Mengapa Aku Pergi Umrah
Niat itu muncul tahun lalu. Saat aku mulai bisa bernapas lagi karena sebagian kewajibanku udah bisa aku lunasin, saat aku mulai bisa menabung lagi, saat aku mulai bisa bersenang-senang dengan hasil kerjaku. Saat itu aku merasa terlalu banyak mementingkan dunia. Dan aku merasa perlu membuat sedikit keseimbangan dalam hidup.
Saat itu aku berpikir, dari sekian banyak nikmat yang sudah Allah berikan padaku, berapa banyak sih yang sudah aku pakai di jalan-Nya? Tentu saja aku tau, tidak pernah ada rumus yang pasti untuk menghitung hal itu. Aku jadi inget pendapat salah seorang temen bahwa Sang Pencipta tidak membutuhkan hal seperti itu. Aku setuju. Bahkan jika seluruh makhluk di bumi memalingkan muka dari-Nya, Dia tidak akan kehilangan Keagungan-Nya. Tapi ini bukan tentang apakah Dia butuh atau tidak. Karena kitalah yang membutuhkan Dia. Kita yang harus menunjukkan rasa syukur karena telah diberi kesempatan hidup dalam kasih sayang-Nya. Dan rasa syukur itu bisa diwujudkan dengan melaksanakan perintah-Nya.
Itu salah satu alasanku. Alasan lain adalah karena orang tuaku menyuruhnya. Sebenarnya sih mereka menyuruh aku pergi haji. Tapi karena aku masih merasa belum siap, secara untuk pergi haji dibutuhkan lebih banyak persiapan lahir dan batin, maka aku pilih untuk pergi umrah dulu. Aku sadar banget, masih banyak harapan orang tuaku yang belum bisa aku capai. Jadi selama aku mampu dan mau memenuhi salah satu keinginan mereka itu, maka aku akan mewujudkannya. Semoga hal ini bisa memberi sedikit kebahagiaan di usia senja mereka.
Dan segalanya mengalir. Kebetulan aku ketemu Ratri yang mempunyai niat untuk umrah juga. Setelah sempat mundur beberapa kali, akhirnya kami memutuskan untuk ikut rombongan Percikan Iman, dengan jadwal keberangkatan tanggal 23 Mei sampai 1 Juni 2007.
Mengenai targetku setelah pulang dari umrah, kayaknya umum aja, ingin menjadi manusia yang lebih baik. Kalo ditanya indikatornya, aku sulit menjawab. Karena tidak semua hal yang baik itu harus berupa sesuatu yang bisa dilihat. (Ada yang tau maksudnya?
)
Mmm.. untuk sementara segitu dulu, lain kali disambung ceritanya.






Related Articles
4 users responded in this post
Wah asiknya pada pergi umroh… Sayang, aku taunya setelah mbakyu pulang dikasihtau bu Jiah, kalo aku tau mah, mungkin ikutan juga…
Btw, kalo judulnya “Long Road to Heaven” kayaknya sedikit bernada pesimis deh (long road gitu loh… bikin cape:D), bagusnya “Another Road to Heaven” aja… (hi hi hi… aku membayangkan yang terlintas di benak Mbak Anis pasti “Ya udah, sana bikin entry sendiri pake jdl itu di blog-mu”)
Ampuuuuunnn….Just a comment kok…:)
Terkesan pesimis? Padahal maksudku adalah, masih panjang jalan yg hrs kulalui untuk bisa mencapai heaven.
jika surga dan neraka tak pernah ada ….
Jawabannya sama sulitnya dgn pertanyaan: jika kita tak pernah lahir ke dunia…
Leave A Reply