Archive for » June, 2007 «

Pelaksanaan Umrah

Sesampainya di Mekkah, kami menuju hotel. Setelah mendapat pembagian kamar, kami dipersilakan langsung ke ruang makan untuk makan malam. Barang-barang kami sudah ada yang ngurus, diantar ke depan kamar masing-masing. Setelah selesai makan, kami diberi kesempatan untuk istirahat sebentar, sekaligus untuk melaksanakan sholat Maghrib dan Isya. Ustadz Taufik meminta kami untuk berkumpul di lobby pada pukul 11.30 malam waktu setempat. Selanjutnya kami berangkat ke Masjidil Haram untuk melaksanakan rukun umrah berikutnya yaitu thawaf dan sa’i.

Jarak dari hotel ke Masjidil Haram cukup dekat, kurang lebih 100 meter (maaf, aku tidak pandai memperkirakan jarak). Jalan menuju kesana ramai oleh orang-orang yang pulang pergi ke masjid, dan orang-orang yang berjualan di jalan. Untuk kali yang pertama ini, Ustadz Taufik mengajak kami masuk lewat Gate 1 King Abdul Aziz. Waktu masuk masjid, Ratri berkata padaku, “Aduh Mbak, aku lagi nahan-nahan supaya nggak nangis nih.” Mendengar kata-katanya, aku sempet heran. Kok bisa nangis, emangnya ada apa. Tapi setelah kami melihat Ka’bah, ternyata aku juga harus berusaha menahan air mata yang mau keluar. Susah digambarkan, seperti ada perasaan terpukau yang amat sangat yang melingkupi diriku. Melihat bangunan itu, melihat orang-orang yang sedang melakukan thawaf di sekelilingnya. Makin mendekati Ka’bah, aku makin merasa kecil. Ya Allah, selama bertahun-tahun, lima kali dalam sehari, aku shalat menghadap ke arah bangunan ini. Sekarang, aku bisa melihatnya secara langsung. Ini semua hanya bisa terjadi atas ijin-Mu.

Aku berusaha menguasai diri. Bagaimanapun juga, aku masih punya kewajiban melaksanakan thawaf dan sa’i. Kalo diturutin nangis, nanti nggak selesai-selesai. Ustadz Taufik mengajak kami ke tempat awal thawaf, yaitu di depan Hajar Aswad. Sekarang nggak kayak dulu lagi, nggak ada lagi garis di lantai yang menunjukkan batas awal thawaf. Hanya ada lampu hijau di dinding masjid di seberang Hajar Aswad. Jadi untuk memulai thawaf, orang harus menarik garis lurus (virtual) dari lampu di dinding itu ke arah Hajar Aswad. Ustadz Taufik menawarkan, apakah kami akan bersama-sama terus. Jamaah minta seperti itu. Tapi pada kenyataannya susah sekali. Dengan begitu banyak orang yang melakukan thawaf, ada yang pelan, ada yang cepat, sulit untuk terus bersama. Akhirnya kami terpencar-pencar. Aku sendiri terpisah dari Ratri. Semula aku masih bersama 2 orang temen lain. Tapi nggak tau gimana, karena terus kedesak-desak, aku akhirnya jadi sendirian. Sempet bingung sih, tapi ya udah. Aku pikir, toh mereka nggak akan jauh-jauh dari Ka’bah. Daripada panik nyari orang-orang, aku lanjutin aja thawaf sendirian, mengandalkan doa dari buku panduan umrah Percikan Iman yang super tipis. Mendengar orang-orang di sekelilingku mengucapkan doa yang panjang-panjang, muncul juga rasa penyesalan dalam hati karena tidak mempersiapkan diri lebih baik. Memang sih, kata Ustadz Percikan Iman, tidak ada ketentuan pasti tentang doa-doa yang diucapkan waktu thawaf atau sa’i. Pada dasarnya semua doa akan diterima, jadi berdoalah sebanyak-banyaknya, doa apa aja, dalam bahasa apa aja. Tapi secara koleksi doa aku sangat terbatas, kayaknya aku lebih suka jika diberi panduan doa yang lebih lengkap.

