Archive for the Category »Life «
Selamat datang bulan yang penuh berkah. Bulan yang dinanti oleh setiap Muslim di dunia. Bulan di mana terbuka kesempatan beribadah dan beramal seluas-luasnya.
Dan ini adalah salah satu lagu religi favoritku. Lebih bagus daripada lagu2 religi yang dinyanyikan penyanyi yang mendadak jadi alim tiap kali Ramadhan datang, dan gak alim lagi begitu Ramadhan usai.
Tapi di sebuah sudut hati, aku juga merasa sedih. Karena biasanya aku terlalu malas sehingga seringnya tidak bisa memanfaatkan bulan baik ini…
Dulu aku pernah baca sebuah humor tentang perbedaan antara laki2 dan perempuan dalam cara menyetir.
Kalo laki2, mereka akan memutar kunci untuk menghidupkan mobil, injak pedal kopling, masuk persneling, turunkan rem tangan, baru injak gas.
Kalo perempuan, mereka akan memutar kunci untuk menghidupkan mobil, injak pedal kopling, masuk persneling, injak gas, setelah jalan 20 meter lalu berhenti, turunkan rem tangan, baru jalan lagi.
Waktu itu aku ketawa geli membacanya. Tapi ternyata humor itu beneran terjadi padaku. Entah sudah berapa kali aku lupa nurunin rem tangan pada saat menjalankan mobil. Kejadian parah yang masih kuingat adalah pada saat aku menjalankan mobil setelah berhenti di lampu merah perempatan Jl. Jakarta - Jl. A. Yani - Jl. Supratman. Pada saat itu memang sempet terlintas perasaan aneh, kok mobil ini susah banget jalannya, padahal aku gak nginjak rem. Begitu mau nyampe lampu merah berikutnya di pertigaan Jl. Supratman - Jl. Katamso, karena harus berhenti lagi, aku berniat narik rem tangan. Dan barulah aku sadar bahwa dari tadi rem tangan itu belum turun. Besoknya ketika aku coba ngukur jarak yang kutempuh dengan kondisi rem tangan masih naik itu, eh buset, ternyata ada sekitar 80 - 90 meter.
Kejadian lain adalah setelah aku beli bensin di POM bensin Jl. Trs. Jakarta. Dari situ aku menuju Jl. Kuningan, dan baru nyadar bahwa aku belum nurunin rem tangan setelah aku mendekati pertigaan Jl. Kuningan - Jl. Purwakarta. Entah berapa puluh meter jarak yang kutempuh. Parah banget ![]()
Selain masalah lupa nurunin rem tangan, aku juga driver yang buruk jika harus berhenti di tanjakan. Aku pernah mau pergi ke daerah Sariwangi. Ternyata jalan menuju ke sana itu merupakan tanjakan yang sangat tajam, dan tersembunyi setelah tikungan. Aku yang baru pertama ke sana, langsung kaget ngeliat tanjakan yang menyambut setelah tikungan itu. Kondisi mobil masih di persneling 2. Dan ketika di tengah tanjakan, mesin mobil nggak kuat dan mati. Susah pula untuk dihidupkan lagi. Aku makin panik karena ngeliat di belakangku ada truk. Karena mobilku nggak jalan-jalan juga, beberapa polisi cepek yang biasa berada di ujung tanjakan dan ngatur jalan, turun ndeketin aku. Ada yang bantu nyariin batu untuk ngganjal mobilku supaya nggak mundur. Aku masih kesulitan ngidupin mobil. Lalu si kenek truk ikutan ndeketin aku. Dia minta aku turun mobil, lalu dia naik dan nyoba ngidupin mobil. Dengan trik tertentu, mobil bisa hidup, dan aku pun selamat.
Kejadian lain adalah di BEC. Di sana, kalo mau make vallet service, maka ada sedikit tanjakan di pintu masuk yang harus dilewati. Jika di depanku sedang nggak ada mobil, aku bisa terus jalan melewati tanjakan itu, lalu berhenti di depan petugas vallet itu. Tapi jika kebetulan di depanku ada mobil yang juga mau pake jasa vallet, sehingga aku terpaksa berhenti di tanjakan itu, bisa terjadi mendadak mesin mati. Daripada ngambil resiko susah ngidupin mobil, lalu mobil mundur lagi, dan bikin panik, aku pun nyuruh semua penumpang mobilku turun, lalu aku matiin mesin dan turun juga. Mobil aku biarkan tetep di tengah tanjakan, lalu aku ndeketin petugas vallet dan ngasih kunci mobil ke dia. Biar dia yang ngidupin mobilku lagi dan membawanya ke tempat parkir ![]()
Aku memang driver yang pelupa. Aku pernah beberapa kali lupa nyalain lampu mobil waktu jalan di malam hari. Alhamdulillah nggak ada kecelakaan. Pernah juga lupa nutup kaca jendela depan sebelah kiri. Ini terjadi dua kali, pertama di parkiran IBCC, dan yang kedua di parkiran kantor. Alhamdulillah nggak ada barang hilang. Aku juga kadang ceroboh kalo mundurin mobil. Kadang terlalu konsentrasi ngeliat spion kanan dan kiri, sampe lupa liat spion tengah. Dan tiba-tiba.. brak.. mobilku nabrak pohon atau tiang yang posisinya di tengah sehingga tidak keliatan di spion kanan dan kiri. Pernah juga ketika harus melewati celah sempit, karena terlalu konsentrasi ke sebelah kanan, tiba-tiba ada suara gesekan di sebelah kiri. Sekali karena ada tiang besi yang rendah, dan sekali lagi kena pintu gerbang.
