Archive for » June, 2009 «

30
Jun

Nonton film ini hari Sabtu kemarin karena dapet tiket gratis di acara Nonton Bareng dengan para Mitra Telkom :-D .

king

Sebelumnya aku kira film ini bercerita tentang perjalanan hidup Liem Swie King untuk menjadi juara bulu tangkis dunia. Pas di dalem bioskop, sempet heran, Liem Swie King kok wong Jowo? Hahaha.. salahku sendiri karena aku gak baca reviewnya dulu.
Tapi filmnya bagus kok. Tentang seorang anak dari keluarga sederhana dari pelosok Jawa Timur bernama Guntur (Rangga Raditya) yang bercita-cita jadi pemain bulu tangkis berprestasi dan terkenal, seperti Liem Swie King. Dia punya bapak yang keras (diperankan Mamiek Prakoso), tapi sebenarnya secara diam-diam mendukung cita-cita dia. Dia punya sahabat yang kocak dan banyak menolong dia, namanya Raden (Lucky Martin). Dan ada satu lagi sahabat barunya, bernama Michelle (Valerie Thomas), yang baru pindahan dari kota.
Banyak cerita lucu yang terjadi ketika mereka berjuang untuk mendapatkan raket yang layak dipakai bermain. Dari mulai mencuri senar gitar, sampai mencuri benang balon gas. Atau lihatlah bagaimana Raden dan Michelle ikutan ngamen untuk mendapatkan uang supaya Guntur bisa masuk ke klub bulu tangkis.
Di film ini juga muncul tokoh yang sedikit antagonis, yaitu Arya, pesaing Guntur di klub bulu tangkis. Tapi tidak seperti di shitnetron yang menggambarkan tokoh antagonis itu dengan sangat jahat, di film ini ke-antagonis-an Arya masih termasuk biasa aja, hanya kecemburuan karena ngeliat prestasi Guntur yang melejit meski baru sebentar bergabung di klub.
Dan jangan dilupakan pemandangan2 indah dari gunung2 di Jawa Timur yang tersaji di film ini. Aku suka banget, terutama adegan tiga anak itu berlari-lari dilatarbelakangi pemandangan kawah gunung apa gitu. Lalu pemandangan rusa-rusa yang berlarian bebas di padang rumput nan luas. Wow.. itu masih di Indonesia kan ya? Kuper sekali rasanya aku sampe gak tau ada tempat seindah itu..
Buat para penggemar olah raga bulu tangkis, pasti akan senang menonton film ini karena di sini muncul beberapa tokoh bulu tangkis legendaris yang memerankan diri mereka sendiri, seperti Liem Swie King, Haryanto Arbi, Ivana Lie, dll.
Oh ya, seperti yang udah kusebut di depan, aku tidak baca review film ini sebelumnya. Jadi pas nonton Guntur bermain bulu tangkis dengan begitu bagusnya, aku sempet menebak-nebak, apakah pemeran tokoh Guntur itu aktor yang bisa main bulu tangkis, atau atlit bulu tangkis yang bisa akting. Ternyata yang benar adalah yang kedua. Wah keren juga ya, dari seorang atlit biasa, bisa diajari main film dengan begitu natural, gak usah pake teriak-teriak dan melotot untuk menunjukkan ekspresinya. Dan yang memerankan tokoh Raden juga atlit lho, tapi atlit silat. Hanya pemeran tokoh Michelle yang memang dari kalangan artis. Dia adalah anak dari pemain sinetron Jeremy Thomas. Tapi ini adalah film pertamanya.
Hanya yang kusayangkan, jika film-film bagus bisa melahirkan pendatang baru dari kalangan anak-anak yang bisa bermain bagus, kenapa tidak bisa ada pendatang baru dari kalangan dewasa yang bisa bermain bagus juga? Seperti di film ini, masih mengandalkan wajah lama seperti Surya Saputra dan Wulan Guritno. Hal sama yang kurasakan juga waktu nonton film Laskar Pelangi. Wajah2 kanak2 baru bermunculan dan bermain bagus. Tapi untuk peran dewasa, masih saja Tora Sudiro yang diandalkan.
Atau, mungkin memang lebih susah nyari pendatang baru dari orang dewasa yang bisa langsung bermain bagus. Liat saja film Ketika Cinta Bersambung .. eh salah.. Ketika Cinta Bertasbih, yang katanya pemerannya didapatkan dari proses audisi. Dan meski aku nggak nonton filmnya, tapi kalo baca2 dari review yang ada, kabarnya akting para pemainnya gak begitu memuaskan. No offense, sorry kalo ada yang nggak sependapat.. :-D
Pokoknya gak rugi deh nonton film King ini. Dan buat aku sendiri, tentu saja gak rugi apa2, secara dibayarin gitu lhoo.. :-D
Btw, beberapa review membandingkan film King ini dengan film Garuda di Dadaku. Jika ada yang mau baca, sila klik link ini:
- KING Kembalikan Kebanggaan akan Indonesia.
- Merindukan King Kembali
Oh ya, ada cerita lucu lain di balik film ini yang kubaca dari tabloid punya temen kantor. Jadi si Valerie, pemeran Michelle itu, adalah anak yang dijaga banget ama mamanya, makanannya pun khusus dari bahan organik. Dia nggak pernah makan kerupuk dan mie instan. Baru di dalam proses pembuatan film ini, dia makan makanan2 gak sehat itu. Itu pun setelah dia merengek-rengek minta ijin ke mamanya, yang selalu mendampingi dia pada saat syuting. Selain itu, gara-gara ada adegan si Michelle itu menyapu halaman menggunakan sapu lidi di film, dan itu juga adalah kali pertama dia memegang sapu lidi, dia jadi ketagihan dan jadi rajin menyapu halaman rumah. Hahaha.. jangan2 kalo bukan karena film itu, dia gak pernah megang sapu lidi selamanya.. :-D

