Hari Keberangkatan
Akhirnya hari itu datang juga, tanggal 23 Mei 2007. Dini hari jam 2 lewat dikit, SMS dari Ratri membangunkanku, ngingetin janji ketemu di kantor jam 4. Setelah aku jawab OK, aku masih sempet tertidur lagi. Aku baru beneran bangun jam 3, saat alarm HP-ku berbunyi. Trus ke kamar mandi, melaksanakan mandi besar (katanya sih termasuk sunnah kalo mau pergi Umroh). Brr.. dingin juga. Setelah itu sholat tahajjud dan witir. Kemudian siap-siap berangkat. Masih ngantuk, karena malam sebelumnya aku baru bisa tidur di atas jam 11. Secara aku ini tukang tidur, jadi nggak terbiasa tidur cuma 3 – 4 jam gitu. Tapi aku pikir nanti masih banyak waktu untuk tidur di jalan.
Aku nyampe kantor Supratman pas jam 4. Bikin kaget Satpam karena pagi2 ada orang datang. Untungnya masih ada Satpam yang inget ama aku. Maklum, sudah setahun lebih aku nggak ngantor di sini, dan aku liat banyak Satpam baru. Aku dibukain pintu pagar. Aku bilang aku mau pergi keluar kota (aku nggak bo’ong kan?), janjian ama temen ketemu di kantor. Ratri kemudian datang, diantar ayah ibunya. Bapak ibuku sendiri sudah datang hari sebelumnya, tapi langsung pulang malam harinya, jadi nggak nganter aku sampe bener2 berangkat.
Kami berangkat ke Percikan Iman. Bawaan kami masing-masing cuma 2 tas. Aku bawa travel bag kecil dari Percikan Iman plus 1 ransel. Ratri nggak bawa tas pembagian. Dia bawa travel bag miliknya sendiri, tapi ukurannya nggak beda jauh dari yang aku bawa. Dia juga bawa 1 ransel. Waktu kami nyampe Percikan Iman, dan melihat bawaan jamaah lain, aku sempet terheran-heran. Selain tas pembagian, kebanyakan mereka bawa 1 travel bag lagi yang jauh lebih besar. Sebesar travel bag yang biasa dibawa kakakku kalo dia pergi liburan berempat ama suami dan anak2nya. Pikirku, apa aja yang dibawa mereka? Kalo hanya untuk membawa perlengkapan umrah sesuai petunjuk Percikan Iman, tas pembagian itu sudah cukup. Tapi saat aku ketemu Ustadz Ali, dia malah keliatan heran melihat bawaanku. ”Cuma bawa itu, Teh?”, tanya beliau. ”Iya, Ustadz,” jawabku.
Kami menunggu adzan Shubuh, lalu sholat berjamaah di Masjid Istiqomah. Kemudian naik bis. Sekitar jam 05.30, kami berangkat. Selain jamaah umroh, beberapa orang pegawai Percikan Iman ikut mengantar kami ke bandara Sukarno Hatta. Jumlah jamaah 27 orang, tapi ada yang baru akan bergabung di Jakarta. O ya, pembimbing kami bernama Ustadz Taufik Ridho (Berdasarkan informasi yang aku dengar, beliau adalah tokoh PKS wilayah Jawa Barat. Tapi aku nggak pernah tau beliau. Secara aku lebih tau Peterpan daripada PKS :-) ). Setelah kami di perjalanan, beberapa jamaah mulai beraksi menawarkan makanan ke jamaah-jamaah lain. Oh itu tho yang mereka bawa di tas mereka, pikirku sambil tersenyum. Aku dan Ratri memang nggak bawa makanan apapun. Jadi kami hanya bisa menerima pemberian mereka, dan nggak bisa ikutan menawarkan.. Hehehe.. dasar katro ndeso..
Aku belum mengenal jamaah lain, karena pada saat manasik umroh yang hanya satu kali itu, kami belum diberikan kesempatan untuk saling berkenalan. Jadi aku cuma mengenali orang-orang itu dari nama dan foto2 mereka yang ada di buku petunjuk umroh. Mereka ada yang pasangan suami istri, ada yang ibu dan anak, ada yang sekeluarga ayah-ibu-anak, ada yang kakak dan adik, ada yang sendirian, dan ada yang bersama temennya (eh yg terakhir itu mah cuma aku ama Ratri). Ada satu pasang suami istri yang paling aku hapal, karena suaminya diangkat jadi mahram aku. Sesuai peraturan Saudi Arabia, wanita di bawah umur 45 tahun tidak boleh masuk dan keluar negara itu tanpa didampingin mahramnya. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya biro perjalanan haji/umrah mengangkat mahram sementara untuk para wanita yang pergi haji/umrah tanpa keluarganya. Aku nggak tau gimana caranya. Pokoknya aku cuma dibebani biaya Rp 200 ribu untuk pengurusannya. Belakangan hari aku baru tau bahwa aku didaftarkan sebagai keponakan si bapak itu.
