Berniat pindah ke lain hati? Yee.. ya nggak lah. Kayaknya aku cuma terpengaruh seorang temen yang hobby mengkoleksi segala sesuatu. Dari mulai mainan, perangko, uang, cangkir, kartu telepon, dll. Itu baru koleksi yang terlihat. Ada juga koleksi dia yang nggak terlihat, misalnya ilmu.. dan penyakit.. Hihihi.. nggak ding, yang terakhir ini mah cuma becanda. Mana ada orang yang mau mengkoleksi penyakit. (Buat temenku, jangan marah ya. Kamu tau aku bakal sedih kalo kamu marah padaku. Halah!!!
)
Kali ini aku ingin membahas masing-masing kartu itu.
Yang pertama.. pasti dong.. Flexi. Alasan aku make produk ini tak lain dan tak bukan karena ini adalah produk perusahaanku sendiri. Gak etis banget kan kalo aku nggak make. Lha wong aku masih makan dari perusahaan ini kok. Apalagi dulu waktu Flexi baru dilaunching, aku sedang dinas di bagian penjualan. Gak mungkin kan aku jualan Flexi kalo aku sendiri nggak make. Apa kata dunia? Tapi misalnya.. misalnya nih.. aku bukan pegawai Telkom, apakah aku masih mau pake produk ini? Hmm.. nggak tau juga ya. Okelah, katanya teknologi CDMA itu punya beberapa kelebihan dibanding teknologi GSM. Mungkin ini bisa jadi alasan memilih Flexi. Kalo dari sisi harga untuk layanan suara dan SMS.. kayaknya nggak bisa jadi alasan memilih Flexi, secara ada operator CDMA lain yang bisa menawarkan harga lebih murah. Kualitasnya mungkin tidak sebagus Flexi, tapi kalo orang sudah memilih harga murah, biasanya dia juga sudah siap menerima konsekuensi kualitas yang rendah. Kalo dilihat dari kemampuannya untuk berinternet, juga nggak bisa jadi alasan memilih Flexi, karena ada operator CDMA lain yang menawarkan harga lebih murah. Mungkin yang bisa jadi alasan adalah inovasi-inovasi produknya, seperti Flexi Combo dan Flexi Milis. Meski sebenarnya untuk inovasi yang terakhir, aku belum merasakan manfaatnya. Alasan lain untuk memilih Flexi adalah karena Flexi adalah produk milik Telkom, perusahaan telekomunikasi milik bangsa Indonesia. Duh.. tapi harree gene, orang kan malah cenderung lebih bangga menggunakan produk import.
Kartu kedua yang aku punya adalah Simpati. Dulu aku beli kartu ini waktu awal2 datang ke Bandung. Karena aku belum punya identitas Bandung sehingga nggak bisa mendaftar layanan paska bayar, aku hanya bisa mempunyai kartu pra bayar. Cukup lama juga kartu ini aku pake, hampir 3 tahun. Dengan memakai kartu ini, aku juga bisa menjadi anggota SimpatiZone. Aku beberapa kali mendapat kiriman buletin SimpatiZone. Di dalamnya sering ada kuis-kuis yang hadiahnya antara lain kesempatan untuk menonton konser2. Aku memang nggak pernah ikutan kuis itu. Tapi kayaknya cara Simpati menjaga hubungan dengan para penggunan setianya perlu ditiru oleh Flexi.
Sampai saat ini Simpatiku itu masih hidup, meski sudah jarang banget dipake sejak aku punya Halo. Biarin aja, sampe pulsanya habis, baru aku matikan.
Kartu ketiga adalah Halo. Aku pernah menulis bagaimana aku mendapatkan kartu itu. Meski ternyata sampai kartu itu bisa digunakan, ada beberapa prosedur yang agak ribet yang harus aku penuhi. Aku harus membuat surat keterangan bahwa aku memang pegawai Telkom, hanya karena aku minta tagihan dikirim ke kantor. Padahal aku udah lampirkan kartu pegawaiku. Kemudian aku juga harus melampirkan surat keterangan dari Ketua RT tempat aku tinggal, karena alamat KTP ku tidak sama dengan alamat tempat tinggalku sekarang. Yang lucu, ternyata tagihan tetap dikirim ke alamat rumah sesuai KTP. Jadi apa gunanya aku repot2 membuat 2 surat keterangan? Untungnya tukang anter tagihan masih berbaik hati meneleponku, karena dia tidak bisa menemukan aku di alamat KTP. Aku minta dia untuk mengantarkannya ke kantor. Aku juga menelepon ke Customer Care Telkomsel tentang perpindahan alamat tagihan tersebut. Untuk tagihan bulan berikutnya, alamat yang tercetak masih tetap alamat KTP. Tapi ada coret2an di amplopnya untuk diantar ke alamat kantorku.