Setelah thawaf 7 kali, aku baru bingung nyari temen2. Sesuai buku petunjuk, selesai thawaf disunnahkan sholat 2 rokaat dan minum air zamzam. Itu masih nggak masalah buatku. Tapi setelah itu, aku kan harus sa’i. Dan aku nggak tau di mana tempat sa’i itu. Untung akhirnya aku bisa bertemu beberapa orang temen. Kemudian kami bersama ke tempat sa’i. Kali ini aku nggak mau berpisah dari rombongan lagi, kami berkumpul dalam di bawah bimbingan Ustadz Abdurrahman. Ustadz Taufik bersama rombongan yang lain. Ustadz Abdurrahman membacakan doa dengan keras selama kami sa’i, dan kami mengikutinya. Sebenarnya aku nggak selalu berhasil mengikutinya, karena suasana yang ramai kadang-kadang membuat suara Ustadz menjadi tak terdengar. Tapi di sini nggak seramai di sekitar Ka’bah. Mungkin karena sa’i hanya dilakukan 1 kali selama umrah. Sedangkan thawaf bisa berkali-kali. Selain thawaf sebagai rukun umrah, bisa juga thawaf sunnah, atau thawaf wadha. Ketika menjelang putaran2 terakhir, aku liat ada temen yang jalannya mulai goyah. Termasuk Ratri. Mungkin orang lain juga ngeliat aku goyah. Bayangin aja, saat itu sudah sekitar jam 2 – 3 malam waktu setempat. Atau sekitar jam 6 – 7 WIB. Udah 24 jam lebih waktu yang kami lewati sejak bangun tidur hari sebelumnya. Alhamdulillah, kami semua berhasil melaksanakannya sampai selesai. Sebagai penutup, kami semua ber-tahallul, yaitu menggunting sedikit rambut kami di bukit Marwah.

Setelah itu, kami kembali berjalan ke arah Ka’bah. Beberapa temen ingin menunggu di masjid sampai waktu sholat Shubuh, kira-kira 1,5 jam lagi. Tapi aku dan Ratri memutuskan ikut rombongan yang pulang dulu ke hotel. Rasa ngantuk yang aku rasakan udah amat sangat. Aku pikir, waktu yang ada bisa dipakai untuk tidur sebentar. Nanti baru berangkat ke masjid lagi untuk sholat Shubuh. Begitulah, kami sudah melaksanakan yang harus kami laksanakan. Ternyata nggak susah ya umrah itu. Cuma sekitar 2 - 3 jam. Setelah itu, kami tinggal melaksanakan yang sunnah-sunnahnya. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah. Karena sholat di Masjidil Haram itu lebih baik daripada 100.000 sholat di tempat lain, kecuali di Masjid Nabawi.

Kelanjutannya ntar ya. :-)

Tambahan dikit. Berdasarkan pengalaman aku kemarin, bagaimana kami semua melaksanakan umrah tengah malam dalam keadaan capek dan jet lag, meskipun akhirnya selesai. Aku saranin buat yang mau berangkat ke sana, mendingan cari biro perjalanan yang menjadwalkan istirahat dulu di Jeddah 1 hari, baru berangkat ke Mekkah, setelah itu baru ke Medinah. Jadi kita tetap selesaikan dulu yang wajib di Mekkah, tapi kondisi badan sudah lumayan seger karena sempet istirahat di Jeddah. 

Category: Life  2 Comments

Hari Keberangkatan

Akhirnya hari itu datang juga, tanggal 23 Mei 2007. Dini hari jam 2 lewat dikit, SMS dari Ratri membangunkanku, ngingetin janji ketemu di kantor jam 4. Setelah aku jawab OK, aku masih sempet tertidur lagi. Aku baru beneran bangun jam 3, saat alarm HP-ku berbunyi. Trus ke kamar mandi, melaksanakan mandi besar (katanya sih termasuk sunnah kalo mau pergi Umroh). Brr.. dingin juga. Setelah itu sholat tahajjud dan witir. Kemudian siap-siap berangkat. Masih ngantuk, karena malam sebelumnya aku baru bisa tidur di atas jam 11. Secara aku ini tukang tidur, jadi nggak terbiasa tidur cuma 3 – 4 jam gitu. Tapi aku pikir nanti masih banyak waktu untuk tidur di jalan.

