Dulu aku pernah baca sebuah humor tentang perbedaan antara laki2 dan perempuan dalam cara menyetir.
Kalo laki2, mereka akan memutar kunci untuk menghidupkan mobil, injak pedal kopling, masuk persneling, turunkan rem tangan, baru injak gas.
Kalo perempuan, mereka akan memutar kunci untuk menghidupkan mobil, injak pedal kopling, masuk persneling, injak gas, setelah jalan 20 meter lalu berhenti, turunkan rem tangan, baru jalan lagi.
Waktu itu aku ketawa geli membacanya. Tapi ternyata humor itu beneran terjadi padaku. Entah sudah berapa kali aku lupa nurunin rem tangan pada saat menjalankan mobil. Kejadian parah yang masih kuingat adalah pada saat aku menjalankan mobil setelah berhenti di lampu merah perempatan Jl. Jakarta - Jl. A. Yani - Jl. Supratman. Pada saat itu memang sempet terlintas perasaan aneh, kok mobil ini susah banget jalannya, padahal aku gak nginjak rem. Begitu mau nyampe lampu merah berikutnya di pertigaan Jl. Supratman - Jl. Katamso, karena harus berhenti lagi, aku berniat narik rem tangan. Dan barulah aku sadar bahwa dari tadi rem tangan itu belum turun. Besoknya ketika aku coba ngukur jarak yang kutempuh dengan kondisi rem tangan masih naik itu, eh buset, ternyata ada sekitar 80 - 90 meter.
Kejadian lain adalah setelah aku beli bensin di POM bensin Jl. Trs. Jakarta. Dari situ aku menuju Jl. Kuningan, dan baru nyadar bahwa aku belum nurunin rem tangan setelah aku mendekati pertigaan Jl. Kuningan - Jl. Purwakarta. Entah berapa puluh meter jarak yang kutempuh. Parah banget ![]()
Selain masalah lupa nurunin rem tangan, aku juga driver yang buruk jika harus berhenti di tanjakan. Aku pernah mau pergi ke daerah Sariwangi. Ternyata jalan menuju ke sana itu merupakan tanjakan yang sangat tajam, dan tersembunyi setelah tikungan. Aku yang baru pertama ke sana, langsung kaget ngeliat tanjakan yang menyambut setelah tikungan itu. Kondisi mobil masih di persneling 2. Dan ketika di tengah tanjakan, mesin mobil nggak kuat dan mati. Susah pula untuk dihidupkan lagi. Aku makin panik karena ngeliat di belakangku ada truk. Karena mobilku nggak jalan-jalan juga, beberapa polisi cepek yang biasa berada di ujung tanjakan dan ngatur jalan, turun ndeketin aku. Ada yang bantu nyariin batu untuk ngganjal mobilku supaya nggak mundur. Aku masih kesulitan ngidupin mobil. Lalu si kenek truk ikutan ndeketin aku. Dia minta aku turun mobil, lalu dia naik dan nyoba ngidupin mobil. Dengan trik tertentu, mobil bisa hidup, dan aku pun selamat.
Kejadian lain adalah di BEC. Di sana, kalo mau make vallet service, maka ada sedikit tanjakan di pintu masuk yang harus dilewati. Jika di depanku sedang nggak ada mobil, aku bisa terus jalan melewati tanjakan itu, lalu berhenti di depan petugas vallet itu. Tapi jika kebetulan di depanku ada mobil yang juga mau pake jasa vallet, sehingga aku terpaksa berhenti di tanjakan itu, bisa terjadi mendadak mesin mati. Daripada ngambil resiko susah ngidupin mobil, lalu mobil mundur lagi, dan bikin panik, aku pun nyuruh semua penumpang mobilku turun, lalu aku matiin mesin dan turun juga. Mobil aku biarkan tetep di tengah tanjakan, lalu aku ndeketin petugas vallet dan ngasih kunci mobil ke dia. Biar dia yang ngidupin mobilku lagi dan membawanya ke tempat parkir ![]()
Aku memang driver yang pelupa. Aku pernah beberapa kali lupa nyalain lampu mobil waktu jalan di malam hari. Alhamdulillah nggak ada kecelakaan. Pernah juga lupa nutup kaca jendela depan sebelah kiri. Ini terjadi dua kali, pertama di parkiran IBCC, dan yang kedua di parkiran kantor. Alhamdulillah nggak ada barang hilang. Aku juga kadang ceroboh kalo mundurin mobil. Kadang terlalu konsentrasi ngeliat spion kanan dan kiri, sampe lupa liat spion tengah. Dan tiba-tiba.. brak.. mobilku nabrak pohon atau tiang yang posisinya di tengah sehingga tidak keliatan di spion kanan dan kiri. Pernah juga ketika harus melewati celah sempit, karena terlalu konsentrasi ke sebelah kanan, tiba-tiba ada suara gesekan di sebelah kiri. Sekali karena ada tiang besi yang rendah, dan sekali lagi kena pintu gerbang.
