Archive for » February, 2007 «

Namanya Pak AJ. Spesialisasinya adalah Keuangan. Beliau mengajar sub modul Financial Accounting, Cost Accounting, Financial Management, dan saat ini International Finance.

Jujur aja, subject tentang Keuangan bukan favoritku. Satu-satunya hal yang aku tau dengan baik tentang uang adalah membelanjakannya :-P. Tapi bapak ini merupakan salah satu dosen yang aku kagumi. Tiap kali kami harus ngisi lembaran feedback tentang dosen-dosen yang sudah mengajar kami pada saat selesainya 1 sub modul, aku selalu memberi nilai 5 (nilai tertinggi) untuk bapak ini. Di semua item penilaian. Dari mulai penguasaan dan penyampaian materi, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan membuat kelas menjadi aktif, manajemen waktu, dll.

Sebenarnya sih, kalo urusan penguasaan materi, semua dosen pasti mampu. Kalo nggak mampu, kan nggak akan lulus tes menjadi dosen. Tapi dari sekian yang mampu menguasai materi itu, tidak semua bisa menyampaikannya dengan baik dan menarik. Belum lagi tentang manajemen waktu. Ada beberapa dosen yang penginnya cepet-cepet selesai mengajar sebelum waktunya habis. Sebenarnya sih kami seneng-seneng aja pulang lebih cepet. Tapi kalo dipikir-pikir, itu berarti kami tidak mendapat hak kami yang seharusnya sebagai mahasiswa, hak kami untuk menerima materi kuliah yang sudah tercantum dalam silabus. Mungkin dosen tipe ini menganggap kami sudah cukup dewasa untuk belajar sendiri. Tetep aja kelakuan dosen itu terasa menyebalkan buatku.

But.. Stop mengeluh. Toh aku sendiri yang memilih tempat kuliah ini. Jadi aku harus bersedia menerima semua konsekuensinya. Lagipula, siapa yang bisa menjamin bahwa tempat lain akan lebih baik. Ibaratnya, aku udah berada di titik dimana aku nggak bisa berbalik lagi. Aku udah menaiki anak tangga, dan apapun yang terjadi, aku harus terus sampai puncak tangga itu. (halah.. gayanya sok semangat gitu).

Kembali ke Pak AJ. Menurutku, bapak ini beneran hebat. Beliau bukan sekedar mengajar, tapi juga berusaha memastikan bahwa kami paham apa yang diajarkan. Beliau selalu mengajak kami banyak mengerjakan latihan dan kasus. Dan bila dalam satu sub modul kami diajar oleh beberapa dosen, beliau selalu berusaha mereview apa yang telah diajarkan dosen lain, memastikan bahwa tidak ada materi yang terlewat. Dan selama mengajar, senyum hampir selalu ada di wajahnya. (Padahal kalo beliau senyum, matanya langsung hilang :-) ).

Bapak ini juga suka banget cerita sambil ngajar. Banyak hal yang beliau ceritakan. Pengalaman-pengalaman beliau, atau orang-orang dekat beliau, atau orang-orang yang beliau kenal, yang berkaitan dengan hal-hal yang sedang kami bahas di kelas. Misalnya pada saat pembahasan tentang investasi yang pada prinsipnya ”high return, high risk”, beliau cerita betapa banyak orang yang tertipu karena iming-iming bunga tinggi, tapi akhirnya uangnya dibawa kabur orang. Beliau pernah cerita tentang strategi bermain valas, supaya tidak terlalu merugi, sebaiknya bermain dalam dua currency. Sehingga kerugian di satu currency akan bisa ditutup dari keuntungan currency yang lain. Beliau pernah cerita tentang pergerakan harga saham di bursa, bagaimana sebuah corporate action bisa mengubah harga saham.

