Archive for » May, 2008 «

Duluuu.. waktu awal-awal beroperasinya telekomunikasi menggunakan teknologi CDMA di Indonesia, katanya kendala utama penetrasi pasarnya adalah jenis dan jumlah HP yang masih sedikit dan harganya yang masih mahal. Dengan alasan itu, operator2 CDMA melakukan strategi bundling HP dan Starter Pack untuk meningkatkan salesnya. Dimulai oleh salah satu operator, dan kabarnya memang laku keras. Untuk menjaga supaya pelanggan tetap loyal pada operator itu, maka si HP pun di-lock sehingga hanya dapat digunakan untuk Starter Pack si operator.
Kemudian terbukti kenyataan di lapangan gak seindah itu. Orang Indonesia kan paling pinter kalo disuruh ngotak-atik :-P . Lock HP itu ternyata bisa dibobol. Maka beredarlah HP bermerk salah satu operator, tapi berisi kartu operator lain.
Tapi kisah sukses penjualan sistem bundling ini ternyata menggoda operator lain untuk melakukan hal serupa. Maka berbagai macam program pun bermunculan di pasar. Dan kabarnya sih… emang laku keras. Meski kabar itu juga diiring berita tentang dibukanya unlock HP bundling itu sehingga bisa digunakan untuk kartu operator lain, hal itu tidak menyurutkan niat para operator untuk terus menggelontorkan produk-produk bundlingnya. Bahkan baru-baru ini ada operator yang mengeluarkan program bundling tanpa lock. Weleh-weleh.. hebat kali. Kayak buang-buang HP aja. Berita yang aku denger sama dan sejenis, HP nya memang laku, tapi isinya diganti nomor dari operator lain. Namanya juga pasar, mereka akan memilih mana yang paling menguntungkan.
Ini yang bikin aku heran. Dalam pemikiran cetekku, apa sih untungnya penjualan yang tinggi pada suatu waktu, tapi kemudian banyak cabutan di waktu berikutnya (karena HP itu lalu digunakan untuk kartu dari operator lain)? Banyak resources yang terbuang: kartunya sendiri, nomor kartu, dan (katanya) subsidi dari operator kepada vendor terminal (supaya harga bisa jadi murah), dll. Apa cuma sekedar ingin disebut operator yang punya customer base tinggi, sehingga harga saham bisa terkerek naik? Emangnya gak ada program marketing yang lebih bagus dari itu?

