Archive for the Category »Book «

01
Dec

Novel karya Donny Dhirgantoro ini memang bukan novel terbitan baru. Kubaca di halaman awal novel, terbitan pertamanya di tahun 2005. Aku membelinya juga udah cukup lama, meski lupa persisnya kapan, karena tidak kutulis tanggal pembeliannya. Kubaca juga bahwa novel yang kubeli itu adalah terbitan ke-12. Berarti bener2 novel Best Seller. Tapi aku baru bacanya hari Sabtu kemarin, pada kesempatan long weekend lebaran Idul Adha ini.. :-)

5cm

Dulu waktu pertama aku liat novel ini, dengan cover hitam pekat dan judul singkat “5 Cm”, aku kira ini sejenis novel detektif atau novel horor :-P . Baru setelah kubaca summary di cover belakangnya, ternyata ceritanya tentang persahabatan lima orang terdiri dari empat cowok dan satu cewek. Namanya masing-masing: Arial, Zafran, Ian, Genta, dan Riani. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama, kemana-mana berlima, makan bareng, nonton bareng, nongkrong bareng, gila-gilaan bareng. Sampe suatu hari mereka merasa bahwa mereka sudah terlalu sering bersama-sama, sehingga merasa terlalu nyaman tapi juga bosan. Lalu mereka sepakat untuk tidak bertemu dan berkomunikasi dulu selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan mereka berpisah, terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya.
Kira-kira itulah yang dibilang summary di cover belakang novel itu. Lalu apakah isi sebenarnya memang seperti itu? Berdasarkan yang kubaca, maka aku akan jawab: tidak sepenuhnya seperti itu. Kok bisa?
Awalnya memang masih sesuai. Perkenalan masing-masing tokoh dengan masing-masing karakternya. Lalu cerita-cerita mereka selama menghabiskan waktu bersama. Lalu sampai mereka memutuskan untuk berpisah selama tiga bulan. Lalu cerita bagaimana masing-masing tokoh itu melewatkan waktu selama tiga bulan itu. Dan berdasarkan yang kubaca, yang mengalami hal yang mengubah hidup mereka hanya dua orang, yaitu Ian dan Arial. Yang lain, menurutku, hanya menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.
Tiga bulan berlalu. Lima sahabat itu telah bertemu lagi. Ditambah satu tokoh lagi yaitu adiknya Arial, mereka berencana melakukan sebuah perjalanan. Sampai kisah ini, jumlah halaman novel yang kubaca sudah sekitar setengahnya, dari total 379 halaman. Pada titik ini, aku mulai meragukan ke-best-seller-an novel ini. Sudah setengah buku kok belum ada serunya. Lalu setengah buku lagi, bakal seperti apa ceritanya? Di summary hanya disebut, mereka merayakan pertemuan mereka dengan melakukan sebuah perjalanan. Nggak disebutkan perjalanan apakah itu.