Dan selama aku punya mobil, aku belum pernah satu kali pun nyuci mobil sendiri. Paling banter ngelap-ngelap. Untuk urusan cuci mobil, selalu ke tempat cucian mobil, atau minta tolong ke cleaning service/office boy kantor (tentu saja dengan imbalan), atau ke pembantu. Tapi dulu ada seorang temenku yang sangat setuju dengan tindakanku itu. Dia bilang, kalo aku nyuci sendiri, itu berarti aku nggak mau bagi rejeki ke orang lain yang butuh penghasilan dari usaha cuci mobil itu. Hahaha.. temenku yang satu itu memang rada gila.
Tapi pernah ada kejadian lucu. Suatu hari seorang temen nanya ke aku, “Nis, rumah kamu di jalan itu ya?” “Iya,” kataku. “Aku pernah lewat jalan itu, dan ngeliat kamu lagi nyuci mobil,” kata dia. Aku pun ketawa dan bilang,” Berarti kamu salah orang. Karena aku gak pernah nyuci mobil sendiri.”
Btw, hari ini aku punya pengalaman baru, nyuci mobil di tempat cucian mobil otomatis. Begitu air mulai disemprot ke mobil, aku udah mulai ngerasa agak2 gimana gitu. Meski aku tau aku nggak akan basah, tapi tetep rasanya agak serem. Ngerasa terkurung di tempat tertutup dan sempit, sementara dari luar kayak ada “serangan”. Mana AC mobil lagi error, jadi nggak bisa kuhidupkan, dan aku pun kepanasan di dalam. Makin mendekat ke tempat di mana ada peralatan2 untuk menggosok dan mengeringkan mobil, perasaan serem itu makin bertambah. Rasanya mirip seperti pada saat naik perahu di Niagara di Dufan, pada saat menaiki tanjakan, kayak ada perasan ingin turun lagi, tapi nggak mungkin. Hahaha.. berlebihan ya.. Tapi setelah selesai, ternyata seneng juga, karena mobil bersih dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mungkin lain kali aku mau ke situ lagi.. Selain buat cuci mobil, kayaknya lumayan juga buat ngerasain sensasi serem2 gitu, daripada jauh2 ke Dufan ![]()
Kalo dari gaya nyetir, aku termasuk driver yang gak sabaran, gak mau ngalah di jalan. Bahkan kepada pengguna jalan yang kepadanya tidak ada gunanya aku keukeuh, seperti becak, sepeda, atau sepeda motor. Tapi ya gitu deh, terdorong perasaan sebel karena mereka2 itu make jalan dengan seenaknya, akunya jadi malah gak mau ngasih jalan.
Soal pengalaman buruk selama nyetir, udah ada beberapa kali. Aku pernah ditabrak motor dari samping. Waktu itu aku mau belok kanan, udah ngasih lampu sign, dan mobil di belakangku udah berhenti untuk ngasih jalan. Tiba2 ada motor ngebut, lalu nyalip mobil yang udah berhenti itu, dan brakk.. kena deh mobil aku. Lumayan penyoknya. Tapi apa sih yang bisa kita harapkan dari motor yang nabrak mobil? Gak ada ceritanya mereka mau ngasih ganti rugi atas kerusakan yang telah mereka bikin.
Pengalaman buruk kedua, terjadi pada saat aku berada dalam kemacetan. Telat ngerem dikit, dan bruk.. tiba-tiba aja aku udah nubruk mobil depanku. Lumayan juga biaya perbaikan yang harus kukeluarkan untuk mobilku dan mobil yang kutubruk.
Pengalaman buruk ketiga, dan ini yang paling bikin aku trauma, ketika aku menabrak sepeda motor yang dinaiki 2 orang perempuan, sampe mereka jatuh ke aspal. Bukan.. masalahnya bukan pada biaya pengobatan dan perbaikan motor yang harus kubayar. Tapi pada saat itu, aku ngerasa jadi orang yang jahat banget karena telah menyakiti orang yang sama sekali belum pernah kukenal. Aku beruntung, karena perempuan yang kutabrak memaafkan aku. Dan aku juga beruntung punya temen2 baik yang membantuku melewati masalah itu.
Sebagai penutup cerita, aku ingin berbagi sebuah pepatah. Katanya, kalo mau tau kepribadian seseorang, liatlah cara dia mengemudi. Jadi dari cara mengemudi aku, bisa dibilang bahwa aku itu orangnya pelupa, ceroboh, gak sabaran, tapi juga gak tegaan. Kok jelek semua ya? ![]()
Kayaknya hal baik yang kulakukan dengan kebisaanku mengemudi hanya satu, yaitu aku nggak keberatan nganterin temen2 deketku pergi atau jalan2 ke tempat yang dia inginkan. Terutama jika itu temen dari luar kota. Tapi errr.. kayaknya itu karena akunya yang suka jalan-jalan..