Beliau pernah juga cerita pengalamannya mengajar di kampus lain. Rupanya beliau mengajar di banyak tempat. Selain di kampusku, beliau mengajar di Unpad, Unpar, Maranatha, dan mungkin tempat lain juga. Beliau cerita bedanya mahasiswa Maranatha dan Unpad, dan bagaimana dia menerapkan sistem mengajar yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi mahasiswa yang ada. Pada saat mengajar tentang enterpreneur, beliau pernah dikomplain mahasiswa Maranatha, kenapa mahasiswa Unpad banyak diberi text book tapi mahasiswa Maranatha tidak. Trus beliau jelasin ke mahasiwa Maranatha, bahwa tanpa text book pun, mahasiswa Maranatha sudah ahli secara alami. Karena umumnya mahasiswa Maranatha berasal dari keluarga bisnis.

Dari cerita-cerita beliau tentang keluarga dan teman-temannya, aku lihat beliau berasal dari kalangan bisnis, kalangan orang-orang yang terbiasa berspekulasi, mengambil resiko yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi. Sempat timbul juga rasa heran di hatiku, kenapa bapak ini memilih jadi dosen yang, seperti kita ketahui sama-sama, tidak akan menghasilkan income yang mengesankan. Ternyata yang penasaran seperti itu bukan cuma aku. Salah satu temen kami melontarkan pertanyaan kepada beliau, kenapa beliau tidak seperti keluarga dan teman-temannya yang lain. Dan jawaban beliau sederhana, karena beliau merasa tidak cukup berani untuk mengambil resiko. Beliau cerita bahwa beliau tidak suka punya hutang di bank. Meski beliau juga punya usaha, tapi beliau hanya memakai modal sendiri. Kalo hanya mampu beli mesin kecil, ya itulah yang beliau beli. Beliau membeli mesin besar pada saat uangnya sudah cukup untuk itu, tanpa pinjaman dari bank. Bahkan kartu kredit yang dia punyai pun batasnya sangat kecil (lebih kecil dari kartu kredit aku). Padahal kalo beliau mau, beliau bisa mendapat 7-8 kali dari batas yang sekarang, karena kepala cabang bank tempat kartu kreditnya adalah sahabat beliau. Beliau pernah minta batas kartu kreditnya dinaikkan pada saat benar-benar membutuhkan, dan untuk bulan depannya minta diturunkan lagi ke batas semula. Hhhmm.. suatu kesederhanaan yang layak dicontoh.

Aku pernah melakukan suatu kebandelan kepada beliau. Ceritanya gini. Di suatu Jumat malam, aku mau pulang ke Purwokerto. Sebenarnya bukan sekali ini aku harus bolos kuliah demi bisa pulang, dan rasanya biasa aja. Tapi itu dulu pada saat awal-awal kuliah, waktu aku belum tau tipe-tipe dosen pengajar. Setelah tau kualitas Pak AJ ini, aku merasa sayang meninggalkan kuliahnya. Apalagi udah menjelang ujian. Jadi aku memutuskan pesan mobil travel untuk jemput ke kantor. Sambil menunggu jemputan, aku bisa kuliah dulu barang 1 jam. Aku pesan ke bapak satpam di depan untuk meneleponku jika jemputan datang. Seorang temen yang baik hati bersedia untuk membawakan buku-buku aku, sehingga aku bisa keluar kelas tanpa membawa apa-apa, supaya pak AJ tidak curiga aku kabur.

Tapi tentu saja keluarnya salah satu mahasiswa dan tidak kembali sampai kuliah selesai, menimbulkan pertanyaan dari Pak AJ. Dan temenku dengan jujurnya bilang, aku pulang kampung. Busyet.. waktu denger cerita temenku itu, aku jadi merasa nggak enak banget. Aku takut pak AJ merasa disepelekan olehku. Hwaduh.. mestinya temenku kan bisa ngasih jawaban lain. Rupanya kebaikan hatinya menolongku berbanding lurus dengan kebaikan hatinya memberi jawaban yang sebenarnya ke Pak AJ.