Aku nyampe kantor Supratman pas jam 4. Bikin kaget Satpam karena pagi2 ada orang datang. Untungnya masih ada Satpam yang inget ama aku. Maklum, sudah setahun lebih aku nggak ngantor di sini, dan aku liat banyak Satpam baru. Aku dibukain pintu pagar. Aku bilang aku mau pergi keluar kota (aku nggak bo’ong kan?), janjian ama temen ketemu di kantor. Ratri kemudian datang, diantar ayah ibunya. Bapak ibuku sendiri sudah datang hari sebelumnya, tapi langsung pulang malam harinya, jadi nggak nganter aku sampe bener2 berangkat.

Kami berangkat ke Percikan Iman. Bawaan kami masing-masing cuma 2 tas. Aku bawa travel bag kecil dari Percikan Iman plus 1 ransel. Ratri nggak bawa tas pembagian. Dia bawa travel bag miliknya sendiri, tapi ukurannya nggak beda jauh dari yang aku bawa. Dia juga bawa 1 ransel. Waktu kami nyampe Percikan Iman, dan melihat bawaan jamaah lain, aku sempet terheran-heran. Selain tas pembagian, kebanyakan mereka bawa 1 travel bag lagi yang jauh lebih besar. Sebesar travel bag yang biasa dibawa kakakku kalo dia pergi liburan berempat ama suami dan anak2nya. Pikirku, apa aja yang dibawa mereka? Kalo hanya untuk membawa perlengkapan umrah sesuai petunjuk Percikan Iman, tas pembagian itu sudah cukup. Tapi saat aku ketemu Ustadz Ali, dia malah keliatan heran melihat bawaanku. ”Cuma bawa itu, Teh?”, tanya beliau. ”Iya, Ustadz,” jawabku.

Kami menunggu adzan Shubuh, lalu sholat berjamaah di Masjid Istiqomah. Kemudian naik bis. Sekitar jam 05.30, kami berangkat. Selain jamaah umroh, beberapa orang pegawai Percikan Iman ikut mengantar kami ke bandara Sukarno Hatta. Jumlah jamaah 27 orang, tapi ada yang baru akan bergabung di Jakarta. O ya, pembimbing kami bernama Ustadz Taufik Ridho (Berdasarkan informasi yang aku dengar, beliau adalah tokoh PKS wilayah Jawa Barat. Tapi aku nggak pernah tau beliau. Secara aku lebih tau Peterpan daripada PKS :-) ). Setelah kami di perjalanan, beberapa jamaah mulai beraksi menawarkan makanan ke jamaah-jamaah lain. Oh itu tho yang mereka bawa di tas mereka, pikirku sambil tersenyum. Aku dan Ratri memang nggak bawa makanan apapun. Jadi kami hanya bisa menerima pemberian mereka, dan nggak bisa ikutan menawarkan.. Hehehe.. dasar katro ndeso..

Aku belum mengenal jamaah lain, karena pada saat manasik umroh yang hanya satu kali itu, kami belum diberikan kesempatan untuk saling berkenalan. Jadi aku cuma mengenali orang-orang itu dari nama dan foto2 mereka yang ada di buku petunjuk umroh. Mereka ada yang pasangan suami istri, ada yang ibu dan anak, ada yang sekeluarga ayah-ibu-anak, ada yang kakak dan adik, ada yang sendirian, dan ada yang bersama temennya (eh yg terakhir itu mah cuma aku ama Ratri). Ada satu pasang suami istri yang paling aku hapal, karena suaminya diangkat jadi mahram aku. Sesuai peraturan Saudi Arabia, wanita di bawah umur 45 tahun tidak boleh masuk dan keluar negara itu tanpa didampingin mahramnya. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya biro perjalanan haji/umrah mengangkat mahram sementara untuk para wanita yang pergi haji/umrah tanpa keluarganya. Aku nggak tau gimana caranya. Pokoknya aku cuma dibebani biaya Rp 200 ribu untuk pengurusannya. Belakangan hari aku baru tau bahwa aku didaftarkan sebagai keponakan si bapak itu.