O ya, dulu waktu aku jadi pelanggan Kartu Halo Palembang, aku mendapatkan semacam kartu keanggotaan. Dan dengan kartu tersebut, aku bisa mendapat diskon di beberapa tempat. Memang sih aku belum pernah memanfaatkan diskon2 itu, karena kartunya lupa aku simpan dimana. Tapi tetep aja asik mendapat kartu sejenis itu. Sekarang program kayak gitu nggak ada lagi ya?
Yang keempat adalah Xplore dari XL. Aku dapetin kartu ini secara gak sengaja, karena ditawarin gratis pada saat ada pameran ICT di Landmark tanggal 23 Maret yang lalu. Selain karena gratisnya itu, aku juga pengin tau kayak apa sih produknya XL. Aku pernah denger dari salah satu trainer pelatihan yang aku ikuti, bahwa sebenarnya operator telekomunikasi yang perlu diwaspadai TelkomGroup itu bukan Indosat, tapi XL. Salah satu sebabnya adalah karena XL beruntung mempunyai investor dari Malaysia yang memiliki niat baik untuk membesarkan XL. Tidak seperti investor dari Singapura yang hanya pengin mengeruk keuntungan.
Untuk menjadi pelanggan Xplore ternyata lebih mudah. Aku nggak diwajibkan mengisi tempat kerjaku. Dan mengenai alamat KTP dan alamat tempat tinggal yang berbeda pun tidak dipermasalahkan. Si petugas XL hanya mengatakan, kalo aku mau kartuku lebih cepat aktif, aku diminta melampirkan kartu keluarga. Tapi kalo nggak ada juga nggak papa, cuma kartunya jadi agak lebih lama aktifnya, mungkin sekitar 7 hari. Aku pikir, kalo beneran 7 hari aktif, itu sudah cukup cepat. Dibanding kartu Haloku yang sekitar 2 minggu baru bisa aktif.
Seminggu kemudian, aku coba kartu Xploreku. Memang sih udah aktif, tapi incoming only, belum bisa dipake outgoing. Meski udah lewat dari waktu yang dijanjikan, aku nggak komplain. Karena setau aku, belum pernah ada petugas XL yang survey ke rumah. Mungkin nanti setelah disurvey, baru deh bisa aktif beneran. Sekitar 2-3 hari kemudian, aku dikasih tau Mbak yang di rumah, bahwa tadi siang ada orang XL yang survey. Beberapa hari setelah itu, aku coba lagi kartu Xploreku, dan kali ini beneran bisa dipake. Jadi total waktu yang diperlukan untuk berlangganan adalah sekitar 2 minggu juga. Hampir sama dengan Kartu Halo. Tapi prosedurnya lebih simple, dan ada kebijakan dibuka dulu incomingnya, bahkan sebelum survey lapangan dilaksanakan.
Kalo dari layanannya, yang pertama aku lihat adalah kartu Xplore sudah memasukkan ke dalam address booknya, beberapa nomor layanan yang penting untuk pelanggannya. Seperti nomor Customer Service, nomor untuk cek pulsa, dll. Menarik juga. Kemudian ternyata Xplore sudah lebih dulu menerapkan sistem kuota bulanan, suatu fasilitas yang baru-baru ini diluncurkan Telkomsel dengan nama produk HaloHybrid. Bila aku punya kuota 100 ribu, kemudian kuota itu habis terpakai, maka aku harus membayar lebih dulu sebelum kartu Xploreku bisa aku pake lagi. Jadi pembayaran tidak harus dilakukan setelah mendapat tagihan bulanan. Tapi bila kuotaku nggak habis terpakai, aku hanya wajib membayar sejumlah pemakaian, dengan batas minimal pemakaian 25 ribu per bulan.
