Dulu aku pernah membaca cerita seperti ini:
Ada dua orang terdampar di pulau terpencil. Mereka kemudian berdoa masing-masing supaya mereka bisa selamat. Setelah beberapa hari, ada satu perahu datang menghampiri orang pertama. Dia merasa doanya yang dikabulkan Tuhan. Dia pun bersiap pergi meninggalkan pulau tersebut, tanpa mengajak orang kedua. Pikirnya, ”Buat apa diajak. Kalo memang doanya diterima Tuhan, pasti akan datang perahu buat dia.”
Tiba-tiba ada suara dari langit menegurnya, ”Kenapa engkau pergi sendiri tanpa mengajak temanmu?”.
”Tuhan, doa dia tidak dikabulkan. Pasti dia tidak berdoa dengan benar.”
“Darimana kamu tau kalo doa temanmu tidak dikabulkan? Taukah kamu apa doa temanmu?”
”Memangnya dia berdoa apa?”
”Tiap hari dia selalu berdoa agar doamu dikabulkan.”
(Catatan: Karena udah agak lama, aku udah agak2 lupa persisnya kata-kata dalam cerita tersebut. Tapi aku kira tidak mengubah esensinya.)
Okey, di sini aku tidak akan membahas apakah cerita di atas itu nyata atau cuma rekaan. Aku hanya ingin mengambil pesan yang tersirat darinya.
Kita pernah diajarkan bahwa pada saat kita berdoa kepada Allah, maka kita harus berprasangka baik, kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan. Tapi mungkin kita nggak berpikir bahwa bila ada doa kita yang terkabul, mungkin ada kontribusi doa orang lain di dalamnya, seperti cerita di atas.
Mungkin kesadaran akan hal tersebut di atas akan menjauhkan kita dari sikap takabur, merasa paling baik karena doa kita dikabulkan. Di sisi lain, seharusnya kita tidak pelit mendoakan hal-hal yang baik untuk orang lain, karena mungkin saja doa kita akan membantu doa mereka lebih cepat terkabul.
Dan terakhir, kita juga harus ingat untuk tidak mendzolimi orang lain, karena doa orang yang terdzolimi termasuk yang dijamin Allah akan cepat terkabul.






Related Articles
4 users responded in this post
Yup, aku juga selalu berpikir bahwa semua hal baik yang terjadi padaku MUNGKIN bukan karena semata-mata AKU PANTAS menerimanya, tapi mungkin karena Allah sedang mengabulkan doa orang lain, doa ortuku, doa adik-adikku, doa sahabat-sahabatku etc… Ada satu percakapan dengan seorang teman lama yang cukup “menampar”ku berkiatan dengan doa. Ceritanya saat itu ada seorang teman yang kuakui punya segudang kelebihan: smart, cakep, gaul, ilmu agamanya juga oke, tapi somehow aku kurang simpati aja sama dia. Mungkin karena sadar betul semua kelebihannya itu, makanya (menurutku) dia jadi belagu. Trus seorang teman lain, namanya Seno, yang membaca ketidaksukaanku pada cowo belagu itu berkomentar pendek. “Jangan gitu dong Ning, kasian kan dia kalo kehilangan satu teman kayak Nining”
“Hallah, cowo idola kayak dia nggak akan rugilah kehilangan satu orang temen doang kayak aku”, tandasku. (Ih, dulu aku jutek banget ya ternyata….:p)
“Ya jelas rugi dong,” jawab Seno, “Walaupun hanya kehilangan SATU orang teman, jelas kita akan rugi karena berkurang pula SATU orang yang akan MENDOAKAN kita…”
Seketika aku terdiam, gak sanggup menjawab, sekaligus merasa tertampar. Iya ya, batinku malu. Yang namanya “teman” memang sudah seharusnya saling mendoakan. Ya, saling mendoakan, suatu hal yang harus kuakui sangat jarang kulakukan (itu sebabnya aku merasa tertampar).
So, mari kita saling mendoakan, teman..:)
Ning.. komentar sepanjang ini mah sudah bisa jadi satu entry sendiri di blog-mu.. hehehe.. Anyway, makasih yaa…
he he he…. maap…:p
Jeng, aku sih seneng kamu ngisi2 komen di sini. Tapi kasih kesempatan aku untuk gantian komen di blog-mu, gitu lho.. Makanya ngisinya yang rajin..
Leave A Reply