebelumnya aku nggak sempet tidur, selain karena belum selesai packing, juga karena takut telat. Jadi aku cuma sempet tidur di bis selama perjalanan. Nyampe di Cengkareng jam 6 pagi, jauh lebih awal dari perkiraan waktu yang diberikan si penjual tiket yang bilang bis baru akan nyampe jam 7 – setengah 8 pagi. Tapi gak papa, daripada telat kan lebih baik nunggu. Aku nyari sarapan dulu, lalu nungguin temen dari Jakarta yang mau berangkat bareng.
Pesawat Batavia berangkat menuju Menado sekitar jam 9 pagi, agak terlambat dari jadwal. Perjalanan yang ditempuh sebenarnya sekitar 3 jam (dan sebagian besar diantaranya kunikmati sambil tidur). Tapi karena perbedaan waktu antara Jakarta dan Menado, maka kalo dari jam setempat maka seolah perjalanan kami adalah 4 jam. Sekitar jam 1 WITA aku dan temenku sampe di Menado dengan selamat. Menunggu bagasi dulu, jam 1.30 kami keluar Bandara Sam Ratulangi. Sudah ada rekan dari Kandatel Menado yang menyambut kami. Kami diajak makan siang dulu, lalu diantar ke hotel untuk menaruh tas, ganti baju dan sholat. Setelah semua selesai, sekitar jam 3.30, kami langsung melaksanakan tugas. Waktu kami sempit karena besok siangnya kami harus terbang lagi ke Denpasar. Sedangkan jumlah outlet yang harus kami audit cukup banyak, ada 10 outlet ditambah 1 Head Office dari mitra AD. Pertama kali kami mendatangi Head Office-nya. Mitra AD yang ini sangat bersemangat dan kooperatif. Tak heran karena di tahun sebelumnya, dia sudah pernah menang di kelas yang lain. Selain mempresentasikan profil perusaaan dia, semua pertanyaan kami juga dijawab dengan sebaik mungkin. Lalu kami diantar melihat outlet-outlet dia. Untungnya kebanyakan outlet berada di mal-mal di pusat kota. Sehingga di luar perkiraan, sampe jam 9 malem kami sudah menuntaskan penilaian di 6 outlet, dan hanya menyisakan 4 outlet lagi untuk dinilai besoknya. Hasil tersebut membuat kami optimis bahwa tugas akan dapat kami selesaikan sesuai target. Dan malam itu aku tidur seperti orang mati, pulas dan tanpa mimpi.
Besok paginya kami mulai lebih pagi, sekitar jam 8. Itu karena kami harus mengambil sampel outlet luar kota yaitu di wilayah Tomohon, sekitar satu jam perjalanan dari Menado. Tomohon itu seperti Lembang-nya Menado. Jalan menuju ke sana berliku-liku, membuat perutku serasa dikocok-kocok dan menimbulkan rasa mual. Tapi rasa mual itu hilang mendapati bahwa outlet yang kami nilai sama antusiasnya dengan outlet yang ada dalam kota Menado. Sebentar saja kami di sana, lalu kami kembali ke kota. Masih ada 3 outlet yang harus dikunjungi. Sekali lagi untungnya lokasinya tidak begitu berjauhan, sehingga sekitar jam 12 kami sudah selesai. Kami bergegas ke bandara, karena 1,5 jam lagi pesawat kami akan berangkat. Perjalanan sekitar 40 menit, sampe di sana aku disuruh lari duluan ke loket Garuda untuk ngeprint tiket (yang aku pegang baru struk ATM bukti pembayaran tiket-red), sementara temenku ngangkatin tas-tas kami. Setelah ngeprint tiket, aku dan temenku masuk ke dalam untuk check in dan menyerahkan bagasi. Makan siang pun akhirnya kami lakukan di bandara, bersama tuan rumah yang masih setia menemani kami. Setelah itu kami pamitan. Sambil digayuti rasa penyesalan karena nggak sempet jalan2 ngeliat pantai Bunaken dan gunung Menado Tua (moga2 bener gini nulisnya) yang terkenal itu. Selain foto2 outlet, hanya foto ini yang bisa aku dapetin. Lokasi di sekitar Citra Land, dalam perjalanan menuju Tomohon, aku ambil dari dalam mobil yang aku minta berhenti sebentar.

