Hari Kamis tanggal 26 November kemarin, ada dua orang yang kutemui yang menyebutku “aktivis blogger”. Sebutan yang membuat aku jadi senyum agak malu, karena udah dua bulan lebih aku tidak mengupdate blog-ku ini. Yang membuatku cukup surprise, salah seorang yang mengatakan hal itu adalah Pak Widi Nugroho, Head of Digital Business PT Telkom. Meski kami bekerja di perusahaan yang sama dan berteman di Facebook, tapi baru kali itu aku bersalaman dengan beliau di dunia nyata. Eh ternyata beliau menyebutku seperti itu. Hihihi.. aku pun jadi seperti termotivasi untuk segera mengupdate blog-ku. Makasih ya, Pak.. Makasih juga buat seorang temen lain yang juga menyebutku seperti itu. Aku menerimanya sebagai pujian ![]()
Oh iya, hari itu aku ke Jakarta karena ada undangan acara sosialisasi tentang Speedy Games. Jadi ya, seperti sudah banyak diekspose di media massa, Telkom telah bertransformasi dari perusahaan yang semula hanya berbisnis Telekomunikasi, menjadi perusahaan yang berbisnis TIME (Telekomunikasi, Informasi, Media, dan Edutainment). Sebagai salah satu perwujudan perubahan portofolio bisnis itu, maka untuk ke depan, Telkom tidak hanya menyediakan pipa seperti yang selama ini telah dilakukan, tapi juga akan lebih fokus di bisnis konten, baik melalui akuisisi perusahaan yang sudah ada atau membuat anak perusahaan baru. Beberapa waktu lalu Telkom telah melaunching situs Mojopia yang diharapkan akan menjadi portal e-commerce terbesar di Indonesia. Dan untuk layanan Speedy, Telkom akan menyediakan konten-konten spesial yang akan makin memanjakan pelanggannya. Salah satunya Speedy Games ini, yang merupakan hasil kerja sama Telkom dengan sebuah content developer.
Dengan sistem berlangganan bulanan, yang tagihannya akan digabung dengan tagihan Speedy biasa, pelanggan Speedy akan bisa menikmati berbagai games berlisensi, yang jumlahnya akan bertambah terus. Games berlisensi akan membuat para pecinta games tidak perlu khawatir dengan razia yang belakangan ini sering dilakukan pihak berwenang. Selain itu, dengan tersedianya games-games yang bisa dinikmati di rumah melalui layanan Speedy, maka para pecinta games tidak perlu mendatangi games center, dan para orang tua jadi berkurang kekhawatirannya karena anak-anaknya tidak perlu keluar rumah untuk bermain games. Kedengarannya menarik ya? Makanya buruan kunjungi Speedy Games dan segera daftarkan nomor Speedy-mu di situ. Bagaimana jika belum punya Speedy? Ya gak usah bingung. Tinggal datang ke kantor Telkom terdekat dan segera pasang Speedy. ![]()
Ok deh, cukup berpromosinya. Sekarang aku mau cerita sisi lain dari perjalanan ke Jakarta itu. Sebenarnya aku udah berencana untuk cuti pada hari Kamis itu, ngambil moment lebaran Idul Adha untuk pulang kampung lebih lama. Tapi kemudian rekan kantorku ngajak aku untuk ikutan acara sosialisasi Speedy Games itu. Ngeliat topik yang nampak menarik itu, secara aku sedang tertarik dengan hal-hal terkait konten dan komunitas, maka aku pun memutuskan untuk menunda cutiku demi acara itu. Tadinya aku pikir kami akan naik mobil, seperti yang orang-orang lakukan jika melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Tapi pada hari Rabu sore itu, temenku ngajak naik kereta api, dari pada harus bermacet-macet naik mobil. Semula aku enggan, karena aku khawatir kalo naik kereta api, maka kami akan kemaleman sampe ke Bandung, secara di undangan tercantum acara selesai jam 15.30 WIB. Sementara aku udah pesen tiket travel pulkam untuk hari Kamis malem. Kemudian aku tanya ke temenku yang jadi tuan rumah acara itu, kira-kira selesainya jam berapa. Dia jawab, nggak akan sampe sore kok. Akhirnya aku mau juga naik kereta api. Aku cari jadwal kereta api Bandung – Jakarta – Bandung, dan menemukan jadwal yang kira-kira pas adalah berangkat naik kereta jam 6.35 pagi dan pulang naik kereta jam 13.30. Aku infokan ke temenku yang mau berangkat bareng, dan dia setuju. Nampaknya semua akan beres, pikirku malam itu.
