Pelaksanaan Umrah
Sesampainya di Mekkah, kami menuju hotel. Setelah mendapat pembagian kamar, kami dipersilakan langsung ke ruang makan untuk makan malam. Barang-barang kami sudah ada yang ngurus, diantar ke depan kamar masing-masing. Setelah selesai makan, kami diberi kesempatan untuk istirahat sebentar, sekaligus untuk melaksanakan sholat Maghrib dan Isya. Ustadz Taufik meminta kami untuk berkumpul di lobby pada pukul 11.30 malam waktu setempat. Selanjutnya kami berangkat ke Masjidil Haram untuk melaksanakan rukun umrah berikutnya yaitu thawaf dan sa’i.
Jarak dari hotel ke Masjidil Haram cukup dekat, kurang lebih 100 meter (maaf, aku tidak pandai memperkirakan jarak). Jalan menuju kesana ramai oleh orang-orang yang pulang pergi ke masjid, dan orang-orang yang berjualan di jalan. Untuk kali yang pertama ini, Ustadz Taufik mengajak kami masuk lewat Gate 1 King Abdul Aziz. Waktu masuk masjid, Ratri berkata padaku, “Aduh Mbak, aku lagi nahan-nahan supaya nggak nangis nih.” Mendengar kata-katanya, aku sempet heran. Kok bisa nangis, emangnya ada apa. Tapi setelah kami melihat Ka’bah, ternyata aku juga harus berusaha menahan air mata yang mau keluar. Susah digambarkan, seperti ada perasaan terpukau yang amat sangat yang melingkupi diriku. Melihat bangunan itu, melihat orang-orang yang sedang melakukan thawaf di sekelilingnya. Makin mendekati Ka’bah, aku makin merasa kecil. Ya Allah, selama bertahun-tahun, lima kali dalam sehari, aku shalat menghadap ke arah bangunan ini. Sekarang, aku bisa melihatnya secara langsung. Ini semua hanya bisa terjadi atas ijin-Mu.
Aku berusaha menguasai diri. Bagaimanapun juga, aku masih punya kewajiban melaksanakan thawaf dan sa’i. Kalo diturutin nangis, nanti nggak selesai-selesai. Ustadz Taufik mengajak kami ke tempat awal thawaf, yaitu di depan Hajar Aswad. Sekarang nggak kayak dulu lagi, nggak ada lagi garis di lantai yang menunjukkan batas awal thawaf. Hanya ada lampu hijau di dinding masjid di seberang Hajar Aswad. Jadi untuk memulai thawaf, orang harus menarik garis lurus (virtual) dari lampu di dinding itu ke arah Hajar Aswad. Ustadz Taufik menawarkan, apakah kami akan bersama-sama terus. Jamaah minta seperti itu. Tapi pada kenyataannya susah sekali. Dengan begitu banyak orang yang melakukan thawaf, ada yang pelan, ada yang cepat, sulit untuk terus bersama. Akhirnya kami terpencar-pencar. Aku sendiri terpisah dari Ratri. Semula aku masih bersama 2 orang temen lain. Tapi nggak tau gimana, karena terus kedesak-desak, aku akhirnya jadi sendirian. Sempet bingung sih, tapi ya udah. Aku pikir, toh mereka nggak akan jauh-jauh dari Ka’bah. Daripada panik nyari orang-orang, aku lanjutin aja thawaf sendirian, mengandalkan doa dari buku panduan umrah Percikan Iman yang super tipis. Mendengar orang-orang di sekelilingku mengucapkan doa yang panjang-panjang, muncul juga rasa penyesalan dalam hati karena tidak mempersiapkan diri lebih baik. Memang sih, kata Ustadz Percikan Iman, tidak ada ketentuan pasti tentang doa-doa yang diucapkan waktu thawaf atau sa’i. Pada dasarnya semua doa akan diterima, jadi berdoalah sebanyak-banyaknya, doa apa aja, dalam bahasa apa aja. Tapi secara koleksi doa aku sangat terbatas, kayaknya aku lebih suka jika diberi panduan doa yang lebih lengkap.
Setelah thawaf 7 kali, aku baru bingung nyari temen2. Sesuai buku petunjuk, selesai thawaf disunnahkan sholat 2 rokaat dan minum air zamzam. Itu masih nggak masalah buatku. Tapi setelah itu, aku kan harus sa’i. Dan aku nggak tau di mana tempat sa’i itu. Untung akhirnya aku bisa bertemu beberapa orang temen. Kemudian kami bersama ke tempat sa’i. Kali ini aku nggak mau berpisah dari rombongan lagi, kami berkumpul dalam di bawah bimbingan Ustadz Abdurrahman. Ustadz Taufik bersama rombongan yang lain. Ustadz Abdurrahman membacakan doa dengan keras selama kami sa’i, dan kami mengikutinya. Sebenarnya aku nggak selalu berhasil mengikutinya, karena suasana yang ramai kadang-kadang membuat suara Ustadz menjadi tak terdengar. Tapi di sini nggak seramai di sekitar Ka’bah. Mungkin karena sa’i hanya dilakukan 1 kali selama umrah. Sedangkan thawaf bisa berkali-kali. Selain thawaf sebagai rukun umrah, bisa juga thawaf sunnah, atau thawaf wadha. Ketika menjelang putaran2 terakhir, aku liat ada temen yang jalannya mulai goyah. Termasuk Ratri. Mungkin orang lain juga ngeliat aku goyah. Bayangin aja, saat itu sudah sekitar jam 2 – 3 malam waktu setempat. Atau sekitar jam 6 – 7 WIB. Udah 24 jam lebih waktu yang kami lewati sejak bangun tidur hari sebelumnya. Alhamdulillah, kami semua berhasil melaksanakannya sampai selesai. Sebagai penutup, kami semua ber-tahallul, yaitu menggunting sedikit rambut kami di bukit Marwah.
Setelah itu, kami kembali berjalan ke arah Ka’bah. Beberapa temen ingin menunggu di masjid sampai waktu sholat Shubuh, kira-kira 1,5 jam lagi. Tapi aku dan Ratri memutuskan ikut rombongan yang pulang dulu ke hotel. Rasa ngantuk yang aku rasakan udah amat sangat. Aku pikir, waktu yang ada bisa dipakai untuk tidur sebentar. Nanti baru berangkat ke masjid lagi untuk sholat Shubuh. Begitulah, kami sudah melaksanakan yang harus kami laksanakan. Ternyata nggak susah ya umrah itu. Cuma sekitar 2 - 3 jam. Setelah itu, kami tinggal melaksanakan yang sunnah-sunnahnya. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah. Karena sholat di Masjidil Haram itu lebih baik daripada 100.000 sholat di tempat lain, kecuali di Masjid Nabawi.
Kelanjutannya ntar ya. :-)
Tambahan dikit. Berdasarkan pengalaman aku kemarin, bagaimana kami semua melaksanakan umrah tengah malam dalam keadaan capek dan jet lag, meskipun akhirnya selesai. Aku saranin buat yang mau berangkat ke sana, mendingan cari biro perjalanan yang menjadwalkan istirahat dulu di Jeddah 1 hari, baru berangkat ke Mekkah, setelah itu baru ke Medinah. Jadi kita tetap selesaikan dulu yang wajib di Mekkah, tapi kondisi badan sudah lumayan seger karena sempet istirahat di Jeddah.










Recent Comments