Archive for » April, 2007 «

Dulu aku pernah nulis gimana aku sampe punya account di telkom.us. Awalnya emang terpaksa banget. Selanjutnya seperti ada semacam kewajiban untuk mengisinya, meski motivasinya hanya karena nggak enak ama Mas Admin. Tapi sebenarnya aku sering pundung, karena ngerasa tulisan2 aku itu gak bermutu dan gak sistematis. Apalagi kalo aku abis baca tulisan2 Mas Admin, bukannya tambah termotivasi, tapi malah jadi tambah males nulis. Kadang2 terpikir untuk mendelete blog ini. Tapi syukurlah sampe saat ini, niat itu belum terlaksana. Sekali lagi alasannya adalah gak enak ama Mas Admin. :-)

Dulu aku pernah nanya ke Mas Admin, boleh nggak aku ngajak temen2ku untuk bikin account di sini. Dia bilang boleh. Aku tanya lagi, boleh via milis alumni? Dia jawab, boleh, asal bukan milis formal. Tapi trus aku ragu sendiri. Karena di halaman awal telkom.us, ada daftar nama user2 yang sudah ada. Dan kebetulan namaku yang dimulai dengan huruf A berada paling atas. Secara aku ngerasa tulisan2ku nggak bagus, rasanya kok nggak enak kalo tulisan2 itu dibaca banyak orang. Jadi aku minta Mas Admin untuk menghapus namaku dari daftar itu. Dia menolak. Alasannya, makin banyak nama yang tercantum, akan mengundang orang lebih banyak daftar. Bener juga sih.. Tapi gimana ya, namanya nggak enak, ya tetep aja nggak enak.

Akhirnya aku hanya melakukan promosi Below The Line. Aku ajak beberapa temen dengan mengirim email ke alamat mereka, bukan via milis. Hasilnya nggak bagus. Dari 10 yang aku ajak, 6 orang nggak merespon, 1 orang merasa gak bisa nulis bagus, 1 orang merasa terlalu sibuk. 1 orang lagi bilang nggak mau bikin blog baru, karena blog dia yang lama pun dia nggak rajin update. Hanya 1 orang yang mau daftar. Tapi ujung-ujungnya dia enggan ngisi dengan tetap. Alasannya, fasilitas di telkom.us kurang menarik. Nggak bisa nambahin jam, nggak ada shout box, dll.

Itu terjadi beberapa bulan lalu. Beberapa hari kemarin, Mas Admin mengatakan sesuatu tentang user telkom.us yang gak nambah-nambah. Aku bilang ke dia, aku mau aja ngiklanin telkom.us, asal namaku dihapus dari halaman depannya. Kali ini dia mau mengabulkannya. Dia juga mau menambah beberapa theme baru.

Karena permintaanku sudah dipenuhi, aku jadi ngerasa punya hutang untuk mengiklankan telkom.us secara Above The Line. Jadi pada hari Kamis kemarin, sepulang pelatihan di Gerlong, aku mampir kantor. Aku tulis email yang aku kasih judul “Happy Blogging”, lalu aku kirim ke 3 milis alumni. Isinya informasi tentang site telkom.us. Setelah itu, tinggal nunggu hasilnya.

Besoknya, hari Jumat, aku masih melanjutkan pelatihan di Gerlong sampai siang. Setelah dari sana, aku harus melakukan beberapa hal di Kopegtel. Jadi baru sore sekitar jam 5 aku bisa buka email. Itu pun aku lakukan bukan di kantorku, tapi di kantor Supratman, sambil menunggu kuliah. Ternyata seharian ini nggak banyak respon terhadap email “Happy Blogging”. Ada 2 email nanya kenapa nggak bisa akses ke alamat telkom.us. 1 email cuma mengatakan terima kasih. 1 email lagi malah cuma menanyakan apa kabarku. Hanya 1 email yang bilang dia akan daftar. Sempet juga ada rasa kecewa. Tapi ya sutralah, kita kan gak bisa maksa orang untuk menuruti keinginan kita. Lalu aku kirim email lagi ke 2 milis lain. Tapi karena suatu alasan, aku gak yakin apakah emailku berhasil terkirim.

