Archive for the Category »Sharing «

Undangan acara ini aku terima dari Diki via Facebook pada hari Kamis 3 September 2009 jam 4 sore. Sempet ragu, mau dateng atau nggak. Apalagi sebelumnya aku abis keliling mengunjungi pelanggan2 Telkom, sebagai salah satu tugas pelatihan yang sedang kuikuti, dan sekaligus dalam rangka Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada tanggal 4 September 2009. Capek dan kepanasan, pengin segera pulang. Tapi kemudian aku inget, pada hari2 sebelumya aku sering ngerasa iri ngeliat banyaknya acara2 menarik di Jakarta yang tidak mungkin kuikuti. Dan aku juga sering berpikir, seandainya ada acara2 sejenis itu ada di Bandung, pasti aku mau dateng. Nah sekarang beneran ada acara menarik yang dilaksanakan di Bandung, masa sih aku melewatkan kesempatan ini. Jadi aku pun memutuskan menunda kepulanganku untuk dateng di acara itu.
Aku nyampe ke Common Room sekitar jam setengah 6 lewat. Seperti biasa, meski di undangan disebutkan acara mulai jam setengah 6, nyatanya masih belum banyak yang dateng. Menjelang dan setelah adzan maghrib, satu persatu muncul blogger yang kukenal. Tamu lain yang datang nampaknya dari komunitas industri kreatif. Setelah buka puasa selesai, sekitar jam 7, barulah acara inti dimulai.
Presentasi pertama disampaikan oleh Enda Nasution. Beliau memaparkan latar belakang pengembangan portal Indonesia Kreatif. Mengenai besarnya potensi industri kreatif di Indonesia, tapi selama ini infonya masih tersebar di banyak situs. Belum ada wadah yang terpadu, yang akan memudahkan pelaku industri kreatif untuk saling berinteraksi, antara yang membutuhkan dengan yang bisa menyediakan. Itulah salah satu tujuan dibuatnya portal Indonesia Kreatif yang beralamat di http://indonesiakreatif.net. Situs ini nantinya diharapkan akan seperti deviantART-nya Indonesia, di mana para pelaku industri kreatif bisa menyimpan karyanya, sehingga jika ada yang membutuhkan, akan mudah menemukannya.
Presentasi kedua disampaikan oleh konsultan Departemen Perdagangan sebagai pemilik program ini, Cokorda Istri Dewi, atau biasa disapa Bu Dewi. Beliau memaparkan mengenai Perjalanan Pengembangan Ekonomi Kreatif oleh Pemerintah sejak tahun 2006, sampai akhirnya pada tanggal 5 Agustus 2009, terbit InPres No. 6 Tahun 2009 tentang Ekonomi Kreatif. Beliau mengatakan bahwa program ini merupakan kerja bersama beberapa departemen dan BUMN (khususnya bank pemerintah), karena program ini tidak akan berhasil tanpa dukungan berbagai pihak.
Materi presentasi dari Enda dan Dewi bisa dilihat di page Ekonomi Kreatif di Facebook. Jika berminat untuk mengetahuinya, silakan jadi fan di page itu dulu.. :-)

3presenter

Presentasi ketiga disampaikan oleh Gustaff Hariman Iskandar, dari komunitas kreatif Common Room. Beliau memaparkan perjalanan dan potensi industri kreatif di Bandung, berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan Common Room. Sayangnya, kata beliau, survey yang dia lakukan adalah atas biaya dari lembaga luar negeri, sehingga biasanya ada hidden agenda dari para donator itu.
Berita tentang acara malam itu bisa juga dibaca di halaman Pikiran Rakyat ini.
Diskusi dengan komunitas kreatif antara lain mempertanyakan mengenai cara mendaftarkan paten yang dinilai masih cukup sulit. Sang penanya membandingkan dengan salah satu negara lain, di mana pemerintah menyebarkan lembaran kertas resmi kepada warganya, dan jika ada seorang warga Negara yang membuat karya di atas kertas itu, maka otomatis dia mendapatkan paten untuk karyanya itu. Sempat juga ditanyakan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu tentang klaim-klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, yang menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia memang belum terlalu peduli dengan masalah hak cipta. Bu Dewi menjawab bahwa masalah prosedur hak paten itu akan menjadi masukan.
Acara yang semula dijadwalkan akan selesai pada pukul 9 malam ternyata mundur sampai lebih dari jam setengah sepuluh. Dan seperti biasa, setelah acara selesai, ada sesi foto-foto peserta. Tapi tetep aja yang gila foto adalah para blogger. Sedangkan komunitas kreatif lainnya sudah berpindah ke bagian depan gedung Common Room, melanjutkan diskusi dalam suasana yang lebih informal.

ik

Foto diambil dari album di page Ekonomi Kreatif.