Hari Kamis paginya, sekitar jam 6 pagi kurang sedikit, temenku nelepon. Dia udah sampe di stasiun, sementara aku baru mau berangkat. Dia usul gimana kalo nanti kami pulang lebih awal, jangan jam 13.30. Dia bilang dia ada acara jam 15.00 di Bandung. Jadi kalo bisa, jam 12.00 kami udah pulang dari Jakarta. Meski kaget dan sebel, aku bilang supaya dia coba liat jadwal kereta api, apakah ada yang ke Bandung jam segitu. Sambil kubilang juga, bahwa kalo kami pulang jam 12.00, berarti acara pasti belum selesai. Dia bilang nggak apa-apa, nanti kami bisa minta ijin ke penyelenggaranya. Aku males berdebat. Aku pun berangkat ke stasiun. Di sana bertemu dengan temenku, lalu dia bilang dari pada harus nunggu kereta jam 13.30, gimana kalo nanti pulangnya naik travel aja. Pembicaraan nggak berlanjut, karena kami lalu masuk kereta api. Perjalanan cukup lancar, kereta nyampe di Gambir tepat waktu jam 09.45. Sebenarnya jika ngikuti skenario awal bahwa kami mau pulang naik kereta api jam 13.30, aku mau langsung beli tiket pulang di Gambir. Karena aku pikir menjelang long weekend ini, penumpang kereta pasti penuh. Tapi karena tadi di Bandung, si boss itu bilang pengin naik travel, maka aku pun nggak jadi melaksanakan rencana awal. Disambut gerimis di luar stasiun, kami kemudian mencari bajaj untuk menuju ke kantor Telkom tempat pelaksanaan acara.
Acara dimulai sekitar jam 10, dibuka oleh Pak Widi. Jujur aja aku selalu suka acara sharing knowledge seperti ini, karena bisa membuka wawasan. Jadi pikiran nggak melulu terpaku pada sales, program, event, dan rutinitas-rutinitas lain. Tapi konsentrasiku agak terganggu dengan pikiran tentang tiket pulang yang belum kepegang. Sekitar jam 11-an aku coba hubungi agen travel ke Bandung buat pesen tiket. Tapi ternyata aku disuruh langsung datang ke pool, nggak boleh pesen via telepon. Aku kemudian bergeser ndeketin tempat duduk temenku buat ngomongin hal itu. Ternyata dia juga udah nelepon agen travel yang sama dan dapet jawaban serupa. Dia bilang travel itu banyak, kami pasti dapet tempat duduk. Saat itu udah mulai ada perasaan gondok di hatiku, karena kami sudah melepaskan kesempatan naik kereta, tapi ternyata travel pun belum ada kepastian kami dapat yang jam berapa.
Mendekati jam 12, acara break untuk pelaksanaan sholat dan makan siang. Setelah sholat, temenku ngajak kami pergi duluan ninggalin acara. Aku bilang, mending kami makan siang dulu. Kemudian temenku mengatakan sesuatu yang bikin aku harus menyabar-nyabarkan diri. Dia bilang, dari pada ke travel belum tentu dapet kursi, mending kami ke Gambir aja naik kereta jam 13.30. Halloww, apa kabar dengan keinginan dia pulang lebih cepat naik travel? Kalo akhirnya mau pulang naik kereta, mending beli tiket dari tadi. Kalo ngedadak gini, aku nggak yakin dapet, karena mau long weekend. Lalu aku mengatakan pada diriku sendiri, menggerutu sekarang tidak ada gunanya. Jadi setelah makan siang dan sedikit mengikuti kelanjutan acara, maka sekitar jam 13 kurang, kami perlahan-lahan meninggalkan ruangan. Naik bajaj lagi menuju Gambir. Sampai di sana, kami menjumpai antrian calon penumpang untuk membeli tiket jam 13.30, tapi ternyata kursinya udah abis. Yang mungkin masih ada kursi adalah kereta yang jam 14.30. Temenku nggak mau, jadi dia ngajak kami pergi nyari travel. Pada saat kami berjalan menuju keluar stasiun, aku sempet berharap, kalo saja ada calo tiket, mungkin masalah kami akan terbantu. Tapi kayaknya calo memang sudah diberantas.
Setelah sedikit kena gerimis di luar stasiun, kami lalu naik taksi menuju ke pool travel di Jalan Blora. Pada saat naik taksi, temenku sempat nanya ke sopir taksi, barangkali si sopir mau nganterin sampai Bandung dengan harga tertentu. Rupanya temenku itu sudah gelisah karena mikirin acara dia di Bandung. Tapi sopir taksinya menolak, karena itu udah di luar wilayah dia, sehingga kalo ada apa-apa dia tidak akan ditanggung oleh perusahaan. Kami nyampe di pool travel sekitar jam 13.20 dan langsung mendaftar travel. Ternyata untuk keberangkatan jam 13.30 dan jam 14.00, kursi udah penuh. Jadi kami dapet keberangkatan jam 14.30. Deg… keki rasanya hati ini. Udah dibela-belain jauh-jauh ke sini, akhirnya dapet jadwal sama dengan jadwal kereta api yang kami tinggalkan di stasiun tadi. Tapi ya sudahlah, udah kejadian gini. Aku hanya bisa berharap, semoga kami tidak terjebak macet menjelang long weekend, karena aku takut kalo kemaleman sampe Bandung, bisa-bisa aku ditinggal travel pulkam-ku.