Setelah itu, aku baru mengemail Mas Admin, menanyakan apakah ada user baru di telkom.us. Dan jawabannya membuat aku terkejut karena 2 hal. Pertama karena dalam 1 hari user telkom.us bertambah sebanyak 100% lebih dari user eksisting selama ini. Padahal aku cuma memperkirakan penambahan sekitar 3 - 5 orang, sesuai respon email yang aku terima. Hal kedua yang juga nggak aku sangka, dia kayaknya seneng dengan penambahan user tersebut. Padahal dengan jumlah user yang melonjak itu, berarti dia harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk memelihara site telkom.us, secara ini adalah proyek pribadi dia. Tapi dia bilang, selama para user itu rajin menulis, dia nggak keberatan. Waktu aku bilang, gimana kalo nanti user telkom.us cuma didominasi temen2ku, dia juga bilang gak papa.

Heh heh heh.. kayaknya aku memang sulit mengerti jalan pikirannya. Tapi kalo itu membuat dia seneng, aku nggak keberatan untuk terus mengajak temen2ku ke site ini. Toh itu bukan sesuatu yang sulit, aku tinggal menulis email dan mengirimkannya. Kalo kemudian banyak yang mendaftar, menurut aku itu bukan karena sifat emailku provokatif, tapi karena kebetulan sebagian orang yang menerima emailku adalah para blogger juga (bahasa marketingnya: the fish are biting). Selama ini hal itu tak terdeteksi karena mereka bermain di dunia luar. Jadi siapa bilang orang Telkom nggak hobby blogging? :-)

Btw, hari Sabtu ini aku membaca tulisan dia tentang TelkomBlogging. Aku nggak tau apakah dia menulis itu sebelum atau setelah dia tau bahwa aku yang mempromosikan telkom.us.

Category: Life  5 Comments
23
Apr

Di suatu siang di suasana kantor yang membosankan. Terjadi percakapan yang (kira-kira) seperti ini:

Temenku : Main sudoku aja gih.

Aku : Apaan itu sudoku?

Temenku : Waaaa.. Gubrak..

(Ini nih salah satu hal yang sering bikin aku keki kalo aku nanya sesuatu ke temenku ini. Sering dia diam gak mau jawab. Atau bunyi jawabannya seperti tertulis di atas : “Waaaa.. Gubrak..” Seolah-olah aku telah melakukan kesalahan besar karena bertanya. Atau lain kali dia menjawab gini : “Kumaafkan ke-autis-anmu karena tidak tau hal itu.” Atau daripada menjawab, dia malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain yang sama sekali nggak nyambung. Huuh.. sebenarnya yang autis itu aku atau dia?)

Aku : Aku nggak tau sudoku. Apaan sih?

Temenku : Bulan lalu ada matematikawan yang menulis tentang sudoku. Aku bilang, sejak tahun 2005 orang awam sudah tau sudoku. Anak-anak pun udah jagoan main sudoku.

(So what?)

Aku : Aku bukan matematikawan. Aku bukan orang awam. Aku juga bukan anak-anak. Jadi wajar aja kalo aku gak tau sudoku.

Temenku : Cari di google aja gih.

Percakapan berakhir begitu aja. Sesuai perintah dia, aku search di google dengan kata kunci sudoku. Ternyata yang muncul banyak banget. Aku nggak tau mana yang harus aku baca, jadi aku klik yang paling atas. Ternyata masuk ke suatu blog. Aku pikir, kayaknya bukan ini yang dimaksud temenku. Dia mengatakan sesuatu tentang permainan matematika, bukan tentang blog. Karena waktu itu aku ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan, aku gak ngelanjutin pencarianku. Next time aja kali ya, kalo nggak lupa. :-P

Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan seorang temen lain yang baik hati. Kalo aku bertanya sesuatu ke dia, dia akan menjawabnya. Meski kadang-kadang pertanyaanku emang nggak penting. Jadi aku pun bertanya ke dia.

Aku : Pernah denger tentang sudoku?

Dia : Sudoku? Apaan itu?

(See.. bukan cuma aku yang gak tau sudoku).

Aku : Aku sendiri gak tau. Kayaknya sejenis permainan matematika gitu. Aku cari di google belum ketemu.

Dia : Cari di wikipedia aja. Ntar deh aku cariin.