Archive for » July, 2009 «
Barangkali ada yang memerlukan informasi ini.
Dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2009, Telkom Divre III kembali menunjukkan baktinya kepada dunia pendidikan dengan menawarkan program khusus berlangganan Speedy untuk para guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa yang dinamakan Program Speedy Back To School.
Untuk para guru dan dosen:
1. Pilihan paket sebagai berikut:
• Speedy Paket Family (unlimited dengan kecepatan maksimum 384 kbps), biaya abonemen normal Rp 195.000/bulan, didiskon menjadi Rp 100.000/bulan;
• Speedy Paket Load (unlimited dengan kecepatan maksimum 512kbps), biaya abonemen normal Rp 295.000/bulan, didiskon menjadi Rp 150.000/bulan;
2. Komitmen berlangganan selama 12 bulan;
3. Modem dipinjamkan oleh Telkom. Harga modem sekitar Rp 150.000-an.
Untuk para pelajar dan mahasiswa:
1. Pilihan paket sebagai berikut:
• Speedy Paket Family (unlimited dengan kecepatan maksimum 384 kbps), biaya abonemen normal Rp 195.000/bulan, didiskon 20% menjadi Rp 156.000/bulan;
• Speedy Paket Load (unlimited dengan kecepatan maksimum 512kbps), biaya abonemen normal Rp 295.000/bulan, didiskon 20% menjadi Rp 236.000/bulan;
2. Komitmen berlangganan selama 12 bulan;
3. Mendapat diskon harga modem.
Bagi yang belum mempunyai PC atau netbook, Telkom juga menyediakan paket PC/netbook murah merek Sunbio dan Axioo dengan harga khusus mulai Rp 2.950.000. Pembelian bisa dilakukan secara tunai, atau mencicil selama 6 – 12 bulan dengan menggunakan kartu kredit BCA dan Mandiri.
Penawaran ini hanya berlaku sampai tanggal 15 Agustus 2009. Jadi jangan sampai ketinggalan. Khusus untuk PC/netbook, hanya bisa didapatkan pada saat event yang diadakan Telkom di sekolah-sekolah terpilih.
Lalu bagaimana dengan yang lain, yang bukan termasuk guru/dosen/pelajar/mahasiswa?
Jangan khawatir. Telkom DIVRE III masih punya penawaran lain yang disebut Program Member Get Member. Ini bukan Multi Level Marketing lho..
Program ini ditujukan untuk anggota komunitas umum. Jika kamu bisa mendapatkan 10 – 20 orang untuk berlangganan Speedy, maka tiap anggota akan mendapatkan diskon biaya langganan sebesar 20% selama 1 tahun. Paket yang ditawarkan sama dengan paket untuk dunia pendidikan yaitu Family dan Load dengan biaya bulanan dan kecepatan maksimum bisa dilihat pada keterangan yang sudah disebut sebelumnya. Selain itu, tiap anggota akan mendapatkan pinjaman modem dari Telkom.
Khusus untuk koordinator komunitas (orang yang mengumpulkan 10 – 20 orang itu), paket yang ditawarkan hanya Paket Family. Tapi dia bisa mendapatkan keuntungan lebih. Biaya langganan yang harus dia bayar hanya Rp 100.000 atau bahkan bisa gratis selama setahun, tergantung jumlah orang yang bisa dia ajak. Modem dipinjamkan oleh Telkom.
Program Member Get Member ini berlaku sampai tanggal 31 Desember 2009. Jadi buruan datang ke Plasa Telkom terdekat, dan dapatkan akses internet tanpa batas dengan Speedy.