Sambil nunggu waktu keberangkatan, temenku bilang, harusnya kami tadi langsung beli tiket kereta pulang begitu nyampe di Gambir tadi pagi. Aku jawab, tadinya aku udah rencana gitu. Tapi karena katanya mau naik travel karena pengin lebih cepet, maka aku batalin. (Lalu aku sambung dalam hati, akhirnya malah gini. Bukannya lebih cepet, malah lebih lama dan berputar-putar. Padahal udah bela-belain ninggalin acara yang belum selesai.) Temenku bilang, dia lupa kalo besok itu long weekend, makanya dia nggak nyangka kalo tiket kereta cepet habis. Aku bergumam dalam hati, itulah kalo nggak mau ndengerin orang lain. Perasaanku sih aku udah bilang soal long weekend itu dari malam sebelum kami pergi itu, pada saat aku bilang soal jadwal kereta api pulang pergi itu.
Akhirnya travel berangkat juga membawa kami. Sempat mengalami kemacetan dalam kota Jakarta, tapi alhamdulillah menjelang Bandung tidak ada antrian di pintu keluar. Bahkan sebaliknya, aku liat antrian berkilo-kilometer di pintu tol Padalarang ke arah Jakarta. Sempet bikin aku heran, karena biasanya kalo long weekend maka tol ke Bandung yang macet. Malamnya aku baca status Fesbuk temenku, dia harus menghabiskan waktu 2 jam dari jalan layang Pasupati sampai tol Padalarang.
Meski seharusnya travel berhenti di poolnya di Jalan Cihampelas, kami berdua memilih turun di Jalan Pasteur, dengan pertimbangan di Jalan Cihampelas pasti akan macet. Sementara kami masih harus kembali ke stasiun kereta, di mana kami meninggalkan mobil kami tadi pagi. Hujan gerimis yang cukup rapat menyambut kami waktu keluar dari travel. Taksi yang biasanya banyak di sepanjang jalan, kali ini sulit kami temukan. Mungkin karena cuaca yang hujan. Daripada berlama-lama kena hujan, akhirnya kami menyetop angkot jurusan stasiun. Di dalam angkot, temenku berkata, “Hari ini kita naik bermacam mode transportasi umum ya. Dari mulai kereta api, bajaj, taksi, travel, dan akhirnya angkot. Betul-betul perjalanan yang panjang.” Aku menjawab dengan senyum. Dalam hati aku bersyukur bahwa hari itu aku membawa jaket yang ada tutup kepalanya. Jadi meski berkali-kali kami bertemu hujan gerimis, aku ngerasa cukup terlindungi. Tidak seperti temenku itu yang terpaksa menaruh tas di atas kepala untuk melindunginya. Kami sampe di stasiun pada saat adzan maghrib berkumandang. Di situ kami berpisah, menuju mobil masing-masing, dan pulang ke rumah.
Dan malamnya, sekitar jam 9, travel lain menjemputku dan mengantarku ke rumah orang tua di kampung halaman. Alhamdulillah, jadi juga aku berlebaran dan bersilaturahmi dengan keluarga tercinta. Saatnya menge-charge hati dan me-refresh diri supaya lebih segar menghadapi rutinitas di perantauan pada hari-hari selanjutnya.
PS:
Sebenarnya aku agak berharap pada acara di Jakarta itu aku punya kesempatan bertemu dengan seorang temen yang udah lama tak kutemui. Tapi nampaknya dia sedang sibuk, atau ada acara lain, sehingga dia tidak ada di acara itu. Tak papa lah.. toh tujuanku ke Jakarta memang bukan untuk ketemu dia, tapi untuk menambah ilmuku..











ah…temennya plin plan banget mba anis..kalo jadi aku, dari awal dah milih naek kereta, lanjutin terus apapun yang terjadi..hehe
@Atik, hehehe.. mungkin itulah kelemahanku, males berdebat, apalagi untuk hal-hal yang semestinya sepele seperti itu. Meski ternyata akhirnya malah bikin aku repot sendiri..
travelnya cipaganti bukan ? blora - cihampelas, sering banget naek rute itu kalo ke thamrin …
kalo dari kebon sirih sih enaknya ke gambir …
bukan cipaganti. di jalan blora kan banyak pool travel.