Atas nama tanggung, akhirnya kupaksa diriku membaca terus. Ternyata mereka berlima, ditambah adik kembar Arial yang biasa dipanggil Dinda merencanakan untuk mendaki Gunung Mahameru dan ikut merayakan Peringatan Kemerdekaan Indonesia di puncaknya. Perjalanan dimulai dengan naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Malang. Selama perjalanan, meski ada bagian yang menceritakan sebuah peristiwa yang cukup mengharukan tentang para penjual nasi di stasiun Yogya, aku masih menganggapnya biasa saja. Akhirnya mereka sampai di tujuan di stasiun Malang, lalu mereka mencari angkot untuk dicarter menuju sebuah pangkalan jip. Begitu perjalanan dilanjutkan naik jip off road, aku baru mulai menemukan hal menarik. Dari mulai cerita dinginnya udara yang dirasakan para penumpang jip, lalu bagaimana mereka melompat menggapai daun minyak kayu putih dari pohon yang dilewati oleh jip, lalu ketika jip berhenti di sebuah tikungan untuk melihat pemandangan menakjubkan dari Mahameru dan Bromo. Ugh… dari deskripsi yang tertulis di situ, aku bener2 berharap bisa menyaksikan keindahan itu dengan mata kepalaku sendiri.
Dan sampai novel selesai kubaca, yang selalu menarik perhatianku adalah ketika penulis menggambarkan keindahan alam yang dilalui selama perjalanan sampai puncak Mahameru. Terutama ketika rombongan sampai di danau Ranu Kumbolo dan di puncak gunung Mahameru. Lagi2 aku berharap aku bisa menyaksikannya sendiri secara langsung.
Makanya ketika aku baca di blog 5 Cm, bahwa saat ini novel tersebut sedang dalam proses pembuatan menjadi film, aku termasuk yang setuju supaya syuting filmnya nanti beneran di Mahameru. Jangan hanya di studio. Katanya sih film tersebut akan rilis tahun depan. Smoga memang hasilnya bisa seindah gambaran novelnya.
Lalu gimana nih kesimpulannya, novel ini rekomended nggak? Hm.. kalo aku sendiri sih hanya suka membaca bagian perjalanan ke Mahamerunya. Tapi ini bener2 subyektif menurut aku lho… Sementara kalo aku baca-baca kesan dari pembaca lain yang juga sedikit dibahas di novel itu, ternyata ada pembaca yang termotivasi setelah membaca novel ini. Ada pembaca yang merasa hidupnya berubah setelah membaca novel ini. Dan dengan bukti bahwa novel ini sampe dicetak ulang sampe lima belas kali, maka secara logika novel ini memang bagus.
Kalo ada pertanyaan kenapa judulnya “5 cm”, di mana letak “5 cm” dalam novel tersebut? Hehehe.. aku nggak mau spoiler. Silakan temukan sendiri jawabannya dengan membaca novel itu. Buat sang pengarang, ide anda tentang “5 cm” ini keren.
Dan kalo ada pertanyaan kenapa aku nggak termasuk orang yang termotivasi setelah membaca novel ini, hmm.. mungkin memang motivasi dalam diriku sudah mati suri. Sehingga nggak mudah dibangunkan hanya dengan membaca sebuah novel best seller. Maaf, Donny. Masalahnya ada di aku kok, bukan di novelmu.. Tapi kalo boleh ngasih saran, berikan sedikit gambaran yang lebih menarik tentang perjalanan ke Mahameru itu di cover belakang novel, dari pada sekedar kalimat “perjalanan yang mengubah hidup mereka”. :-)