Category: Event  Tags: ,  11 Comments

Info ini dicopy dari sini. Barangkali ada sodara, temen, kenalan, tetangga, atasan, bawahan, dll yang membutuhkan.

………………………………………………………………………………………………………………………..
Prakarsa Indigo

Mendukung budaya dan ekonomi konseptual, Telkom mendorong tumbuhnya bisnis kreatif, khususnya di bidang digital content melalui wadah Indigo (Indonesian Digital Community). Program Indigo adalah prakarsa strategis Telkom yang diluncurkan pada akhir tahun 2007, sebagai fasilitas terhadap komunitas kreatif Indonesia yang memanfaatkan teknologi digital untuk membangun industri yang sehat dan menyehatkan.

Sejak diluncurkan tahun 2007 hingga kini, beberapa program strategis yang telah dilakukan adalah program Bagimu Guru Kupersembahkan, Santri Indigo, Education for Tomorrow, PasarKreasi.com, Sumatera Digital Island, Kampung Digital, Indigo Learning Center, Digital Village, Sistem Informasi Administrasi Pendidikan Online, dan sebagainya.

Indigo Fellowship

Sebagai salah satu program utama Indigo dalam rangka mengisi tahun 2009 sebagai tahun kreatif, Telkom-Group mempersembahkan program Indigo Fellowship 2009, yang merupakan apresiasi kepada individu atau kelompok yang dianggap berhasil dalam membuat karya kreatif digital dan memberikan manfaat kepada masyarakat luas, serta mendorong tumbuhnya digitalpreneur baru dalam industri tersebut.

Indigo Fellowship 2009 adalah salah satu dari seluruh rangkaian program CSR Telkom di bidang ICT yang bertujuan untuk :

* Menumbuhkembangkan industri kreatif digital di Indonesia
* Menyusun profil industri kreatif digital
* Memposisikan Telkom Group sebagai fasilitator utama bagi industri kreatif digital di Indonesia
* Menjaring ide-ide baru dari konsumen Telkom Group
* Menjalin komunitas dan karya kreatif ke dalam mata rantai proses bisnis industri kreatif yang sehat dan menyehatkan dan sustainable.