Perjalanan kami sempat menemui kemacetan di Jakarta. Ya iya lah, jam 8 – 9 pagi itu kan memang jam macetnya Jakarta. Kami nyampe di bandara sekitar jam 9.30 Barang-barang yang akan masuk bagasi diturunkan dari bis, sebagian petugas Percikan Iman masuk untuk mengurusi barang-barang itu. Sedangkan bis berangkat lagi ke sebuah rumah makan. Sarapan dulu dong, laper nih. Di rumah makan itu baru para jamaah sempet ngobrol-ngobrol. Mahramku, namanya Pak Dudi, ternyata adalah adik ipar Direktur Telkomsel, Pak Kiskenda.
Setelah selesai sarapan, kami ke bandara lagi. Ini pertama kalinya aku ke tempat pemberangkatan internasional
. Biasanya cuma nyeberang dari Batam ke Singapura. Suasana ramai sekali. Banyak rombongan umrah dari biro perjalanan lain. Ada juga rombongan TKI yang akan berangkat ke Saudi Arabia. Jadwal keberangkatan pesawat Garuda sekitar jam 12.30. Ketika tiba waktunya sholat Dhuhur, orang-orang pun menjadikan ruang tunggu sebagai tempat sholat. Karena musholla yang ada tentu saja nggak mampu menampung ratusan orang yang mau sholat seperti saat ini. Bagaimanapun juga, sholat tetap kewajiban. O ya, karena kami sudah menjadi musafir, maka kami melakukan sholat jamak Dhuhur dan Ashar.
Kemudian kami dipersilakan naik pesawat. Ternyata pesawat kami bertingkat. Aku baru pernah naik pesawat kayak gini. Sekali lagi.. dasar katro ndeso..
. Bedanya dengan bis tingkat, kalo bis tingkat supirnya di bawah. Kalo pesawat bertingkat, pilotnya di atas. Rombonganku kebagian di bagian atas. Tempat duduknya tiga-tiga. Aku ama Ratri terpisah duduknya. Mungkin karena petugas Percikan Iman mementingkan yang suami istri untuk duduk sebelahan, maka yang kayak aku ama Ratri dipisahkan. Sempet rada bete juga, mbayangin 9 jam perjalanan bersebelahan ama orang yang baru dikenal. Tapi ya udahlah, mau minta tukar juga nggak mungkin. Hampir semua kursi terisi. Ratri duduk bareng Pak Dudi dan istrinya, Teh Tiktik. Sedangkan aku bareng pasangan (yang semula aku kira adalah) ayah dan putrinya. Menjelang pesawat take off, sebelum aku mematikan HP, ada panggilan masuk. Setelah berhalo-halo, suara di seberang berkata: ”Aku cuma pengin mendengar suaramu. Udah ya.” (Ah, andai saja dia tau, kalimatnya itu terdengar sangat manis di telingaku.)
Di perjalanan, aku lebih banyak tidur. Selain untuk bayar hutang tidur, ibu di sebelahku ternyata pendiam. Sama seperti aku
. Jangankan ngobrol dengan aku, dengan bapak di sebelahnya aja dia cuma bicara dikit-dikit. Pramugari beberapa kali menawarkan makanan. Dasar makanan di pesawat, rasanya aneh. Tapi karena lapar dan nggak ada pilihan lain, ya aku makan saja. Kan udah aku bilang di depan, aku nggak bawa makanan apapun. Pikirku, daripada aku sakit. Perjalanan masih jauh. Layar di depan menunjukkan di atas negara mana kami berada saat ini, waktu setempat, berapa jauh dan berapa lama lagi untuk nyampe ke tujuan, dll. Sekali diputarkan film, tapi nggak menarik. Ada earphone supaya kami bisa mendengarkan musik. Tapi kebetulan alat yang di kursiku rusak, jadi nggak keluar musik apapun. Ibu sebelahku menawarkan untuk memakai alat di kursi dia. Tapi ternyata koleksi lagunya nggak banyak, diulang-ulang mulu. Bosen juga, jadi aku lepas lagi earphone-nya dan aku kembalikan ke ibu itu. Toilet di atas hanya ada 1. Jadi kadang-kadang harus antri untuk bisa ke sana.