Ini adalah judul sebuah buku lama karya Dewi ‘Dee’ Lestari, sebuah Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (1995-2005). Buku keempat Dewi Lestari yang aku baca, setelah Supernova, Akar, dan Petir. Aku membelinya pada tanggal 10 Oktober 2006. Itu berarti sebelum aku ngeblog (aku mulai ngeblog beneran di bulan Desember 2006). Eh.. sebenarnya aku tidak ingat kapan aku membeli buku itu. Hanya kebetulan pada saat itu aku ingat untuk menuliskan tanggal pembelian di halaman awal buku itu. Untuk buku-buku lain, aku lebih banyak tidak ingat :-D
Salah satu cerita dalam buku itu yang punya judul sama dengan judul bukunya, yaitu Filosofi Kopi, bercerita tentang seorang pecinta kopi bernama Ben. Dia pergi keliling dunia, mencari korespondensi untuk mendapatkan kopi-kopi terbaik, berkonsultasi dengan pakar-pakar peramu kopi, menyelusup ke dapur, menyelinap ke bar saji, mengorek rahasia ramuan kopi, demi mendapatkan takaran paling pas untuk membuat bermacam jenis kopi. Sampai akhirnya, bersama sahabatnya yang bernama Jody (si tokoh “aku” dalam cerita ini), membuka kedai kopi sendiri. Keistimewaan kedai kopi ini adalah karena Ben menyajikan tiap kopi dengan cinta, dan cerita tentang kopi itu. Sampai pada puncaknya, kedai yang semula bernama “Kedai Koffie BEN & JODY” diubah menjadi “FILOSOFI KOPI, Temukan Diri Anda di Sini”.
Suatu saat, Ben menerima tantangan seseorang untuk menciptakan ramuan kopi yang bisa menggambarkan kesuksesan orang itu. Dan dengan perjuangan yang gila, Ben berhasil. Kopi ramuannya yang diberi nama “Ben’s Perfecto”, yang kemudian menjadi menu andalan kedai kopi mereka, memberikan rasa yang “sempurna”. Sampai suatu saat, kebanggaan Ben atas kopi tersebut luluh lantak akibat sebuah berita bahwa di suatu tempat terpencil di Jawa Tengah, ada orang yang bisa menyajikan kopi yang lebih enak dari kopi buatannya.
Akhir cerita di atas, dan cerita-cerita lain, silakan dibaca sendiri, bagi yang belum pernah baca. Kalo yang sudah pernah baca, boleh juga dibaca ulang. Seperti yang kulakukan barusan. Ini karena tadi siang aku baca sebuah informasi di Facebook tentang akan adanya acara “Gathering Pembaca Filosofi Kopi dengan Dewi ‘Dee’ Lestari” , pada hari Minggu kuturut ayah ke kota.. eh salah.. pada hari Minggu tanggal 19 Juli 2009, jam 15.00 WIB. Tempatnya di Potluck Coffee Bar & Library, Jl. H. Wasid No. 31 – Bandung. Harga tiket Rp 69.000, sudah termasuk makan dan kopi. Jika ada yang berminat datang, bisa hubungi contact person yang ada di undangan di Facebook itu.

