Sore itu sepulang kantor, aku mampir dulu ke Pizza Hut Dago. Aku berencana pulang kampung malam itu, dan pada saat kepulanganku yang terakhir, adikku minta dibawain Pizza Hut. Ya, di kota kecilku sana, selain belum ada Trans TV, juga belum ada Pizza Hut. Dan sebagai kakak yang merasa jarang ngasih perhatian buat adiknya, karena memang jarang bertemu, aku selalu berusaha memenuhi pesanan adikku. Sebelumnya aku udah memesan ke Pizza Hut via telepon. Tapi dengan pemikiran bahwa menunggu delivery akan memakan waktu lama, maka aku putuskan akan mengambil langsung ke tempatnya.
Suasana Jalan Dago pada hari Jumat sore padat seperti biasa. Pada saat akan memasuki parkiran Pizza Hut, terjadi antrian beberapa mobil. Aku mulai gelisah, dan berpikir bagaimana bisa aku menganggap bahwa mengambil pizza langsung ke tokonya akan lebih cepat dari pada menunggu delivery. Parkiran depan udah penuh, jadi tukang parkir mengarahkan mobil di depanku dan juga mobilku untuk menuju parkiran belakang. Sesampainya di parkiran belakang pun aku hanya melihat satu tempat kosong yang sudah akan ditempati mobil di depanku tadi. Aku mulai mempertimbangkan untuk menitipkan mobilku sebentar ke tukang parkir, sementara aku bergegas ke depan untuk mengambil pizza. Toh tinggal ambil, pasti tidak akan lama. Sambil nantinya tukang parkir membawa mobilku kembali depan, pasti aku udah selesai membayar pizza itu, jadi langsung pergi lagi dan nggak usah parkir. Tapi ternyata aku beruntung, tukang parkir menunjukkan satu celah yang masih bisa digunakan untuk parkir mobilku. Alhamdulillah. Beres menaruh mobil, aku pun berjalan buru-buru ke depan. Sesampainya di dalam, aku bilang ke pelayan bahwa aku mau ngambil pesananku. Memang sudah siap. Tapi aku masih harus ngantri untuk bayar. Sekilas aku liat seorang gadis kecil sedang berdiri dekat meja kasir. Pada saat kasir sedang melayani pembeli di depanku, ada seorang pelayan wanita yang mendekat dan berbisik ke kasir. Cukup keras sehingga kami bisa mendengarnya.
Dia bilang, “Anak itu sendirian, pengin beli pizza. Tapi cuma bawa uang 13 ribu. Pizza paling murah harganya sekian ribu (di bagian ini aku tidak begitu jelas – red)”.
Aku mulai tertarik memperhatikan gadis kecil itu. Kalo ngeliat badannya, kuperkirakan dia masih SD.
Seorang pelayan wanita lain mengajak gadis kecil itu bicara, “Sendirian aja, Dek? Mau beli apa?” Gadis kecil itu menjawab bahwa dia memang sendirian. Pelayan wanita itu kemudian menyuruh gadis kecil itu duduk di sebuah kursi. Sebuah sikap yang simpatik, menurutku. Kemudian mereka pergi ke belakang, seakan mau merundingkan lebih dulu tindakan apa yang harus dilakukan kepada gadis kecil itu.
Tiba giliranku dilayani kasir, aku tanya, “Ada apa, Mbak?”
Mbak kasir menjawab, “Itu ada anak mau beli pizza, tapi cuma bawa uang 13 ribu.”
Aku tanya lagi, “Memangnya berapa harga pizza yang paling murah?”
Mbak kasir menjawab, “Ada yang 17 ribu, tapi itu pun belum tentu masih ada atau nggak.”
Mbak kasir memproses pembayaran dua kotak pizza yang kubeli, dan memberikan kembalian Rp 10 ribu kepadaku. Aku berpikir sesaat, kemudian mendekati gadis kecil yang masih duduk di kursi dan menyelipkan uang Rp 10 ribu itu ke tangannya. Aku harap itu akan membantunya bisa mendapatkan pizza yang dia inginkan.
Aku kembali berjalan terburu-buru ke parkiran mobil. Maghrib sudah datang, dan aku khawatir terlambat sampai rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan kejadian tadi tidak begitu saja lepas dari pikiranku. Dan penyesalanku tumbuh. Mengapa hanya itu yang bisa kulakukan tadi? Mengapa aku tidak tinggal lebih lama untuk memastikan bahwa gadis kecil itu bisa mendapatkan yang dia inginkan? Jika ternyata uangnya masih belum cukup juga, maka aku akan bisa menambahnya lagi. Atau mungkin kalau mau lebih gampang, mengapa aku tidak membagi pizza yang udah kubeli tadi kepada gadis kecil itu? Jika hanya berkurang sepotong dua potong, pasti tidak akan mengecewakan adikku.
Ah sudahlah. Aku pikir aku memang sering telat mikir untuk hal-hal spontan kayak tadi. Jadi inget postingan ini.
.
.
.
.
.
Ngomong-ngomong, kira-kira ada nggak kemungkinan bahwa kejadian itu hanya sebuah reality show sejenis acara “Tolooooong” yang dulu pernah tayang di TV itu?






Related Articles
1 user responded in this post
Saya pikir apa yang anis lakukan sudah cukup. Kamu sudah membantu anak tsb. Apakah kemudian anak itu tidak mempergunakan uang tersebut untuk membeli pizza pun, saya rasa gpp. Yang terpenting adalah kita sudah membantunya dengan niat yang ikhlas.
Leave A Reply