Tema dan big idea yang ingin diusung dalam program Indigo Fellowship adalah For Brighter Indonesian Digitalpreneur. Diharapkan Indigo Fellowship ini dapat melahirkan tokoh dan industri/bisnis kreatif digital yang tumbuh lebih cerah dan berkembang.

Ekosistem Indigo Fellowship

Salah satu keunggulan kompetitif program Indigo Fellowship Telkom Group adalah adanya ekosistem yang komprehensif dan sustainable dalam memfasilitasi industri kreatif yaitu melalui tahapan:

1. AWAKE: Menumbuhkan awareness kepada publik terhadap keberadaan Indigo Fellowship yang akan mengispirasi masyarakat terhadap industri kreatif digital.
2. INSPIRE: Melalui story telling bagaimana dan mengapa industri kreatif tumbuh dan berkembang, from zero to hero, mencari bibit bibit unggul yang diharapkan akan sukses mengelola bisnis / industri kreatif digital melalui idea kreatif dan network yang ada.
3. CONNECT: Menciptakan ekosistem yang menjalin mata rantai industri kreatif dari hulu ke hilir
4. ENGAGE: Mengajak partisipasi masyarakat dan komunitas pencinta untuk membangun hubungan emosional yang harmonis dan sustainable dengan pelaku / tokoh industri kreatif digital.

Tahapan Indigo Fellowship

Untuk efektifitas komunikasi kepada publik dan dengan mempertimbangkan kompleksitas, maka program Indigo Fellowship dilaksanakan bertahap sebagai berikut :

1. Creative Fellowship, program fellowship kepada tokoh individu / kelompok masyarakat yang berhasil menginisiasi bisnis kreatif dari idea sampai menjadi produk siap pakai.
2. Idea Fellowship, memberikan penghargaan kepada individu yang mengembangkan ide kreatif dalam bisnis digital content
3. Business Fellowship, adalah penghargaan kepada entitas bisnis (small/medium enterprises) yang berhasil mematangkan dan mengembangkan konsep creative digital menjadi bisnis yg berkembang.

Seluruh rangkaian program fellowship tersebut akan rampung pada Oktober 2009, bertepatan dengan hari ulang tahun Telkom yang dikemas dalam acara Indigo Award 2009.

Kriteria Penjurian

Bahwa seluruh rangkaian program Indigo Telkom-Group dikemas dalam program CSR (Corporate Social Responsibility) sehingga dalam penilaian karya kreatif harus dapat menonjolkan 3 perhatian utama dalam CSR yaitu:

1. People, bahwa karya kreatif harus berdampak maksimal kepada masyarakat sosial, seperti pengentasan kemiskinan, menekan pengangguran, memperbaiki issue deskriminasi gender, dll.
2. Profit, bahwa karya kreatif juga harus menghasilkan revenue, menekan cost of product, serta menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
3. Planet, selain issue sosial dan ekonomis, yang tidak kalah penting adalah issue lingkungan. Diharapkan karya kreatif juga mempunyai dampak terhadap perbaikan lingkungan hidup demi kelangsungan ekosistem kepada generasi muda mendatang.
………………………………………………………………………………………………………………………..
Lalu apa hadiahnya? Dan siapa yang jadi jurinya? Gimana jadwalnya?
Dicopy dari sini.

………………………………………………………………………………………………………………………..
Peserta yang dinilai memiliki ide bisnis terbaik dalam program Indigo Fellowship 2009 ini berhak mendapatkan apresiasi berupa :

* Dukungan dana untuk inisiasi bisnis mencapai Rp 50 juta
* Menikmati berbagai fasilitas dari Telkom’s Digital Creative Playground dengan nilai hingga Rp 100 juta
* Mengikuti workshop atau seminar digitalpreneurship secara berkala
* Bimbingan dari para pakar bisnis digital
………………………………………………………………………………………………………………………..