Category: Marketing  Tags: ,  16 Comments

Hari Rabu lalu, tiba-tiba aku pengin baca sesuatu yang ringan dan gak perlu mikir. Maka aku ambil novel karya Rachmania Arunita berjudul Lost in Love ini dari sebuah rak di suatu toko buku. Mungkin karena terpicu mood yang lagi gak enak, karena pembatalan sepihak suatu event yang sudah direncanakan dari minggu sebelumnya, tanpa penjelasan yang jelas dari pihak yang berkuasa (alias para boss itu). Apalagi kemudian Kamis besoknya ada kabar, pembatalan itu dibatalkan, hanya scope acaranya diperkecil. Lalu esoknya lagi, hari Jumat malem, ada kabar scope-nya dikembalikan seperti rencana awal. Dan akhirnya balik lagi diperkecil lagi. Hallooww.. kayaknya ini bukan jaman revolusi deh, di mana keputusan boleh berubah tiap menit. (Buat Pak Davik, kalo sempet baca tulisan ini, salah satu bukti lagi betapa susahnya sesuatu yang bottom up untuk mendapat dukungan dari atas :-( ). Aku sendiri akhirnya tidak terlibat lagi dalam acara itu, karena konsepnya yang sudah berbeda dari rencana awal.
But.. stop complaining! Siapa suruh aku jadi pekerja. Kalo tidak kuat, silakan keluar dan jadi orang bebas :-) . (Note: terinspirasi dari lagu Donna Donna Donna).
Kembali ke “Lost in Love”. Novel ini merupakan kelanjutan dari novel “Eiffel I’m in Love” yang terbit sekian tahun lalu. Aku gak pernah baca novelnya, tapi pernah nonton filmnya yang beberapa kali tayang di TV. (Kalo ada yang belum tau cerita Eiffel I’m in Love, silakan cari sendiri di Google atau Wiki. Aku gak akan menuliskannya di sini, karena itu bisa jadi satu entry blog tersendiri :-) .) Di akhir film itu, dikisahkan setelah Tita dan Adit “bertunangan” dengan cincin bunga di sekitar Eiffel, Paris, lalu ada cerita bahwa akhirnya Adit memberi Tita cincin berlian beneran setelah mereka kembali ke Jakarta.
Tapi di novel “Lost in Love” ini, cerita diawali dari setelah Tita mendapatkan cincin bunga itu. Sehari setelah “pertunangan” itu, ada acara peresmian pembukaan restoran baru milik Bunda-nya Tita. Di acara ini, Tita merasa diabaikan oleh semua orang, baik Alan kakaknya, Adit maupun orang tuanya. Tita lalu memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke sebuah café di kota Paris itu, sekalian pengin membuktikan bahwa dia sudah cukup dewasa untuk melakukan sesuatu sendiri. Tapi kemudian banyak hal tak terduga yang terjadi. Dari mulai sulitnya dia berusaha memesan minuman ke pelayan cafe, perkenalannya dengan Alex yang mengaku mahasiswa Thailand, menumpahkan minuman coklat dan membuat cangkirnya pecah berjatuhan, tak sengaja terbawa bis ke tempat yang tidak dikenalnya, dikejar-kejar anjing sampe jatuh dan berdarah-darah, dll. Lalu ada cerita dia duduk di suatu halte sendirian, tanpa uang, tidak tau mau ke mana, tidak ada yang bisa diajak bicara karena sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di kota itu. (Hahaha.. sedikit mengingatkan kejadian yang kualami pada suatu waktu, berada sendirian di suatu halte bis dikelilingi hujan di kota asing. Cuma bedanya, aku masih punya uang, di kota itu bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Inggris, dan aku tau harus ke mana. Cuma rasanya masih males aja beranjak dari situ.)