Buat pihak penyelenggara, terima kasih atas sharingnya. Mengutip komentar dari Endhoot terhadap acara tersebut, seandainya semua kebijakan pemerintah disosialisasikan dengan cara yang menyenangkan sebagaimana Depdag mennsosialisasikan program Indonesia Kreatif ini, pasti orang-orang akan semangat mengikutinya. Setuju banget! :-D
Btw, sedikit tambahan informasi, Telkom melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) sudah cukup lama mendukung industri kreatif. Sesuai aturan pemerintah, maka sekian persen dari profit Telkom digunakan untuk memberikan pinjaman lunak dengan syarat mudah dan bunga rendah kepada para pengusaha kecil. Program ini dikelola oleh sebuah unit khusus yang dinamakan CDC (Community Development Center). Tiap tiga bulan, unit ini mendistribusikan bantuannya di semua wilayah Kandatel (Kantor Daerah Pelayanan Telekomunikasi). Selain itu, dukungan Telkom untuk industri kreatif diwujudkan melalui kompetisi Indigo Fellowship Award 2009 dengan tag-nya “For Brighter Indonesian Digitalpreneur”, di mana dalam kompetisi ini semua ide kreatif yang didaftarkan akan dinilai, dan pemenangnya akan mendapatkan dana pembinaan serta kesempatan untuk menggunakan semua fasilitas di Playground-nya Indigo. Informasi terakhir dari situs reminya itu, dari 700 pendaftar, sebanyak 80 abstraksi telah lolos seleksi awal. Rencananya pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2009. Semoga tidak mundur ;-) . Dan entah kebetulan atau memang direncanakan, pengumuman pemenang ini dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Pesta Blogger 2009 pada tanggal 24 Oktober 2009. :-)

Hari Rabu tanggal 29 Juli 2009 yang lalu, aku beruntung dapet kesempatan ikut seminar MarkPlus di Ballroom Hotel Hilton, Bandung. Topik yang dibawakan kali ini adalah “Managing The Conversation, Why, What, and How to do Horizontal Promotion. The Fall of Promotion, The Rise of Conversation”. Kupikir ini adalah salah satu dari serial topic New Wave Marketing yang jadi andalan MarkPlus sejak setahun terakhir. Pembawa materi malam itu adalah Husin Wijaya, Head of Marketing Academy MIM.
Tapi sebelumnya, barangkali ada yang belum tau, Conversation seperti apa sih yang dimaksud di sini?