Ternyata kekhawatiranku terlalu berlebihan. Waktu ketemu beliau di kuliah selajutnya, beliau malah ngajak aku ngobrol. Dia nanya, apa bener aku pulang ke Purwokerto. Setelah aku mengiyakan, dia cerita bahwa salah satu adiknya sekarang tinggal di sana. Setelah sebelumnya tinggal di luar negeri. Aku sempet heran, kok bisa sih, dari luar negeri, trus pindahnya ke Purwokerto yang notabene bukan kota besar. Kata beliau, istri adiknya itu berasal dari daerah sana. Saat ini adiknya punya bisnis di Pasar Wage, toko apa gitu, aku lupa tepatnya. Hhmm.. mungkin lain kali kalo aku pulang ke Purwokerto, aku bisa nyari toko adik Pak AJ itu.

Hari Jumat malam kemarin, seperti biasa Pak AJ menyelipkan cerita di antara kuliahnya. Kali ini tentang salah satu temennya yang orang Thailand, yang jeli menangkap peluang bisnis. Temennya itu membuka restoran masakan Thailand di negara yang didatangi tentara PBB (biasanya sih negara yang bermasalah). Dan ternyata usahanya itu laku dibeli para tentara itu. Tapi kalo yang dibuka restoran Padang, mungkin nggak akan selaku itu, karena orang-orang luar tidak suka dengan cita rasa makanan Indonesia yang banyak bumbu. Dan sebaliknya, kita orang Indonesia biasanya kurang suka dengan makanan orang luar. Beliau cerita pernah ikut tour ke China selama 15 hari. Dan selama disana, beliau tidak bisa menikmati makanan yang katanya terkenal. Bahkan bebek peking pun beliau tidak suka. Beliau bilang, untung saja waktu itu beliau membawa bekal sambal botol, abon, dendeng, sehingga dia bisa menggunakannya sebagai lauk. Aku tertawa geli, inget cerita salah satu temen yang kalo pergi keluar negeri membawa beras sendiri, supaya bisa dimasak disana. Mulutku tak dapat kutahan untuk bertanya: ”Bawa beras juga nggak, Pak?”. Beliau tertawa (sampe matanya hilang lagi) dan menjawab: ”Yang itu sih nggak.” Hehehe…

Kuliah Keuangan sudah hampir selesai, tinggal satu minggu ini. Setelah itu ada ujian. Setelah itu mungkin aku nggak akan ketemu Pak AJ lagi, kecuali kalo aku memilih beliau sebagai pembimbing thesisku. Tapi aku akan mengingat beliau sebagai salah satu orang hebat yang pernah aku kenal secara langsung. Semoga semangat, dedikasi, kecintaan beliau pada profesi yang ditekuni, dan juga kesederhanaannya, dapat menjadi inspirasi buatku untuk menjadi lebih baik. :-)

Category: Life  Leave a Comment

Aku belum pernah mendengar penulis bernama Akmal Nasery Basral. Maklum, aku
kan kuper :-). Tapi judul bukunya lucu, memunculkan rasa ingin tau. Aku sempat menduga ceritanya tentang seseorang dengan alien yang hidup di kepalanya. Atau mungkin tentang sisi lain dari seseorang, yang jauh berbeda dengan yang biasa muncul di kehidupannya sehari-hari. Aku membalik buku itu, di cover belakangnya ada beberapa komentar, antara lain dari Ahmad Tohari (sastrawan) dan Andrea Hirata (novelis). Hmm.. kayaknya gak akan mengecewakan. Yang pasti bukan tipe buku berakhiran lit-lit gitu deh..

Setelah aku baca, ternyata dugaanku gak terlalu meleset. Ceritanya adalah tentang Nila, yang sering mengalami sakit kepala serasa ditusuk ratusan jarum, yang membuat dia membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Bila dia sudah merasa lemas atau pingsan, muncul halusinasi berwujud gadis cantik atau lelaki tampan. Dan halusinasi itu memprovokasi dia, mengubah Nila yang semula merupakan wanita penurut, menjadi pembunuh suami dan anaknya sendiri.

Lho kok jadi kayak berita kriminal di koran-koran? Apa mungkin karena penulisnya adalah wartawan Majalah Tempo? Hmm.. kalo semua cerita di buku ini tipenya gitu semua, kayaknya gak akan asik deh.