(Tuh kan.. baik banget dia. Padahal dia gak harus nyariin. Aku bisa kok nyari sendiri. :-) )

Besoknya dia beneran kirim email ke aku tentang definisi sudoku yang dia dapat dari wikipedia sebagai berikut :

Sudoku (??, s?doku?) listen (help·info) is a logic-based number placement puzzle. The objective is to fill a 9×9 grid so that each column, each row, and each of the nine 3×3 boxes contains the digits from 1 to 9. The puzzle setter provides a partially completed grid.

Completed Sudoku puzzles are a type of Latin square, with an additional constraint on the contents of individual regions. Leonhard Euler is sometimes cited as the source of the puzzle, based on his work with Latin squares[1].

The modern puzzle was invented by an American, Howard Garns, in 1979 and published by Dell Magazines under the name “Number Place[2]. It became popular in Japan in 1986, when it was published by Nikoli and given the name Sudoku. It became an international hit in 2005.”

Oh itu tho yang dimaksud sudoku. Setelah nyoba link-link yang tersedia disitu, aku mendapatkan cara bermain sudoku yang baik dan benar. Dari tempat lain, aku juga menemukan situs yang menyediakan permainan sudoku di http://www.sudoweb.com. Ada beberapa tingkatan yang tersedia, dari mulai buat anak-anak sampai yang paling susah.

Ok deh temenku, lain kali kalo aku lagi iseng dan bosen, mungkin aku mau main ini. Puas? Puas? :-P

Category: Life  2 Comments

kartu2-telepon.jpg

Berniat pindah ke lain hati? Yee.. ya nggak lah. Kayaknya aku cuma terpengaruh seorang temen yang hobby mengkoleksi segala sesuatu. Dari mulai mainan, perangko, uang, cangkir, kartu telepon, dll. Itu baru koleksi yang terlihat. Ada juga koleksi dia yang nggak terlihat, misalnya ilmu.. dan penyakit.. Hihihi.. nggak ding, yang terakhir ini mah cuma becanda. Mana ada orang yang mau mengkoleksi penyakit. (Buat temenku, jangan marah ya. Kamu tau aku bakal sedih kalo kamu marah padaku. Halah!!! :-P )

Kali ini aku ingin membahas masing-masing kartu itu.

Yang pertama.. pasti dong.. Flexi. Alasan aku make produk ini tak lain dan tak bukan karena ini adalah produk perusahaanku sendiri. Gak etis banget kan kalo aku nggak make. Lha wong aku masih makan dari perusahaan ini kok. Apalagi dulu waktu Flexi baru dilaunching, aku sedang dinas di bagian penjualan. Gak mungkin kan aku jualan Flexi kalo aku sendiri nggak make. Apa kata dunia? Tapi misalnya.. misalnya nih.. aku bukan pegawai Telkom, apakah aku masih mau pake produk ini? Hmm.. nggak tau juga ya. Okelah, katanya teknologi CDMA itu punya beberapa kelebihan dibanding teknologi GSM. Mungkin ini bisa jadi alasan memilih Flexi. Kalo dari sisi harga untuk layanan suara dan SMS.. kayaknya nggak bisa jadi alasan memilih Flexi, secara ada operator CDMA lain yang bisa menawarkan harga lebih murah. Kualitasnya mungkin tidak sebagus Flexi, tapi kalo orang sudah memilih harga murah, biasanya dia juga sudah siap menerima konsekuensi kualitas yang rendah. Kalo dilihat dari kemampuannya untuk berinternet, juga nggak bisa jadi alasan memilih Flexi, karena ada operator CDMA lain yang menawarkan harga lebih murah. Mungkin yang bisa jadi alasan adalah inovasi-inovasi produknya, seperti Flexi Combo dan Flexi Milis. Meski sebenarnya untuk inovasi yang terakhir, aku belum merasakan manfaatnya. Alasan lain untuk memilih Flexi adalah karena Flexi adalah produk milik Telkom, perusahaan telekomunikasi milik bangsa Indonesia. Duh.. tapi harree gene, orang kan malah cenderung lebih bangga menggunakan produk import.

