Berkat program promo dari BNI Credit Card yaitu beli 1 gratis 1 untuk daily ticket (yang artinya kita dapet diskon 50%), akhirnya aku pergi nonton Java Jazz Festival 2009. Ternyata ada gunanya juga aku punya BNI Credit Card, padahal udah berbulan-bulan gak dipake dan pernah terpikir untuk menutupnya. Meski aku bukan penggemar jazz, dan hanya tau musik jazz macam yang dibawain Andien, Syaharani dan Maliq n D’essential, aku pikir gak ada ruginya aku menghadiri event skala internasional tersebut.
Jadi aku dan Maya pun berangkat ke Jakarta pada suatu pagi menjelang siang di hari Sabtu tanggal 7 Maret 2008. Keberangkatan yang mundur dari rencana semula, lalu adanya instruksi mendadak bahwa aku harus lebih dulu njemput kakakku di Cikarang dan keponakanku di Jatinegara, kemudian masih harus nukar tiket di Disc Tarra Mal Citraland, ditambah sedikit lupa jalan waktu menuju rumah kakakku, istirahat sholat dan makan dulu, serta kemacetan Jakarta, akhirnya kami baru nyampe di JCC pada jam 5 sore. (Update: Mulai dari Jatinegara, aku dianterin kakakku pake mobilnya, dengan pertimbangan dari pada aku nyasar2 jika bawa mobil sendiri, dan kayaknya bakal susah parkir di JCC, jadi kami didrop di lokasi dan ditinggal kakakku). Padahal acara dimulai sejak jam 3 sore. Oh ya, ada sedikit cerita lucu pada saat aku mau melewati pintu pemeriksaan tiket dan tas. Ternyata pengunjung gak boleh bawa minuman. Padahal di tasku ada 1 botol teh dan 2 kaleng Pocari Sweat. Tapi karena Pocari Sweat-nya dibungkus lagi dalam tas kain kecil, yang mana itu tidak kusengaja untuk lolos pemeriksaan, maka yang terlihat oleh petugas hanya botol tehnya doang, dan aku harus meminumnya di depan petugas atau meninggalkannya di situ. Dibantu oleh kakak dan keponakanku, teh yang memang hanya tinggal setengah botol itu bisa habis (yang setengahnya lagi udah kuminum di perjalanan), dan kami pun dibolehkan masuk.
Sesampainya di dalam, semula aku berharap bisa mendapatkan jadwal pertunjukan. Ternyata jadwal itu tidak dibagikan cuma-cuma. Jadi aku hanya bisa membaca jadwal yang ditempel di tembok, dan menulisnya di kertas brosur yang kudapat. Aku berusaha menghubungi Lala yang udah dateng lebih dulu, dia bilang lagi nonton Soulvibe di ruang Cendrawasih 1&2. Aku pun nyusul ke sana, melewati padatnya antrian orang2 yang mau nonton special show Jason Mraz di Plenary Hall. Ternyata Soulvibe-nya udah selesai. Tapi berhasil ketemu Lala. Lalu kami menuju ruang Assembly 1, karena Lala mau nonton Akhsan. Di sana kami gak langsung masuk ruangan, nungguin Maya yang tadi gak barengan masuk ke JCC karena dia ada janji dengan temannya di luar. Nunggunya cukup lama, sampe akhirnya Assembly 1 udah penuh pengunjung dan pintu masuk ditutup. Akhirnya kami memutuskan gak jadi nonton Akhsan, dan menuju ruang Cendrawasih 3&4 untuk nonton Ecoutez yang akan mulai jam 18.30. Nonton sambil berdiri dan lumayan berdesak-desakan, dengan hanya beberapa lagu yang kukenal, meski kunilai bagus, tapi cukup membuatku bosen. Jadi sebelum pertunjukan selesai, kami pun keluar.

Balik lagi ke arah ruang Assembly, kali ini ke Assembly 2, si Lala ngajak nonton Tohpati & Dewa Budjana yang akan mulai sekitar jam 20.30. Saat itu masih sekitar jam 19.30, dan kalo diliat dari jadwal, ada RAN di jam 19.40. Aku, Maya, dan kakakku ingin nonton RAN di Exibition Hall. Tapi Lala tetep mau nunggu Tohpati & Dewa Budjana. Dan keponakanku yang ternyata capek berdiri nonton Ecoutez tadi memilih untuk tinggal bareng Lala, daripada ikut kami pindah ke ruangan lain. Jadi kami pun berpisah. Nyampe di Exibition Hall yang ruangannya sangat luas, ternyata pertunjukan RAN baru dimulai sekitar jam 20.00. Dan ternyata di sini lebih membosankan. Karena RAN baru mengeluarkan 1 album, jadi yang mereka nyanyikan pun lagu yang itu-itu saja. Tapi di sini lumayan, kami bisa nonton sambil duduk, meski jadi jauhhh dari panggung. Baru beberapa lagu, penonton udah banyak yang keluar ruangan. Kami bertiga pun akhirnya keluar sebelum pertunjukan selesai. Rencananya mau kembali ke Assembly 2. Tapi ketika melewati Plenary Hall, kami ngeliat pertunjukan Glenn Fredly baru akan mulai, jadi kami pun masuk ke sana. Waktu itu sekitar jam 20.30. Kali ini Glen Fredly tampil khusus membawakan lagu2 Chrisye. Di sini aku baru mulai ngerasa enjoy, meski nontonnya sambil berdiri. Tapi baru mau lagu ketiga, ada SMS dari Lala bahwa keponakanku ngerasa kelaparan dan kehausan. Doh.. aku lupa bahwa meskipun badan keponakanku itu sudah lebih tinggi dari aku, tapi dia tetap anak SMP yang seharusnya jam 9 gini udah makan malam dan mungkin udah siap2 mau tidur. Aku pun keluar Plenary Hall ninggalin Maya dan kakakku (oh ya, supaya tidak ada yang salah paham, kakakku yang ini bukan ibu dari keponakanku yang itu). Pergi ke Assembly 2 dan menunggu keponakanku keluar, karena aku pikir akan lebih susah lagi kalo aku nyari di dalam. Lala dan keponakanku akhirnya keluar, dan Lala cerita bahwa untung dia masih punya coklat sebatang, jadi bisa dibagi ke keponakanku itu. Makasih ya La, engkau memang baik hati sekali.. *peluk2 Lala* 