Akhirnya Tita ketemu Alex lagi yang membantunya untuk kembali ke keluarganya. Lalu Tita dan Adit berbaikan. Dan di ujung novel, diceritakan mereka menikah 5 tahun kemudian.
Puas dengan novel itu? Hmm… kalo sekedar untuk memenuhi keinginan bacaan ringan tanpa mikir, bolehlah… Tapi kalo dibilang puas, nggak juga sih. Mau tau penyebabnya?
Pertama, tokoh Tita yang digambarkan tidak lancar berbahasa Inggris dan gaptek komputer, bahkan gak bisa ber-email, rasanya kok janggal. Hey.. ini tahun 2008. Untuk keluarga dengan status ekonomi seperti Tita, seharusnya bahasa Inggris bukan masalah. Bisa belajar dari sekolah, atau dari kursus, dll. Sama halnya dengan komputer dan email, hare gene bahkan anak SD pun sudah lancar bermain komputer, friendster, email, blog, dll. Apalagi Tita yang katanya udah SMA, harusnya sih gak segaptek itu. Kecuali kalo memang novel ini mengambil setting waktu 10 tahun lalu.
Kedua, pada saat aku baca sinopsis novel ini yang mengatakan bahwa Tita tersesat di Paris, aku sudah berharap bahwa akan ada cerita tempat-tempat menarik di Paris yang disinggahi Tita. Ya.. minimal kayak cerita di novel Da Vinci Code itu.. Tapi ternyata gak ada sama sekali. Tita hanya dikisahkan berada di restoran, masuk café, lalu di halte bis, lewat pasar, masuk apartemen, udah deh. Gak ada gambaran keindahan Paris blas. Eh ada ding sedikit di akhir cerita mereka berwisata perahu di Sungai Seine.
Ketiga, banyaknya adegan berlari dan kejar-kejaran di novel ini, membuat aku inget cerita film Janji Joni.” Tapi dengan kualitas cerita di bawah itu.
Tentu saja masih ada hal positif di novel ini. Di tengah buku, sinetron bahkan film yang sering menampilkan pergaulan bebas, novel ini masih termasuk sopan dan polos. Huuh.. jangan-jangan memang setting waktunya 10 tahun yang lalu ;-) . Jadi ngingetin aku pada cerita “sopannya” hubungan Dao Ming Shi dan San Chai di Meteor Garden.
Btw, pada awalnya novel ini didistribusikan lewat e-Book. Jadi heran, kok bisa penulis muda yang tidak gaptek tapi membuat tokoh yang begitu gaptek.
Finally, aku tidak merekomendasikan untuk beli novel ini. Kalo pengin baca, mending pinjem punyaku aja (aku gak beli ini :-P ). Kalo mau cari bacaan ringan dan gak perlu mikir tapi gak “wagu”, mendingan ke blognya Okke aja deh. Dijamin lebih nyaman bacanya.
O ya, novel ini juga udah difilmkan. Pemeran Tita dan Adit tidak sama dengan pemeran di “Eiffel I’m in Love“. Tayang perdana pada tanggal 22 Mei 2008, sehari setelah aku memiliki novel ini. Film ini disponsori salah satu operator telco Indonesia. Mau nonton? Kalo aku mah mau nunggu tayang di TV aja deh… Gak akan lama kok.. :-P