filosofi-kopi

Tentang Potluck, aku baru pernah satu kali ke kafe itu. Dulu banget, kurang lebih 3 tahun lalu, waktu Potluck masih di lokasi yang lama. Bersama beberapa temen baik. Temen-temen yang sekarang udah terpencar di mana-mana, berada di puncaknya masing-masing. Sementara aku masih di sini-sini saja *halah*. Tapi aku rasa aku beruntung pernah punya temen2 sebaik mereka :-)

Category: Book, Event  Tags:  8 Comments
11
Jul

Lelaki yang menjadi ikan itu menyaksikan sisik-sisiknya bermunculan, himpit-menghimpit. Terasa licin dan kasar. Waktu sisik pertama keluar ia merasa geli. Dan sisik itu muncul dari ujung kaki. Lelaki itu masih sempat memandangnya. Sesempat ia memandang tebing curam tempat ia terjun. Di mana perempuannya berdiri termangu, takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Duhai, lelakiku benar-benar menjadi ikan.
Lelaki itu menyelam. Kini kakinya sudah sepenuhnya bersisik. Sisik-sisik itu perlahan-lahan merambat ke pinggulnya, terus ke perut dan ke bagian atas tubuhnya. Tiap kali sisik-sisik itu naik, tiap kali pula lelaki itu merasa geli. Ia merasakan tubuhnya licin dan kasar. Sebentar lagi seluruh tubuhku akan menjadi ikan, katanya ketika sisik itu sampai ke dadanya.

Dua paragraf di atas adalah pembukaan dari sebuah cerpen berjudul “Lelaki Ikan”, yang merupakan salah satu cerpen dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama, karya dari Hudan Hidayat, yang diterbitkan pertama kali oleh PT Kompas Media Nusantara pada bulan September 2006. Buku itu kubeli pada sebuah event “Pesta Buku Super Murah” di Gramedia. Hehehe.. ternyata bukan cuma diskon di Metro atau Sogo yang bikin aku hilang akal. Pesta buku itu juga membuatku kemaruk dengan membeli buku2 sbb: buku kumpulan cerpen yang sudah kusebut di atas, buku marketingnya Hermawan Kartajaya, buku pedoman praktis beraliansi dengan pers, buku tentang Mac (sementara Mac-nya sendiri belum kupunya :-P ), buku lama berjudul “Think”, dan sebuah majalah National Geographic. Oh ya, buku2 itu tidak ada yang terlalu tebal, karena aku sadar bahwa aku nggak telaten lagi untuk nyelesaikan buku2 tebal :-D

