Lelaki yang menjadi ikan itu menyaksikan sisik-sisiknya bermunculan, himpit-menghimpit. Terasa licin dan kasar. Waktu sisik pertama keluar ia merasa geli. Dan sisik itu muncul dari ujung kaki. Lelaki itu masih sempat memandangnya. Sesempat ia memandang tebing curam tempat ia terjun. Di mana perempuannya berdiri termangu, takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Duhai, lelakiku benar-benar menjadi ikan.
Lelaki itu menyelam. Kini kakinya sudah sepenuhnya bersisik. Sisik-sisik itu perlahan-lahan merambat ke pinggulnya, terus ke perut dan ke bagian atas tubuhnya. Tiap kali sisik-sisik itu naik, tiap kali pula lelaki itu merasa geli. Ia merasakan tubuhnya licin dan kasar. Sebentar lagi seluruh tubuhku akan menjadi ikan, katanya ketika sisik itu sampai ke dadanya.
Dua paragraf di atas adalah pembukaan dari sebuah cerpen berjudul “Lelaki Ikan”, yang merupakan salah satu cerpen dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama, karya dari Hudan Hidayat, yang diterbitkan pertama kali oleh PT Kompas Media Nusantara pada bulan September 2006. Buku itu kubeli pada sebuah event “Pesta Buku Super Murah” di Gramedia. Hehehe.. ternyata bukan cuma diskon di Metro atau Sogo yang bikin aku hilang akal. Pesta buku itu juga membuatku kemaruk dengan membeli buku2 sbb: buku kumpulan cerpen yang sudah kusebut di atas, buku marketingnya Hermawan Kartajaya, buku pedoman praktis beraliansi dengan pers, buku tentang Mac (sementara Mac-nya sendiri belum kupunya
), buku lama berjudul “Think”, dan sebuah majalah National Geographic. Oh ya, buku2 itu tidak ada yang terlalu tebal, karena aku sadar bahwa aku nggak telaten lagi untuk nyelesaikan buku2 tebal
Kembali ke cerpen “Lelaki Ikan” di atas. Seperti sudah diketahui dari paragraf awal, cerita ini tentang seorang lelaki yang berubah menjadi ikan. Dia meninggalkan istri dan 2 orang anaknya, dan memulai hidup barunya di laut. Dia berjanji pada istrinya bahwa tiap purnama akan muncul di tebing tempat dia menjatuhkan diri ke laut, dan akan melakukan lompatan tinggi sebanyak tiga kali supaya istri dan anaknya bisa melihatnya dan melepas kerinduannya.
Waktu berjalan. Lalu muncul cerita lain. Cerita tentang seorang nelayan yang selama setahun terakhir tangkapannya berkurang dan tidak cukup untuk memenuhi keperluan istrinya yang sedang mengandung anak yang sudah lama dinanti mereka. Malam itu dia berjanji tidak akan pulang jika dia tidak membawa tangkapan. Malam itu bulan purnama. Malam itu lelaki ikan mendekati tebing dan memunculkan dirinya, berharap istri dan anak2nya ada di sana dan melihatnya. Tapi dia kecewa, karena perempuan yang di tebing itu adalah orang lain, yang ternyata adalah istri si nelayan itu. Kemana gerangan istrinya, kenapa selama tujuh tahun tidak pernah muncul di tebing itu? Karena sedih, dia jadi tidak waspada. Lalu dia pun tersangkut mata kail si nelayan. Lalu terjadilah pertarungan antara dua makhluk yang sama-sama keras kemauannya. Yang satu tidak ingin mati sebagai ikan, dan yang satu lagi tidak ingin pulang tanpa membawa ikan. Akhir cerita.. ah kayaknya nggak boleh spoiler deh.. ![]()
Cerpen yang aneh. Dan agak2 bikin merinding, membayangkan bagaimana jika aku yang ngalami kejadian kayak gitu, berubah menjadi makhluk lain. Tapi jangan jadi ikan deh, karena nanti ditangkap nelayan, dan jadi santapan manusia ![]()
Selain cerpen “Lelaki Ikan”, masih ada dua puluh tiga cerpen lagi dalam buku itu. Belum semuanya kubaca. Tapi jika dilihat dari pengantar penulis di halaman awal, dan catatan dari pembaca di halaman akhir, maka cerpen-cerpen yang hadir di sini banyak mengisahkan sisi gelap kehidupan manusia, tentang kegilaan, kesakitan, dan kekerasan.