Eh aku belum bilang ya, buku ini adalah kumpulan cerpen. Ada 13 cerpen, 12 di antaranya sudah pernah dimuat di koran, hanya ada 1 cerpen yang ditulis khusus untuk buku ini. ”Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku” adalah judul cerpen pertama.

Aku lanjut ke cerpen kedua.  Judulnya ”Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia.” Ceritanya tentang Midun dan Halimah. Terdengar familiar ya? Tentu saja, karena nama itu sama dengan nama tokoh dalam buku ”Sengsara Membawa Nikmat” karya Tulis Sutan Sati. (Aku lupa itu termasuk sastra angkatan berapa.) Bedanya, Midun dan Hamidah yang ini adalah tokoh dalam novel yang sedang ditulis oleh Sutan Sampono Kayo. Yang lucu, si Midun merasa tidak puas dengan jalan cerita yang disusun oleh si penulis. Saking kecewanya, dia berniat membunuh si penulis. Halimah tidak setuju dengan gagasan tersebut. Karena tidak mendapat dukungan, Midun merasa kecewa dan minum minuman keras sampai mabuk. Dan ajaib, di ”dunia nyata” si penulis Sutan Sampono Kayo ditemukan meninggal karena stroke. Menurut dokter, penyebab stroke adalah karena over dosis minuman. Cerita yang aneh, tapi unik. :-)

Tapi kok masih tentang kematian? Belakangan aku baru tau setelah membaca Memoria penulis di akhir buku ini, bahwa sebagian besar cerpen-cerpennya memang berbau kematian. Yang pertama menyadari hal itu bukan Akmal sendiri, tapi istrinya. Kata Akmal, hal ini mungkin disebabkan karena dalam 2 tahun terakhir (tahun 2004 dan 2005), kematian adalah tamu terakrab di keluarganya. Dari mulai meninggalnya kakeknya, ibunya, tantenya dan ayahnya. ”Empat kematian yang menimbulkan lengang yang panjang”, tulis Akmal.

Lanjut ke cerpen ketiga. Judulnya ”Dilarang Bercanda dengan Kenangan.” Kisahnya tentang pertemuan kembali Johan dan Aida di bumi Aceh paska Tsunami, tahun 2006. Johan adalah humas sebuah perusahaan yang memberi bantuan kepada korban. Sedangkan Aida adalah sukarelawati dari Irak. Cerita flash  back ke awal pertemuan mereka pada tahun 1997, di Kensington London, saat momen pemakaman Lady Diana. Johan sedang mendapat beasiswa kursus singkat kehumasan di Leeds. Karena ingin merasakan aura kesedihan akibat meninggalnya putri kesayangan warga Inggris tersebut, Johan pun pergi ke London. Dia berharap bisa menginap di rumah pamannya, tapi ternyata pamannya sedang ke Jakarta. Padahal dia tidak punya cukup uang untuk menginap di hotel. Johan bertemu dengan Khaleeda, atau Aida, wartawati Irak yang bekerja untuk koran Yordania. Aida tertarik mewawancara Johan karena melihat dia berbeda di antara kerumunan ribuan manusia yang sedang berkabung. Selesai wawancara, dan mengetahui kesulitan Johan, Aida menawarkan Johan untuk ngobrol sambil menunggu pagi di kamar hotelnya. Johan akhirnya menerima tawaran itu. Karena 2 tokoh diceritakan beragama Islam, maka gak terjadi ”hal-hal” yang biasanya ada dalam cerita Barat. Aida tidur di tempat tidur, dan Johan tidur di sofa. Tapi perasaan Johan tergambar dalam kalimat berikut : “Aku pejamkan mata, mencoba melalui beberapa jam tersulit dalam hidupku sebagai lelaki. Ya Tuhan, bagaimanakah caranya Yusuf ketika berpaling dari godaan Zulaikha? Bantu aku!”