Category: Book  Tags:  11 Comments

Pada suatu hari ada dua orang mahasiswi dari suatu perguruan tinggi dateng ke kantor. Kebetulan aku ketemu mereka waktu mereka baru masuk ke ruangan. Aku tanya mereka, “Mau nyari siapa?”
Mereka jawab, “Mau ketemu Pak P (manajerku – red). Eh itu bapaknya ada,” sambil mereka melihat ke arah manajerku yang sedang di mejanya. Manajerku yang mendengar namanya disebut, melihat ke arah kami dengan tatapan agak bingung plus sedikit kusut karena sedang sibuk bekerja.
Aku bilang, “ Tapi Pak P sedang sibuk. Ada keperluan apa ya?” sambil aku mempersilakan mereka duduk di kursi.
Salah satu dari mereka menjawab, “Ini, Bu. Kami dari bla bla bla (menyebut nama perguruan tinggi asal mereka). Kami sedang mengerjakan sebuah tugas kuliah. Kami ingin melakukan wawancarara untuk mendapatkan data-data tentang Flexi. Penjelasan produknya, kelebihan-kelebihannya, strategi marketingnya, market sharenya, dll.”
Temennya meneruskan, “Tapi kalo Pak P sedang sibuk, mungkin Ibu bisa bantu kami?” Mereka lalu menyerahkan surat pengantar dari dosen mereka. Aku baca, ternyata di situ ada enam nama mahasiswa.
Lalu aku tanya lagi, “Di sini ada nama enam orang. Kenapa yang datang cuma dua?” Mereka jawab, “Cukup diwakili kami aja, Bu.” Lho, kok enak banget, pikirku. Yang dapet pengantar tugas kuliah ada enam orang, tapi yang mengerjakan hanya 2 orang. Yang lainnya cuma nitip. Udah gitu, data yang diminta berat juga.
Aku bilang ke mereka, “Kalo penjelasan produk Flexi dan kelebihan2nya, saya bisa kasih. Tapi kalo data market share, itu kan rahasia perusahaan. Nggak bisa kami menyerahkannya begitu aja. Kalo kalian perlu untuk suatu tugas kuliah, apa tidak bisa kalian melakukan survey sendiri?” Memang itulah yang aku pikirkan saat itu. Untuk mendapatkan data market share, banyak usaha yang harus dilakukan Telkom. Baik dengan melakukan survey sendiri, membayar konsultan, melakukan competitor intelligent, dll. Lha kok ini tiba2 ada anak mahasiswa ujug2 dateng dan dengan gaya yakin langsung minta data-data itu, seolah-olah itu data gratis dan terbuka untuk umum.
Mereka terdiam mendengar jawabanku. Salah satunya keliatan keukeuh pengin ketemu Pak P, dia masih menengok-nengok ke arah meja Pak P. Lalu dia bilang gini, “Kalo Pak P sibuk, bisa nggak kami ketemu Pak E?”
Aku kaget. Alarm di kepalaku berbunyi. Aku bilang ke anak itu, “Kalo Pak P aja sibuk, Pak E pasti lebih sibuk.” Sambil dalam hati aku berpikir, siapa sih anak ini. Kok PD banget mau langsung ketemu Boss-nya Marsal. Emangnya dia sepenting apa, sampe dia pikir seorang Pak E mau ketemu ama dia?
Aku tanya dia, “Kok tau Pak E? Dari mana?” Anak itu menjawab, “Dari Papa saya.” “Siapa papanya?” tanyaku lagi. Dia menyebut nama seorang pejabat di Kantor Pusat yang levelnya sama dengan Pak E. “Oh.. Pak Itu,” jawabku.
Tapi so what? Aku pikir, untuk bicara dengan stafnya aja, Pak E sering gak punya waktu. Aku nggak bisa bayangin beliau akan mau meluangkan waktunya untuk melayani wawancara dengan mahasiswa yang meminta data, yang sebenarnya data itu ada di stafnya, yang belum tentu mau menyerahkan data itu. Entah kenapa, aku selalu resist terhadap orang-orang yang menggunakan jabatan keluarga atau kenalannya untuk mendapatkan sesuatu. Hahaha.. padahal mungkin suatu saat di suatu tempat, mungkin aku pernah melakukan hal semacam itu. Gak tau deh, tapi mudah-mudahan sih tidak.
Untung Pak P kemudian mau meluangkan waktunya mendekati kami. Beliau bertanya, “Ada apa?” Anak itu kembali menjelaskan tujuannya ke kantor kami untuk melakukan wawancara tentang Flexi. Aku katakan bahwa data yang dia minta itu sebagian besar bersifat rahasia. Aku tambahkan juga status si mahasiswa yang ternyata merupakan anak pejabat Kantor Pusat. Pak P membaca surat pengantar dari kampus itu. Lalu beliau berkata, “Gini aja. Sebaiknya kita ngikutin prosedur yang ada. Kalian pergi ke Sekretariat dulu di atas. Serahkan surat ini. Nanti Sekretariat akan menyampaikannya ke Pak E. Biar nanti Pak E yang mendisposisi siapa yang akan dia tugaskan membantu kalian. Kalo memang kami di sini yang harus bantu, akan kami lakukan. Tapi mungkin juga kalian akan diarahkan ke Bagian lain. Yang penting prosedurnya bener dulu. Setuju ya?”