Perjalanan kami sempat menemui kemacetan di Jakarta. Ya iya lah, jam 8 – 9 pagi itu kan memang jam macetnya Jakarta. Kami nyampe di bandara sekitar jam 9.30 Barang-barang yang akan masuk bagasi diturunkan dari bis, sebagian petugas Percikan Iman masuk untuk mengurusi barang-barang itu. Sedangkan bis berangkat lagi ke sebuah rumah makan. Sarapan dulu dong, laper nih. Di rumah makan itu baru para jamaah sempet ngobrol-ngobrol. Mahramku, namanya Pak Dudi, ternyata adalah adik ipar Direktur Telkomsel, Pak Kiskenda.

Setelah selesai sarapan, kami ke bandara lagi. Ini pertama kalinya aku ke tempat pemberangkatan internasional :-). Biasanya cuma nyeberang dari Batam ke Singapura. Suasana ramai sekali. Banyak rombongan umrah dari biro perjalanan lain. Ada juga rombongan TKI yang akan berangkat ke Saudi Arabia. Jadwal keberangkatan pesawat Garuda sekitar jam 12.30. Ketika tiba waktunya sholat Dhuhur, orang-orang pun menjadikan ruang tunggu sebagai tempat sholat. Karena musholla yang ada tentu saja nggak mampu menampung ratusan orang yang mau sholat seperti saat ini. Bagaimanapun juga, sholat tetap kewajiban. O ya, karena kami sudah menjadi musafir, maka kami melakukan sholat jamak Dhuhur dan Ashar.

Kemudian kami dipersilakan naik pesawat. Ternyata pesawat kami bertingkat. Aku baru pernah naik pesawat kayak gini. Sekali lagi.. dasar katro ndeso.. :-). Bedanya dengan bis tingkat, kalo bis tingkat supirnya di bawah. Kalo pesawat bertingkat, pilotnya di atas. Rombonganku kebagian di bagian atas. Tempat duduknya tiga-tiga. Aku ama Ratri terpisah duduknya. Mungkin karena petugas Percikan Iman mementingkan yang suami istri untuk duduk sebelahan, maka yang kayak aku ama Ratri dipisahkan. Sempet rada bete juga, mbayangin 9 jam perjalanan bersebelahan ama orang yang baru dikenal. Tapi ya udahlah, mau minta tukar juga nggak mungkin. Hampir semua kursi terisi. Ratri duduk bareng Pak Dudi dan istrinya, Teh Tiktik. Sedangkan aku bareng pasangan (yang semula aku kira adalah) ayah dan putrinya. Menjelang pesawat take off, sebelum aku mematikan HP, ada panggilan masuk. Setelah berhalo-halo, suara di seberang berkata: ”Aku cuma pengin mendengar suaramu. Udah ya.” (Ah, andai saja dia tau, kalimatnya itu terdengar sangat manis di telingaku.)

Di perjalanan, aku lebih banyak tidur. Selain untuk bayar hutang tidur, ibu di sebelahku ternyata pendiam. Sama seperti aku :-). Jangankan ngobrol dengan aku, dengan bapak di sebelahnya aja dia cuma bicara dikit-dikit. Pramugari beberapa kali menawarkan makanan. Dasar makanan di pesawat, rasanya aneh. Tapi karena lapar dan nggak ada pilihan lain, ya aku makan saja. Kan udah aku bilang di depan, aku nggak bawa makanan apapun. Pikirku, daripada aku sakit. Perjalanan masih jauh. Layar di depan menunjukkan di atas negara mana kami berada saat ini, waktu setempat, berapa jauh dan berapa lama lagi untuk nyampe ke tujuan, dll. Sekali diputarkan film, tapi nggak menarik. Ada earphone supaya kami bisa mendengarkan musik. Tapi kebetulan alat yang di kursiku rusak, jadi nggak keluar musik apapun. Ibu sebelahku menawarkan untuk memakai alat di kursi dia. Tapi ternyata koleksi lagunya nggak banyak, diulang-ulang mulu. Bosen juga, jadi aku lepas lagi earphone-nya dan aku kembalikan ke ibu itu. Toilet di atas hanya ada 1. Jadi kadang-kadang harus antri untuk bisa ke sana.