managingtheconversation

Bagi yang pernah belajar Marketing, pasti tau dong apa yang disebut teori Marketing Mix yang terdiri dari 4P yaitu Product, Price, Place, dan Promotion. Empat syarat itu harus dimiliki oleh sebuah produk supaya dia berhasil di pasar. Belakangan syarat itu berubah menjadi 7P, dengan ditambah People, Process, dan Physical Evident.
Seiring terjadinya globalisasi, yang menjadikan dunia menjadi datar, datangnya era Web 2.0, maka Marketing pun menyesuaikan dirinya menjadi apa yang disebut oleh MarkPlus sebagai New Wave Marketing.
Sedikit OOT, dalam pengantar bukunya yang berjudul “New Wave Marketing” , Hermawan Kartajaya mengatakan bahwa penamaan “New Wave Marketing” itu terinspirasi dari Direktur Konsumer PT Telkom I Nyoman Wiryanata yang pada tahun 2008 lalu mencanangkan program besar yang harus dijalankan Telkom, yaitu Telkom harus lebih focus mengembangkan produk-produk New Wave (produk-produk yang terkait dengan internet).
Dalam New Wave Marketing, 4P berubah menjadi 4C. Elemen Product menjadi Co-Creation, Price menjadi Currency, Place menjadi Communal Activation, dan Promotion menjadi Conversation.
Seminar malam itu hanya membahas salah satu C yaitu Conversation. Tiga C yang lain mungkin akan dibahas di seminar-seminar lain :-D . Di sana dinyatakan bahwa di era yang semakin horizontal, kekuatan rekomendasi diyakini akan menggeser peran promosi. Pendekatan promosi yang vertical dan membidik secara masal terbukti semakin tidak efektif, di samping membutuhkan biaya mahal.
Dan itu memang bener banget. Kita sendiri pasti juga merasakannya. Sekarang, jika kita ingin membeli sebuah barang atau memakai sebuah jasa, maka kita tidak hanya percaya pada iklan-iklan di koran atau radio atau TV. Karena iklan-iklan itu malah bikin kita bingung, karena semua mengatakan produknya paling bagus. Kita sekarang telah menjadi konsumen cerdas, dengan mencari rekomendasi dulu sebelum memilih sesuatu. Rekomendasi itu bisa kita dapatkan dari berita di internet, atau bertanya pada orang-orang yang kita anggap lebih berpengalaman. Rekomendasi itulah yang disebut conversation.
Dari sisi produsen, maka dibutuhkan pengelolaan yang cermat supaya produk atau jasanya menjadi bagian conversation pelanggan, melalui pemilihan message dan media yang tepat, sehingga bisa mendapatkan efektivitas komunikasi pemasaran yang berlipat-lipat.
Membuat conversation yang menarik dapat dilakukan melalui 9 cara: (1) Avalanche about to roll; (2) Aspiration; (3) Anxieties; (4) David vs Goliath; (5) Counter intuitive/Contrarian; (6) Personalities; (7) Glitz vs Glamz; (8) How-to; dan (9) Seasonal/Event Related. Penjelasan masing-masing cara itu tentulah panjang, dan nggak bisa kutulis semua di sini :-D . Contoh-contoh yang disampaikan Husin Wijaya sangat menarik dan mempermudah peserta seminar memahami teori di atas. Dari mulai case Michael Jackson, twitter.com, #indonesiaunite, Ibu Prita Mulyasari, profil para Capres kemarin, bahkan sampai fenomena Manohara. Jadi bukan hanya barang/jasa yang perlu dimarketingkan, tapi juga suatu gerakan social, personal/individu, dll.
Di sini aku ingin berbagi dua cerita yang mungkin belum banyak yang tau, tentang bagaimana conversation bisa sangat berhasil. Yang pertama adalah tentang sebuah buku (judulnya aku tidak begitu jelas), yang penjualannya sangat tidak sesuai dengan harapan. Padahal penerbit bukunya sudah mencetak dalam jumlah banyak untuk stock selama satu tahun. Akhirnya si pengarang atau penerbitnya memanggil seorang ahli buzzing dan memberi tugas supaya menjadikan buku itu laris. Si ahli buzzing itu lalu merekrut 100 orang relawan dan membagi tugas kepada mereka. Strateginya gini, semua orang itu harus membaca buku itu di tempat umum. Tapi posisi membacanya harus dengan mengangkat buku itu di depan wajahnya, sehingga jika ada orang yang melewati mereka, maka akan nampak judul buku itu. Si ahli buzzing itu menaruh 10 orang di sebuah gerbong kereta api, sehingga jika ada orang yang berjalan di kereta api itu akan beberapa kali melihat orang membaca buku yang sama. Jika kita hanya melihat 1 orang membaca sebuah buku, pasti kita belum tertarik. Tapi jika kita melihat 10 orang membaca buku itu di saat yang bersamaan, pasti timbul rasa penasaran, buku apa sih itu?
Si ahli buzzing itu melakukan hal yang sama di taman, di mall, dan beberapa tempat ramai lainnya. Ahli itu juga menyuruh para relawan membuat posting di Facebook, twitter, dan social networking lain tentang buku itu. Dalam waktu tidak terlalu lama, buku itu menjadi topik pembicaraan yang hangat di mana-mana. Di dunia real maupun di dunia online. Buku yang semula untuk stock setahun, habis terjual dalam waktu sebulan. Wow.. sungguh menakjubkan. Dan aku yakin biaya membayar si ahli buzzing dan 100 relawan itu tidaklah semahal biaya pasang iklan di billboard, koran, radio, atau TV. ;-)
Cerita kedua, ini kisah nyata yang terjadi di Surabaya. Tentang seorang dokter umum, yang ngerasa sulit bersaing dengan dokter spesialis dalam mendapatkan pasien baru. Lalu dia menerapkan strategi sebagai berikut. Dia sewa sebuah tempat praktek di jalan yang cukup ramai, dan dia pasang papan nama di situ. Langkah selanjutnya, dia menelepon saudara-saudaranya, minta tolong supaya selama sebulan ini mereka tiap sore datang ke tempat prakteknya itu. Kebetulan dia memiliki keluarga besar di Surabaya. Saudara-saudaranya setuju. Jadi tiap sore, di sekitar tempat praktek dokter itu banyak mobil parkir yang mengakibatkan kemacetan. Orang-orang lain yang lewat pun jadi penasaran apa penyebab kemacetan itu. Sambil lewat dengan pelan, mereka lalu melihat papan nama tempat praktek dokter itu, melihat betapa ramainya di situ, dan itu terekam di ingatan mereka. Pasien beneran pun datang, makin lama makin banyak. Saudara-saudara si dokter mulai mengundurkan diri. Dan dalam waktu 6 bulan, tempat praktek dokter itu sudah betul-betul ramai oleh pasien beneran. Tapi tentu saja si dokternya memang bagus. Karena kalo tidak, pastilah pasien itu tidak akan datang2 lagi.
Seminar dan sharing yang menarik. Menambah wawasan bagiku, dan mudah2an aku bisa memanfaatkannya dalam pekerjaanku. :-D