lelaki-ikan

Kembali ke cerpen “Lelaki Ikan” di atas. Seperti sudah diketahui dari paragraf awal, cerita ini tentang seorang lelaki yang berubah menjadi ikan. Dia meninggalkan istri dan 2 orang anaknya, dan memulai hidup barunya di laut. Dia berjanji pada istrinya bahwa tiap purnama akan muncul di tebing tempat dia menjatuhkan diri ke laut, dan akan melakukan lompatan tinggi sebanyak tiga kali supaya istri dan anaknya bisa melihatnya dan melepas kerinduannya.
Waktu berjalan. Lalu muncul cerita lain. Cerita tentang seorang nelayan yang selama setahun terakhir tangkapannya berkurang dan tidak cukup untuk memenuhi keperluan istrinya yang sedang mengandung anak yang sudah lama dinanti mereka. Malam itu dia berjanji tidak akan pulang jika dia tidak membawa tangkapan. Malam itu bulan purnama. Malam itu lelaki ikan mendekati tebing dan memunculkan dirinya, berharap istri dan anak2nya ada di sana dan melihatnya. Tapi dia kecewa, karena perempuan yang di tebing itu adalah orang lain, yang ternyata adalah istri si nelayan itu. Kemana gerangan istrinya, kenapa selama tujuh tahun tidak pernah muncul di tebing itu? Karena sedih, dia jadi tidak waspada. Lalu dia pun tersangkut mata kail si nelayan. Lalu terjadilah pertarungan antara dua makhluk yang sama-sama keras kemauannya. Yang satu tidak ingin mati sebagai ikan, dan yang satu lagi tidak ingin pulang tanpa membawa ikan. Akhir cerita.. ah kayaknya nggak boleh spoiler deh.. :-P
Cerpen yang aneh. Dan agak2 bikin merinding, membayangkan bagaimana jika aku yang ngalami kejadian kayak gitu, berubah menjadi makhluk lain. Tapi jangan jadi ikan deh, karena nanti ditangkap nelayan, dan jadi santapan manusia :-D
Selain cerpen “Lelaki Ikan”, masih ada dua puluh tiga cerpen lagi dalam buku itu. Belum semuanya kubaca. Tapi jika dilihat dari pengantar penulis di halaman awal, dan catatan dari pembaca di halaman akhir, maka cerpen-cerpen yang hadir di sini banyak mengisahkan sisi gelap kehidupan manusia, tentang kegilaan, kesakitan, dan kekerasan.
Contoh “kegilaan” yang lain dapat dibaca pada cerpen ketiga yang berjudul “Ayat Gelap”. Bercerita tentang seorang anak yang sedang mencari jati diri, sedang berusaha mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otaknya: “Dari mana Tuhan itu berasal? Siapa yang menciptakan-Nya?” Ada juga pertanyaan tentang takdir, yang kurang lebih dapat disimpulkan begini: “Tuhan telah menetapkan takdir kami, bahkan ketika kami belum lahir. Tapi kami tetap harus berusaha. Bukankan usaha kami akan sia-sia, karena Tuhan yang menentukan segalanya?”
Karena hanya cerpen, maka cerita yang ditampilkan tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari pembacanya. Misalnya pada cerpen “Lelaki Ikan”, kita tidak diberi tau alasan kenapa lelaki itu ingin menjadi ikan, kenapa istri dan anak2nya nggak pernah dateng ke tebing itu pada bulan purnama untuk menengok si ikan, apa yang terjadi di kehidupan mereka setelah ditinggal lelaki itu, dll. Demikian juga di cerpen “Ayat Gelap”, tidak diberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan anak tersebut. Pembaca dipersilakan mengembangkan imajinasinya sendiri, mencari jawabannya sendiri. Kalo mau. Kalo nggak mau ya gak papa :-D
Btw, soal “Lelaki Ikan” itu, ada sedikit hal yang terasa salah. Di cerpen itu disebut bahwa lelaki itu sudah menunggu istrinya selama tujuh tahun di tebing sejak dia menjadi ikan. Tapi di bagian lain, disebut sudah ratusan purnama istrinya tidak muncul. Jika satu tahun itu terdiri dari 365 hari, dan jika bulan purnama terjadi tiap 28 hari sekali, maka selama tujuh tahun itu baru terjadi purnama sebanyak 91 kali. Belum sampai seratus. Atau mungkin itu hanya hiperbola? Atau mungkin juga bulan yang muncul pada H-1 sampai H+1 purnama dihitung sebagai purnama juga, secara bulannya udah cukup bulat? Hahaha.. cuma becanda lho, jangan dianggap terlalu serius. Maaf ya, pak Hudan Hidayat. Aku harap nggak tersinggung dengan kata2ku tadi :-)
Udah ah. Mau lanjut baca lagi. :-)