Judges:

* Ninok Leksono Redaktur senior Kompas dan anggota DRN dengan minat pada segala hal.
* Marlin Soegama Aktivis INAICTA dan duta Indonesia dalam pengembangan game.
* Gatot Hari Priowirjanto Direktur SEAMOLEC yang selalu aktif mengembangkan aplikasi pendidikan.
* Peni Cameron Direktur CAM ini juga pendiri Asosiasi Industri Animasi & Konten Indonesia.
* Bubi Iriadi Sutomo Musisi yang tengah mengembangkan Popular and Creative Accademy
* Yoris Sebastian Praktisi kreatif pemenang IYCE Awards 2006 dari British Council.
* Andi S Boediman Pemrakarsa Digital Studio–School of Visual Communication dll
………………………………………………………………………………………………………………………..

Timeline

* 2009-05-25 Peluncuran program
* 2009-05-25 Registrasi peserta
* 2009-09-20 Proses penjurian
* 2009-10-10 Sidang dewan juri
* 2009-10-27 Penganugerahan award
………………………………………………………………………………………………………………………..

Udah cukup jelas? Kalo belum, kamu bisa baca2 FAQ-nya di sini.
So.. selamat berkarya ya.. :-D

Category: Event  Tags:  One Comment

Tips ini aku denger di radio di suatu sore dalam perjalanan dari kantor Juanda ke kantor Supratman.
Si James bilang, sering kali kita gak punya waktu untuk baca majalah-majalah yang udah kita beli. Belum sempet baca yang lalu, udah datang lagi yang baru. Akhirnya makin menumpuk aja majalah-majalah itu.
Kata si James, supaya majalah itu gak sia-sia, dia punya tips sendiri. Pertama, dia buka majalah itu, dan dia pilih beberapa topik yang menarik. Lalu dia sobek halaman-halaman topik menarik itu, dan dia simpan hasil sobekan itu di sebuah map tersendiri. Sedangkan sisa dari majalah itu dia buang.
Lalu map yang berisi beberapa lembar sobekan majalah itulah yang dia bawa ke mana-mana. Misalnya pada saat akan meeting, atau bertemu dengan klien. Sambil menunggu, biasanya dia bisa menyelesaikan membaca beberapa halaman itu. Jadi dia tetap bisa membaca topik-topik yang dia suka, tanpa repot membawa beberapa majalah. Tips yang cukup simpel dan cukup mensolusikan, nampaknya :-) .
Tapi kalo aku sih tidak begitu setuju. Karena majalah yang bekas disobek, dan juga halaman-halaman yang disobek, akhirnya akan cuma jadi sampah. Beda misalnya jika kita bisa menjaga majalah itu tetap bagus, maka jika kita sudah selesai membacanya, majalah itu masih bisa disumbangkan ke orang-orang lain yang mungkin membutuhkan :-) .
Ah.. tapi itu kan akhirnya kembali ke kita masing-masing. Gak bisa ada judgement mana yang lebih bener di sini. :-)

