Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam rangka peringatan Hari Bakti Pos dan Telekomunikasi yang jatuh pada tanggal 27 September, Telkom kembali akan memberikan penghargaan Best Channel Award, yang salah satu kategorinya adalah penghargaan untuk para mitra Authorized Dealer. Jika tahun lalu aku mendapat tugas untuk menilai outlet di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya (aku pernah menceritakannya di blog-ku yang lain), maka tahun ini aku mendapat bagian pergi ke kota Menado dan Denpasar.
Seperti yang aku tulis di sini, perjalananku dimulai sejak Rabu dini hari. Malam sebelumnya aku nggak sempet tidur, selain karena belum selesai packing, juga karena takut telat. Jadi aku cuma sempet tidur di bis selama perjalanan. Nyampe di Cengkareng jam 6 pagi, jauh lebih awal dari perkiraan waktu yang diberikan si penjual tiket yang bilang bis baru akan nyampe jam 7 – setengah 8 pagi. Tapi gak papa, daripada telat kan lebih baik nunggu. Aku nyari sarapan dulu, lalu nungguin temen dari Jakarta yang mau berangkat bareng.
Pesawat Batavia berangkat menuju Menado sekitar jam 9 pagi, agak terlambat dari jadwal. Perjalanan yang ditempuh sebenarnya sekitar 3 jam (dan sebagian besar diantaranya kunikmati sambil tidur). Tapi karena perbedaan waktu antara Jakarta dan Menado, maka kalo dari jam setempat maka seolah perjalanan kami adalah 4 jam. Sekitar jam 1 WITA aku dan temenku sampe di Menado dengan selamat. Menunggu bagasi dulu, jam 1.30 kami keluar Bandara Sam Ratulangi. Sudah ada rekan dari Kandatel Menado yang menyambut kami. Kami diajak makan siang dulu, lalu diantar ke hotel untuk menaruh tas, ganti baju dan sholat. Setelah semua selesai, sekitar jam 3.30, kami langsung melaksanakan tugas. Waktu kami sempit karena besok siangnya kami harus terbang lagi ke Denpasar. Sedangkan jumlah outlet yang harus kami audit cukup banyak, ada 10 outlet ditambah 1 Head Office dari mitra AD. Pertama kali kami mendatangi Head Office-nya. Mitra AD yang ini sangat bersemangat dan kooperatif. Tak heran karena di tahun sebelumnya, dia sudah pernah menang di kelas yang lain. Selain mempresentasikan profil perusaaan dia, semua pertanyaan kami juga dijawab dengan sebaik mungkin. Lalu kami diantar melihat outlet-outlet dia. Untungnya kebanyakan outlet berada di mal-mal di pusat kota. Sehingga di luar perkiraan, sampe jam 9 malem kami sudah menuntaskan penilaian di 6 outlet, dan hanya menyisakan 4 outlet lagi untuk dinilai besoknya. Hasil tersebut membuat kami optimis bahwa tugas akan dapat kami selesaikan sesuai target. Dan malam itu aku tidur seperti orang mati, pulas dan tanpa mimpi.
Besok paginya kami mulai lebih pagi, sekitar jam 8. Itu karena kami harus mengambil sampel outlet luar kota yaitu di wilayah Tomohon, sekitar satu jam perjalanan dari Menado. Tomohon itu seperti Lembang-nya Menado. Jalan menuju ke sana berliku-liku, membuat perutku serasa dikocok-kocok dan menimbulkan rasa mual. Tapi rasa mual itu hilang mendapati bahwa outlet yang kami nilai sama antusiasnya dengan outlet yang ada dalam kota Menado. Sebentar saja kami di sana, lalu kami kembali ke kota. Masih ada 3 outlet yang harus dikunjungi. Sekali lagi untungnya lokasinya tidak begitu berjauhan, sehingga sekitar jam 12 kami sudah selesai. Kami bergegas ke bandara, karena 1,5 jam lagi pesawat kami akan berangkat. Perjalanan sekitar 40 menit, sampe di sana aku disuruh lari duluan ke loket Garuda untuk ngeprint tiket (yang aku pegang baru struk ATM bukti pembayaran tiket-red), sementara temenku ngangkatin tas-tas kami. Setelah ngeprint tiket, aku dan temenku masuk ke dalam untuk check in dan menyerahkan bagasi. Makan siang pun akhirnya kami lakukan di bandara, bersama tuan rumah yang masih setia menemani kami. Setelah itu kami pamitan. Sambil digayuti rasa penyesalan karena nggak sempet jalan2 ngeliat pantai Bunaken dan gunung Menado Tua (moga2 bener gini nulisnya) yang terkenal itu. Selain foto2 outlet, hanya foto ini yang bisa aku dapetin. Lokasi di sekitar Citra Land, dalam perjalanan menuju Tomohon, aku ambil dari dalam mobil yang aku minta berhenti sebentar.