Gambar orang yang ada di situ adalah pengunjung Big Ben Menado, bukan gambarku :-).
Pesawat Garuda terlambat berangkat, sehingga kami sampai di Bandara Hasanuddin Makassar pun terlambat. Transit di sini sekitar 1 jam. Bandara Makassar yang baru itu keren banget. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Denpasar. Sampai di Bandara Ngurah Rai, kami dijemput temen dari Kandatel Denpasar, yang langsung mengantarkan kami ke hotel. Kami istirahat untuk melanjutkan tugas besok hari. Berdasarkan informasi, jumlah outlet yang harus kami kunjungi di sini lebih sedikit, hanya ada 7 buah. Tapi mitra AD-nya ada 2, jadi ada 2 kantor Head Office/Branch Office yang harus kami datangi. Berdasar pengalaman di Menado, kami optimis tugas akan bisa lebih cepat kami selesaikan.
Besoknya kami baru mulai jam 9.30, karena jam kantor swasta memang baru buka jam segitu. Tapi kemudian kami sadar bahwa kondisi di Denpasar berbeda dengan di Menado. Jarak antara 1 outlet ke outlet lainnya cukup jauh, ditambah lagi kemacetan dalam kota karena masih dalam suasana liburan hari besar Galungan. Sampe jam 12 sebelum Jumatan, kami baru bisa mengunjungi 3 lokasi. Setelah Jumatan dan makan, kami baru bisa mulai lagi jam 2. Dapet 1 outlet lagi dalam kota, dan selanjutnya kami harus pergi ke outlet di Gianyar, sekitar 1 jam lebih dari Denpasar. Seperti biasa, perjalanan darat yang agak jauh membuat perutku mual. Dan kali ini yang cukup bikin kecewa, ternyata outlet yang kami datangi tidak memenuhi syarat penilaian. Kami kemudian balik ke Denpasar. Di Denpasar, kami masih mendatangi 3 outlet lagi. Setelah itu baru kembali ke hotel. Temen assessorku menyatakan bahwa tugas kami selesai. Bila ada beberapa data pendukung yang kurang, kami akan minta tolong temen Denpasar untuk mengirimkannya via email.
Besok Sabtunya, temenku lebih dulu pulang ke Jakarta menggunakan pesawat Lion pagi. Sedangkan aku baru terbang sore harinya menggunakan pesawat Batavia. Kesempatan setengah hari aku gunakan untuk jalan-jalan ke Erlangga 2, sebuah toko swalayan yang menjual berbagai oleh-oleh khas Bali. Sebelumnya pengin ke Pasar Seni Sukowati, tapi temenku menyarankan, kalo aku nggak pinter nawar, mending ke Erlangga saja. Di sana harga jual sudah pas, jadi aku ngak perlu khawatir salah harga. Aku membeli beberapa cindera mata, gak begitu banyak karena aku memperhitungkan kapasitas tasku. Kalo kebanyakan, ntar repot sendiri, karena sekarang gak ada temen yang bisa bantuin. Setelah itu kembali ke hotel, beberes sebentar, dan berangkat ke bandara. Sholat dan makan siang aku laksanakan di bandara. Seperti biasa, pesawat terlambat berangkat. Di dalam pesawat, iseng aku motret gunung yang aku tidak tau namanya, yang pasti masih di pulau Bali.

Sampai di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, sempet menunggu dulu sekitar 1 jam 15 menit, lalu aku lanjut naik travel Xtrans menuju Bandung. Udah lama aku gak naik Xtrans dari bandara, tapi kali ini ada yang bikin aku seneng :-) .

Sampe di Bandung udah malam. Alhamdulillah, perjalanan dinas kejar tayang alias jadi kutu loncat selama 4 hari sudah aku selesaikan dengan baik, dan kembali ke Bandung dengan selamat dan sehat :-) .

Category: Travel  3 Comments

Kemarin aku melakukan perjalanan dinas ke Kandatel Cianjur. Ini adalah perjalanan dinasku yang pertama ke kandatel sejak aku masuk DIVRE III bulan April 2004. Kok bisa? Ya bisa aja, kenapa enggak.

Jadi dari dulu aku belum pernah dinas keluar kota? Yee.. bukannya gitu. Aku pernah beberapa kali dinas keluar kota, tapi bukan ke kandatelnya. Aku pernah ikutan rapat atau workshop atau pelatihan atau apapun namanya di daerah Cipanas Cianjur. Pernah juga ke daerah Ciater Subang. Pernah juga ke daerah Cipanas Garut. Tapi yang beneran datang ke kandatelnya ya baru kemarin itu di Cianjur.