Category: Book  Tags:  5 Comments

Judul buku yang menarik itu membuat aku mengambilnya dari rak sebuah toko buku. Dan sesuai kebiasaan, aku langsung membuka halaman tengah, mencoba mencari tau tentang apa buku ini. Tapi yang kutemukan hanya sebuah kalimat tak berujung pangkal. Oops.. pasti ada cara tertentu untuk membaca buku ini, pikirku. Jadi aku pun membuka halaman pertama. Dan kutemukan petunjuk sebagai berikut:

How to Use The Book of Answers:
1. Hold the closed book in your hand, on your lap, or on a table.
2. Take 10 or 15 seconds to concentrate on your question. Question should be phrases closed-end, e.g. “Is the job I’m applying for the right one?” or “Should I travel this weekend?”
3. While visualizing or speaking your question (one question at a time), place one hand palm down on the book’s front cover and stroke the edge of the pages, back to front.
4. When you sense the time is right, open the book and there is your answer.
5. Repeat the process for as many questions as you have.

boa1

Hohoho.. gitu ya caranya. Ok, aku test. Aku pikirkan sebuah pertanyaan tentang sebuah perjalanan, tapi gak nyampe 10 detik sih. Kelamaan :-P . Lalu aku buka buku itu. Hmm.. rasanya jawabannya nggak nyambung :-D . Coba lagi ah, dengan pertanyaan kedua tentang sebuah pekerjaan. Kali ini jawabannya agak bisa disambung-sambungin. Tentu saja, buku itu tidak akan bisa memberikan jawaban yang bener2 cocok. Tergantung kita mempersepsikan jawaban yang kita dapat dengan pertanyaan yang kita pikirkan. Hehehe.. lucu juga. Aku mulai nimbang2, beli atau nggak, beli atau nggak. Ah.. tanya aja ke si buku. Dan jawabannya kali ini bener2 bikin aku ketawa: “You don’t really care”. Ok deh, karena aku gak peduli apakah aku perlu beli atau tidak, aku putusin untuk membelinya. Lumayan buat lucu-lucuan :-D
Esok harinya aku sengaja bawa buku itu ke kantor. Pada saat jam istirahat, aku kasih liat ke temen-temenku. Beberapa orang mau nyobain, dan langsung bisa menangkap sisi humor dari buku itu, sehingga yang terjadi adalah kami tertawa rame2. Tapi ada juga yang tidak mau membaca petunjuknya lebih dulu, juga tidak mau ndengerin penjelasan cara makenya, sehingga malah bikin pertanyaan aneh, dan ketika jawabannya nggak nyambung lalu dia nyalah2in si buku. Please deh, serius amat sih. Di mana rasa humornya? :-P
Pada saat kopdar Jumatan dengan para Batagoris, buku itu juga kubawa. Para peserta kopdar waktu itu rame2 nyobain beberapa pertanyaan. Ada yang serius, ada yang ngaco. Ada yang ngerasa jawabannya cocok, ada yang bingung karena ngerasa nggak nyambung. Hihihi.. gak papalah.. namanya juga cuma buat seru-seruan. Senny bilang, buku itu pernah dibahas di majalah Cosmopolitan. Bagus Rully nanya, apakah ada jawaban yang sama di buku itu? Aku jawab gak tau, karena aku belum buka semuanya. Lagian buat apa baca semua isi buku yang tebalnya sekitar 4 cm itu. Ini bukan novel yang harus ditamatkan isinya. Jumlah halamannya tidak bisa diketahui, karena tidak ada nomor halaman (mungkin itu untuk mencegah orang ngapalin nomor halaman yang jawabannya bagus, lalu dia akan pilih halaman itu terus untuk tiap pertanyaan :-D ). Tapi sebenarnya, sebuah halaman yang udah pernah dibuka, cenderung akan lebih gampang untuk dibuka lagi, karena udah ada bekasnya. Dan halaman2 paling awal atau paling akhir akan merupakan halaman yang sangat jarang dibuka, karena tangan kita cenderung akan memilih halaman-halaman tengah.
Aki Herry mencoba menganalisa (meski beliau tidak ikut2an iseng bikin pertanyaan). Menurut beliau, jawaban di buku itu bisa digunakan untuk menjawab (hampir) semua pertanyaan. Jadi apapun pertanyaan yang kita ajukan, akan bisa dijawab. Yah.. kira2 begitulah, Ki.. :-D
Jadi resep untuk membaca buku ini hanya satu: jangan terlalu serius. Kira-kira anggap aja seperti dulu pernah ada permainan ramal-ramalan pake kartu, atau pake garis tangan, atau cincin yang diayun-ayun, atau semacam itu. It’s just for fun, dan hasilnya jangan terlalu dimasukin pikiran atau hati.
Btw, aku pernah mengajukan pertanyaan gini: Apakah buku ini bisa dipercaya? Dan jawaban yang kudapat adalah: “Don’t waste your time”. Jawaban ini menimbulkan dilema. Jika aku percaya jawaban itu, berarti mungkin aku bisa percaya jawaban2 yang lain, dan berarti juga buku itu tidak membuang waktu. Tapi jika aku tidak percaya jawaban itu, berarti aku tidak percaya bahwa buku itu membuang waktu.. Negatif dari negatif hasilnya malah jadi positif.. hahaha..
Oh iya, penulis buku ini adalah Carol Bolt, seorang professional artist yang tinggal di Seattle, sebuah kota kreatif di mana lahir merek-merek ternama seperti Starbucks, Microsoft, Boeing, dll.
Jika ada yang penasaran dengan buku ini, silakan kunjungi situsnya di alamat ini . Di situ kamu bisa nyobain ngajuin pertanyaan dan ngeklik jawabannya. Jadi gak usah beli hard copy-nya. Karena untuk sebuah keisengan, harga buku ini lumayan juga. Belum lagi kalo punya sifat gampang bosen. Kayaknya bentar lagi buku itu akan menambah tumpukan buku yang gak pernah habis kuselesaikan. Kayaknya memang membeli dan memiliki buku lebih menarik bagiku daripada menyelesaikan membacanya. Kecuali beberapa buku yang sangat istimewa. Tapi hey.. bukankah dari awal aku udah menyatakan bahwa: “I don’t really care” :-D