Kami lalu berpisah, karena Lala mau nonton pertunjukan lain. Aku dan keponakanku menuju tempat makan yang berada di dalam lokasi JJF ini. Sambil kuberikan 1 kaleng Pocari Sweat ke dia, yang langsung diminum habis. Huhu.. ternyata dia bener2 kehausan. Waktu jalan ke tempat makan, aku liat banyak banget orang yang makan sambil duduk di pinggir jalan. Sesampainya di tempat makan itu, suasananya rameee banget. Di mana-mana ngantri. Ada counter yang nggak pake ngantri, tapi keponakanku gak suka menunya. Dia pengin makan Bakmi GM, tapi kemudian nggak jadi karena antriannya paling parah. Akhirnya kami membeli nasi goreng dan roast chicken rice yang harganya 35 ribu seporsinya. Emang mahal banget, tapi biarlah. Daripada nanti aku diomelin kakakku karena telah mendzalimi anak kecil
. Beli air mineral pun gak kalah mahal, kemasan botol kecil harganya 5 ribu. Meja kursi di tempat tersebut udah penuh orang, jadi aku ngajak keponakanku keluar dan bergabung dengan orang2 yang tadi makan sambil duduk di pinggir jalan. Pertimbangan lain adalah supaya nanti jika kakakku dan Maya mencari kami, akan lebih mudah menemukan kami di luar daripada di dalam tempat makan yang penuh sesak manusia itu. Segitu penuhnya manusia, bahkan di luar pun kami kesulitan nyari tempat buat duduk. Sampe akhirnya ada juga tempat kosong yang cuma cukup untuk 1 orang. Aku suruh keponakanku duduk di situ dan makan. Dia nampak ragu2. Secara anak itu memang bersihan, dia kayaknya agak risih makan di situ, sementara di depannya banyak sampah bekas makanan berserakan. Ya, memang kondisi di tempat itu amat sangat kotor. Orang2 yang selesai makan meninggalkan sampahnya begitu saja, menumpuk di pinggir jalan. Aku liat bukan semata kesalahan orang2 itu. Di tempat itu tidak ada tempat sampah yang tersedia. Yang ada hanya plastik2 hitam besar yang isinya udah penuh sampah, tidak segera diangkut petugas lalu diganti dengan plastik yang baru. Tapi mungkin karena beneran lapar (waktu sudah menunjukkan pukul 21.30), akhirnya dia mau duduk dan mulai makan. Aku berdiri menunggu di depan dia, sambil berusaha menghubungi kakakku dan Maya, yang rupanya lagi nonton pertunjukan di panggung yang di luar. Aku minta mereka gabung dengan kami dan ikut makan di sini. Beberapa orang di samping keponakanku udah selesai makan dan pergi, sehingga aku bisa duduk dan mulai makan. Nasi gorengnya ternyata gak enak. Rasanya hambar, dan agak keras. Mungkin bikinnya udah dari pagi atau siang, dan cuma diangetin sebentar doang sebelum diberikan kepada pembeli, jadi gak fresh. Trus inget tadi ngeliat penjualnya sampe berkeringat-keringat melayani pembeli yang kayaknya gak abis-abis. Jangan2 ada keringat yang netes ke makanan yang dia jual.. hwahahaha.. Ah sudahlah, aku paksain makan biarpun gak sampe abis, daripada masuk angin. Kakakku dan Maya dateng, dan mereka pun makan di situ. Kakakku ngajak pulang. Jadi aku telpon ke kakakku yang satunya, minta supaya kami dijemput. Selesai makan, sambil menunggu jemputan, kami kembali ke dalam gedung, nonton pertunjukan yang di panggung di luar ruangan. Kami melihat beberapa artis, ada Indra Bekti, Farhan, Uli Herdinansyah, Fedi Nuril, dll. Maya bilang, coba kalo ada Ariel, pasti pengunjung rame minta foto bareng
. Lalu ada berita dari kakakku, dia udah deket ke lokasi JCC, dan kami diminta keluar. Waktu sedang jalan keluar, ada SMS dari Lala yang rupanya sedang ngantri mau nonton Matt Bianco. Tapi ketika dia tau kami udah mau pulang, dia memutuskan pulang juga. Dia mau ikut mobil kakakku sampe ketemu taxi untuk ke rumahnya. Jadi kami pun nunggu Lala dulu, baru bareng2 keluar ke jalan, dan mencari mobil kakakku yang nunggu agak jauh dari gerbang JCC, karena kalo ikutan masuk, pasti akan terjebak kemacetan mobil pengunjung yang mau pulang juga. Kami naik mobil, lalu pergi dari situ, nganterin Lala sampe dapet taxi, baru pulang ke Jatinegara. Sampe rumah udah tengah malam. Kecapekan. Istirahat dulu untuk besoknya kembali ke JCC.
(bersambung)
Recent Comments