Aku belum pernah mendengar penulis bernama Akmal Nasery Basral. Maklum, aku
kan kuper
. Tapi judul bukunya lucu, memunculkan rasa ingin tau. Aku sempat menduga ceritanya tentang seseorang dengan alien yang hidup di kepalanya. Atau mungkin tentang sisi lain dari seseorang, yang jauh berbeda dengan yang biasa muncul di kehidupannya sehari-hari. Aku membalik buku itu, di cover belakangnya ada beberapa komentar, antara lain dari Ahmad Tohari (sastrawan) dan Andrea Hirata (novelis). Hmm.. kayaknya gak akan mengecewakan. Yang pasti bukan tipe buku berakhiran lit-lit gitu deh..
Setelah aku baca, ternyata dugaanku gak terlalu meleset. Ceritanya adalah tentang Nila, yang sering mengalami sakit kepala serasa ditusuk ratusan jarum, yang membuat dia membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Bila dia sudah merasa lemas atau pingsan, muncul halusinasi berwujud gadis cantik atau lelaki tampan. Dan halusinasi itu memprovokasi dia, mengubah Nila yang semula merupakan wanita penurut, menjadi pembunuh suami dan anaknya sendiri.
Lho kok jadi kayak berita kriminal di koran-koran? Apa mungkin karena penulisnya adalah wartawan Majalah Tempo? Hmm.. kalo semua cerita di buku ini tipenya gitu semua, kayaknya gak akan asik deh.
Eh aku belum bilang ya, buku ini adalah kumpulan cerpen. Ada 13 cerpen, 12 di antaranya sudah pernah dimuat di koran, hanya ada 1 cerpen yang ditulis khusus untuk buku ini. ”Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku” adalah judul cerpen pertama.
Aku lanjut ke cerpen kedua. Judulnya ”Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia.” Ceritanya tentang Midun dan Halimah. Terdengar familiar ya? Tentu saja, karena nama itu sama dengan nama tokoh dalam buku ”Sengsara Membawa Nikmat” karya Tulis Sutan Sati. (Aku lupa itu termasuk sastra angkatan berapa.) Bedanya, Midun dan Hamidah yang ini adalah tokoh dalam novel yang sedang ditulis oleh Sutan Sampono Kayo. Yang lucu, si Midun merasa tidak puas dengan jalan cerita yang disusun oleh si penulis. Saking kecewanya, dia berniat membunuh si penulis. Halimah tidak setuju dengan gagasan tersebut. Karena tidak mendapat dukungan, Midun merasa kecewa dan minum minuman keras sampai mabuk. Dan ajaib, di ”dunia nyata” si penulis Sutan Sampono Kayo ditemukan meninggal karena stroke. Menurut dokter, penyebab stroke adalah karena over dosis minuman. Cerita yang aneh, tapi unik.
Tapi kok masih tentang kematian? Belakangan aku baru tau setelah membaca Memoria penulis di akhir buku ini, bahwa sebagian besar cerpen-cerpennya memang berbau kematian. Yang pertama menyadari hal itu bukan Akmal sendiri, tapi istrinya. Kata Akmal, hal ini mungkin disebabkan karena dalam 2 tahun terakhir (tahun 2004 dan 2005), kematian adalah tamu terakrab di keluarganya. Dari mulai meninggalnya kakeknya, ibunya, tantenya dan ayahnya. ”Empat kematian yang menimbulkan lengang yang panjang”, tulis Akmal.