Category: Sharing  Tags:  One Comment

“Mbak, barangnya mau dibungkus atau mau dibawa langsung?”, tanya petugas di counter Body Shop di PVJ. Pertanyaan itu membuatku teringat pada pertanyaan yang sama yang aku dapatkan di toko buku Aksara waktu aku membeli sebuah buku di sana. Pertanyaan yang simpatik, menunjukkan kepedulian toko-toko itu pada isu lingkungan dengan mencoba mengurangi penggunaan plastik pembungkus.
Dan sama dengan kejadian di toko buku Aksara di mana aku memilih membawa buku tanpa plastik pembungkus, di Body Shop pun aku memilih langsung memasukkan belanjaanku itu ke dalam tasku tanpa dibungkus plastik. Dan kalimat berikutnya yang keluar dari mulut petugas kasir itu tidak kalah simpatik, “Terima kasih telah membantu menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi sampah plastik.” Atau semacam itu deh, aku nggak hapal persis kalimatnya. I really like it :-) .
Selama ini aku yakin banyak di antara kita yang udah tau isu peduli lingkungan, dan ingin ikut menyelamatkan bumi. Tapi seringnya kita.. ehm.. maksudnya aku, lupa menerapkannya, terutama pada saat sedang belanja. Jadi kalo ada toko-toko yang punya kebijakan untuk mengingatkan pembelinya tentang hal itu, rasanya menyenangkan. Memang sih akan lebih ideal jika toko-toko itu bisa menyediakan pembungkus yang ramah lingkungan alias bisa didaur ulang, seperti yang telah dilakukan oleh Starbucks. Tapi memang pembungkus semacam itu harganya lebih mahal. Dan ujung-ujungnya kemahalan itu akan dibebankan kepada pembeli.
Eh jadi inget pengalaman kalo belanja di Metro Departement Store. Kebalikan dengan di Body Shop dan Aksara, petugas di sana termasuk murah ngasih plastik pembungkus. Misalnya aku beli baju, pertama kali dia akan memasukkan baju itu ke dalam plastik merah berukuran kecil, dan mengisolasinya dengan rapi. Kemudian dia memasukkan bungkusan itu ke dalam plastik merah lebih besar yang bisa ditenteng. Kayaknya itu udah jadi Standard Operation Procedure mereka. Aku gak ngerti apa kegunaan bungkus plastik dobel itu. Kadang-kadang jika aku sempet ngeliat mereka akan memasukkan ke dalam plastik kedua, aku akan mencegahnya dan meminta barang yang udah dibungkus satu kali itu. Tapi seringnya aku tidak merhatiin hal itu, karena lebih merhatiin kasir yang sedang memproses pembayaran, atau malah ngeliat sisi lain toko sambil mikir apa ada barang yang kelupaan belum kebeli. Hmm.. apakah perlu dibikin cause “Stop Penggunaan Plastik Secara Berlebihan di Metro”? :-D

Category: Life  Tags:  5 Comments

Tergoda informasi yang kuterima via SMS dari Telkomsel, bahwa ada penawaran harga khusus untuk beberapa produk di acara Telkomsel Customer Day yang diselenggarakan dalam rangka ultah Telkomsel yang ke-14, maka pada hari Minggu siang tanggal 7 Juni kemarin, aku dateng ke atrium BSM. Suasana di sana cukup ramai. Ada beberapa booth, dan tiap booth melayani satu produk. Ada booth iPhone, Blackberry, Telkomsel Flash, TCash, dll.