Besoknya, Johan menemani Aida pergi ke kediaman keluarga Spencer di Althorp, dan sorenya ke daerah Surrey untuk melihat makam Dodi di Brookwood (duh.. dimana ya letak tempat-tempat itu?). Malamnya kembali mereka tidur di kamar Aida. Besok harinya, mereka masih bersama, jalan-jalan ke musemum Madame Tussaud dan Istana Buckingham. Dan malamnya sekali lagi mereka di kamar Aida. Esok harinya, mereka memutuskan untuk berpisah, karena merasa tidak bisa lagi ”melanjutkan keakraban yang aneh dan tidak berpola” tersebut. Setelah itu, mereka tidak pernah bertemu lagi.

Sampai akhirnya takdir menemukan mereka kembali di Aceh. Sayangnya, itu gak berarti mereka akhirnya bersatu. Tapi lumayanlah, meski ending ceritanya gak begitu happy, setidaknya tokoh ceritanya gak mati. Yang mati tokoh lain, Lady Di dan Dodi. Kalo itu mah emang mati beneran di dunia nyata, bukan dikarang oleh penulis.

Sepuluh cerpen yang lain, baca sendiri aja ya. Gak seru kan kalo aku ceritain di sini semua. Lagian.. aku belum selesai membaca ke-13-13-nya. Kan baru beli hari Rabu kemarin. Sambil menunggu jam kuliah, aku mampir dulu di toko buku. Seperti biasa, yang akhirnya dibeli berbeda dengan yang sebelumnya dicari.

O ya, satu hal lagi yang unik di buku ini adalah penyajiannya. Misalnya gini nih, pada saat menggambarkan Nila yang membenturkan kepalanya ke tembok, ada satu halaman buku yang hanya bertuliskan ”Buk!” di tengah-tengahnya. Trus pada saat dia akhirnya pingsan, ada dua halaman yang cuma diberi warna hitam kelam, tanpa tulisan apapun. Ada lagi nih. Pada saat istri Sutan Samponyo Kayo menjerit karena menemukan suaminya meninggal, ada gambar beberapa huruf A dari ukuran kecil sampai besar keluar dari sebuah rumah kecil. Kayak kartun aja. :-)

Jadi kesimpulannya… gitu dehhh. Mengutip tulisan Andrea Hirata : ”Akmal berhasil membuat konterks-konteks kecil cerita yang menawan dari esensi ide-ide yang sangat besar.” Duh.. aku harap nantinya aku bisa membuat kalimat-kalimat menarik seperti itu.

Btw, setelah membaca buku ini, kayaknya aku jadi berminat mencari buku Akmal yang lain. Judulnya ”Imperia”. Tapi nanti aja kali ya, aku mau nyelesaiin buku yang ada dulu. :-)

Category: Book  Leave a Comment

http://www.cosmopolitan.co.id/v2/artikel.php?aid=554&isdetail=true 

1. Punya dua rekening terpisah

Gunakan rekening pertama untuk pengeluaran rutin Anda sehari-hari, sedangkan rekening kedua sebagai tabungan yang sebisa mungkin tak diutak-atik untuk alasan apapun.

2. Layanan transfer otomatis

Aktifkan layanan transfer otomatis dari tabungan “pengeluaran rutin” ke tabungan “jaga-jaga” dengan sejumlah saldo tertentu. Awali dulu dengan jumlah 10 persen dari penghasilan Anda. Lalu tingkatkan jumlahnya setiap enam bulan.

3. Pasang target yang jelas

Tabungan “pengeluaran rutin” makin menipis karena Anda tergoda untuk mengambilnya? Untuk mengatasinya, sebaiknya pasang target tertentu. Misalnya saja, bagi wanita single yang bekerja disarankan untuk memiliki saldo sekitar enam kali dari pendapatan. Perhitungannya adalah empat kali gaji sebagai dana darurat (kalau sampai tiba-tiba berhenti kerja, Anda masih bisa bertahan hidup sampai empat bulan ke depan), satu kali lipat gaji sebagai dana shopping (tampil stylish masih dihalalkan, kok!), dan satu kali lipat yang terakhir sebagai dana liburan (semua orang layak menikmati break yang menyenangkan).

Konsultasi : Ligwina Hananto, Quantum Magna Financia

Category: Sharing  Leave a Comment