Ngomongin tentang pasangan di sebelahku, yang semula aku kira adalah pasangan ayah dan putrinya. Aku sempet berpikir, baik banget ya putrinya itu, nemenin bapaknya yang udah tua sekali untuk umrah. Aku sendiri nggak yakin, apakah aku akan mau kalo disuruh nemenin bapakku pergi umrah, hanya berdua aja kayak mereka. Tapi….. setelah hari keberapa kami di Makkah, baru deh aku tau bahwa mereka itu pasangan suami istri. Dan ternyata ada juga lho, orang-orang lain yang berpikiran seperti aku, dan kemudian kagetnya juga seperti aku. Gimana ya, kalo hanya melihat dari usia mereka, pantasnya mereka memang ayah dan putrinya, bukan suami dan istrinya. :-)
Kira-kira 1 jam sebelum pendaratan, para bapak bersiap-siap mengenakan pakaian ihram. Ini dilakukan karena kami akan ber-miqat di atas pesawat. Bagi yang belum tau, miqat adalah titik awal mulainya ihram. Jadi pada titik tersebut, maka jamaah umrah sudah harus menjalankan kewajiban ihram dan meninggalkan larangannya. Ihram sendiri adalah salah satu dari rukun umroh. Bila meninggalkan salah satu rukun umroh, maka umrohnya menjadi tidak sah. Untuk para ibu, pakaian muslim yang kami kenakan saat itu sudah cukup memenuhi syarat sebagai pakaian ihram. Sekitar 20 menit sebelum pendaratan, Ustadz Taufik menginformasikan kepada kami untuk mengucapkan niat ihram. O ya, tidak semua rombongan dalam pesawat melakukan seperti yang kami lakukan. Karena rute mereka setelah mendarat di Jeddah adalah ke Medinah dulu. Jadi miqat-nya nanti dalam perjalanan Medinah – Mekkah.

Kami mendarat di Jeddah saat maghrib waktu setempat, sekitar jam 7 malam. Kalo di Indonesia sekitar jam 11 malam. Waktu mau cek imigrasi, aku berada di belakang keluarga Pak Dudi, karena akan diperiksa barengan. Yang kasian si Ratri. Mahram dia, Pak Rudi, harus mengurus ibunya yang sudah tua dan memakai kursi roda. Sehingga agak ketinggalan di belakang. Sementara aku dan keluarga Pak Dudi sudah lolos pemeriksaan, kami liat Ratri masih belum bertemu dengan Pak Rudi. Kami menunggu di tempat pengambilan bagasi. Lama juga Ratri di dalam. Setelah keluar, dia cerita bahwa dia ada sedikit masalah. Tapi karena para petugas itu berbicara bahasa Arab, Ratri nggak paham sama sekali apa yang jadi persoalan. Dia dan Pak Rudi sampai harus diperiksa dua kali sebelum akhirnya boleh lewat. Dia sempet panik. Kebayang nggak sih kalo dapat masalah di negeri orang kayak gitu. Alhamdulillah akhirnya bisa lolos juga. Tapi Ratri masih khawatir, dia takut ada catatan di imigrasi yang akan membuat dia dapat masalah lagi nanti kalo waktunya pulang.

Setelah semua berkumpul dan mendapatkan bagasi masing-masing, kami keluar. Di luar, jemputan sudah menunggu. Kami naik bis dan berangkat menuju Makkah. Bergabung bersama kami 1 orang pembimbing lokal bernama Ustadz Abdurrahman. Di bis kami melantunkan kalimat-kalimat: Labaik allahuma labaik.. dst. Yang terlintas di pikiranku adalah: Ya Allah, biasanya aku cuma mendengar orang melantunkan kalimat-kalimat ini di TV. Sekarang aku sendiri yang melantunkannya. Alhamdulillah, Engkau telah memberikan kesempatan ini padaku.

Bersambung lain waktu. :-)

Category: Life  2 Comments

Mengapa Aku Pergi Umrah

Niat itu muncul tahun lalu. Saat aku mulai bisa bernapas lagi karena sebagian kewajibanku udah bisa aku lunasin, saat aku mulai bisa menabung lagi, saat aku mulai bisa bersenang-senang dengan hasil kerjaku. Saat itu aku merasa terlalu banyak mementingkan dunia. Dan aku merasa perlu membuat sedikit keseimbangan dalam hidup.