Dan selama aku punya mobil, aku belum pernah satu kali pun nyuci mobil sendiri. Paling banter ngelap-ngelap. Untuk urusan cuci mobil, selalu ke tempat cucian mobil, atau minta tolong ke cleaning service/office boy kantor (tentu saja dengan imbalan), atau ke pembantu. Tapi dulu ada seorang temenku yang sangat setuju dengan tindakanku itu. Dia bilang, kalo aku nyuci sendiri, itu berarti aku nggak mau bagi rejeki ke orang lain yang butuh penghasilan dari usaha cuci mobil itu. Hahaha.. temenku yang satu itu memang rada gila.
Tapi pernah ada kejadian lucu. Suatu hari seorang temen nanya ke aku, “Nis, rumah kamu di jalan itu ya?” “Iya,” kataku. “Aku pernah lewat jalan itu, dan ngeliat kamu lagi nyuci mobil,” kata dia. Aku pun ketawa dan bilang,” Berarti kamu salah orang. Karena aku gak pernah nyuci mobil sendiri.”
Btw, hari ini aku punya pengalaman baru, nyuci mobil di tempat cucian mobil otomatis. Begitu air mulai disemprot ke mobil, aku udah mulai ngerasa agak2 gimana gitu. Meski aku tau aku nggak akan basah, tapi tetep rasanya agak serem. Ngerasa terkurung di tempat tertutup dan sempit, sementara dari luar kayak ada “serangan”. Mana AC mobil lagi error, jadi nggak bisa kuhidupkan, dan aku pun kepanasan di dalam. Makin mendekat ke tempat di mana ada peralatan2 untuk menggosok dan mengeringkan mobil, perasaan serem itu makin bertambah. Rasanya mirip seperti pada saat naik perahu di Niagara di Dufan, pada saat menaiki tanjakan, kayak ada perasan ingin turun lagi, tapi nggak mungkin. Hahaha.. berlebihan ya.. Tapi setelah selesai, ternyata seneng juga, karena mobil bersih dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mungkin lain kali aku mau ke situ lagi.. Selain buat cuci mobil, kayaknya lumayan juga buat ngerasain sensasi serem2 gitu, daripada jauh2 ke Dufan ![]()
Kalo dari gaya nyetir, aku termasuk driver yang gak sabaran, gak mau ngalah di jalan. Bahkan kepada pengguna jalan yang kepadanya tidak ada gunanya aku keukeuh, seperti becak, sepeda, atau sepeda motor. Tapi ya gitu deh, terdorong perasaan sebel karena mereka2 itu make jalan dengan seenaknya, akunya jadi malah gak mau ngasih jalan.
Soal pengalaman buruk selama nyetir, udah ada beberapa kali. Aku pernah ditabrak motor dari samping. Waktu itu aku mau belok kanan, udah ngasih lampu sign, dan mobil di belakangku udah berhenti untuk ngasih jalan. Tiba2 ada motor ngebut, lalu nyalip mobil yang udah berhenti itu, dan brakk.. kena deh mobil aku. Lumayan penyoknya. Tapi apa sih yang bisa kita harapkan dari motor yang nabrak mobil? Gak ada ceritanya mereka mau ngasih ganti rugi atas kerusakan yang telah mereka bikin.
Pengalaman buruk kedua, terjadi pada saat aku berada dalam kemacetan. Telat ngerem dikit, dan bruk.. tiba-tiba aja aku udah nubruk mobil depanku. Lumayan juga biaya perbaikan yang harus kukeluarkan untuk mobilku dan mobil yang kutubruk.
Pengalaman buruk ketiga, dan ini yang paling bikin aku trauma, ketika aku menabrak sepeda motor yang dinaiki 2 orang perempuan, sampe mereka jatuh ke aspal. Bukan.. masalahnya bukan pada biaya pengobatan dan perbaikan motor yang harus kubayar. Tapi pada saat itu, aku ngerasa jadi orang yang jahat banget karena telah menyakiti orang yang sama sekali belum pernah kukenal. Aku beruntung, karena perempuan yang kutabrak memaafkan aku. Dan aku juga beruntung punya temen2 baik yang membantuku melewati masalah itu.
