Ini kisah tentang seorang pejabat. Pada masa kejayaannya, beliau telah membuat suatu peraturan yang meresahkan rakyat banyak. Tapi beliau tetap pantang mundur dengan penerapan peraturan tersebut.
Sampai suatu saat, beliau pindah dari jabatannya. Pada saat menerima THP, beliau sangat terkejut dengan besarnya penurunan yang terjadi. Beliau panggil anak buahnya dan berkata (kira2 seperti ini), “Bagaimana bisa THP saya turun? Siapa yang bikin aturan tersebut?”
Anak buahnya menyerahkan sebuah peraturan, yang ternyata, adalah peraturan yang dulu dia buat. Sang pejabat nggak bisa berkata apa-apa lagi. Pasti dulu beliau tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat roda kehidupan akan berputar, dan beliau akan merasakan akibat dari peraturan yang dibuatnya sendiri.
Mendengar kisah tsb, aku dan temen2ku becanda gini, “Gila. Berapa THP dia sebelumnya ya? Penurunannya aja masih jauh lebih besar dari THP kita.” (mode sirik = ON)
Kadang-kadang (atau sering) aku mikir dan heran, kenapa ya ada sebagian pejabat yang ngerasa seolah-olah jabatan itu milik dia. Sehingga dia akan marah jika jabatannya hilang, lalu mengadu ke SE**R. Atau ada pejabat yang membuat aturan tanpa mempertimbangkan efeknya bagi orang banyak, yang penting dia mendapat keuntungan dari aturan itu. Sesuai pepatah: “Siapa yang membuat peraturan, dialah yang akan mendapat emasnya”. Atau ada juga pejabat yang tidak bisa (atau tidak mau) menggunakan kekuasaan yang sedang dipegangnya untuk melakukan hal-hal yang bisa menolong orang lain. Jadi inget posting salah satu temen di sini.
Tapi kadang-kadang (atau sering) aku mikir juga, kalo aku di posisi mereka, apakah aku bisa melakukan hal yang lebih baik?






Related Articles
No user responded in this post
Leave A Reply