Lanjut ke cerpen ketiga. Judulnya ”Dilarang Bercanda dengan Kenangan.” Kisahnya tentang pertemuan kembali Johan dan Aida di bumi Aceh paska Tsunami, tahun 2006. Johan adalah humas sebuah perusahaan yang memberi bantuan kepada korban. Sedangkan Aida adalah sukarelawati dari Irak. Cerita flash back ke awal pertemuan mereka pada tahun 1997, di Kensington London, saat momen pemakaman Lady Diana. Johan sedang mendapat beasiswa kursus singkat kehumasan di Leeds. Karena ingin merasakan aura kesedihan akibat meninggalnya putri kesayangan warga Inggris tersebut, Johan pun pergi ke London. Dia berharap bisa menginap di rumah pamannya, tapi ternyata pamannya sedang ke Jakarta. Padahal dia tidak punya cukup uang untuk menginap di hotel. Johan bertemu dengan Khaleeda, atau Aida, wartawati Irak yang bekerja untuk koran Yordania. Aida tertarik mewawancara Johan karena melihat dia berbeda di antara kerumunan ribuan manusia yang sedang berkabung. Selesai wawancara, dan mengetahui kesulitan Johan, Aida menawarkan Johan untuk ngobrol sambil menunggu pagi di kamar hotelnya. Johan akhirnya menerima tawaran itu. Karena 2 tokoh diceritakan beragama Islam, maka gak terjadi ”hal-hal” yang biasanya ada dalam cerita Barat. Aida tidur di tempat tidur, dan Johan tidur di sofa. Tapi perasaan Johan tergambar dalam kalimat berikut : “Aku pejamkan mata, mencoba melalui beberapa jam tersulit dalam hidupku sebagai lelaki. Ya Tuhan, bagaimanakah caranya Yusuf ketika berpaling dari godaan Zulaikha? Bantu aku!”
Besoknya, Johan menemani Aida pergi ke kediaman keluarga Spencer di Althorp, dan sorenya ke daerah Surrey untuk melihat makam Dodi di Brookwood (duh.. dimana ya letak tempat-tempat itu?). Malamnya kembali mereka tidur di kamar Aida. Besok harinya, mereka masih bersama, jalan-jalan ke musemum Madame Tussaud dan Istana Buckingham. Dan malamnya sekali lagi mereka di kamar Aida. Esok harinya, mereka memutuskan untuk berpisah, karena merasa tidak bisa lagi ”melanjutkan keakraban yang aneh dan tidak berpola” tersebut. Setelah itu, mereka tidak pernah bertemu lagi.
Sampai akhirnya takdir menemukan mereka kembali di Aceh. Sayangnya, itu gak berarti mereka akhirnya bersatu. Tapi lumayanlah, meski ending ceritanya gak begitu happy, setidaknya tokoh ceritanya gak mati. Yang mati tokoh lain, Lady Di dan Dodi. Kalo itu mah emang mati beneran di dunia nyata, bukan dikarang oleh penulis.
Sepuluh cerpen yang lain, baca sendiri aja ya. Gak seru kan kalo aku ceritain di sini semua. Lagian.. aku belum selesai membaca ke-13-13-nya. Kan baru beli hari Rabu kemarin. Sambil menunggu jam kuliah, aku mampir dulu di toko buku. Seperti biasa, yang akhirnya dibeli berbeda dengan yang sebelumnya dicari.
O ya, satu hal lagi yang unik di buku ini adalah penyajiannya. Misalnya gini nih, pada saat menggambarkan Nila yang membenturkan kepalanya ke tembok, ada satu halaman buku yang hanya bertuliskan ”Buk!” di tengah-tengahnya. Trus pada saat dia akhirnya pingsan, ada dua halaman yang cuma diberi warna hitam kelam, tanpa tulisan apapun. Ada lagi nih. Pada saat istri Sutan Samponyo Kayo menjerit karena menemukan suaminya meninggal, ada gambar beberapa huruf A dari ukuran kecil sampai besar keluar dari sebuah rumah kecil. Kayak kartun aja.
Jadi kesimpulannya… gitu dehhh. Mengutip tulisan Andrea Hirata : ”Akmal berhasil membuat konterks-konteks kecil cerita yang menawan dari esensi ide-ide yang sangat besar.” Duh.. aku harap nantinya aku bisa membuat kalimat-kalimat menarik seperti itu.
Btw, setelah membaca buku ini, kayaknya aku jadi berminat mencari buku Akmal yang lain. Judulnya ”Imperia”. Tapi nanti aja kali ya, aku mau nyelesaiin buku yang ada dulu.






Related Articles
No user responded in this post
Leave A Reply