Kartu kedua yang aku punya adalah Simpati. Dulu aku beli kartu ini waktu awal2 datang ke Bandung. Karena aku belum punya identitas Bandung sehingga nggak bisa mendaftar layanan paska bayar, aku hanya bisa mempunyai kartu pra bayar. Cukup lama juga kartu ini aku pake, hampir 3 tahun. Dengan memakai kartu ini, aku juga bisa menjadi anggota SimpatiZone. Aku beberapa kali mendapat kiriman buletin SimpatiZone. Di dalamnya sering ada kuis-kuis yang hadiahnya antara lain kesempatan untuk menonton konser2. Aku memang nggak pernah ikutan kuis itu. Tapi kayaknya cara Simpati menjaga hubungan dengan para penggunan setianya perlu ditiru oleh Flexi. :-)

Sampai saat ini Simpatiku itu masih hidup, meski sudah jarang banget dipake sejak aku punya Halo. Biarin aja, sampe pulsanya habis, baru aku matikan.

Kartu ketiga adalah Halo. Aku pernah menulis bagaimana aku mendapatkan kartu itu. Meski ternyata sampai kartu itu bisa digunakan, ada beberapa prosedur yang agak ribet yang harus aku penuhi. Aku harus membuat surat keterangan bahwa aku memang pegawai Telkom, hanya karena aku minta tagihan dikirim ke kantor. Padahal aku udah lampirkan kartu pegawaiku. Kemudian aku juga harus melampirkan surat keterangan dari Ketua RT tempat aku tinggal, karena alamat KTP ku tidak sama dengan alamat tempat tinggalku sekarang. Yang lucu, ternyata tagihan tetap dikirim ke alamat rumah sesuai KTP. Jadi apa gunanya aku repot2 membuat 2 surat keterangan? Untungnya tukang anter tagihan masih berbaik hati meneleponku, karena dia tidak bisa menemukan aku di alamat KTP. Aku minta dia untuk mengantarkannya ke kantor. Aku juga menelepon ke Customer Care Telkomsel tentang perpindahan alamat tagihan tersebut. Untuk tagihan bulan berikutnya, alamat yang tercetak masih tetap alamat KTP. Tapi ada coret2an di amplopnya untuk diantar ke alamat kantorku.

O ya, dulu waktu aku jadi pelanggan Kartu Halo Palembang, aku mendapatkan semacam kartu keanggotaan. Dan dengan kartu tersebut, aku bisa mendapat diskon di beberapa tempat. Memang sih aku belum pernah memanfaatkan diskon2 itu, karena kartunya lupa aku simpan dimana. Tapi tetep aja asik mendapat kartu sejenis itu. Sekarang program kayak gitu nggak ada lagi ya?

Yang keempat adalah Xplore dari XL. Aku dapetin kartu ini secara gak sengaja, karena ditawarin gratis pada saat ada pameran ICT di Landmark tanggal 23 Maret yang lalu. Selain karena gratisnya itu, aku juga pengin tau kayak apa sih produknya XL. Aku pernah denger dari salah satu trainer pelatihan yang aku ikuti, bahwa sebenarnya operator telekomunikasi yang perlu diwaspadai TelkomGroup itu bukan Indosat, tapi XL. Salah satu sebabnya adalah karena XL beruntung mempunyai investor dari Malaysia yang memiliki niat baik untuk membesarkan XL. Tidak seperti investor dari Singapura yang hanya pengin mengeruk keuntungan.

Untuk menjadi pelanggan Xplore ternyata lebih mudah. Aku nggak diwajibkan mengisi tempat kerjaku. Dan mengenai alamat KTP dan alamat tempat tinggal yang berbeda pun tidak dipermasalahkan. Si petugas XL hanya mengatakan, kalo aku mau kartuku lebih cepat aktif, aku diminta melampirkan kartu keluarga. Tapi kalo nggak ada juga nggak papa, cuma kartunya jadi agak lebih lama aktifnya, mungkin sekitar 7 hari. Aku pikir, kalo beneran 7 hari aktif, itu sudah cukup cepat. Dibanding kartu Haloku yang sekitar 2 minggu baru bisa aktif.