Keuntungan lain menjadi pelanggan XL adalah adanya program yang dinamakan XL Akses. Dengan menunjukkan kartu XL ku, aku bisa mendapat diskon di beberapa tempat. Asik juga ya. Tapi aku belum pernah pake fasilitas ini, karena aku belum hapal dimana lokasi2 diskon tersebut.
Apakah aku akan bertahan lama berlangganan Xplore? Mmm.. liat aja nanti.
Kartu lain yang aku punya adalah Fren. Aku beli kartu ini bukan karena iklannya mengatakan bisa telepon 1 jam cuma Rp 1388. Aku bukan orang yang bisa ngobrol lama-lama di telepon, jadi tawaran semacam itu tidak menarik buatku. Aku tertarik karena dia bilang layanan internetnya cuma Rp 0,45 per kb. Tapi ternyata aku salah. Untuk kartu pra bayar yang aku punya, tarif internet Rp 5 per kb, nggak beda dengan tarifnya Flexi Trendy. Kalo mau yang murah, kita harus pake Fren yang paska bayar. Ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Mau yang biasa Rp 2 per kb, atau mau yang paket sekian ratus ribu rupiah dengan kuota sekian Mb perbulan. Kelebihan kuota akan dicharge Rp 2 per kb. Kalo mau dapat tarif Rp 0,45 per kb, ambillah paket dengan kuota terbesar. Tapi aku nggak mau, karena biayanya masih cukup mahal buatku. Kalo nggak salah, Rp 900rb per bulan. Aku nggak segila itu pada internet.
Selain layanan internet berbasis volume itu, Fren juga menawarkan layanan berbasis waktu, bekerja sama dengan beberapa ISP. Jadi Fren hanya memfasilitasi linknya. Biayanya tentu saja berbeda, ada biaya yang harus dibayar ke Fren, dan ada yang harus dibayar ke ISP nya. Kira-kira Flexi bisa bikin kayak gini nggak ya? Soalnya layanan Telkomnet Instant via Flexi yang dulu sempat bisa, sekarang kayaknya nggak ada lagi tuh.
Fren juga menawarkan paket gratis pulsa tiap bulan dan bonus pulsa tiap isi ulang. Agak mirip dengan program bonus berbulan-bulan dari Flexi Trendy jaman dulu. Tapi Fren lebih cerdas, gratis dan bonus pulsa diberikan hanya jika nomor tersebut dalam kondisi aktif, bukan dalam masa tenggang. Beda dengan Flexi dulu, meski nggak pernah diisi pulsa, bonusnya tetap masuk. Dan karena biasanya aku isi pulsa Fren menjelang masa tenggangnya abis, otomatis aku nggak pernah dapat itu gratis dan bonus pulsa. Kayaknya bentar lagi nomor ini mati deh. Nggak cukup berharga untuk dipertahankan.
Kartu terakhir adalah 3 dari Hutchison. Aku tertarik beli ini karena iklannya yang cukup gencar. Dan meski dia operator baru di Indonesia, produknya sudah cukup siap. Area layanannya di Jawa sudah sangat luas. Bahkan di Purwokerto pun sudah bagus. Content-content yang ditawarkan sudah cukup banyak. Cuma sayangnya, meski lisensi yang dimilikinya adalah untuk 3G, nyatanya layanan itu baru bisa dinikmati di Jakarta. Untuk kota lain masih seperti GSM biasa. 3 juga menawarkan bonus pulsa menjadi 3 kali lipat. Meski program ini sudah diprotes BRTI, karena pada kenyataannya meski bonusnya sampai 3 kali lipat, tapi sebagian hanya bisa digunakan untuk sesama pelanggan 3. Kartu ini masih jarang aku pake. Kendalanya adalah karena handphonenya yang nggak ada. Males juga bolak-balik bongkar handphone untuk ganti kartu. Gak tau nih, mau dipertahankan apa nggak. Karena aku sebenarnya suka dengan nomornya.






Related Articles
No user responded in this post
Leave A Reply