Di samping program-program di atas, Telkom juga membuktikan dukungannya kepada upaya mencerdaskan bangsa dengan menyelenggarakan event “Blog Vaganza”. Bekerja sama dengan BlogDetik, Detik Bandung, Axioo, TP Link, SunBio PC AMD System, Tribun Jabar, Ardan Group, Microsoft dan PJTV, Telkom DIVRE III secara bertahap akan mendatangi 40 sekolah di Bandung untuk mengadakan pelatihan blog. Event ini direncanakan selesai pada akhir tahun 2009 ini. Liputan penyelenggaran Blog Vaganza dapat dibaca di Detik.com:
Blog Vaganza, Ngajak Go Blog SMAN 13 Bandung
Giliran SMA Negeri 14 Bandung Go Blogging
Grand Palace, Pagoda, dan Pattaya
Esok harinya kami check out dari hotel, karena nanti malam kami akan nginap di tempat lain. Ada cerita lucu di sini. Seperti hotel2 lain, di masing-masing kamar disediakan sandal kamar. Nah sandal kamar di hotel ini bagus banget. Modelnya seperti anyaman, dan warnanya merah maroon. Aku sempet naksir dan berniat membawanya, karena setau aku, sandal kamar itu biasanya boleh dibawa pulang. Tapi mengingat kapasitas tasku yang semakin berkurang karena diisi beberapa oleh-oleh, aku mengurungkan niatku. Sebelum pergi, kami sarapan dulu di restoran hotel. Di sini seorang temenku yang muslim sempat salah ambil makanan haram, dan setelah dia tau kesalahannya, dia menjadi mual-mual terus. Rupanya dia lupa peringatan tour guide kami pada hari sebelumnya, supaya kami berhati-hati jika mau makan. Selesai sarapan, kami menunggu di lobby hotel. Di sinilah kami mendapat pesan dari pihak hotel, bahwa jika ada yang membawa sandal hotel, mohon agar membayarnya. Jika tidak mau bayar, mohon dikembalikan ke kamar hotel.. Hahaha.. ternyata banyak temenku yang membawa sandal itu dalam tasnya. Karena mereka punya pikiran yang sama denganku, bahwa sandal itu gratis dan boleh dibawa. Seorang temen bilang, biasanya dia gak pernah bawa sandal hotel. Tapi karena sandal yang ini modelnya bagus, dia pun tertarik membawanya. Akhirnya dengan menahan malu, beberapa temenku itu mengembalikan sandal-sandal itu kembali ke kamar. Ada-ada aja ya..
Kami lalu berangkat. Tujuan pertama adalah Grand Palace. Di sini banyak bangunan2 indah yang layak dilihat, dan difoto.
Ada juga sebuah tempat untuk berdoa bagi mereka. Kami yang tidak tau itu tempat apa, ikut2an ngantri bersama orang-orang untuk masuk ke tempat itu. Begitu udah sampe dalam, aku berkata dalam hati, lho kok cuma gitu doang? Oh ya, di lokasi ada jasa penyewaan pakaian tradisional Thailand, untuk kemudian difoto. Ada juga jasa foto bersama dengan latar belakang istana, sambil membawa spanduk yang bertuliskan ucapan selamat datang (atau sejenis itu, aku udah lupa
). Nantinya kita akan disuruh membayar foto itu.
Setelah dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke Pagoda yang aku lupa namanya. Untuk menuju ke sana, kami harus naik perahu. Di perahu itu ada seorang wanita yang memegang banyak rangkaian bunga. Lalu guide kami menjelaskan, bahwa wanita itu akan mengalungkan rangkaian bunga itu kepada kami. Tapi tidak gratis. Nanti kami akan diminta membayarnya. Jadi kalo memang tidak berniat membayar, lebih baik menolak kalungan bunga itu. Hohoho.. ini mah namanya jual paksa rela. Tapi karena harganya tidak terlalu mahal, maka kebanyakan dari kami menerima kalungan bunga itu dan membayarnya. Sesampai di Pagoda itu, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat. Puncaknya ternyata sangat tinggi. Aku cuma naik sampe setengah jalan, nggak berani sampe ke atas. Hmm.. ternyata aku phobia ketinggian
Di lokasi itu ternyata ada juga tempat yang menjual souvenir. Yang belum puas belanja tadi malam, silakan belanja lagi.
Setelah selesai melihat2, kami naik bis dan pergi ke sebuah kebun binatang yang ada atraksi sejenis sirkus. Di sana kami melihat atraksi harimau dan buaya. Waktu aku nonton atraksi buaya yang berlangsung di sebuah kolam, dan ngeliat orangnya sampe terpeleset dan terjatuh-jatuh, yang terlintas di pikiranku adalah, “Susah yang cari duit. Sampe mempertaruhkan hidup begitu, main-main dengan buaya.”
Dari kebun binatang itu, kami lalu naik bis menuju Pattaya. Ini adalah sebuah kota di Thailand yang terkenal dengan kehidupan malamnya, jika kamu tau yang kumaksud. Di sini ada klab-klab malam yang menampilkan atraksi2 dewasa, baik dari wanita beneran, atau dari waria-waria cantik. Setelah check ini di hotel, dan dilanjutkan makan malam, guide lokal kami mengajak rombongan untuk menonton atraksi itu. Tapi nggak tau ya, apakah karena memang para peserta tour itu kebetulan orang-orang yang tidak suka dugem, atau hanya karena sungkan dengan para wanita peserta tour, ternyata yang mau ikutan si guide itu hanya 3 orang. Dari 27 orang peserta tour. Hmm.. aku cukup salut dengan temen2ku itu. Dan aku jadi sebel ama agen tour yang bikin jadwal acara ini. Seharusnya kalo memang peserta tour tidak berminat nonton atraksi2 itu, gak usah dijadwalkan dalam agenda. Kan lebih baik kami mendatangi lokasi wisata lain. Akhirnya selama menunggu beberapa temen yang nonton atraksi dewasa itu, kami yang lain hanya berputar-putar di pasar yang ada sekitar klab. Setelah selesai, kami pun kembali ke hotel.
