Grand Palace, Pagoda, dan Pattaya
Esok harinya kami check out dari hotel, karena nanti malam kami akan nginap di tempat lain. Ada cerita lucu di sini. Seperti hotel2 lain, di masing-masing kamar disediakan sandal kamar. Nah sandal kamar di hotel ini bagus banget. Modelnya seperti anyaman, dan warnanya merah maroon. Aku sempet naksir dan berniat membawanya, karena setau aku, sandal kamar itu biasanya boleh dibawa pulang. Tapi mengingat kapasitas tasku yang semakin berkurang karena diisi beberapa oleh-oleh, aku mengurungkan niatku. Sebelum pergi, kami sarapan dulu di restoran hotel. Di sini seorang temenku yang muslim sempat salah ambil makanan haram, dan setelah dia tau kesalahannya, dia menjadi mual-mual terus. Rupanya dia lupa peringatan tour guide kami pada hari sebelumnya, supaya kami berhati-hati jika mau makan. Selesai sarapan, kami menunggu di lobby hotel. Di sinilah kami mendapat pesan dari pihak hotel, bahwa jika ada yang membawa sandal hotel, mohon agar membayarnya. Jika tidak mau bayar, mohon dikembalikan ke kamar hotel.. Hahaha.. ternyata banyak temenku yang membawa sandal itu dalam tasnya. Karena mereka punya pikiran yang sama denganku, bahwa sandal itu gratis dan boleh dibawa. Seorang temen bilang, biasanya dia gak pernah bawa sandal hotel. Tapi karena sandal yang ini modelnya bagus, dia pun tertarik membawanya. Akhirnya dengan menahan malu, beberapa temenku itu mengembalikan sandal-sandal itu kembali ke kamar. Ada-ada aja ya..
Kami lalu berangkat. Tujuan pertama adalah Grand Palace. Di sini banyak bangunan2 indah yang layak dilihat, dan difoto.
Ada juga sebuah tempat untuk berdoa bagi mereka. Kami yang tidak tau itu tempat apa, ikut2an ngantri bersama orang-orang untuk masuk ke tempat itu. Begitu udah sampe dalam, aku berkata dalam hati, lho kok cuma gitu doang? Oh ya, di lokasi ada jasa penyewaan pakaian tradisional Thailand, untuk kemudian difoto. Ada juga jasa foto bersama dengan latar belakang istana, sambil membawa spanduk yang bertuliskan ucapan selamat datang (atau sejenis itu, aku udah lupa
). Nantinya kita akan disuruh membayar foto itu.
Setelah dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke Pagoda yang aku lupa namanya. Untuk menuju ke sana, kami harus naik perahu. Di perahu itu ada seorang wanita yang memegang banyak rangkaian bunga. Lalu guide kami menjelaskan, bahwa wanita itu akan mengalungkan rangkaian bunga itu kepada kami. Tapi tidak gratis. Nanti kami akan diminta membayarnya. Jadi kalo memang tidak berniat membayar, lebih baik menolak kalungan bunga itu. Hohoho.. ini mah namanya jual paksa rela. Tapi karena harganya tidak terlalu mahal, maka kebanyakan dari kami menerima kalungan bunga itu dan membayarnya. Sesampai di Pagoda itu, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat. Puncaknya ternyata sangat tinggi. Aku cuma naik sampe setengah jalan, nggak berani sampe ke atas. Hmm.. ternyata aku phobia ketinggian
Di lokasi itu ternyata ada juga tempat yang menjual souvenir. Yang belum puas belanja tadi malam, silakan belanja lagi.
Setelah selesai melihat2, kami naik bis dan pergi ke sebuah kebun binatang yang ada atraksi sejenis sirkus. Di sana kami melihat atraksi harimau dan buaya. Waktu aku nonton atraksi buaya yang berlangsung di sebuah kolam, dan ngeliat orangnya sampe terpeleset dan terjatuh-jatuh, yang terlintas di pikiranku adalah, “Susah yang cari duit. Sampe mempertaruhkan hidup begitu, main-main dengan buaya.”
Dari kebun binatang itu, kami lalu naik bis menuju Pattaya. Ini adalah sebuah kota di Thailand yang terkenal dengan kehidupan malamnya, jika kamu tau yang kumaksud. Di sini ada klab-klab malam yang menampilkan atraksi2 dewasa, baik dari wanita beneran, atau dari waria-waria cantik. Setelah check ini di hotel, dan dilanjutkan makan malam, guide lokal kami mengajak rombongan untuk menonton atraksi itu. Tapi nggak tau ya, apakah karena memang para peserta tour itu kebetulan orang-orang yang tidak suka dugem, atau hanya karena sungkan dengan para wanita peserta tour, ternyata yang mau ikutan si guide itu hanya 3 orang. Dari 27 orang peserta tour. Hmm.. aku cukup salut dengan temen2ku itu. Dan aku jadi sebel ama agen tour yang bikin jadwal acara ini. Seharusnya kalo memang peserta tour tidak berminat nonton atraksi2 itu, gak usah dijadwalkan dalam agenda. Kan lebih baik kami mendatangi lokasi wisata lain. Akhirnya selama menunggu beberapa temen yang nonton atraksi dewasa itu, kami yang lain hanya berputar-putar di pasar yang ada sekitar klab. Setelah selesai, kami pun kembali ke hotel.
