Waktu lagi iseng menjelajah, aku liat sebuah iklan tentang Netflix. Jadi inget bahwa perusahaan ini pernah jadi case yang dibahas di kuliahku.
Netflix adalah sebuah perusahaan penyewaan DVD online di USA yang berdiri sejak tahun 1999. Dengan mengenakan biaya bulanan tetap, pelanggan Netflix bebas memilih film-film yang disukainya. Tersedia puluhan ribu judul film, dari mulai yang klasik sampe yang terbaru. Banyaknya film yang dapat dipinjam tergantung paket yang dia pilih. Dan pelanggan bebas menyimpan film selama apapun dia mau, tanpa denda keterlambatan. Tapi tentu saja, jika dia belum mengembalikan film sebelumnya, dia tidak akan bisa meminjam film lain.
Pada tahun 2006, pelanggan Netflix mencapai jumlah 3,6 juta orang. Kesuksesan ini tentu saja menarik perusahaan lain untuk ikut bergerak di bisnis yang sama. Apalagi entry barrier untuk masuk ke dalamnya sangat rendah. Hanya perlu koleksi film, dan internet. Salah satu perusahaan yang kemudian ikut bersaing adalah Blockbuster. Masuknya perusahaan sekaliber Blockbuster pada tahun 2004 sempat membuat pendapatan Netflix menurun. Tentu saja, Blockbuster yang sudah mempunyai jaringan distribusi yang kuat dan didukung oleh supplier film yang terjamin, serta menawarkan biaya langganan yang lebih murah, sangat mengganggu pasar Netflix. Pelanggan jadi punya posisi tawar yang kuat, mereka bebas memilih provider yang bisa memenuhi keinginan mereka (Duh.. jadi inget Flexi
)
Untuk memperbaiki bisnisnya, Netflix melakukan strategi baru. Salah satunya adalah bekerja sama dengan Wal Mart. Usaha ini menunjukkan hasil. Pada tahun 2006 Netflix sudah bisa memproyeksikan keuntungannya kembali.
Hmm.. jadi kepikiran. Jika ada yang mau menjalankan bisnis sejenis ini di Indonesia, kira-kira bakal laku nggak ya? Secara di Indonesia, film bajakan beredar dengan begitu bebasnya. Bahkan di tempat-tempat seperti Mall, bukan sekedar di trotoar atau Pasar Kota Kembang. Dengan uang 5 ribu saja, kita sudah bisa mendapatkan DVD film terbaru. Kecuali untuk film-film Indonesia, harus beli versi originalnya. Mungkin para pembajak itu masih sedikit punya hati, tidak mau membajak film produksi dalam negeri. Atau mungkin juga hanya karena film Indonesia tidak banyak peminatnya?
Archive for » February, 2008 «
Ini bukan iklan sepatu Nike.
Hanya sebuah pemikiran. Bahwa jika kita punya niat baik, lakukan saja segera. Jangan ditunda-tunda. Karena nantinya mungkin malah nggak pernah jadi dilakukan.
Beberapa hari yang lalu, aku mencari suatu barang di Be Mall. Penginnya sih, harganya murah tapi spek-nya bagus. Sempet nemu di satu toko, tapi ternyata stoknya habis. Besoknya balik lagi ke Be Mall. Nemu di toko lain, dengan spek yang sama dan harga yang sama. Tapi si penjaga tokonya bilang, barangnya baru bisa diambil besok. Si penjaga toko lalu memberikan nomor telepon dia supaya bisa dihubungi besok, untuk mastiin barangnya udah bisa diambil atau belum. Ternyata nomor telepon yang dia kasih adalah nomor Flexi. Nggak tau seneng karena ngeliat nomor itu, atau seneng karena akhirnya berhasil mendapatkan barang yang dicari, aku jadi pengin ngasih voucher Flexi ke dia. Kebetulan aku bawa voucher itu. Tapi kemudian niat itu aku tunda. Aku pikir, besok aja aku kasih ke dia. Toh aku bakal ke sini lagi. Besoknya aku jadi dateng ke Be Mall lagi. Mengambil pesanan barang kemarin. Tapi sialnya, kali ini aku lupa bawa voucher Flexi itu. Ketinggalan di tas yang ada di kantor. Yah.. jadi batal deh kasih surprise ke si penjual toko itu. Huuh.. coba aku udah kasih kemarin, kan nggak gini jadinya. Mau berbuat baik aja pake acara ditunda-tunda. Kayak gak niat aja.
Hari ini terulang kejadian yang mirip. Ceritanya, pada suatu hari, ada orang yang berbaik hati memberiku sirup botol. Secara aku nggak begitu suka sirup seperti itu, aku berniat memberikannya ke orang lain yang mungkin akan lebih menyukainya. Mungkin ke tukang tambal ban, atau tukang bersih2, atau siapa aja. Tapi ya gitu deh, aku selalu menundanya. Entah karena lupa, entah karena selalu terburu-buru kalo lagi mau pergi sehingga nggak sempat bawa sirup itu. Dan hari ini, karena kecerobohanku, aku menjatuhkan sirup botol itu. Pecah, dan isinya berantakan di lantai. Bikin lengket. Huuh.. jadi ngerasa dosa dua kali deh. Dosa karena batal memberikannya ke orang yang lebih membutuhkan, dan dosa karena me-mubazir-kan sesuatu yang seharusnya masih bermanfaat. Ditambah lagi rasa sebel yang muncul akibat kekacauan yang ditimbulkan ![]()
Jadi, manfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat baik yang mendekat pada kita. Karena mungkin itu hanya kesempatan sekali seumur hidup. Atau mungkin bahkan kesempatan terakhir kita untuk berbuat baik. Ya.. siapa sih yang bisa menjamin sekian waktu ke depan kita masih hidup.
Btw.. hari ini masih ada yang bisa aku lakukan. Mungkin bukan perbuatan yang baik sekali, karena sebenarnya aku hanya melaksanakan amanah dari orang lain. Ceritanya gini. Pada acara gathering dengan para mitra dealer kami sekitar 10 hari lalu itu, kami juga memberikan hadiah kepada beberapa mitra yang menunjukkan performansi bagus. Lalu salah satu pemenang ternyata tidak mau menerima hadiah yang berupa uang tunai itu. Dia menitipkan uang itu padaku untuk diberikan ke panti asuhan. Karena aku tidak begitu tau di mana panti asuhan yang layak menerima bantuan, aku pun minta tolong Maya untuk mencarikan. Kriterianya adalah panti asuhan yang (agak) jauh dari hiruk pikuk kota, sehingga kemungkinan belum banyak mendapat sumbangan. Maya menemukan tempat yang dimaksud, berdasar referensi dari seorang ustadz yang dia percaya. Dan baru pada hari libur ini, kami sempet ke sana untuk menyerahkan bantuan itu. Tentu saja aku informasikan nama si penyumbang aslinya kepada pengurus panti asuhan itu. Semoga sumbangan itu bermanfaat bagi mereka. Amien










Recent Comments