Seminggu kemudian, aku coba kartu Xploreku. Memang sih udah aktif, tapi incoming only, belum bisa dipake outgoing. Meski udah lewat dari waktu yang dijanjikan, aku nggak komplain. Karena setau aku, belum pernah ada petugas XL yang survey ke rumah. Mungkin nanti setelah disurvey, baru deh bisa aktif beneran. Sekitar 2-3 hari kemudian, aku dikasih tau Mbak yang di rumah, bahwa tadi siang ada orang XL yang survey. Beberapa hari setelah itu, aku coba lagi kartu Xploreku, dan kali ini beneran bisa dipake. Jadi total waktu yang diperlukan untuk berlangganan adalah sekitar 2 minggu juga. Hampir sama dengan Kartu Halo. Tapi prosedurnya lebih simple, dan ada kebijakan dibuka dulu incomingnya, bahkan sebelum survey lapangan dilaksanakan.

Kalo dari layanannya, yang pertama aku lihat adalah kartu Xplore sudah memasukkan ke dalam address booknya, beberapa nomor layanan yang penting untuk pelanggannya. Seperti nomor Customer Service, nomor untuk cek pulsa, dll. Menarik juga. Kemudian ternyata Xplore sudah lebih dulu menerapkan sistem kuota bulanan, suatu fasilitas yang baru-baru ini diluncurkan Telkomsel dengan nama produk HaloHybrid. Bila aku punya kuota 100 ribu, kemudian kuota itu habis terpakai, maka aku harus membayar lebih dulu sebelum kartu Xploreku bisa aku pake lagi. Jadi pembayaran tidak harus dilakukan setelah mendapat tagihan bulanan. Tapi bila kuotaku nggak habis terpakai, aku hanya wajib membayar sejumlah pemakaian, dengan batas minimal pemakaian 25 ribu per bulan.

Keuntungan lain menjadi pelanggan XL adalah adanya program yang dinamakan XL Akses. Dengan menunjukkan kartu XL ku, aku bisa mendapat diskon di beberapa tempat. Asik juga ya. Tapi aku belum pernah pake fasilitas ini, karena aku belum hapal dimana lokasi2 diskon tersebut. :-) Apakah aku akan bertahan lama berlangganan Xplore? Mmm.. liat aja nanti.

Kartu lain yang aku punya adalah Fren. Aku beli kartu ini bukan karena iklannya mengatakan bisa telepon 1 jam cuma Rp 1388. Aku bukan orang yang bisa ngobrol lama-lama di telepon, jadi tawaran semacam itu tidak menarik buatku. Aku tertarik karena dia bilang layanan internetnya cuma Rp 0,45 per kb. Tapi ternyata aku salah. Untuk kartu pra bayar yang aku punya, tarif internet Rp 5 per kb, nggak beda dengan tarifnya Flexi Trendy. Kalo mau yang murah, kita harus pake Fren yang paska bayar. Ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Mau yang biasa Rp 2 per kb, atau mau yang paket sekian ratus ribu rupiah dengan kuota sekian Mb perbulan. Kelebihan kuota akan dicharge Rp 2 per kb. Kalo mau dapat tarif Rp 0,45 per kb, ambillah paket dengan kuota terbesar. Tapi aku nggak mau, karena biayanya masih cukup mahal buatku. Kalo nggak salah, Rp 900rb per bulan. Aku nggak segila itu pada internet. :-) Selain layanan internet berbasis volume itu, Fren juga menawarkan layanan berbasis waktu, bekerja sama dengan beberapa ISP. Jadi Fren hanya memfasilitasi linknya. Biayanya tentu saja berbeda, ada biaya yang harus dibayar ke Fren, dan ada yang harus dibayar ke ISP nya. Kira-kira Flexi bisa bikin kayak gini nggak ya? Soalnya layanan Telkomnet Instant via Flexi yang dulu sempat bisa, sekarang kayaknya nggak ada lagi tuh.

