Dulu aku pernah bilang, kalo suatu saat ada kesempatan untuk offroad, aku pasti mau lagi. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Awal Maret yang lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 5 Maret 2010, setelah dua hari ber-workshop-ria, kami diajak untuk refreshing menjelajah hutan Cikole, Lembang menggunakan mobil Land Rover keluaran tahun 60-an. Tiap mobil hanya dinaiki 5 orang peserta plus sopir dan pendamping. Dulu tiap mobil diisi 7-8 orang peserta. Sehingga dengan jumlah peserta sekitar 100 orang, mobil yang disiapkan sekitar 20 unit. Rute kali ini juga (katanya) cukup berat. Tapi panitia menjamin bahwa rute udah ditest, dan aman. Kami berangkat dari Telkom Learning Center di Geger Kalong Hilir sekitar jam 14.30 WIB, beriringan menuju hutan di wilayah Gunung Tangkuban Perahu itu.
Setiba di lokasi, kami menemukan bahwa perjalanan tidak selancar dugaan semula. Hujan yang turun mengguyur bumi menjadikan lokasi lebih becek dan membuat ban mobil sulit bergerak. Pada saat harus melewati halangan pertama, sudah mulai terjadi penumpukan antrian mobil, karena mobil di depan tidak bisa melewati halangan tersebut. Orang-orang yang nggak sabar menunggu terlalu lama, akhirnya pada turun dari mobil dan berjalan untuk melihat mobil yang di barisan depan. Ketika giliran mobilnya mau berjalan, baru mereka naik lagi. Kemudian ketika harus melewati halangan kedua, mobil makin sulit lolos dari kubangan. Sampe ada yang harus ditarik oleh mobil depannya. Waktu antrian semakin lama. Orang-orang kembali keluar mobil untuk nonton mobil yang berusaha keluar dari kubangan. Sambil foto-foto, tentu saja
Saking lamanya menunggu, orang-orang banyak yang memutuskan berjalan kaki menuju garis finish. Tapi aku nggak mau. Aku tetap naik ke mobil. Pada halangan kedua, hanya aku dan satu orang temenku yang kembali ke mobil. Pada halangan ketiga, malah hanya aku sendiri yang kembali ke mobil, sementara temenku di depan nonton mobil yang berusaha keluar kubangan. Pada halangan kedua dan ketiga itu, meski ngerasa serem, terbanting-banting, sampe kepalaku terbentur atap mobil, aku masih ngerasakan sisi fun-nya, serta kepuasan ketika akhirnya bisa melewati halangan-halangan tersebut. Maka ketika mobil berangkat lagi menuju halangan berikutnya, aku dengan pedenya tetap naik ke mobil. Kali ini yang ikut naik ada sekitar 7 orang, ada pindahan dari mobil lain yang belum berhasil melewati halangan kedua dan ketiga.
Ternyata lap ini paling berat. Yang kami lewati bukan sekedar satu lubang, tapi beberapa lubang dan turunan terjal. Dan sopirnya dengan cuek menjalankan mobil dengan cepat seperti sedang ngejar setoran. Badan kebanting-banting ke atas-bawah-samping dengan keras. Semula aku masih berusaha bertahan, meski kudengar ada satu orang temen yang mulai beraduh-aduh. Makin lama makin keras, dan aku pun mulai beraduh-aduh. Bahkan akhirnya aku dan temenku berteriak supaya mobil bisa berhenti. Tapi sopirnya gak peduli dan terus berjalan. Besi di mobil yang kami jadikan pegangan sudah patah karena tidak kuat menahan kami. Aku sudah terjatuh ke lantai mobil, dan hanya bisa pasrah membiarkan badan keangkat dan kebanting. Aku sempet ngerasa punggung sampingku membentur jok dengan keras, dan itu menyakitkan. Bahkan aku sempet merasa seolah aku mau terlempat keluar mobil, karena sekilas aku bisa melihat langit. Tapi ternyata tidak, aku masih jatuh lagi ke lantai mobil. Dalam otakku terlintas pikiran, mungkin seperti inilah rasanya orang yang mengalami kecelakaan mobil terbalik.
Akhirnya siksaan itu berhenti juga. Kami sampai di garis finish. Aku tidak bisa langsung bangun, butuh beberapa menit bagiku mengumpulkan tenaga untuk turun dari mobil. Temenku berbaik hati mencarikan air minum untukku. Ketika akhirnya aku memutuskan segera turun, itu karena kulihat sopir gila itu kembali ke mobil. Aku gak mau naik mobil yang disopiri dia lagi. Maka aku pun pindah ke mobil lain yang akan membawa kami ke base camp.