Sebagai penutup cerita, aku ingin berbagi sebuah pepatah. Katanya, kalo mau tau kepribadian seseorang, liatlah cara dia mengemudi. Jadi dari cara mengemudi aku, bisa dibilang bahwa aku itu orangnya pelupa, ceroboh, gak sabaran, tapi juga gak tegaan. Kok jelek semua ya? ![]()
Kayaknya hal baik yang kulakukan dengan kebisaanku mengemudi hanya satu, yaitu aku nggak keberatan nganterin temen2 deketku pergi atau jalan2 ke tempat yang dia inginkan. Terutama jika itu temen dari luar kota. Tapi errr.. kayaknya itu karena akunya yang suka jalan-jalan..
“Mbak, barangnya mau dibungkus atau mau dibawa langsung?”, tanya petugas di counter Body Shop di PVJ. Pertanyaan itu membuatku teringat pada pertanyaan yang sama yang aku dapatkan di toko buku Aksara waktu aku membeli sebuah buku di sana. Pertanyaan yang simpatik, menunjukkan kepedulian toko-toko itu pada isu lingkungan dengan mencoba mengurangi penggunaan plastik pembungkus.
Dan sama dengan kejadian di toko buku Aksara di mana aku memilih membawa buku tanpa plastik pembungkus, di Body Shop pun aku memilih langsung memasukkan belanjaanku itu ke dalam tasku tanpa dibungkus plastik. Dan kalimat berikutnya yang keluar dari mulut petugas kasir itu tidak kalah simpatik, “Terima kasih telah membantu menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi sampah plastik.” Atau semacam itu deh, aku nggak hapal persis kalimatnya. I really like it
.
Selama ini aku yakin banyak di antara kita yang udah tau isu peduli lingkungan, dan ingin ikut menyelamatkan bumi. Tapi seringnya kita.. ehm.. maksudnya aku, lupa menerapkannya, terutama pada saat sedang belanja. Jadi kalo ada toko-toko yang punya kebijakan untuk mengingatkan pembelinya tentang hal itu, rasanya menyenangkan. Memang sih akan lebih ideal jika toko-toko itu bisa menyediakan pembungkus yang ramah lingkungan alias bisa didaur ulang, seperti yang telah dilakukan oleh Starbucks. Tapi memang pembungkus semacam itu harganya lebih mahal. Dan ujung-ujungnya kemahalan itu akan dibebankan kepada pembeli.
Eh jadi inget pengalaman kalo belanja di Metro Departement Store. Kebalikan dengan di Body Shop dan Aksara, petugas di sana termasuk murah ngasih plastik pembungkus. Misalnya aku beli baju, pertama kali dia akan memasukkan baju itu ke dalam plastik merah berukuran kecil, dan mengisolasinya dengan rapi. Kemudian dia memasukkan bungkusan itu ke dalam plastik merah lebih besar yang bisa ditenteng. Kayaknya itu udah jadi Standard Operation Procedure mereka. Aku gak ngerti apa kegunaan bungkus plastik dobel itu. Kadang-kadang jika aku sempet ngeliat mereka akan memasukkan ke dalam plastik kedua, aku akan mencegahnya dan meminta barang yang udah dibungkus satu kali itu. Tapi seringnya aku tidak merhatiin hal itu, karena lebih merhatiin kasir yang sedang memproses pembayaran, atau malah ngeliat sisi lain toko sambil mikir apa ada barang yang kelupaan belum kebeli. Hmm.. apakah perlu dibikin cause “Stop Penggunaan Plastik Secara Berlebihan di Metro”?
Sebagai orang yang punya hobby belanja (dan udah kuakui di nomor 13 tulisan ini), cukup sering aku beli barang bukan karena alasan kebutuhan, tapi karena alasan emosional. Jadi kalo aku beli-beli barang, belum tentu karena aku butuh barang itu, tapi bisa jadi hanya karena pengin beli. Apalagi kalo ada tulisan “all item X% off’, wah langsung deh lapar mata, meski ternyata barang yang didiskon tidak semua berwarna item.
Seperti kejadian siang tadi. Di parkiran Rumah Makan Bumbu Desa di Jalan Laswi, seorang bapak menawarkan jualannya yaitu dua buah boneka padaku. Yang kecil harganya 25 ribu, yang agak lebih besar 30 ribu. Tapi jika aku mau ambil dua-duanya, dia mau ngasih harga 50 ribu. Meski aku gak tau apakah harga-harga itu kemahalan atau kemurahan, aku beli dua boneka itu. Boneka-boneka yang kata si bapak, baju rajutannya itu dibikin oleh istrinya. Kata si bapak lagi, kalo siang dia jualan di depan rumah makan itu. Tapi kalo udah sore, dia pindah jualan di mana gitu (aku gak terlalu inget lokasi yang dia sebut).

Setelah selesai makan siang (plus sedikit pembicaraan bisnis), Shasya nanya ke aku, “Emangnya mau buat siapa boneka-boneka itu, Nis?” Aku jawab, ” Belum tau. Aku cuma kasian ama bapak itu.”
Yup, lagi-lagi alasanku beli barang kali ini hanya karena alasan emosional.










Recent Comments