20090604hutiphone1

Yang pertama kudatangi adalah booth Telkomsel Flash. Aku udah hampir 1 tahun berlangganan Telkomsel Flash Unlimited. Tapi selama itu, kartunya kutanam di hape. Jika aku mau make untuk koneksi internet di laptop, baru kusambungkan via bluetooth. Belakangan ini, aku memang berpikir untuk membeli modem 3G. Nah mumpung ada penawaran harga khusus, aku pun berniat merealisasikan keinginanku itu. Setelah bertanya-tanya kepada petugas di booth, dan menentukan jenis modem mana yang kubeli, aku pun mendatangi meja kasir. Meja kasir pun dibagi-bagi per produk. Di sebelah meja kasir untuk modem Telkomsel Flash, ada meja kasir Blackberry. Antrian cukup banyak, dan tidak rapi. Aku berdiri di belakang kursi calon pelanggan yang sedang dilayani kasir. Aku sempet kesal dengan salah seorang calon pembeli yang dateng belakangan dari aku, tapi tiba-tiba langsung menanyakan sebuah produk pada petugas yang sedang melayani pelanggan di depanku. Dan petugas itu dengan oonnya menjawab pertanyaan orang itu. Makin terasa menyebalkan ketika orang itu kemudian maju dan duduk di kursi kosong yang sebenarnya disediakan untuk calon pembeli Blackberry. Dengan memiringkan badan, dia memesan sebuah modem. Dan petugas oon itu mau saja melayani orang itu. Ketika calon pembeli yang di depanku selesai bertransaksi, aku pun maju dan duduk di kursi yang udah kosong. Aku lalu protes ke si penyerobot itu, dan juga kepada petugas kasir yang tidak melihat antrian. Si penyerobot itu dengan tampang tak berdosa berkata, “Kan nggak ada nomor antriannya”. Dasar!!! Rasanya pengin nimpukin orang itu pakai kursi. Btw, petugas kasir itu bukan dari Telkomsel lho. Mereka adalah mitra-mitra Telkomsel yang jadi supplier modem. Pantes aja gak punya standar layanan yang bener. Pasti bagi mereka, makin banyak yang beli produknya, akan makin menguntungkan. Pasti gak peduli ama satu orang calon pembeli yang protes karena ngerasa diserobot. Toh masih banyak calon pembeli lain yang ngantri.
Ya sudahlah. Akhirnya kudapatkan juga modem 3G-ku. Meski agak kecewa karena tidak sesuai dengan gambar yang ada di brosur yang ada tulisan Telkomsel Flash-nya :-P . Selain mendapatkan modem dengan harga yang “katanya” lebih murah sekitar Rp 200 ribu dari harga normal (aku tulis “katanya” karena mungkin saja harga udah dinaikkan lebih dulu sebelum didiskon, who knows?), aku juga mendapatkan gratis satu buah Starter Pack simPATI PeDe, dengan bonus paket data sebesar 500 MB per bulan selama 6 bulan. Jika diasumsikan bahwa harga tiap kB data adalah Rp 0,5, maka aku dapet bonus senilai Rp 250 ribu per bulan, atau total Rp 1,5 juta selama 6 bulan. Wow!!! Ketutup deh harga si modem tadi. Tapiii.. karena aku udah langganan Telkomsel Flash unlimited, aku pikir aku gak butuh bonus itu. Jadi kuberikan si simPATI PeDe beserta bonus di dalamnya kepada yang kayaknya lebih membutuhkan :-D .
Setelah itu, aku baru liat-liat booth dan acara2 lain. Ada lelang Blackberry dengan poin Telkomsel. Siapa yang punya poin paling tinggi, akan berhak mendapatkan Blackberry itu. Akhirnya yang menang adalah seorang bapak dengan poin berjumlah 33.000. Buset, kira-kira berapa pemakaian dia sebulan ya, sampe punya poin sebanyak itu. Secara poinku ternyata hanya sekitar 1100-an. Selama ini aku nggak pernah merhatiin jumlah poin. Ternyata poin2 itu bisa ditukar dengan Gratis Bicara atau Gratis SMS, atau diikutkan undian. Dan jika selama periode tertentu, poin-poin itu tidak dimanfaatkan, maka akan hangus. Setelah kucek, poinku yang udah mau hangus berjumlah 800-an. Waduh, sayang juga nih. Kebetulan di situ ada booth untuk penukaran poin dengan merchandise-merchandise lucu. Ada mug, payung, jam dinding, flashdisk, dll. Tapi antriannya.. ugh.. bikin mules. Pas aku dekati, ternyata stock merchandise sedang habis, baru ada lagi sekitar jam 3. Sambil menunggu, aku dekati booth yang menjual notebook. Ternyata yang tersedia untuk acara di Bandung ini hanya merk Lenovo. Yang merk HP dan Compaq adanya di kota lain yang pada tanggal yang sama juga menyelenggarakan event Telkomsel Customer Day. Aku tidak begitu tertarik dengan model notebook Lenovo. Lagipula, yang dijual adalah paket bundling dengan modem 3G. Aku kan udah beli modem itu barusan. Buat apa punya 2 modem? Hahaha.. ngelesss doang.. padahal sih karena duitnya kurang. :-P