Sepanjang jalan aku diam menahan sakit di punggung samping kananku. Yang kuinginkan adalah segera sampai supaya aku bisa segera berbaring. Ketika sampai di base camp, ternyata sudah ramai. Banyak temen yang sudah duduk-duduk di bawah tenda menikmati hidangan sambil mendengarkan pemain gitar bernyanyi. Begitu sampai tenda, aku mencari tempat yang agak lapang untuk berbaring. Selain sakit, aku ngerasa lemas dan sesak nafas. Temen-temen mulai ribut. Dokter acara pun dipanggil. Mereka banyak nanya, apa yang terjadi. Dan tiap orang baru dateng, mereka nanya lagi. Meski aku tau itu bentuk perhatian, jujur aja rasanya menyebalkan banget harus menjawab pertanyaan2 itu sambil menahan sakit. Ketika ada yang nanya kemungkinan patah tulang, kujawab: “Kayaknya sih nggak, cuma rasanya sakit banget”.
Akhirya dokter acara dan Big Boss memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Dari tenda menuju mobil, aku digotong panitia. Okey, ini kayaknya pengalaman pertama aku digotong karena sakit. Diantar panitia dan temenku, aku dibawa ke Borromeus. Sampai di sana, aku dibawa ke UGD menggunakan tempat tidur dorong. Sempat muncul pikiran, kok kayak adegan di sinetron ya? Btw, ini pengalaman ketigaku ke UGD Borromeus. Dua kali ke sini dalam rangka ngantar orang sakit. Kali ini aku yang diantar orang. Dokter memeriksa punggungku. Dia bilang, ada yang menonjol di situ. Dia pun nyuruh aku untuk segera dirontgen, barangkali ada yang patah. Mendengar kemungkinan itu, aku sempet panik. Ngebayangin jika ada tulang patah, pasti recovery-nya akan lama. Sementara aku punya rencana mau liburan minggu depannya (aku akan menuliskan tentang liburan itu nanti). Untung setelah dirontgen, hasilnya menunjukkan tulangku baik-baik saja. Alhamdulillah. Hanya otot-ototku meradang. Temenku mengurusin obat dan biaya rumah sakit. Aku lalu nelepon temen baikku, Rosna untuk minta dijemput. Setelah Rosna datang, temenku dan panitia acara pamit untuk kembali ke Lembang meneruskan acara outbound.
Aku tidak langsung pulang. Ditemani Rosna, aku masih tiduran di kamar UGD. Menunggu obat yang tadi kuminum bereaksi di badanku. Menunggu rasa sakit ini agak mereda supaya aku cukup kuat untuk membawa diriku pergi dari rumah sakit ini. Sekitar jam 11 malam, aku memaksa diriku bangkit. Pikirku, toh nggak ada tulang yang patah, jadi seharusnya sih nggak apa-apa. Lumayan juga sih, kali ini aku keluar rumah sakit hanya menggunakan kursi roda, dan bisa duduk di mobil.
Selama dua hari setelahnya (Sabtu dan Minggu), aku berusaha meminimalkan gerakan. Hari Senin aku cuti sakit, tapi aku udah bisa pergi ngambil mobil yang tertinggal di Telkom Learning Center. Hari Selasa aku udah ngantor lagi. Ditanya temen2, apakah udah pulih. Mau dijawab masih sakit, kayaknya kok cengeng amat. Mau dijawab sudah baik, nyatanya aku masih kesakitan. Tapi aku terus menguatkan diri, apalagi karena aku udah punya rencana liburan panjang yang nggak boleh kubatalkan.
Jujur aja sampe sekarang, dua bulan setelah kejadian itu, sisa sakit itu masih ada, rasanya belum normal seperti dulu. Tapi ya sudahlah, dijalani saja. Kali ini, jika aku ditanya apakah aku masih mau ikutan offroad lagi, jawabanku nggak akan sesemangat dulu lagi. Aku mungkin akan nanya2 dulu rutenya (level kesulitannya tingkat berapa), akan liat2 dulu musimnya (musim hujan akan membuat medan jadi lebih berat), akan liat2 dulu sopirnya (jangan pilih sopir gila offroad sampe nggak peduli penumpang di belakang udah teriak2 minta ampun), liat2 dulu jenis mobilnya (belajar dari pengalaman kemarin, ternyata lebih aman jika mobilnya punya tempat duduk penumpang yang menghadap ke depan, bukannya menyamping seperti angkot), dll. Tapi kalo misalnya nggak diharuskan, mungkin aku memilih nggak ikutan lagi. Hehehe.. jadi penakut gini akunya.
Catatan:
Blog ini masih error tiap kali judul postingan diklik. Aku gak tau kenapa
. Jadi mohon maaf jika tidak bisa ngisi komen. Mudah2an errornya dapat segera disembuhkan.
Update 15 Mei 2010:
Hore… blognya udah sembuh. Makasih buat yg udah nyembuhin