Fren juga menawarkan paket gratis pulsa tiap bulan dan bonus pulsa tiap isi ulang. Agak mirip dengan program bonus berbulan-bulan dari Flexi Trendy jaman dulu. Tapi Fren lebih cerdas, gratis dan bonus pulsa diberikan hanya jika nomor tersebut dalam kondisi aktif, bukan dalam masa tenggang. Beda dengan Flexi dulu, meski nggak pernah diisi pulsa, bonusnya tetap masuk. Dan karena biasanya aku isi pulsa Fren menjelang masa tenggangnya abis, otomatis aku nggak pernah dapat itu gratis dan bonus pulsa. Kayaknya bentar lagi nomor ini mati deh. Nggak cukup berharga untuk dipertahankan. :-)

Kartu terakhir adalah 3 dari Hutchison. Aku tertarik beli ini karena iklannya yang cukup gencar. Dan meski dia operator baru di Indonesia, produknya sudah cukup siap. Area layanannya di Jawa sudah sangat luas. Bahkan di Purwokerto pun sudah bagus. Content-content yang ditawarkan sudah cukup banyak. Cuma sayangnya, meski lisensi yang dimilikinya adalah untuk 3G, nyatanya layanan itu baru bisa dinikmati di Jakarta. Untuk kota lain masih seperti GSM biasa. 3 juga menawarkan bonus pulsa menjadi 3 kali lipat. Meski program ini sudah diprotes BRTI, karena pada kenyataannya meski bonusnya sampai 3 kali lipat, tapi sebagian hanya bisa digunakan untuk sesama pelanggan 3. Kartu ini masih jarang aku pake. Kendalanya adalah karena handphonenya yang nggak ada. Males juga bolak-balik bongkar handphone untuk ganti kartu. Gak tau nih, mau dipertahankan apa nggak. Karena aku sebenarnya suka dengan nomornya. :-)

Category: Life  Leave a Comment

Kompas, Kamis, 19 April 2007

Toto Suparto 

Kesadaran moral dalam bahasa sehari-hari disebut suara hati. Manusia berkesadaran moral sama dengan mempunyai suara hati. Mereka mempertimbangkan tindakan dengan hati. Atas bimbingan suara hati, muncul keberanian yang membawanya kepada pilihan bernilai. Seperti pernah dikemukakan teolog John Henry Newman dalam suara hati, kita menyadari, kita wajib mutlak melakukan yang baik dan benar serta menolak yang tidak baik dan tidak benar. Suara hati bagai panggilan suatu realitas personal yang berkuasa atas diri kita yang, jika kita mengikutinya, membuat kita merasa bernilai, aman, dan sedia untuk menyerah (Franz Magnis-Suseno, 2006:175). Bagi orang bersuara hati, ia akan malu jika melakukan perbuatan tak bermoral. Ia akan malu jika membiarkan ada perbuatan tak bermoral di sekitarnya. Tentu bisa saja dibalik, orang yang suka perbuatan tak bermoral berarti tak bersuara hati. Atau, orang yang membiarkan perbuatan tak bermoral berlangsung di sekitarnya berarti tak bersuara hati. Inilah yang sering disebut ketumpulan suara hati. Ibarat pisau, ketumpulan terjadi karena jarang digunakan atau enggan diasah. Jika tiap tindakan selalu dipertimbangkan dengan suara hati, berarti seseorang sedang mengasah diri untuk menuju keutamaan moral.

Aristoteles dalam Nicomachean Ethics mengemukakan, keutamaan terdiri dari dua jenis, yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan moral.

Keutamaan intelektual berasal dan berkembang terutama karena pengajaran. Sedangkan keutamaan moral dibentuk oleh kebiasaan, etos, dan istilah etik.

Keutamaan kita peroleh pertama-tama dengan melakukannya. Dari Aristoteles itu kita seharusnya menyadari, kita menjadi baik dengan berbuat baik. Artinya, jangan harap ada perbuatan baik jika tak dibiasakan berbuat baik. Dalam keseharian kita tak akan dibiasakan berbuat baik jika mengabaikan kode moral yang ada.

Kode moral suatu masyarakat menentukan apa yang benar dalam masyarakat itu. Artinya, jika kode moral suatu masyarakat mengatakan bahwa sesuatu tindakan adalah benar, berarti tindakan itu memang benar, paling tidak untuk masyarakat itu (Rachels, 2003).