Ngomongin tentang pasangan di sebelahku, yang semula aku kira adalah pasangan ayah dan putrinya. Aku sempet berpikir, baik banget ya putrinya itu, nemenin bapaknya yang udah tua sekali untuk umrah. Aku sendiri nggak yakin, apakah aku akan mau kalo disuruh nemenin bapakku pergi umrah, hanya berdua aja kayak mereka. Tapi….. setelah hari keberapa kami di Makkah, baru deh aku tau bahwa mereka itu pasangan suami istri. Dan ternyata ada juga lho, orang-orang lain yang berpikiran seperti aku, dan kemudian kagetnya juga seperti aku. Gimana ya, kalo hanya melihat dari usia mereka, pantasnya mereka memang ayah dan putrinya, bukan suami dan istrinya.
Kira-kira 1 jam sebelum pendaratan, para bapak bersiap-siap mengenakan pakaian ihram. Ini dilakukan karena kami akan ber-miqat di atas pesawat. Bagi yang belum tau, miqat adalah titik awal mulainya ihram. Jadi pada titik tersebut, maka jamaah umrah sudah harus menjalankan kewajiban ihram dan meninggalkan larangannya. Ihram sendiri adalah salah satu dari rukun umroh. Bila meninggalkan salah satu rukun umroh, maka umrohnya menjadi tidak sah. Untuk para ibu, pakaian muslim yang kami kenakan saat itu sudah cukup memenuhi syarat sebagai pakaian ihram. Sekitar 20 menit sebelum pendaratan, Ustadz Taufik menginformasikan kepada kami untuk mengucapkan niat ihram. O ya, tidak semua rombongan dalam pesawat melakukan seperti yang kami lakukan. Karena rute mereka setelah mendarat di Jeddah adalah ke Medinah dulu. Jadi miqat-nya nanti dalam perjalanan Medinah – Mekkah.
Kami mendarat di Jeddah saat maghrib waktu setempat, sekitar jam 7 malam. Kalo di Indonesia sekitar jam 11 malam. Waktu mau cek imigrasi, aku berada di belakang keluarga Pak Dudi, karena akan diperiksa barengan. Yang kasian si Ratri. Mahram dia, Pak Rudi, harus mengurus ibunya yang sudah tua dan memakai kursi roda. Sehingga agak ketinggalan di belakang. Sementara aku dan keluarga Pak Dudi sudah lolos pemeriksaan, kami liat Ratri masih belum bertemu dengan Pak Rudi. Kami menunggu di tempat pengambilan bagasi. Lama juga Ratri di dalam. Setelah keluar, dia cerita bahwa dia ada sedikit masalah. Tapi karena para petugas itu berbicara bahasa Arab, Ratri nggak paham sama sekali apa yang jadi persoalan. Dia dan Pak Rudi sampai harus diperiksa dua kali sebelum akhirnya boleh lewat. Dia sempet panik. Kebayang nggak sih kalo dapat masalah di negeri orang kayak gitu. Alhamdulillah akhirnya bisa lolos juga. Tapi Ratri masih khawatir, dia takut ada catatan di imigrasi yang akan membuat dia dapat masalah lagi nanti kalo waktunya pulang.
Setelah semua berkumpul dan mendapatkan bagasi masing-masing, kami keluar. Di luar, jemputan sudah menunggu. Kami naik bis dan berangkat menuju Makkah. Bergabung bersama kami 1 orang pembimbing lokal bernama Ustadz Abdurrahman. Di bis kami melantunkan kalimat-kalimat: Labaik allahuma labaik.. dst. Yang terlintas di pikiranku adalah: Ya Allah, biasanya aku cuma mendengar orang melantunkan kalimat-kalimat ini di TV. Sekarang aku sendiri yang melantunkannya. Alhamdulillah, Engkau telah memberikan kesempatan ini padaku.
Bersambung lain waktu.






Related Articles
2 users responded in this post
hmmm.. surprised…!
ini yg nulis Anis ato bukan sih??
selamet ya neng…, kyknya udah makin keliatan nih progress “life quality improvement”-nya, meskipun tetep gak ketinggalan “peterpan”nya! hahaha….
eniwei, siapa tuh si Mr X yg nelponin pas mo take off??? kok gak cerita-2 sih….! ehm… ehm…. ehmmmm……
Endah, pernah nggak denger nasihat gini: Jangan liat siapa yg mengatakan, tapi liatlah apa yg dikatakan. Kalimat mutiara itu, meski keluar dr mulut Ariel, tetap aja kalimat mutiara. Gak nyambung ya..
Leave A Reply