Dua anak itu mengangguk, dan mereka pun pergi ke lantai atas, ke tempat Sekretariat kami. Sejak saat itu, aku nggak melihat mereka datang lagi ke kami untuk meminta data. Gak tau deh, apakah pas mereka dateng pas aku nggak ada, atau memang bener mereka diarahkan ke bagian lain.
Sebenarnya bukan sekali ini aku heran dengan anak-anak mahasiswa yang dateng ke kantor kami. Sering sekali mereka berharap terlalu tinggi, atau menganggap terlalu mudah. Kayak yang tadi itu, dateng cuma sekali tapi berharap mendapatkan data yang harus kami kumpulkan dengan tidak mudah. Pernah juga waktu bulan Desember 2007 yang lalu, waktu aku lagi hektik banget. Tiba2 ada mahasiswa yang katanya sedang dikejar deadline harus menyelesaikan Tugas Akhirnya pada bulan Januari, mendesak mau wawancara dan minta data2 ke aku. Mirip dengan yang 2 mahasiswi di cerita pertama, dia minta bantuan melalui dua orang temenku. Aku sudah membantu ngasih data, tapi dia minta yang lebih banyak dan lebih detail. Dan akhirnya aku bilang ke dia, “Bukannya saya nggak mau bantu kamu. Tapi saya juga punya target sendiri yang harus saya selesaikan. Kalo mau, kamu dateng lagi nanti waktu saya udah selesai dengan kerjaan saya.” “Kapan itu, Bu?” tanya dia. “Berhubung ini akhir tahun dan kami sedang sibuk untuk mencapai target, mungkin saya baru ada waktu setelah tahun baru nanti,” jawabku. Anak itu terdiam. Aku pikir, kalo memang dia harus menyelesaikan TA-nya bulan Januari, kenapa juga dia baru nyari data sekarang. Emangnya gampang? Akhirnya anak itu berkata, “Kalo gitu, saya dateng lagi bulan Januari nanti ya, Bu.” “OK,” jawabku. Anak itu pergi. Tapi sampe bulan Januari berlalu, anak itu nggak pernah ke aku lagi. Huehehehe.. kapok kali ketemu makhluk jutek macam aku.
Kasus lain yang dialami temen2ku. Ada mahasiswa2 yang melakukan Kerja Praktek (KP). Dan namanya juga KP, maka mereka dibebani kewajiban seperti pekerja lain untuk dateng ke kantor dan bekerja tiap hari. Nah ada beberapa dari mereka yang suka seenaknya, sering gak masuk, tapi begitu masa KP selesai, mereka minta diberi nilai tinggi. Masih mending kalo target tugas berhasil diselesaikan, kadang ada juga yang gak bisa nyelesaikan tugas. Gak tau deh apa yang mereka tuliskan di laporan mereka, sehingga mereka kemudian berharap sang pegawai pembimbing mau memberi nilai tinggi. Kadang-kadang ada temen yang begitu kesel, akhirnya memang ngasih nilai tinggi tapi dengan nggerundel: “Biarin aja. Aku gak peduli mereka mau jadi sukses apa nggak. Dikasih tanggung jawab nggak dikerjain, nggak disiplin, kok minta nilai bagus.”
Tapi masih ada juga anak2 KP atau PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang bagus. Misalnya Maya, yang awalnya hanya mahasiswi PKL, tapi karena betah kerja di kantor sampe sekarang (udah satu tahun lebih), dia malah jadi mirip TLH (Tenaga Lepas Harian). Aku bilang mirip, karena dia gak pernah punya kontrak kerja, dan gak mendapatkan gaji seperti TLH. Ada juga Echi, Ika, Harry, Novi, dan beberapa anak STT Telkom yang hasil pekerjaan mereka berguna bagi kami.
Jadi sedikit bernostalgia. Pada saat masih mahasiswa dulu, aku juga pernah ngalamin yang namanya Kerja Praktek itu. Aku inget waktu itu prinsipku adalah belajar. Jadi waktu itu aku gak pernah milih2 kerjaan. Disuruh ikut nyambung kabel OK, disuruh belajar ke sentral OK, disuruh ikutan di pelayanan OK dll. Yang penting aku bisa melakukan hal yang membantu, sekecil apa pun. Satu hal lagi, aku menganggap para pegawai eksisting sebagai orang yang lebih berpengalaman dan harus aku hormati, jadi aku nggak memandang remeh mereka, apa pun pendidikan dan pekerjaan mereka.
Tentu saja aku gak bisa menuntut mahasiswa sekarang seperti aku dulu. Jaman sudah berubah. Tapi boleh dong aku berharap agar para mahasiswa sekarang masih memiliki keseriusan belajar untuk bekerja, seperti yang aku miliki dulu. Karena memang dunia kerja itu tak seindah dunia mahasiswa. Tidak selalu kita mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan minat kita. Tidak selalu rencana yang kita susun dengan susah payah, akan membuahkan hasil yang indah. Dll. Jadi mungkin sebaiknya masa KP atau PKL ini dimanfaatkan untuk mempelajari hal-hal tak terduga yang akan mereka hadapi dalam dunia kerja. :-)