Saat itu aku berpikir, dari sekian banyak nikmat yang sudah Allah berikan padaku, berapa banyak sih yang sudah aku pakai di jalan-Nya? Tentu saja aku tau, tidak pernah ada rumus yang pasti untuk menghitung hal itu. Aku jadi inget pendapat salah seorang temen bahwa Sang Pencipta tidak membutuhkan hal seperti itu. Aku setuju. Bahkan jika seluruh makhluk di bumi memalingkan muka dari-Nya, Dia tidak akan kehilangan Keagungan-Nya. Tapi ini bukan tentang apakah Dia butuh atau tidak. Karena kitalah yang membutuhkan Dia. Kita yang harus menunjukkan rasa syukur karena telah diberi kesempatan hidup dalam kasih sayang-Nya. Dan rasa syukur itu bisa diwujudkan dengan melaksanakan perintah-Nya.

Itu salah satu alasanku. Alasan lain adalah karena orang tuaku menyuruhnya. Sebenarnya sih mereka menyuruh aku pergi haji. Tapi karena aku masih merasa belum siap, secara untuk pergi haji dibutuhkan lebih banyak persiapan lahir dan batin, maka aku pilih untuk pergi umrah dulu. Aku sadar banget, masih banyak harapan orang tuaku yang belum bisa aku capai. Jadi selama aku mampu dan mau memenuhi salah satu keinginan mereka itu, maka aku akan mewujudkannya. Semoga hal ini bisa memberi sedikit kebahagiaan di usia senja mereka.

Dan segalanya mengalir. Kebetulan aku ketemu Ratri yang mempunyai niat untuk  umrah juga. Setelah sempat mundur beberapa kali, akhirnya kami memutuskan untuk ikut rombongan Percikan Iman, dengan jadwal keberangkatan tanggal 23 Mei sampai 1 Juni 2007.

Mengenai targetku setelah pulang dari umrah, kayaknya umum aja, ingin menjadi manusia yang lebih baik. Kalo ditanya indikatornya, aku sulit menjawab. Karena tidak semua hal yang baik itu harus berupa sesuatu yang bisa dilihat. (Ada yang tau maksudnya? :-) )

Mmm.. untuk sementara segitu dulu, lain kali disambung ceritanya.

Category: Life  4 Comments

Dulu aku pernah membaca cerita seperti ini:

Ada dua orang terdampar di pulau terpencil. Mereka kemudian berdoa masing-masing supaya mereka bisa selamat. Setelah beberapa hari, ada satu perahu datang menghampiri orang pertama. Dia merasa doanya yang dikabulkan Tuhan. Dia pun bersiap pergi meninggalkan pulau tersebut, tanpa mengajak orang kedua. Pikirnya, ”Buat apa diajak. Kalo memang doanya diterima Tuhan, pasti akan datang perahu buat dia.”

Tiba-tiba ada suara dari langit menegurnya, ”Kenapa engkau pergi sendiri tanpa mengajak temanmu?”.

”Tuhan, doa dia tidak dikabulkan. Pasti dia tidak berdoa dengan benar.”

“Darimana kamu tau kalo doa temanmu tidak dikabulkan? Taukah kamu apa doa temanmu?”

”Memangnya dia berdoa apa?”

”Tiap hari dia selalu berdoa agar doamu dikabulkan.”

(Catatan: Karena udah agak lama, aku udah agak2 lupa persisnya kata-kata dalam cerita tersebut. Tapi aku kira tidak mengubah esensinya.)

Okey, di sini aku tidak akan membahas apakah cerita di atas itu nyata atau cuma rekaan. Aku hanya ingin mengambil pesan yang tersirat darinya.

Kita pernah diajarkan bahwa pada saat kita berdoa kepada Allah, maka kita harus berprasangka baik, kita harus yakin bahwa doa kita akan dikabulkan. Tapi mungkin kita nggak berpikir bahwa bila ada doa kita yang terkabul, mungkin ada kontribusi doa orang lain di dalamnya, seperti cerita di atas.

Mungkin kesadaran akan hal tersebut di atas akan menjauhkan kita dari sikap takabur, merasa paling baik karena doa kita dikabulkan. Di sisi lain, seharusnya kita tidak pelit mendoakan hal-hal yang baik untuk orang lain, karena mungkin saja doa kita akan membantu doa mereka lebih cepat terkabul.

Dan terakhir, kita juga harus ingat untuk tidak mendzolimi orang lain, karena doa orang yang terdzolimi termasuk yang dijamin Allah akan cepat terkabul.

Category: Life  4 Comments