Related Articles

5 users responded in this post

Subscribe to this post comment rss or trackback url
User Gravatar
zee said in July 13th, 2009 at 8:04 am

Itulah hebatnya kritikan seorang pembaca. Kita bisa melihat logika antara cerita dgn kenyataan, walaupun ya namanya juga cerita, bisa berakhir sesuka-2 penulisnya.
Tp membaca postingan ini saya jg ikut penasaran, kenapa dia harus jadi Ikan? Trs jadi Ikan apa, Ikan mas, Ikan patin, atau Ikan piranha?
Tp ikut sedih juga membayangkan dia harus menunggu utk melihat keluarganya sekian lama … kasian..

User Gravatar
lala said in July 13th, 2009 at 10:13 am

kirain cerita tentang Deni manusia ikan.. hihihi

aduuh.. males bener.. udah ribed2 baca bukunya masih harus juga mengembangkan imajinasi.. *males*

User Gravatar
Anis said in July 13th, 2009 at 7:08 pm

@Zee, di cerpen tersebut memang tidak dibilang jenis ikannya apa. Hanya disebut ikan yang sangat besar, sampai bisa melawan si nelayan itu.
@Lala, aduh duh duh.. berimajinasi doang kok males. Apalagi disuruh nulis buku? :-D

User Gravatar
Bang Aswi said in July 15th, 2009 at 9:57 am

Sebenarnya purnama itu bisa 1-2 kali dalam 28 hari. Jadi, masih kekejar tuh ratusan purnama ^_^
Cerpen-cerpen Hudan Hidayat memang seperti itu dan itulah ciri khasnya. Bahasa cerpen memang tidak ada yang terbuka kecuali cerpen2 pop semacam teenlit atau chicklit. Akhirnya, Anis membaca juga cerpen yang berat ^_^

User Gravatar
Anis said in July 15th, 2009 at 10:10 am

Hahaha.. Bang Aswi ini rada under estimate ya.. Bagiku, gak ada cerpen yang berat. Kan paling banyak cuma beberapa lembar. Dan aku bukan penggemar teenlit, chicklit, apalagi selulit.. :-P

Leave A Reply

 Username (Required)

 Email Address (Remains Private)

 Website (Optional)