Memilih bungkam

Marilah kita lihat teori moral itu dalam keseharian. Kita bisa mengambil kasus IPDN, maka akan muncul keheranan besar, bagaimana mungkin perbuatan tak bermoral—di antaranya berbentuk kekerasan—bisa berlangsung lama? Kita heran, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tak kalah heran. Saat mengunjungi Kampus IPDN, ia heran, mengapa para pengajar di institusi pendidikan itu tidak tahu telah dan tengah berlangsung tindak kekerasan di sana?

Jangan-jangan pengajar maupun praja lebih memilih bungkam atau tidak mau tahu atas tindak kekerasan itu demi “amannya” periuk nasi atau risiko keselamatan. Patut direnungkan: “Atas bimbingan suara hati, muncul keberanian untuk membawanya kepada pilihan bernilai.” Kebanyakan pengajar maupun praja di IPDN tidak mencapai pilihan bernilai karena ketumpulan suara hati. Mereka telah kehilangan kesadaran moral.

Akibatnya bagi mereka yang bersuara hati dianggap anomali. Rekan-rekannya mencibir mereka sebagai “pahlawan kesiangan”, bahkan bisa jadi “pengkhianat”. Silakan tanyakan kepada Inu Kencana Syafei dan Handi Asikin, dua pengajar IPDN, yang berani bersuara mengabarkan kekerasan di institut itu. Jika tak ada Inu dan Handi, borok lembaga ini selalu tertutup rapi. Namun, Inu dan Handi bukan tanpa risiko saat memilih suara hati.

Inu terhitung berani. Ia rinci menceritakan praktik kekerasan di IPDN. Bahkan, aib itu dituangkan dalam disertasi doktornya. Keberanian ini harus dibayar mahal, yakni ia sempat tidak boleh mengajar. Handi juga sempat kena skorsing untuk tidak mengajar di IPDN. Ia menduga skorsing itu akibat keberaniannya memaparkan fakta kepada pers dan polisi.

Ketumpulan suara hati

Persoalan di negeri ini adalah sedikit sekali orang seperti Inu dan Handi. Ada kode moral, tetapi lebih banyak diabaikan semata-mata mengikuti kebiasaan keliru. Bagi kebanyakan orang adalah mengalami ketumpulan suara hati.

Kasus IPDN hanya potret kecil dari buramnya kehidupan berbangsa ini. Kita sedang mengalami bencana besar, yang tidak disadari oleh kebanyakan orang, yakni berupa kehilangan kesadaran moral itu. Ketumpulan suara hati nyaris terjadi di mana-mana. Para pemimpin mengalami ketumpulan suara hati sehingga tega membiarkan korban lumpur Lapindo berlarut-larut dalam duka. Sebaliknya, masyarakat mengalami ketumpulan suara hati sehingga menggunakan kegiatan anarki untuk mewujudkan tuntutannya.

Jangan biarkan ketumpulan suara hati kian berkarat. Kita wajib merawat keutamaan moral. Dari keluarga, berkembang kepada tetangga, meluas sampai masyarakat, dan diharapkan hingga kehidupan bernegara.

Kita butuh teladan, dan para pemimpinlah layak jadi teladan. Di sinilah tugas berat seorang pemimpin, dirinya harus menunjukkan kesadaran moral. 

Toto Suparto, Peneliti Puskab Yogyakarta  

Category: Sharing  Leave a Comment

Kemarin aku melakukan perjalanan dinas ke Kandatel Cianjur. Ini adalah perjalanan dinasku yang pertama ke kandatel sejak aku masuk DIVRE III bulan April 2004. Kok bisa? Ya bisa aja, kenapa enggak.

Jadi dari dulu aku belum pernah dinas keluar kota? Yee.. bukannya gitu. Aku pernah beberapa kali dinas keluar kota, tapi bukan ke kandatelnya. Aku pernah ikutan rapat atau workshop atau pelatihan atau apapun namanya di daerah Cipanas Cianjur. Pernah juga ke daerah Ciater Subang. Pernah juga ke daerah Cipanas Garut. Tapi yang beneran datang ke kandatelnya ya baru kemarin itu di Cianjur.

Di luar pekerjaan, aku pernah datang ke Cirebon dalam rangka jadi supporter tim bola volley putri Kandivre (halah.. gak elit banget, jauh2 ke Cirebon bukan sebagai pemain inti, tapi cuma jadi supporter. Biarin.. yang penting jalan-jalan). Aku juga pernah mampir ke kantor Telkom Tasikmalaya, numpang sholat setelah pergi ama temen-temen ke Pangandaran, sebelum kejadian Tsunami (halah lagi.. lebih gak elit lagi, jalan-jalan lagi).