Tips ini aku denger di radio di suatu sore dalam perjalanan dari kantor Juanda ke kantor Supratman.
Si James bilang, sering kali kita gak punya waktu untuk baca majalah-majalah yang udah kita beli. Belum sempet baca yang lalu, udah datang lagi yang baru. Akhirnya makin menumpuk aja majalah-majalah itu.
Kata si James, supaya majalah itu gak sia-sia, dia punya tips sendiri. Pertama, dia buka majalah itu, dan dia pilih beberapa topik yang menarik. Lalu dia sobek halaman-halaman topik menarik itu, dan dia simpan hasil sobekan itu di sebuah map tersendiri. Sedangkan sisa dari majalah itu dia buang.
Lalu map yang berisi beberapa lembar sobekan majalah itulah yang dia bawa ke mana-mana. Misalnya pada saat akan meeting, atau bertemu dengan klien. Sambil menunggu, biasanya dia bisa menyelesaikan membaca beberapa halaman itu. Jadi dia tetap bisa membaca topik-topik yang dia suka, tanpa repot membawa beberapa majalah. Tips yang cukup simpel dan cukup mensolusikan, nampaknya :-) .
Tapi kalo aku sih tidak begitu setuju. Karena majalah yang bekas disobek, dan juga halaman-halaman yang disobek, akhirnya akan cuma jadi sampah. Beda misalnya jika kita bisa menjaga majalah itu tetap bagus, maka jika kita sudah selesai membacanya, majalah itu masih bisa disumbangkan ke orang-orang lain yang mungkin membutuhkan :-) .
Ah.. tapi itu kan akhirnya kembali ke kita masing-masing. Gak bisa ada judgement mana yang lebih bener di sini. :-)

Category: Sharing  Tags:  One Comment

Sumber dari sini

1. Do what you love to do. Find your true passion. Do what you love to do and make a difference!
2. Be different. Think different. Act different!
3. Do your best. Do your best at every job. Hire good people with passion for excellence.
4. Make SWOT analysis. Make a list of strengths and weaknesses of yourself and your company on a piece of paper. Get rid of bad people.
5. Be entrepreneurial. Look for the next big thing. Have the courage to follow your heart and intuition.
6. Start small, think big. Take a handful of simple things to begin with, and then progress to more complex ones.
7. Strive to become a market leader. Be the first, and make it an industry standard.
8. Focus on the outcome. Be a yardstick of quality. Some people aren’t used to an environment where excellence is expected.
9. Ask for feedback. Ask for feedback from people with diverse backgrounds. Focus on those who will use your product, listen to your customers first.
10. Innovate. Innovation distinguishes a leader from a follower. Concentrate on really important creations and radical innovations. Hire people who want to make the best things in the world.
11. Learn from failures. Sometimes when you innovate, you make mistakes. It is best to admit them quickly and move on.
12. Learn continually. Cross-pollinate ideas with others both within and outside your company. Learn from customers, competitors and partners. Learn to criticize your enemies openly, but honestly.