Contoh “kegilaan” yang lain dapat dibaca pada cerpen ketiga yang berjudul “Ayat Gelap”. Bercerita tentang seorang anak yang sedang mencari jati diri, sedang berusaha mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otaknya: “Dari mana Tuhan itu berasal? Siapa yang menciptakan-Nya?” Ada juga pertanyaan tentang takdir, yang kurang lebih dapat disimpulkan begini: “Tuhan telah menetapkan takdir kami, bahkan ketika kami belum lahir. Tapi kami tetap harus berusaha. Bukankan usaha kami akan sia-sia, karena Tuhan yang menentukan segalanya?”
Karena hanya cerpen, maka cerita yang ditampilkan tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari pembacanya. Misalnya pada cerpen “Lelaki Ikan”, kita tidak diberi tau alasan kenapa lelaki itu ingin menjadi ikan, kenapa istri dan anak2nya nggak pernah dateng ke tebing itu pada bulan purnama untuk menengok si ikan, apa yang terjadi di kehidupan mereka setelah ditinggal lelaki itu, dll. Demikian juga di cerpen “Ayat Gelap”, tidak diberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan anak tersebut. Pembaca dipersilakan mengembangkan imajinasinya sendiri, mencari jawabannya sendiri. Kalo mau. Kalo nggak mau ya gak papa ![]()
Btw, soal “Lelaki Ikan” itu, ada sedikit hal yang terasa salah. Di cerpen itu disebut bahwa lelaki itu sudah menunggu istrinya selama tujuh tahun di tebing sejak dia menjadi ikan. Tapi di bagian lain, disebut sudah ratusan purnama istrinya tidak muncul. Jika satu tahun itu terdiri dari 365 hari, dan jika bulan purnama terjadi tiap 28 hari sekali, maka selama tujuh tahun itu baru terjadi purnama sebanyak 91 kali. Belum sampai seratus. Atau mungkin itu hanya hiperbola? Atau mungkin juga bulan yang muncul pada H-1 sampai H+1 purnama dihitung sebagai purnama juga, secara bulannya udah cukup bulat? Hahaha.. cuma becanda lho, jangan dianggap terlalu serius. Maaf ya, pak Hudan Hidayat. Aku harap nggak tersinggung dengan kata2ku tadi ![]()
Udah ah. Mau lanjut baca lagi.







Related Articles
5 users responded in this post
Itulah hebatnya kritikan seorang pembaca. Kita bisa melihat logika antara cerita dgn kenyataan, walaupun ya namanya juga cerita, bisa berakhir sesuka-2 penulisnya.
Tp membaca postingan ini saya jg ikut penasaran, kenapa dia harus jadi Ikan? Trs jadi Ikan apa, Ikan mas, Ikan patin, atau Ikan piranha?
Tp ikut sedih juga membayangkan dia harus menunggu utk melihat keluarganya sekian lama … kasian..
kirain cerita tentang Deni manusia ikan.. hihihi
aduuh.. males bener.. udah ribed2 baca bukunya masih harus juga mengembangkan imajinasi.. *males*
@Zee, di cerpen tersebut memang tidak dibilang jenis ikannya apa. Hanya disebut ikan yang sangat besar, sampai bisa melawan si nelayan itu.
@Lala, aduh duh duh.. berimajinasi doang kok males. Apalagi disuruh nulis buku?
Sebenarnya purnama itu bisa 1-2 kali dalam 28 hari. Jadi, masih kekejar tuh ratusan purnama ^_^
Cerpen-cerpen Hudan Hidayat memang seperti itu dan itulah ciri khasnya. Bahasa cerpen memang tidak ada yang terbuka kecuali cerpen2 pop semacam teenlit atau chicklit. Akhirnya, Anis membaca juga cerpen yang berat ^_^
Hahaha.. Bang Aswi ini rada under estimate ya.. Bagiku, gak ada cerpen yang berat. Kan paling banyak cuma beberapa lembar. Dan aku bukan penggemar teenlit, chicklit, apalagi selulit..
Leave A Reply