Category: Life  Tags:  10 Comments

Setelah semua kehebohan yang ditutup dengan acara foto-foto bersama itu selesai, aku, Maya, Bu Deby, Ken beserta seorang anak kecil lalu beberes, membawa beberapa barang untuk dikembalikan ke kantor. Di antaranya ada beberapa sisa souvenir. Waktu sedang menunggu mobil di lobby BEC, datang Pak Adi Sumantoko (rekan kami dari Kandatel Bandung) beserta anak perempuannya. Setelah ngobrol-ngobrol, kami tau bahwa beliau belum sempat dapet souvenir waktu acara di atas tadi. Maka kami pun memberikan satu buah jam Flexi kepada beliau. Tapi kemudian, dia melakukan hal yang tidak kami sangka-sangka. Dengan berlaku seolah-olah dia bukan pegawai Telkom, dia berbicara dengan suara keras kepada anaknya, “Liat sayang, Papa dapet souvenir dari Flexi. Flexi baik ya. Cuma Flexi yang ngasih seperti ini. Asik ya jadi pelanggan Flexi.” Dia mengatakan itu berulang kali, tiap ada orang yang lewat dekat kami. Padahal di samping kami, ada beberapa sales promotion salah satu operator telco lain yang juga sedang menunggu mobil. Awalnya mereka terlihat tidak peduli, tapi lama-lama mereka tersenyum-senyum sambil melihat ke kami.
Aku dan Bu Deby jadi terpancing jahil dan ikut2an teriak, “Ayo.. ayo.. Yang pake Flexi dapet hadiah jam.” Satu keluarga yang melewati tempat kami disapa oleh Pak Adi, “Pak, pake Flexi nggak? Liat nih, saya dapet hadiah dari Flexi.” Si Bapaknya bilang, “Iya, saya pake.” “Mana buktinya?” tanya Pak Adi. Bapak itu menunjukkan HP yang dia pegang. Dan kami beneran kasih 1 jam Flexi buat dia. Istrinya ikut bilang, “Saya juga pake Flexi lho. Nih buktinya,” sambil nunjukin HP dia. Pak Adi bilang, “Satu aja ya, Bu. Kan satu keluarga.” Mereka pergi sambil senyum2 senang, gak nyangka dapet hadiah dadakan gitu.
Para sales promotion di sebelah kami rupanya penasaran. Ada sepasang cewek dan cowok yang mendekat ke kami, lalu cowoknya bilang, “Saya pake Flexi lho..”. “Mana buktinya?” tanya Pak Adi dan Bu Deby. Dia kasih liat HP-nya. Lalu ada 1 cowok lagi juga mendekat dan ikut2an ngasih liat HP nya. Memang mereka semua pake Flexi. Bu Deby nyuruh mereka nyanyi, dan mereka nurut. Jadilah ada paduan suara: “Telkom Flexi.. Bukan Telepon Biasa..”. Kami semua tertawa-tawa. Bu Deby dengan cueknya bilang, “Makasih ya..”. “Mana jamnya, Bu?” tanya mereka. Ya udah, aku kasih lagi satu-satu. Trus dateng lagi 1 orang temen mereka dan bilang, “Saya juga pake Flexi. Nih buktinya..”, sambil dia nyalain HP-nya. Tapi kita udah gak terima lagi. “Bohong ah, pasti di belakang tadi ganti kartu ya. Kita hanya memberikan hadiah kepada yang spontan dan memang pake Flexi. Kalo yang belakangan dateng, pasti udah ada rekayasa.” Setelah itu, rombongan sales promotion berseragam salah satu operator telco itu pun pergi. Bu Deby masih sempet2nya meneriakkan pesan kepada mereka, “Terus pake Flexi ya..” Dan mereka tertawa, sambil sebagian bilang “Iya..”.
Lucu ya.. Sementara perusahaan kami dan perusahaan mereka bersaing, tapi pegawainya ternyata menggunakan produk kami. Atau mungkin mereka hanya tenaga kontrak sementara waktu, jadi tidak ada keharusan bagi mereka untuk menggunakan produk perusahan yang telah mempekerjakan mereka.
Btw.. di jalan menuju kantor, di perempatan Dago – Riau, kami melihat ada happening art dari Kartu As. Ada manusia ber-egrang dan beberapa SPG di pinggir jalan sedang mempromosikan produk Telkomsel itu. Padahal waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.30 WIB. Tapi karena malam Minggu, daerah seputaran Dago tetep aja padat dan macet.
Kompetisi memang makin ketat. Kegiatan marketing sudah gak mengenal hari dan jam lagi.
So… Tetap semangat! :-D

Category: Event  Tags: ,  10 Comments

Hari Sabtu dan Minggu tanggal 9 – 10 Mei 2008, ada acara Flexter Gathering di Bandung.

Tapi sebelumnya buat yang belum tau, Flexter adalah komunitas yang bertempat di FlexiLand. Untuk bergabung menjadi Flexter, tidak harus mempunyai Flexi. Member yang tidak punya Flexi ini disebut Flexter Silver. Sedangkan jika sudah punya Flexi, dia bisa jadi Flexter Gold. Fasilitasnya tentu saja beda. Flexter Gold bisa punya blog di FlexiLand itu.

Kembali ke Flexter Gathering. Acara ini dihadiri oleh sekitar 40 orang Flexter Jawa Timur (Surabaya, Kediri, Madiun, Pasuruan, Malang, Jember), 15 orang Flexter Jakarta (Zone21’ers), 3 orang Flexter Jawa Tengah dan DIY, 2 Flexter Medan dan Lampung, serta tuan rumah Pivijis Flexter sekitar 40 orang. Turut memeriahkan ada komunitas blogger Bandung Batagor sekitar 8 orang.