Dulu waktu aku masih di bidang Busdev, sebenarnya banyak kesempatan untuk datang ke Kandatel. Karena waktu itu pekerjaan utama kami adalah perencanaan jaringan, tentu diperlukan banyak survey dan pengawasan ke lokasi pembangunan. Tapi aku nggak pernah pergi. Sekali waktu aku yang diberi tugas untuk mengatur jadwal dan personil yang harus melakukan survey ke seluruh wilayah DIVRE III, tapi tidak satu kalipun aku memasukkan namaku sendiri. Sampai-sampai ada temenku yang komentar : ”Kasian Anis ya, memberangkatkan orang kemana-mana, tapi dia sendiri nggak berangkat.” Wah.. ternyata dia cuma memandang dari segi pendapatan. Memang sih, semakin sering melakukan perjalanan dinas, otomatis semakin banyak tambahan pendapatan bagi orang tersebut. Padahal kalo buat aku sendiri, itu nggak terlalu penting. Buat apa dapat tambahan income kalo badan sakit-sakit. Ya, aku memang termasuk gampang mabok darat. Ntar malah merepotkan temen seperjalanan. Ada lagi alasan lain. Aku merasa tidak kompeten dalam hal survey-mensurvey lapangan. Ntar malah hasilnya nggak akurat dan menghasilkan perencanaan yang sembarangan. Jadi biarlah para bapak-bapak ahli lapangan aja yang jalan-jalan. :-)

Jadi pengin flash back. Dulu pada saat awal-awal jadi pegawai Telkom, aku bertugas di unit Manajemen Mutu di Kandatel Sumbagsel. Yang lagi top di Telkom saat itu adalah program sertifikasi ISO 9000. Aku selain jadi anggota tim development, juga jadi auditornya. Kerjaan itu membuat aku sering pergi ke daerah. Sedikit keterangan,  Kandatel Sumbagsel merupakan hasil merger dari 5 kandatel : Kandatel Palembang, Kandatel Jambi, Kandatel Bengkulu, Kandatel Baturaja dan Kandatel Pangkalpinang. Wilayahnya mencakup 4 propinsi : Propinsi Sumatera Selatan, Propinsi Jambi, Propinsi Bengkulu dan Propinsi Bangka Belitung. Kantor cabangnya kalo nggak salah sekitar 26 buah. Jadi sebenarnya wilayah DIVRE III yang cuma mencakup sebagian Jawa Barat dan sebagian Banten itu nggak ada apa-apanya.

Dulu aku semangat-semangat aja disuruh keliling ke daerah. Memang sih belum semua kantor cabang itu sempet aku datengin. Dan aku rasanya asik-asik aja, meski sekali-sekali pake acara mabok darat. Terutama kalo harus ke Kancatel Kepahyang di wilayah Bengkulu (dari namanya aja udah ketauan, jalan kesana bikin mabok kepayang, belok-beloknya bikin capek dehh). Mungkin karena masih baru kerja ya, jadi rasa ingin taunya masih tinggi banget. Mungkin juga karena itu di wilayah Sumatra, tanah rantau. Enaknya lagi, karena aku sering keliling, aku jadi mengenal dan dikenal banyak orang. Dan itu sangat menguntungkan, secara aku adalah pegawai baru.

Sekarang rasanya aku tidak sesemangat dulu lagi. Kalo bukan main job aku dan masih bisa dikerjain orang lain, aku tidak berminat mengajukan diri untuk pergi. Tapi acara ke Cianjur kali ini beda, karena memang termasuk main job aku. Semua orang kebagian tugas ke kandatel yang berbeda. Sebenarnya asik juga sih, aku bisa ketemu orang-orang yang  belum pernah aku temui selama ini, bisa mendapat cerita yang berbeda dari hari-hari biasa. Tapi teuteup.. mabok daratnya muncul juga. Pulang kembali ke Bandung sekitar jam 8 malam. Huuh.. jadi bolos kuliah deh..

Category: Travel  Leave a Comment