Di luar pekerjaan, aku pernah datang ke Cirebon dalam rangka jadi supporter tim bola volley putri Kandivre (halah.. gak elit banget, jauh2 ke Cirebon bukan sebagai pemain inti, tapi cuma jadi supporter. Biarin.. yang penting jalan-jalan). Aku juga pernah mampir ke kantor Telkom Tasikmalaya, numpang sholat setelah pergi ama temen-temen ke Pangandaran, sebelum kejadian Tsunami (halah lagi.. lebih gak elit lagi, jalan-jalan lagi).

Dulu waktu aku masih di bidang Busdev, sebenarnya banyak kesempatan untuk datang ke Kandatel. Karena waktu itu pekerjaan utama kami adalah perencanaan jaringan, tentu diperlukan banyak survey dan pengawasan ke lokasi pembangunan. Tapi aku nggak pernah pergi. Sekali waktu aku yang diberi tugas untuk mengatur jadwal dan personil yang harus melakukan survey ke seluruh wilayah DIVRE III, tapi tidak satu kalipun aku memasukkan namaku sendiri. Sampai-sampai ada temenku yang komentar : ”Kasian Anis ya, memberangkatkan orang kemana-mana, tapi dia sendiri nggak berangkat.” Wah.. ternyata dia cuma memandang dari segi pendapatan. Memang sih, semakin sering melakukan perjalanan dinas, otomatis semakin banyak tambahan pendapatan bagi orang tersebut. Padahal kalo buat aku sendiri, itu nggak terlalu penting. Buat apa dapat tambahan income kalo badan sakit-sakit. Ya, aku memang termasuk gampang mabok darat. Ntar malah merepotkan temen seperjalanan. Ada lagi alasan lain. Aku merasa tidak kompeten dalam hal survey-mensurvey lapangan. Ntar malah hasilnya nggak akurat dan menghasilkan perencanaan yang sembarangan. Jadi biarlah para bapak-bapak ahli lapangan aja yang jalan-jalan. :-)

Jadi pengin flash back. Dulu pada saat awal-awal jadi pegawai Telkom, aku bertugas di unit Manajemen Mutu di Kandatel Sumbagsel. Yang lagi top di Telkom saat itu adalah program sertifikasi ISO 9000. Aku selain jadi anggota tim development, juga jadi auditornya. Kerjaan itu membuat aku sering pergi ke daerah. Sedikit keterangan,  Kandatel Sumbagsel merupakan hasil merger dari 5 kandatel : Kandatel Palembang, Kandatel Jambi, Kandatel Bengkulu, Kandatel Baturaja dan Kandatel Pangkalpinang. Wilayahnya mencakup 4 propinsi : Propinsi Sumatera Selatan, Propinsi Jambi, Propinsi Bengkulu dan Propinsi Bangka Belitung. Kantor cabangnya kalo nggak salah sekitar 26 buah. Jadi sebenarnya wilayah DIVRE III yang cuma mencakup sebagian Jawa Barat dan sebagian Banten itu nggak ada apa-apanya.

Dulu aku semangat-semangat aja disuruh keliling ke daerah. Memang sih belum semua kantor cabang itu sempet aku datengin. Dan aku rasanya asik-asik aja, meski sekali-sekali pake acara mabok darat. Terutama kalo harus ke Kancatel Kepahyang di wilayah Bengkulu (dari namanya aja udah ketauan, jalan kesana bikin mabok kepayang, belok-beloknya bikin capek dehh). Mungkin karena masih baru kerja ya, jadi rasa ingin taunya masih tinggi banget. Mungkin juga karena itu di wilayah Sumatra, tanah rantau. Enaknya lagi, karena aku sering keliling, aku jadi mengenal dan dikenal banyak orang. Dan itu sangat menguntungkan, secara aku adalah pegawai baru.

Sekarang rasanya aku tidak sesemangat dulu lagi. Kalo bukan main job aku dan masih bisa dikerjain orang lain, aku tidak berminat mengajukan diri untuk pergi. Tapi acara ke Cianjur kali ini beda, karena memang termasuk main job aku. Semua orang kebagian tugas ke kandatel yang berbeda. Sebenarnya asik juga sih, aku bisa ketemu orang-orang yang  belum pernah aku temui selama ini, bisa mendapat cerita yang berbeda dari hari-hari biasa. Tapi teuteup.. mabok daratnya muncul juga. Pulang kembali ke Bandung sekitar jam 8 malam. Huuh.. jadi bolos kuliah deh..

Category: Travel  Leave a Comment