Belanja dan Belanja Lagi, dan Kembali ke Tanah Air
Esok harinya, kami check out, untuk menuju Bangkok lagi. Bener2 gak ada gunanya dateng ke sini, selain cuma jadi catatan bahwa aku pernah ke kota ini. Dalam perjalanan, kami singgah di 4 tempat belanja. Yang pertama ada sebuah tempat pembuatan perhiasan dari batu-batu berharga. Tentu saja harganya mahal-mahal. Secara aku bukan pemakai perhiasan, aku gak tertarik beli. Jadi cuma liat-liat doang. Oh ya, ada anggota rombongan yang merupakan suami istri. Lucunya, sementara si istri lagi asik ngeliat-liat perhiasan, diam-diam si suami keluar dari ruangan dan duduk di kursi depan toko, di sebuah tempat yang tidak begitu gampang dilihat orang. Ketika aku keluar toko dan kebetulan bertemu orang itu, aku bilang bahwa dia dicari-cari istrinya di dalam. Dianya cuma senyum-senyum, lalu bilang memang dia sengaja berpisah dari istrinya. Katanya, dari pada nantinya nggak tega nolak permintaan istrinya untuk dibeliin perhiasan, mendingan menghindar saja. Hihihi.. lucu juga.
Btw, di depan toko perhiasan itu, banyak kendaraan2 umum khas Thailand yang bentuknya antik.
Setelah dari sana, kami mampir di tempat penghasil madu dan olahannya. Ada madu yang masih berwujud seperti aslinya, ada royal jelly yang udah diolah dalam bentuk kapsul, ada produk2 kecantikan seperti pelembab muka, dll. Harganya lumayan mahal juga euy… Tempat selanjutnya yang kami datangi adalah sebuah toko yang menjual beraneka makanan khas Thailand. Ada yang terbuat dari buah-buahan, ada yang dari hewan darat/laut. Di setiap makanan itu ada sample yang dapat dicicip. Di sini lagi-lagi ada seorang teman yang tidak berhati-hati, sehingga tercicip oleh dia suatu jenis makanan haram. Setelah menelannya, baru terbaca oleh dia terbuat dari apa makanan yang dia cobain tadi. Halah.. jangan2 dia kemaruk. Mentang-mentang sample gratis, maunya dicobain semua
.
Tempat terakhir yang kami datangi adalah sebuah kompleks pertokoan dan mall. Barangkali masih ada yang belum puas beli oleh-oleh, diberikan kesempatan untuk belanja-belanja lagi, untuk ngabisin baht yang masih ada, dari pada dibawa pulang kembali.
Selanjutnya kami menuju bandara. Makan malam di bandara. Lalu terbang ke Jakarta. Nyampe kembali ke tanah air sudah tengah malam. Lalu melanjutkan perjalanan naik bis menuju Bandung.
Akhir Cerita yang Tidak Begitu Happy
Setelah bis berhenti di suatu tempat yang jadi base camp kami, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Aku pulang menggunakan taxi. Setelah sampai ke rumah, pas mau bayar, aku bingung nyari2 dompetku. Karena agak lama, si supir pun bertanya, “Kenapa, Mbak?” “Ini, Pak. Dompet saya kok nggak ada di tas ya.” Si supir lalu berbaik hati ikut mbantu nyariin, barangkali jatuh ke lantai mobil. Tapi memang nggak ada. Untungnya aku inget bahwa aku naruh sebagian uang di tas baju. Aku pun ngambil uang itu untuk bayar ke supirnya. Lalu aku turun dan masuk rumah. Di dalam rumah, kembali aku nyari2 dompet itu di tasku. Sampe akhirnya aku yakin bahwa dompet itu beneran hilang. Terakhir aku megang dompet itu waktu di pesawat, waktu aku hendak ngeluarin uang untuk bayar snack. Mungkin waktu aku memasukkan dompet itu kembali ke tas, naruhnya nggak pas, jadi malah jatuh. Soalnya seingatku, selama perjalanan setelah turun pesawat sampe ke Bandung lagi, aku tidak pernah desak-desakan ama orang, sehingga kemungkinan bahwa aku dicopet kok kayaknya kecil ya. Dan pagi-pagi buta itu pun jadi pagi yang sibuk buat aku. Nyari2 buku tabungan dan lembar tagihan kartu kredit (untuk dapetin nomor kartu kreditku), lalu menelepon ke call center bank-bank itu untuk melaporkan kehilangan serta minta pemblokiran. Lalu berusaha menelepon temen seperjalananku, nyari info nomor telepon tour guide kami, untuk ndapetin nomor telepon agen bis yang membawa kami. Meski kemungkinan kecil, tapi siapa tau dompet itu jatuh di bis. Dan memang akhirnya info yang aku dapet, gak ada dompet jatuh di bis.
Ngomong-ngomong, hari itu udah hari Senin, dan aku udah harus masuk kerja lagi. Dan siangnya aku lalu minta ijin untuk mulai ngurus segala-segala yang hilang itu: KTP, SIM, STNK, kartu ATM, dan kartu kredit. Huuh.. ribet juga ya.. Makanya jangan mau deh kehilangan dompet. Repot
. Tapi ya sudahlah, lain kali aku harus lebih hati-hati.
Akhirnya selesai juga tulisan ini. Hehehe.. panjang bener ya.. Untung hari ini libur, jadi sempet bikin tulisan ini..





















Recent Comments