Belanja dan Belanja Lagi, dan Kembali ke Tanah Air
Esok harinya, kami check out, untuk menuju Bangkok lagi. Bener2 gak ada gunanya dateng ke sini, selain cuma jadi catatan bahwa aku pernah ke kota ini. Dalam perjalanan, kami singgah di 4 tempat belanja. Yang pertama ada sebuah tempat pembuatan perhiasan dari batu-batu berharga. Tentu saja harganya mahal-mahal. Secara aku bukan pemakai perhiasan, aku gak tertarik beli. Jadi cuma liat-liat doang. Oh ya, ada anggota rombongan yang merupakan suami istri. Lucunya, sementara si istri lagi asik ngeliat-liat perhiasan, diam-diam si suami keluar dari ruangan dan duduk di kursi depan toko, di sebuah tempat yang tidak begitu gampang dilihat orang. Ketika aku keluar toko dan kebetulan bertemu orang itu, aku bilang bahwa dia dicari-cari istrinya di dalam. Dianya cuma senyum-senyum, lalu bilang memang dia sengaja berpisah dari istrinya. Katanya, dari pada nantinya nggak tega nolak permintaan istrinya untuk dibeliin perhiasan, mendingan menghindar saja. Hihihi.. lucu juga.
Btw, di depan toko perhiasan itu, banyak kendaraan2 umum khas Thailand yang bentuknya antik.
Setelah dari sana, kami mampir di tempat penghasil madu dan olahannya. Ada madu yang masih berwujud seperti aslinya, ada royal jelly yang udah diolah dalam bentuk kapsul, ada produk2 kecantikan seperti pelembab muka, dll. Harganya lumayan mahal juga euy… Tempat selanjutnya yang kami datangi adalah sebuah toko yang menjual beraneka makanan khas Thailand. Ada yang terbuat dari buah-buahan, ada yang dari hewan darat/laut. Di setiap makanan itu ada sample yang dapat dicicip. Di sini lagi-lagi ada seorang teman yang tidak berhati-hati, sehingga tercicip oleh dia suatu jenis makanan haram. Setelah menelannya, baru terbaca oleh dia terbuat dari apa makanan yang dia cobain tadi. Halah.. jangan2 dia kemaruk. Mentang-mentang sample gratis, maunya dicobain semua
.
Tempat terakhir yang kami datangi adalah sebuah kompleks pertokoan dan mall. Barangkali masih ada yang belum puas beli oleh-oleh, diberikan kesempatan untuk belanja-belanja lagi, untuk ngabisin baht yang masih ada, dari pada dibawa pulang kembali.
Selanjutnya kami menuju bandara. Makan malam di bandara. Lalu terbang ke Jakarta. Nyampe kembali ke tanah air sudah tengah malam. Lalu melanjutkan perjalanan naik bis menuju Bandung.
Akhir Cerita yang Tidak Begitu Happy
Setelah bis berhenti di suatu tempat yang jadi base camp kami, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Aku pulang menggunakan taxi. Setelah sampai ke rumah, pas mau bayar, aku bingung nyari2 dompetku. Karena agak lama, si supir pun bertanya, “Kenapa, Mbak?” “Ini, Pak. Dompet saya kok nggak ada di tas ya.” Si supir lalu berbaik hati ikut mbantu nyariin, barangkali jatuh ke lantai mobil. Tapi memang nggak ada. Untungnya aku inget bahwa aku naruh sebagian uang di tas baju. Aku pun ngambil uang itu untuk bayar ke supirnya. Lalu aku turun dan masuk rumah. Di dalam rumah, kembali aku nyari2 dompet itu di tasku. Sampe akhirnya aku yakin bahwa dompet itu beneran hilang. Terakhir aku megang dompet itu waktu di pesawat, waktu aku hendak ngeluarin uang untuk bayar snack. Mungkin waktu aku memasukkan dompet itu kembali ke tas, naruhnya nggak pas, jadi malah jatuh. Soalnya seingatku, selama perjalanan setelah turun pesawat sampe ke Bandung lagi, aku tidak pernah desak-desakan ama orang, sehingga kemungkinan bahwa aku dicopet kok kayaknya kecil ya. Dan pagi-pagi buta itu pun jadi pagi yang sibuk buat aku. Nyari2 buku tabungan dan lembar tagihan kartu kredit (untuk dapetin nomor kartu kreditku), lalu menelepon ke call center bank-bank itu untuk melaporkan kehilangan serta minta pemblokiran. Lalu berusaha menelepon temen seperjalananku, nyari info nomor telepon tour guide kami, untuk ndapetin nomor telepon agen bis yang membawa kami. Meski kemungkinan kecil, tapi siapa tau dompet itu jatuh di bis. Dan memang akhirnya info yang aku dapet, gak ada dompet jatuh di bis.
