Archive for » December, 2007 «

Dari materi kuliah Knowledge Management.

Knowledge Management adalah proses menjadikan Tacit Knowledge menjadi Explicit Knowledge.

Yang dimaksud Tacit Knowledge adalah: not teachable, not articulated, not observable in use, rich, complex, undocumented.

Sedangkan yang dimaksud Explicit Knowledge adalah: teachable, articulated, observable in use, schematic, simple, documented.

Intinya sih, Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang masih ada di kepala seseorang, sehingga susah untuk dipelajari orang lain. Akibatnya, ketergantungan terhadap orang itu menjadi sangat tinggi, karena hanya dia yang tau.

Dosenku pernah menyampaikan salah satu contoh tentang Tacit Knowledge. Alkisah ada suatu bengkel di suatu kota. Ini bengkel biasa, bukan bengkel resmi suatu merk mobil. Si pemilik bengkel itu sangat pintar memperbaiki kerusakan mobil-mobil, bahkan pada saat bengkel resminya pun sudah tak sanggup memperbaikinya. Dia bisa membuka suatu komponen yang katanya nggak bisa dibuka. Dia bisa membuat sesuatu yang katanya nggak bisa dibuat. Saking terkenalnya, ada satu STM yang beberapa kali mengirimkan siswanya untuk magang di situ. Si siswa mengamati dan membantu bapak tadi bekerja, dan kemudian menuliskan hasilnya dalam suatu tulisan. Di sini sudah ada proses membuat Tacit Knowledge menjadi Explicit Knowledge. Setelah selesai menulis, si siswa menunjukkan hasil tulisannya ke si bapak. Komentar si bapak adalah: “Prosedur itu betul untuk masalah itu. Tapi kalo masalahnya berbeda, maka prosedurnya nggak akan bisa seperti itu.” Wah.. ternyata bapak itu selalu berimprovisasi dengan pekerjaannya. Tidak ada standard operation procedure. Susah juga buat si penerus bengkel itu untuk meneruskan usahanya, jika suatu saat si bapak nggak ada lagi :-)
Ngomong2 tentang Tacit Knowledge , aku sempet ngalamin masalah dengan hal itu. Jadi ceritanya, ada satu manager di tempat kami yang sangat berpengalaman untuk mengorganisir suatu event. Dia biasa mengurusnya end-to-end, segala hal dia kerjakan sendiri. Kemudian aku mendapat tugas untuk menuliskan proses bisnis dari event tersebut. Di sini muncul masalah. Karena si manager itu begitu sibuk, dia nggak sempat membagi skenario yang ada di kepalanya ke aku. Ini membuat aku jadi sempet nggerundel karena aku nggak bisa selesai ngerjain tugas itu. Tapi kalo aku nggak kerjain, dan menyerahkannya ke si manager sampai dia punya waktu untuk menuliskannya sendiri, kayaknya itu juga nggak mungkin banget. Untung akhirnya masalah itu bisa dipecahkan.

Huh.. ternyata nggak gampang ya membagi knowledge. Pantes ada ilmu khusus yang mempelajarinya.

Category: Sharing  Leave a Comment

Starbucks, kedai kopi asal Seattle ini sering jadi contoh kasus. Baik di pelatihan, kuliah, atau seminar yang pernah aku ikuti. Pembahasannya pasti tentang betapa bagusnya budaya pelayanan di Starbucks. Mereka bukan hanya menjual kopi, tapi menjual pengalaman. Orang minum di Starbucks bukan cuma karena haus, tapi pengin dilihat orang bahwa dia sedang di Starbucks :-) Terus terang aku bukan peminum kopi, jadi dulu Starbucks tidak pernah masuk daftar tempat yang pengin aku datangi. Kalo pun selama setahun belakangan ini aku beberapa kali pergi ke sana, tentu bukan karena kopinya. Dan bukan juga karena pengin dilihat orang (emangnya gue siapa?) Alasan pertama mungkin karena penasaran, secara kadang-kadang aku punya rasa penasaran yang nggak masuk akal. Alasan kedua, karena pengin ngobrol ama temen-temen baik hati yang suka nongkrong di sana. Alasan lain? Mungkin karena sofanya yang nyaman :-) Lalu apa pengalamanku dengan layanan di Starbucks? Hmm.. kalo soal ramah, emang aku akui. Tapi kalo dibilang layanan mereka bagus banget, menurutku nggak juga. Aku pernah ngalamin lebih dari sekali mereka salah memenuhi pesanan kita. Pernah salah ngasih jenis minuman. Pernah juga salah ngasih ukuran minuman. Memang sih, setelah itu mereka ngakui kesalahan tersebut, minta maaf, dan menawarkan apakah kita ingin minuman yang salah itu ingin diganti. Nah bagian ini yang paling nggak enak. Menurutku, kalo mereka ngaku salah, maka sudah kewajiban mereka untuk mengganti. Nggak usah pake acara nawarin. Karena ada tipe orang yang nggak mau ribut. Sehingga meski jelas-jelas pesanan minuman itu salah, mereka memilih mengampuni kesalahan itu, menerima dan membayar minuman yang tidak sesuai pesanan itu. Bukankah hal ini bisa bikin para barrista itu jadi manja, dan mungkin akan mengulang kesalahan itu lain waktu? Karena mereka pikir toh pelanggan Starbucks akan memaklumi dan memaafkannya. Kalo udah gini, di mana jaminan layanan Starbucks?

Category: Life  Leave a Comment