Tks buat Diatherman untuk info link-nya. :-)

Category: Sharing  Tags:  9 Comments

Instead of meneruskan cerita tentang Java Jazz Festival, aku memilih untuk lebih dulu menulis tentang Hotel Aston Braga City Walk Bandung. Tulisan ini tidak semata-mata ditujukan untuk mengikuti lomba review ini, biarlah para blogger lain yang lebih ahli review untuk melakukannya. Aku membuat tulisan ini karena sudah ikut tour keliling Hotel Aston Braga City Walk Bandung pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2009 lalu bersama Batagoris, dan juga sebagai penghargaan kepada Hotel Aston Braga City Walk Bandung yang telah menjadikan para Batagoris sebagai sahabatnya.
Perkenalanku dengan pihak Hotel Aston Braga City Walk Bandung tidak lain dan tidak bukan adalah pada saat acara Bebersih Bandung Yuk! Jilid 8 pada bulan Februari 2009 yang lalu. Sebagai hotel yang berwawasan lingkungan, Hotel Aston Braga City Walk Bandung mendukung kegiatan blogger untuk melakukan kegiatan bersih-bersih di sekitar wilayah Jalan Braga tersebut. Setelah kegiatan BBY! 8 itu, pihak Hotel Aston Braga City Walk Bandung juga pernah mengundang Batagor dan beberapa komunitas lain dalam suatu acara “Eco-Hotel Rating Workshop”. Sayangnya karena pelaksanaan acara pada jam kerja, maka hanya Bang Aswi yang bisa menghadiri acara tersebut.

hotel-aston

Foto diambil dari koleksi foto di Facebook Bagus Rully.

Acara tour keliling Hotel Aston Braga City Walk Bandung dijadwalkan dimulai jam 16.00 WIB. Tapi sekali lagi, karena kebanyakan blogger adalah kaum pekerja dengan jam kerja sampai jam 17.00 WIB, maka baru setelah jam itu para blogger bisa berkumpul di Braga City Walk. Aku sendiri baru bisa bergabung setelah maghrib. Jadi aku tidak ikutan acara briefing awal serta tidak menikmati jamuan sore dari pihak Hotel Aston Braga City Walk Bandung. Bersama rombongan blogger yang berjumlah belasan orang itu, aku melihat-lihat berbagai room yang ditawarkan oleh pihak Aston. Ada yang memiliki 1 kamar tidur, 2 kamar tidur, sampai 3 kamar tidur. Kami juga diajak untuk melihat-lihat ruang makan, lounge, kolam renang, meeting room, dll. Keterangan lebih lengkap beserta harga masing-masing room bisa dilihat di situs Hotel Aston Bandung.

tos-raos

Foto diambil dari koleksi foto di Facebook Donny Reza.

Catatan dari aku, Hotel Aston Braga City Walk Bandung ini layak jadi pilihan untuk para wisatawan luar kota yang hendak menginap di Bandung karena lokasinya yang strategis. Berada di dalam mall di kawasan bersejarah kota Bandung, dekat dari stasiun kereta api, dekat pusat perbelanjaan, dll. Selain itu, konsep ramah lingkungan yang diusungnya layak menjadi panutan bagi industri lain. Karena kepedulian kitalah yang dapat menyelamatkan bumi ini dari kerusakan yang semakin parah.

tips-ramah-lingkungan

Foto diambil dari koleksi foto di Facebook Bagus Rully.

Kayaknya itu aja yang dapat kutulis tentang Hotel Aston Braga City Walk Bandung. Tulisan terkait dapat dibaca di blog-nya Amel, Bagus Rully, dan Catur.
Untuk informasi lebih lengkap lagi, silakan menghubungi:
Aston Bandung Hotel & Residence
Jl. Braga No. 99-101 Bandung 40111 - Indonesia
Telp : +62-22 844 60000
Fax : +62-22 844 60100
Email : info@astonbandung.com
Web: http://www.astonbandung.com

NB: Buat siapa pun yang nantinya menang, selamat menikmati hadiahnya ya.. :-)

Category: Sharing  One Comment