Ngomong-ngomong, hari itu udah hari Senin, dan aku udah harus masuk kerja lagi. Dan siangnya aku lalu minta ijin untuk mulai ngurus segala-segala yang hilang itu: KTP, SIM, STNK, kartu ATM, dan kartu kredit. Huuh.. ribet juga ya.. Makanya jangan mau deh kehilangan dompet. Repot
. Tapi ya sudahlah, lain kali aku harus lebih hati-hati.
Akhirnya selesai juga tulisan ini. Hehehe.. panjang bener ya.. Untung hari ini libur, jadi sempet bikin tulisan ini..
Ini cerita perjalanan setaun yang lalu, tanggal 19 – 22 Juni 2008. Waktu itu dengan temen2 dari sebuah komunitas, kami melakukan perjalanan untuk tujuan benchmark ke Batam. Lalu nyambung jalan2 ke negara tetangga. Btw, seperti sudah kubilang, aku pergi bersama sebuah komunitas, urusannya juga urusan komunitas, bukan urusan kantorku. ![]()
Tulisan akan kubagi menjadi beberapa sub bagian. Sebagian besar adalah tentang apa yang kurasakan dan kualami. Selamat membaca..
Mereka Bilang Aku Hilang
Hari pertama, 19 Juni 2008.
Perjalanan dari Bandung dimulai sekitar jam 01.30 dini hari, karena kami berencana menggunakan pesawat yang berangkat dari Jakarta sekitar jam 5 – 6 pagi (udah lupa persisnya). Temen2 seperjalananku adalah orang-orang yang baru pernah kutemui 1 kali, dan paling banyak 2 kali (pertemuan pertama adalah pada saat pengarahan tentang perjalanan ini). Jadi wajar aja kalo kami belum saling hapal wajah2 temen yang lain. Pada saat di bis menuju Jakarta, guide kami bilang, tiket pesawat kami tidak ada nomor kursinya. Jadi nanti kami bisa duduk di mana aja. Tapi kalo mau, masih dimungkinkan ngetekin tempat buat temen yang belakangan. Sampai di bandara, setelah check in dan ngurusin bagasi (dibantu oleh orang dari tour and travel), kami berjalan menuju pesawat. Karena antrian lewat pintu masuk depan nampak agak panjang, aku memilih masuk melalui pintu belakang pesawat. Dan karena seingatku tadi si guide-nya bilang bahwa tempat duduknya bebas, aku pun duduk di kursi kosong yang di belakang. Aku pikir, daripada aku jalan ke depan lagi, trus di sana gak nemu tempat kosong, ntar malah harus kembali ke belakang lagi. Setelah agak lama duduk, dari arah depan, ada seorang ibu berjalan ndeketin aku. Aku ingat dia adalah salah satu anggota rombongan kami, meski aku belum tau namanya. Dia nanya ke aku, “Anisah ya?” “Iya,” jawabku. “Oh.. itu temen2 di depan nyariin, dikira ketinggalan di mana, kok gak bareng ama yang lain,” kata dia. Aku pun jadi bengong. Setelah kami mendarat dengan selamat di Batam, baru aku denger cerita lengkap versi mereka. Rupanya si guide dan beberapa temen yang berhasil naik pesawat duluan telah mengetek tempat duduk sesuai jumlah rombongan. Dan karena aku misah sendiri duduk di belakang, sehingga ketika dihitung, jumlah anggota rombongan kurang 1, mereka ngira ada yang ketinggalan di bandara. Yang lebih bikin susah, mereka nggak inget yang nggak ada itu wajahnya seperti apa. Huehehehe.. lucu banget. Aku membela diri dengan berkata, “Lho katanya duduknya bebas, bisa di mana aja.” Gara-gara kejadian itu, sepanjang sisa perjalanan, aku yang paling dicari duluan kalo kami mau pindah-pindah lokasi. Gak papa lah, jadi beken..
Kunjungan Kerja di Batam *halah*
Sampe di Batam, setelah menaruh barang di hotel, kami melakukan kunjungan kerja di 2 -3 perusahaan di sana. Di salah satu perusahaan manufaktur, tamu yang hendak melakukan benchmark ke pabrik harus mengenakan sepatu khusus yang tujuannya untuk menjaga kebersihan ruangan kerja. Bentuknya lucu, kayak sepatu bayi
Sore dan malamnya, kami punya waktu untuk jalan-jalan di kompleks pertokoan di Batam. Beberapa temen sudah belanja oleh2 makanan untuk temen-temen kantornya. Hehehe.. baru nyampe Batam kok udah beli oleh-oleh makanan. Padahal perjalanan masih jauh. Tapi rupanya justru itu disengaja mereka. Bahkan ada temen yang langsung memaketkan oleh-oleh itu ke Bandung, supaya tidak repot bawa-bawa kemana-mana (di masa itu belum ada lagunya Mbah Surip yang “Tak gendong kemana-mana” itu). Hmm..mungkin karena mereka pikir lebih murah beli oleh-oleh di Batam, dari pada nantinya harus beli oleh-oleh di luar.. Eh.. tapi ini cuma perkiraan aku lho..