Acara gathering terdiri dari 3 sesi. Sesi pertama adalah makan malam bersama sekaligus perkenalan, pada hari Jumat malam jam 19.00 di Baraya Cafe, Jl. Riau Bandung. Di sini udah mulai terlihat kegilaan para Flexter Jawa Timur. Mereka dengan hebohnya ikut bernyanyi, menari, dan ikutan games-games kocak. Sesungguhnya merekalah yang membuat acara jadi semarak, di samping MC lucu Ivan dan Awong, tentunya. Pivijis Flexter masih terkesan malu-malu. Ini bisa dimaklumi, karena kebanyakan baru pernah bertemu muka pada acara ini. O ya, sebagai informasi, Flexter Jawa Barat, khususnya Bandung, memang baru mulai serius dikelola belakangan ini, setelah penunjukan Bu Deby sebagai PIC pengelolaan komunitas pada awal tahun 2008 lalu. Sebelumnya, mereka bisa dibilang hanya ada di dunia maya FlexiLand. Belum ada struktur resmi, belum ada program kerja, dll. Berbeda dengan Flexter Jawa Timur, yang sudah lebih lama dikelola dan dimaintain oleh DIVRE V. Mereka sudah ada struktur resmi di tiap kota, sudah ada pertemuan dan kegiatan rutin bulanan, sudah sering mendukung Telkom dalam kegiatan marketingnya, dll.

Peserta lain yaitu Flexter Jakarta, karena kehadirannya yang sangat terlambat, tidak begitu aktif dalam acara. Kecuali 2 orang yaitu Flexter Kusut dan seorang lagi aku belum tau namanya, mereka tidak kalah gilanya dengan para Flexter Jawa Timur. Sedangkan para Batagoris, bukannya ikut membaur dengan acara, malah asik sendiri dengan laptop dan Live Bloggingnya. Dasar autis. Termasuk yang minjemin laptop dan akses internet Flexi untuk mereka. :-P
Sesi kedua dilaksanakan di Lembang, hari Sabtu 10 Mei 2008 keesokan harinya. Di sana, panitia udah menyiapkan lima jenis games. Para peserta pun dibagi dalam 5 kelompok, dan harus membaur dari tiap daerah. Jumlah anggota tiap kelompok tidak sama, ada yang cuma 9 orang, ada yang sampe 13 orang. Bebas saja, yang penting FUN. Lima games tersebut adalah:

1.Memindahkan 3 ember berisi air dengan menggunakan tali.

bawa-ember-dg-tali1.jpg

Nanti di garis finish, air yang berhasil dibawa itu harus dituangkan dalam satu ember lain.

bawa-ember-dg-tali2.jpg

2.Sepak bola duduk.

sepak-bola-duduk1.jpg

Pemain tidak boleh lepas dari kursi yang didudukinya. Lima pemain harus saling mengoperkan bola, dan pemain terakhir harus memasukkkan bola ke dalam gawang.

sepak-bola-duduk2.jpg

3.Mengeluarkan bola pingpong dari pipa bocor dengan cara mengisi pipa tersebut dengan air.

pipa-bocor1.jpg

Lokasi permainan ini sengaja dibikin paling jauh dari kran air. Dengan 2 ember yang disediakan, peserta harus berlari bolak-balik mengambil air dan menuangkannya ke dalam pipa. Sementara peserta lain harus berusaha menutup lubang dengan tangan (bahkan ada yang menggunakan jidatnya), supaya pipa cepet penuh dan bola bisa keluar.

4.Melewati jaring laba-laba.

melewati-jaring-laba22.jpg

5.Membawa bola pingpong dalam pipa menggunakan tali.

bola-pingpong-dlm-pipa1.jpg

Ada empat orang yang bertugas membawa pipa dengan tali. Sedangkan rekannya harus menjaga supaya bola tidak jatuh keluar dengan cara meniup bola itu supaya kembali ke tengah pipa.

