Sebenarnya aku mentargetkan mengisi long weekend ini antara lain dengan menyelesaikan buku “Maryamah Karpov”. Tapi kemudian aku berubah pikiran. Aku tak ingin membaca buku Andrea Hirata itu dengan terburu-buru, yang bisa berakibat aku selesai membacanya tapi gak paham isinya. Aku ingin menikmati buku itu dengan tenang, mozaik per mozaik, meski itu berarti akan makan waktu lama untuk menghabiskannya. Akhirnya sasaran bacaan berpindah ke buku berjudul “Kau Memanggilku Malaikat”. Sebuah buku yang kubeli di Gramedia hari Minggu sore kemarin karena tertarik dengan judulnya, dan mungkin juga karena pengarangnya Arswendo Atmowiloto.
Dan seperti yang kuharapkan, novel dengan ketebalan hanya 271 halaman yang mulai kubaca tadi malam bisa kuselesaikan pagi hari ini. Tokoh dalam novel ini adalah malaikat kematian. Cocok dengan situasi kali ya, secara pagi ini banyak hewan kurban yang menemui ajalnya
. Sedikit mengingatkan aku pada film “City of Angels”, dan film malaikat kematian lain yang dibintangi oleh Brad Pitt.
Si malaikat kematian yang menjadi “aku” di novel ini mempunyai “tugas” (jika itu bisa disebut sebagai tugas) untuk menjemput orang-orang jika waktunya sudah tiba, dan menemani mereka sampai tiba waktunya mereka harus pindah ke tahap berikutnya lagi. Bermacam manusia yang harus dia jemput. Seorang istri yang setia, tulus dan mengabdi pada orang tua dan suaminya, meski suaminya mengkhianati dia dengan menyelingkuhi adik dari menantunya. Seorang preman yang disiksa dan dibakar hidup-hidup. Seorang siswi SMP yang cantik, yang dibunuh polisi karena melawan saat diperkosa. Seorang pensiunan pengusaha yang mati saat bersama wanita simpanannya. Seorang ibu yang mengajak tiga anaknya minum racun bersama. Seorang istri patuh yang membawa bom ke tempat yang disuruh suaminya dan meledakkannya di sana. Seorang supir bus yang membawa rombongan anak-anak sekolah, dan kemudian busnya jatuh ke jurang. Dan masih ada yang lain.
Sebagai malaikat, dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa tetap menemani Nyonya Tesa, sementara di tempat lain dia sedang menjemput Popon dan Ife. Dia memperlakukan mereka sama semua, tidak ada perbedaan. Dan selama dalam masa transisi itu, orang-orang yang dia jemput juga mendapat hak yang sama. Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka punya kesempatan untuk mengulang hidup mereka lagi sesuai keinginan mereka, dalam pikiran mereka. Yang berbeda adalah lamanya waktu yang mereka jalani dalam masa transisi itu, dan bagaimana mereka memanfaatkan waktu itu.
Tapi semua berbeda ketika malaikat ini harus menjemput Di, seorang anak kecil yang sakit berat karena banyak vlek di parunya. Seorang anak kecil yang mempunyai bapak yang suka menulis puisi dan ibu yang suka menembang. Salah satu puisi yang ditulis bapaknya adalah sebagai berikut:
“selamat pagi, Di
mari kita lanjutkan mimpi semalam
sebelum kita terbenam lagi
dalam pelangi”
Sejak pertama si malaikat datang, Di langsung mengenalinya dan mengatakan sudah pernah bertemu sejak dia masih di kandungan. Hal yang membuat si malaikat heran karena dia tidak ingat pernah bertemu dengan Di. Keanehan lain, ketika sudah waktunya Di pergi, ternyata dia masih berada di dunia manusia, dan masih bisa bercakap dengan bapak dan ibunya, meski orang lain tidak mendengar. Bahkan setelah jenazahnya dimakamkan, Di masih tidak mau ikut si malaikat. Di masih bisa basah oleh hujan. Di masih berjalan-jalan, mengajak si malaikat mengenali perasaan manusia hidup. Membuat si malaikat belajar bahwa tidak semua orang mati itu sama, hal yang selama ini dijalaninya dengan tanpa pertanyaan. Di bahkan bisa menghilang dari si malaikat yang seharusnya selalu menemaninya. Akhirnya si malaikat sadar bahwa mungkin juga Di adalah malaikat yang lain. Karena Di, untuk pertama kalinya si malaikat merasakan rindu. Dia rindu akan Di.
Di sini aku tidak ingin membahas kehidupan setelah mati yang digambarkan di novel ini. Meski memang sempet timbul pertanyaan kenapa tidak ada perbedaan antara manusia baik-baik yang mati dan manusia tidak baik-baik yang mati, tapi kemudian aku pikir toh ini cuma novel, cuma fiksi, cuma buatan manusia. Tentu saja dibikin mudah, karena manusia tidak akan bisa menyamai kompleksitas ciptaan Yang Maha Pencipta. Menurutku yang lebih ingin disampaikan novel ini adalah tentang hidup sebelum mati. Cerita tentang orang-orang itu bisa saja terjadi di kehidupan nyata di orang-orang di sekitar kita, atau bahkan dalam kehidupan kita sendiri. Tentang pilihan hidup, tentang pengorbanan, tentang rasa ketidakadilan, tentang cinta, tentang rindu, tentang air mata.
“Wujud cinta adalah air mata”
“Rindu adalah air mata”
“Air mata, itulah sebenarnya sayap yang paling penuh makna”
Oh tidakk… aku jadi merasa aneh karena bersikap serius seperti ini.






Related Articles
6 users responded in this post
Jadi Maryamah Karpov nya belum tuntas Nis?
Aku sih ga bisa taro sebelum usai, jadi buru2 selesai. Akhirnya? hihihi…. gatel ni pengen cerita!
Jadi dapet apa aja di Gramedia? Aku beli Paris Pandora nya Fira Basuki. Suka juga ngga? Astral Astria, buku sebelumnya, bikin aku penasaran pengen lanjutin.
Hush.. gak boleh spoiler..
Aku lagi pengin beli buku2nya Stephenie Meyer nih, yang soal vampire pacaran ama manusia, yang buku pertamanya “Twilight” udah jadi film itu. Tapi ntar aja kali ya, setelah buku Maryamah Karpov, Peter Pan and The Soul Thieves, dan buku anjing-mati-di-tengah-malam (aku lupa judulnya) itu selesai kubaca.
pinjem bukunya mbaaaaa…
pinjem? beli dunks..
(1) Aku pernah pegang buku ini di Gramed Mall Taman Anggrek, tapi kutaruh lagi gara-gara aku dah ambil 3 buku lain. Pas kubolak balik, gaya penulisan dengan egosentrisme yg kental membuatku pengen beli, tapi kemudian gak jadi gara-gara inget masih ada dua buku lain di rumah yang belum ku baca. So Thx buat reviewnya, kayaknya meusti beli deh. Btw … endingnya gimana Nis?
(2) “Twilight” nonton filmnya aja deh Nis. Biarpun buat ABG, dakuw suka.
Gaya penulisan egosentrisme? Hihihi… aku gak kenal istilah itu. Aku cuma suka judulnya aja. Dan tertarik karena novel ini menggambarkan sesuatu yang gak akan bisa kukhayalkan, yaitu hidup setelah mati. Endingnya ya gitu aja, bahwa malaikat akhirnya belajar untuk punya perasaan.
Leave A Reply