Category: Book  Tags:  11 Comments

Sebenarnya aku mentargetkan mengisi long weekend ini antara lain dengan menyelesaikan buku “Maryamah Karpov”. Tapi kemudian aku berubah pikiran. Aku tak ingin membaca buku Andrea Hirata itu dengan terburu-buru, yang bisa berakibat aku selesai membacanya tapi gak paham isinya. Aku ingin menikmati buku itu dengan tenang, mozaik per mozaik, meski itu berarti akan makan waktu lama untuk menghabiskannya. Akhirnya sasaran bacaan berpindah ke buku berjudul “Kau Memanggilku Malaikat”. Sebuah buku yang kubeli di Gramedia hari Minggu sore kemarin karena tertarik dengan judulnya, dan mungkin juga karena pengarangnya Arswendo Atmowiloto.
Dan seperti yang kuharapkan, novel dengan ketebalan hanya 271 halaman yang mulai kubaca tadi malam bisa kuselesaikan pagi hari ini. Tokoh dalam novel ini adalah malaikat kematian. Cocok dengan situasi kali ya, secara pagi ini banyak hewan kurban yang menemui ajalnya :-D . Sedikit mengingatkan aku pada film “City of Angels”, dan film malaikat kematian lain yang dibintangi oleh Brad Pitt.
Si malaikat kematian yang menjadi “aku” di novel ini mempunyai “tugas” (jika itu bisa disebut sebagai tugas) untuk menjemput orang-orang jika waktunya sudah tiba, dan menemani mereka sampai tiba waktunya mereka harus pindah ke tahap berikutnya lagi. Bermacam manusia yang harus dia jemput. Seorang istri yang setia, tulus dan mengabdi pada orang tua dan suaminya, meski suaminya mengkhianati dia dengan menyelingkuhi adik dari menantunya. Seorang preman yang disiksa dan dibakar hidup-hidup. Seorang siswi SMP yang cantik, yang dibunuh polisi karena melawan saat diperkosa. Seorang pensiunan pengusaha yang mati saat bersama wanita simpanannya. Seorang ibu yang mengajak tiga anaknya minum racun bersama. Seorang istri patuh yang membawa bom ke tempat yang disuruh suaminya dan meledakkannya di sana. Seorang supir bus yang membawa rombongan anak-anak sekolah, dan kemudian busnya jatuh ke jurang. Dan masih ada yang lain.
Sebagai malaikat, dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa tetap menemani Nyonya Tesa, sementara di tempat lain dia sedang menjemput Popon dan Ife. Dia memperlakukan mereka sama semua, tidak ada perbedaan. Dan selama dalam masa transisi itu, orang-orang yang dia jemput juga mendapat hak yang sama. Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka punya kesempatan untuk mengulang hidup mereka lagi sesuai keinginan mereka, dalam pikiran mereka. Yang berbeda adalah lamanya waktu yang mereka jalani dalam masa transisi itu, dan bagaimana mereka memanfaatkan waktu itu.
Tapi semua berbeda ketika malaikat ini harus menjemput Di, seorang anak kecil yang sakit berat karena banyak vlek di parunya. Seorang anak kecil yang mempunyai bapak yang suka menulis puisi dan ibu yang suka menembang. Salah satu puisi yang ditulis bapaknya adalah sebagai berikut:

“selamat pagi, Di
mari kita lanjutkan mimpi semalam
sebelum kita terbenam lagi
dalam pelangi”

Sejak pertama si malaikat datang, Di langsung mengenalinya dan mengatakan sudah pernah bertemu sejak dia masih di kandungan. Hal yang membuat si malaikat heran karena dia tidak ingat pernah bertemu dengan Di. Keanehan lain, ketika sudah waktunya Di pergi, ternyata dia masih berada di dunia manusia, dan masih bisa bercakap dengan bapak dan ibunya, meski orang lain tidak mendengar. Bahkan setelah jenazahnya dimakamkan, Di masih tidak mau ikut si malaikat. Di masih bisa basah oleh hujan. Di masih berjalan-jalan, mengajak si malaikat mengenali perasaan manusia hidup. Membuat si malaikat belajar bahwa tidak semua orang mati itu sama, hal yang selama ini dijalaninya dengan tanpa pertanyaan. Di bahkan bisa menghilang dari si malaikat yang seharusnya selalu menemaninya. Akhirnya si malaikat sadar bahwa mungkin juga Di adalah malaikat yang lain. Karena Di, untuk pertama kalinya si malaikat merasakan rindu. Dia rindu akan Di.
Di sini aku tidak ingin membahas kehidupan setelah mati yang digambarkan di novel ini. Meski memang sempet timbul pertanyaan kenapa tidak ada perbedaan antara manusia baik-baik yang mati dan manusia tidak baik-baik yang mati, tapi kemudian aku pikir toh ini cuma novel, cuma fiksi, cuma buatan manusia. Tentu saja dibikin mudah, karena manusia tidak akan bisa menyamai kompleksitas ciptaan Yang Maha Pencipta. Menurutku yang lebih ingin disampaikan novel ini adalah tentang hidup sebelum mati. Cerita tentang orang-orang itu bisa saja terjadi di kehidupan nyata di orang-orang di sekitar kita, atau bahkan dalam kehidupan kita sendiri. Tentang pilihan hidup, tentang pengorbanan, tentang rasa ketidakadilan, tentang cinta, tentang rindu, tentang air mata.
“Wujud cinta adalah air mata”
“Rindu adalah air mata”
“Air mata, itulah sebenarnya sayap yang paling penuh makna”

Oh tidakk… aku jadi merasa aneh karena bersikap serius seperti ini. :-D

Category: Book  Tags:  6 Comments