Semua peserta melakukan games-games itu dengan semangat dan gembira. Apalagi ada iming-iming hadiah buat tim yang menang. Pokoknya sepanjang games, suara ketawa tidak henti-hentinya terdengar. Gak peduli cuaca panas, badan basah keguyur air, capek dan kotor kena tanah becek. Tapi selalu ada saja yang berlebihan. Seperti yang dilakukan kelompoknya Gusti Kusut pada games mengisi air ke dalam pipa bocor. Katanya sih dengan pertimbangan jika pipa diletakkan di tanah, maka air akan meresap ke tanah sehingga pipa gak penuh2, maka dia merelakan pipa tersebut ditaruh di atas perutnya, sementara temen2nya berlarian bolak-balik mengambil air dan menuangkan ke dalam pipa.

pipa-bocor2.jpg

Padahal kalo aku liat, tetep aja sulit menahan air tersebut. Karena begitu dia bernapas, maka pipa akan menjadi sedikit lepas dari perutnya, dan air pun tumpah lagi. Hahaha.. Tapi aku tetep salut dengan usaha mereka.
Oh ya, aku tidak ikutan gabung ke dalam tim, karena jumlahnya yang udah terlalu banyak. Jadi aku cuma moto sana-sini. Setelah games selesai, ada makan siang dan pengumuman pemenang. Menang kalah, semua dapet hadiah, cuma jumlahnya yang beda-beda. Setelah itu, rombongan bertolak ke Café Sumur, buat menikmati susu segar, es mambo dan tahu Sumedang. Aku dan Maya terpaksa nggak ikut, karena kami harus lebih dulu pulang ke Bandung mengurus souvenir dan pin untuk acara malemnya.
Sesi ketiga dilaksanakan mulai sore hari sampe malam di Food Court BEC, berbarengan dengan acara pengumuman pemenang Program Belanja Berhadiah di BEC Periode I. Di sini dilakukan pengukuhan pengurus Pivijis Flexter Bandung. Selain acara hiburan berupa nyanyi dan tari (di mana para Flexter ikutan bergoyang di depan panggung), ada juga games buat para Flexter yaitu mencari pelanggan Flexi di tiap lantai BEC. Lalu ada kuis SMS buat pengunjung umum. Juga ada door prize berupa HP, yang ternyata lari semua ke para Flexter Jawa Timur. Tapi gak papa lah, kami ikhlas banget karena merekalah yang bikin acara ini meriah dan sukses.

all-flexter-1.JPG

Selamat dan salut buat Bu Deby yang menjadi penanggung jawab acara ini. Meski sempat beberapa kali mengalami penundaan, dan pada saat acara terlaksana pun tidak banyak manajemen yang bisa hadir karena mereka punya kesibukan lain, tapi akhirnya semua bisa terselenggara dengan sukses. Terima kasih buat Aang dan Mas Koen yang udah bikin kuis SMS itu, meski katanya ada beberapa peserta kuis yang protes karena SMS mereka tidak berhasil masuk. Aku bilang “katanya” karena waktu kuis itu berlangsung, aku sedang terjebak di basement menunggu untuk dapet lift naik yang selalu full. Terima kasih buat B-Radio selalu Event Organizer di acara Baraya Café dan Lembang, serta buat Radio Kosmo untuk acara di BEC. Tak lupa juga terima kasih sebesar-besarnya buat Maya (ID Flexter = ermaya) yang seperti biasa jadi seksi repot. Kayaknya kamu udah cocok buka usaha event organizer dan pengadaan souvenir deh, May.. :-D Liputan acara ini dapat juga dibaca di:
1. Blog Batagor: Live Blogging at Baraya Cafe
2. Blog Batagor: Flexter Gathering – Bandung Electronic Center
3. Blog Chatoer: Live Blogging @ BEC Bandung acara Flexter
4. Blog Flexter Malang: Gathering @ Bandung Electronic Center dan Foto2 Flexter Jatim di Bandung
5. Blog Deniar: Diundang Gathering bersama Flexter
6. Blog Rie: Gathering Bandung dan Oleh-oleh
7. Blog Koen: Bandung Flexter Gathering
8. Blog Hook: Akhir Kata
9. Blog Edodo: Capek Tapi Seneng
10. Blog Ina: Flexter Jatim yang Selalu Kompak
11. Blog Deby: Gathering Flexter Yang Eduaannnnn

Segitu aja dulu. Sampe jumpa di lain event. :-)

Category: Event  Tags: ,  12 Comments