Gambar orang yang ada di situ adalah pengunjung Big Ben Menado, bukan gambarku
.
Pesawat Garuda terlambat berangkat, sehingga kami sampai di Bandara Hasanuddin Makassar pun terlambat. Transit di sini sekitar 1 jam. Bandara Makassar yang baru itu keren banget. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Denpasar. Sampai di Bandara Ngurah Rai, kami dijemput temen dari Kandatel Denpasar, yang langsung mengantarkan kami ke hotel. Kami istirahat untuk melanjutkan tugas besok hari. Berdasarkan informasi, jumlah outlet yang harus kami kunjungi di sini lebih sedikit, hanya ada 7 buah. Tapi mitra AD-nya ada 2, jadi ada 2 kantor Head Office/Branch Office yang harus kami datangi. Berdasar pengalaman di Menado, kami optimis tugas akan bisa lebih cepat kami selesaikan.
Besoknya kami baru mulai jam 9.30, karena jam kantor swasta memang baru buka jam segitu. Tapi kemudian kami sadar bahwa kondisi di Denpasar berbeda dengan di Menado. Jarak antara 1 outlet ke outlet lainnya cukup jauh, ditambah lagi kemacetan dalam kota karena masih dalam suasana liburan hari besar Galungan. Sampe jam 12 sebelum Jumatan, kami baru bisa mengunjungi 3 lokasi. Setelah Jumatan dan makan, kami baru bisa mulai lagi jam 2. Dapet 1 outlet lagi dalam kota, dan selanjutnya kami harus pergi ke outlet di Gianyar, sekitar 1 jam lebih dari Denpasar. Seperti biasa, perjalanan darat yang agak jauh membuat perutku mual. Dan kali ini yang cukup bikin kecewa, ternyata outlet yang kami datangi tidak memenuhi syarat penilaian. Kami kemudian balik ke Denpasar. Di Denpasar, kami masih mendatangi 3 outlet lagi. Setelah itu baru kembali ke hotel. Temen assessorku menyatakan bahwa tugas kami selesai. Bila ada beberapa data pendukung yang kurang, kami akan minta tolong temen Denpasar untuk mengirimkannya via email.
Besok Sabtunya, temenku lebih dulu pulang ke Jakarta menggunakan pesawat Lion pagi. Sedangkan aku baru terbang sore harinya menggunakan pesawat Batavia. Kesempatan setengah hari aku gunakan untuk jalan-jalan ke Erlangga 2, sebuah toko swalayan yang menjual berbagai oleh-oleh khas Bali. Sebelumnya pengin ke Pasar Seni Sukowati, tapi temenku menyarankan, kalo aku nggak pinter nawar, mending ke Erlangga saja. Di sana harga jual sudah pas, jadi aku ngak perlu khawatir salah harga. Aku membeli beberapa cindera mata, gak begitu banyak karena aku memperhitungkan kapasitas tasku. Kalo kebanyakan, ntar repot sendiri, karena sekarang gak ada temen yang bisa bantuin. Setelah itu kembali ke hotel, beberes sebentar, dan berangkat ke bandara. Sholat dan makan siang aku laksanakan di bandara. Seperti biasa, pesawat terlambat berangkat. Di dalam pesawat, iseng aku motret gunung yang aku tidak tau namanya, yang pasti masih di pulau Bali.

Sampai di Bandara Sukarno Hatta Jakarta, sempet menunggu dulu sekitar 1 jam 15 menit, lalu aku lanjut naik travel Xtrans menuju Bandung. Udah lama aku gak naik Xtrans dari bandara, tapi kali ini ada yang bikin aku seneng
.

Sampe di Bandung udah malam. Alhamdulillah, perjalanan dinas kejar tayang alias jadi kutu loncat selama 4 hari sudah aku selesaikan dengan baik, dan kembali ke Bandung dengan selamat dan sehat
.






Related Articles
3 users responded in this post
wah, berarti bawa oleh2 dong mba…???
anw, kok skarang banyak blogger sedang pindah kota yah. mas koen ke pontianak. terus kmaren ada blogger dari bali berkunjung ke bandung. ntah siapa lagi yang akan bepergian. tapi suasanany emang lagi asyik buat jalan2.
mau mbak….oleh2nya….
ngarep…..
@Yudha & Afwan, hehehe.. oleh2nya udah disikat habis temen2 di kantor tuh..
Leave A Reply