Lalu ada kuis berhadiah dari penyiar radio Oz, yang nyari2 pengunjung untuk ditanya-tanya dan dapet merchandise. Aku dorong Maya untuk ikutan. Meski jawaban Maya atas pertanyaan yang diajukan tidak terlalu tepat, tapi karena kuis itu hanya untuk seru2an, Maya tetap dapet merchandise. Balik ke booth Telkomsel Poin, merchandise ternyata udah dateng. Aku pun nukerin sejumlah poin yang udah mau hangus itu. Abis itu mampir ke booth iPhone. Sempet megang2, sempet tergoda, tapi harganya masih terasa mahal banget, meski katanya udah turun Rp 1 juta. Di situ aku ketemu seorang temen yang udah lama banget nggak ketemu secara fisik, hanya jadi friend di Fesbuk, itu pun jarang berinteraksi. Lalu kami ngobrol2. Dia bilang mendingan beli Blackberry, alasannya bla bla bla.. Hihihi.. dapet alasan lagi untuk batal beli iPhone, meski alasan sebenarnya sama dengan yang di atas, karena duitnya kurang.
Seorang petugas dari T-Cash ndeketin kami. Dia nawarkan, jika kami mengaktifkan fitur T-Cash dan membeli deposit sejumlah tertentu, maka akan mendapatkan hadiah langsung berupa mug, jam dinding, kaos, topi, dll. Hahaha.. mungkin karena dia ngeliat kami yang membawa beberapa merchandise, maka dia menganggap kami sebagai kolektor, oleh sebab itu akan tertarik untuk mendapatkan merchandise lebih banyak lagi. Btw, sebenarnya deposit T-Cash yang dibeli itu tetap milik kita kok. Nanti bisa dipake untuk beli pulsa atau sebagai alat bayar pada saat belanja di Indomaret. Fitur ini dimiliki juga oleh Flexi dengan nama FlexiCash. Jadi maaf ya Mas, mungkin lain kali aja aku ngaktifkan T-Cash nya. Lebih baik aku pake FlexiCash aja.. ;-)
Kemudian mampir ke booth Blackberry. Sempet megang2 Blackberry Storm, menimbang-nimbang antara emosi dan kebutuhan, lalu memutuskan menundanya dulu. Hahaha.. dari tadi banyak maunya, akhirnya semua gak kebeli :-P . Eh ada satu yang kebeli ding, si modem 3G itu.
Oh ya, selain iPhone dan Blackberry, ada juga booth yang menyediakan produk Nokia, Sony Ericsson, dan LG. Pembeli nantinya akan dapet Starter Pack simPATI atau Kartu As, plus bonus data juga. Tapi aku tidak mampir ke sana. Soalnya produknya udah biasa sih, gak bikin penasaran lagi :-D
Sementara banyak pengunjung yang (mungkin) kayak aku, pindah-pindah dari satu booth ke booth lain, di panggung ditampilkan hiburan. Ada akustik, nyanyi, ada game-game lagi, dll. Ada juga seorang bapak (kayaknya pegawai Telkomsel) yang mendemokan kegunaan iPhone untuk menghasilkan suara mendecit mirip suara piringan hitam yang digosok DJ. Pokoknya seru banget. Ditambah lagi ada performance happening art, orang-orang berkostum aneh dan nampak futuristik, membawa-bawa papan bertuliskan produk-produk Telkomsel. Seolah ingin menampilkan kesan bahwa Telkomsel memang penyedia layanan telekomunikasi berbasis GSM yang terdepan.
Lalu aku sempet liat pengumuman adanya lomba blog Telkomsel bekerja sama dengan Blog Detik dengan tema “Ide Wirausaha”, berhadiah Laptop dan modem. Sayang ternyata batas akhir lomba tersebut adalah hari Minggu itu jam 24.00 WIB. Aku tidak berminat untuk diriku sendiri, aku hanya pengin ada anak Batagor yang ikutan. Sempet kukirimkan SMS ke FlexiMilis Batagor tentang lomba itu. Tapi karena waktunya yang tinggal beberapa jam lagi, kayaknya gak ada yang sempet ikutan.
Secara keseluruhan, menurutku acara ini keren banget. Dari mulai pengiriman info via SMS ke semua pelanggan, kerja sama dengan para supplier untuk menghadirkan paket bundling plus bonus-bonus, performance yang menghibur, lokasi yang nyaman, dll. Tidak heran jika acara 2 hari itu rame terus sampai malam, dan penjualannya nampaknya laris manis. Terbukti dari stock barang seperti modem dan notebook yang kabarnya sempat kehabisan. Salut deh buat Telkomsel.. :-D