Berangkat ke Singapura
Hari kedua, 20 Juni 2008.
Esok paginya, setelah sarapan, kami ke pelabuhan Batam Center untuk naik ferry ke Singapura. Di pelabuhan itu, beberapa temen sempet heboh karena ngeliat ada Jonathan Frizy mau nyeberang juga. Oh ya bagi yang nggak tau, Jonathan Frizy itu salah satu pemain sinetron yang cukup ngetop. Lalu ada temen (perempuan, tentu saja), memberanikan diri ndeketin si Jonathan itu dan minta foto bareng. Begitu si Jonathannya bersedia, beberapa yang lain ikut2an mendekat dan minta foto juga. Temen yang laki2 cuma ngeliat sambil senyum-senyum, atau bantuin memoto. Aku ditanyain mereka, “Gak mau ikutan foto?” Aku jawab, “Nggak ah, malu ikut2an heboh gitu.” Lagian, cuma Jonathan Frizy gitu lho.. Kalo misalnya si.. ah sudahlah.. ntar pada bosen kalo nama itu disebut lagi.. hahaha…
Aku cuma mikir, ternyata jadi seleb itu harus ramah ya.. Kayak si Jonathan itu, lagi mau nyeberang pun harus meluangkan waktunya buat ngelayani permintaan foto dari para fansnya..
Btw, pada saat ferry mau berangkat, terlihat sebuah pelangi di langit yang memang sedang hujan rintik-rintik. Dan hey.. bukankan lebih menarik memotret pelangi daripada memotret seleb?
Beberapa Jam di Singapura
Setelah sampe di Singapura, seperti biasa, kunjungan standarnya adalah ke patung singa berekor ikan di Merlion Park. Untung kali ini aku ikut rombongan tour yang mana sudah disediakan bis untuk ke taman itu. Soalnya pengalaman 2 tahun sebelumnya, dua kali ke tempat itu dengan menggunakan taxi, supir taxi selalu bingung waktu aku dan temenku menyebutkan bahwa kami mau ke Merlion. Sampe kami harus menjelaskan bahwa kami hendak ngeliat patung yang jadi lambang kota Singapura.
Ngomong-ngomong, kayaknya patung itu lebih indah jika dilihat pada malam hari. Karena ada banyak lampu di sekitarnya.
Setelah dari Merlion Park, kami diajak ke sebuah tempat belanja yang katanya barang2nya original (aku lupa namanya). Tapi harganya mahal. Abis itu, baru kami diajak ke Bugis Junction. Sebuah tempat belanja juga, tapi kelasnya agak murah. Kalo mau cari2 souvenir, mending ke sini aja. Atau ke sebuah pertokoan yang dikenal dengan nama Mustapha. Di 2 tempat itu, bisa didapat oleh-oleh yang harganya agak miring. Tapi tetep.. bayarnya pake dollar Singapura ![]()
Setelah belanja-belanja dan dilanjutkan makan siang di sebuah tempat makan yang terletak di Jalan Pisang, kami kemudian ke Bandara Changi, untuk terbang ke tujuan berikutnya, yaitu Bangkok. Ini pertama kalinya aku masuk ke bandara itu. Sebelum-sebelumnya, aku cuma pernah naik ferry Batam – Singapura – Batam.
Pasar Malam di Bangkok
Kami mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok menjelang malam. Di sini juga sudah ada bis yang menjemput kami. Dan sebelum masuk pintu bis, ada seorang gadis Thailand mengenakan busana daerah yang mengalungkan rangkaian bunga kepada tiap kami, dan ada petugas yang memfotonya. Rupanya itu salah satu layanan dari agen tour kami. Sayangnya pas sampe giliranku, ternyata bunga udah habis. Aku memang berada di urutan belakang, karena sibuk moto-moto suasana bandara
. Oh ya, di sini kami mendapat seorang guide lokal, orang Thailand, tapi bisa berbahasa Indonesia, meski dengan logat yang lucu.
Setelah semua naik bis, kami menuju hotel. Di tengah jalan, kami singgah makan malam dulu. Btw, seharian itu kami seperti businessman yang sibuk. Sarapan di Batam, makan siang di Singapura, lalu makan malam di Bangkok. Sesampai di hotel, kami mendapat kamar, beberes, lalu diajak keluar lagi untuk ngeliat Suan Lum Night Bazaar. Tujuannya tidak lain selain nyari souvenir2 khas Thailand. Di sini ada kejadian lumayan lucu. Jadi ada temen saya, perempuan tentu saja, sangat ngotot waktu menawar barang. Ngotot dan ribut. Jadi pada saat dia menawar gantungan2 kunci dengan keukeuh, si staf tokonya rupanya agak pusing dengan kerewelan dia, jadi asal bilang iya aja. Karena dia dapet harga murah, wajar dong kalo aku jadi tertarik ikutan. Eh pas aku mau beli barang itu juga, si pemilik tokonya gak mau ngasih harga yang sama dengan harga yang didapat temenku itu. Ketika aku bilang bahwa barusan saja temenku beli dengan harga murah, dia nampak kesal. Dia bilang, stafnya telah salah kasih harga ke temenku itu. Dia bilang telah memarahi stafnya itu, dan dia gak akan mau ngasih harga segitu ke aku. Hohoho.. kok dia keselnya ke aku.. Ya sudahlah, aku batal beli barang itu. Meski setelah nanya ke beberapa toko lain, terbukti bahwa temenku itu memang dapet harga yang terlalu murah. Pantesan si pemilik toko itu mukanya jadi masam gitu.
Bersambung..
Ini adalah judul sebuah buku lama karya Dewi ‘Dee’ Lestari, sebuah Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (1995-2005). Buku keempat Dewi Lestari yang aku baca, setelah Supernova, Akar, dan Petir. Aku membelinya pada tanggal 10 Oktober 2006. Itu berarti sebelum aku ngeblog (aku mulai ngeblog beneran di bulan Desember 2006). Eh.. sebenarnya aku tidak ingat kapan aku membeli buku itu. Hanya kebetulan pada saat itu aku ingat untuk menuliskan tanggal pembelian di halaman awal buku itu. Untuk buku-buku lain, aku lebih banyak tidak ingat ![]()
Salah satu cerita dalam buku itu yang punya judul sama dengan judul bukunya, yaitu Filosofi Kopi, bercerita tentang seorang pecinta kopi bernama Ben. Dia pergi keliling dunia, mencari korespondensi untuk mendapatkan kopi-kopi terbaik, berkonsultasi dengan pakar-pakar peramu kopi, menyelusup ke dapur, menyelinap ke bar saji, mengorek rahasia ramuan kopi, demi mendapatkan takaran paling pas untuk membuat bermacam jenis kopi. Sampai akhirnya, bersama sahabatnya yang bernama Jody (si tokoh “aku” dalam cerita ini), membuka kedai kopi sendiri. Keistimewaan kedai kopi ini adalah karena Ben menyajikan tiap kopi dengan cinta, dan cerita tentang kopi itu. Sampai pada puncaknya, kedai yang semula bernama “Kedai Koffie BEN & JODY” diubah menjadi “FILOSOFI KOPI, Temukan Diri Anda di Sini”.
Suatu saat, Ben menerima tantangan seseorang untuk menciptakan ramuan kopi yang bisa menggambarkan kesuksesan orang itu. Dan dengan perjuangan yang gila, Ben berhasil. Kopi ramuannya yang diberi nama “Ben’s Perfecto”, yang kemudian menjadi menu andalan kedai kopi mereka, memberikan rasa yang “sempurna”. Sampai suatu saat, kebanggaan Ben atas kopi tersebut luluh lantak akibat sebuah berita bahwa di suatu tempat terpencil di Jawa Tengah, ada orang yang bisa menyajikan kopi yang lebih enak dari kopi buatannya.
Akhir cerita di atas, dan cerita-cerita lain, silakan dibaca sendiri, bagi yang belum pernah baca. Kalo yang sudah pernah baca, boleh juga dibaca ulang. Seperti yang kulakukan barusan. Ini karena tadi siang aku baca sebuah informasi di Facebook tentang akan adanya acara “Gathering Pembaca Filosofi Kopi dengan Dewi ‘Dee’ Lestari” , pada hari Minggu kuturut ayah ke kota.. eh salah.. pada hari Minggu tanggal 19 Juli 2009, jam 15.00 WIB. Tempatnya di Potluck Coffee Bar & Library, Jl. H. Wasid No. 31 – Bandung. Harga tiket Rp 69.000, sudah termasuk makan dan kopi. Jika ada yang berminat datang, bisa hubungi contact person yang ada di undangan di Facebook itu.
Tentang Potluck, aku baru pernah satu kali ke kafe itu. Dulu banget, kurang lebih 3 tahun lalu, waktu Potluck masih di lokasi yang lama. Bersama beberapa temen baik. Temen-temen yang sekarang udah terpencar di mana-mana, berada di puncaknya masing-masing. Sementara aku masih di sini-sini saja *halah*. Tapi aku rasa aku beruntung pernah punya temen2 sebaik mereka





















Recent Comments