Namanya Pak AJ. Spesialisasinya adalah Keuangan. Beliau mengajar sub modul Financial Accounting, Cost Accounting, Financial Management, dan saat ini International Finance.
Jujur aja, subject tentang Keuangan bukan favoritku. Satu-satunya hal yang aku tau dengan baik tentang uang adalah membelanjakannya :-P. Tapi bapak ini merupakan salah satu dosen yang aku kagumi. Tiap kali kami harus ngisi lembaran feedback tentang dosen-dosen yang sudah mengajar kami pada saat selesainya 1 sub modul, aku selalu memberi nilai 5 (nilai tertinggi) untuk bapak ini. Di semua item penilaian. Dari mulai penguasaan dan penyampaian materi, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan membuat kelas menjadi aktif, manajemen waktu, dll.
Sebenarnya sih, kalo urusan penguasaan materi, semua dosen pasti mampu. Kalo nggak mampu, kan nggak akan lulus tes menjadi dosen. Tapi dari sekian yang mampu menguasai materi itu, tidak semua bisa menyampaikannya dengan baik dan menarik. Belum lagi tentang manajemen waktu. Ada beberapa dosen yang penginnya cepet-cepet selesai mengajar sebelum waktunya habis. Sebenarnya sih kami seneng-seneng aja pulang lebih cepet. Tapi kalo dipikir-pikir, itu berarti kami tidak mendapat hak kami yang seharusnya sebagai mahasiswa, hak kami untuk menerima materi kuliah yang sudah tercantum dalam silabus. Mungkin dosen tipe ini menganggap kami sudah cukup dewasa untuk belajar sendiri. Tetep aja kelakuan dosen itu terasa menyebalkan buatku.
But.. Stop mengeluh. Toh aku sendiri yang memilih tempat kuliah ini. Jadi aku harus bersedia menerima semua konsekuensinya. Lagipula, siapa yang bisa menjamin bahwa tempat lain akan lebih baik. Ibaratnya, aku udah berada di titik dimana aku nggak bisa berbalik lagi. Aku udah menaiki anak tangga, dan apapun yang terjadi, aku harus terus sampai puncak tangga itu. (halah.. gayanya sok semangat gitu).
Kembali ke Pak AJ. Menurutku, bapak ini beneran hebat. Beliau bukan sekedar mengajar, tapi juga berusaha memastikan bahwa kami paham apa yang diajarkan. Beliau selalu mengajak kami banyak mengerjakan latihan dan kasus. Dan bila dalam satu sub modul kami diajar oleh beberapa dosen, beliau selalu berusaha mereview apa yang telah diajarkan dosen lain, memastikan bahwa tidak ada materi yang terlewat. Dan selama mengajar, senyum hampir selalu ada di wajahnya. (Padahal kalo beliau senyum, matanya langsung hilang
).
Bapak ini juga suka banget cerita sambil ngajar. Banyak hal yang beliau ceritakan. Pengalaman-pengalaman beliau, atau orang-orang dekat beliau, atau orang-orang yang beliau kenal, yang berkaitan dengan hal-hal yang sedang kami bahas di kelas. Misalnya pada saat pembahasan tentang investasi yang pada prinsipnya ”high return, high risk”, beliau cerita betapa banyak orang yang tertipu karena iming-iming bunga tinggi, tapi akhirnya uangnya dibawa kabur orang. Beliau pernah cerita tentang strategi bermain valas, supaya tidak terlalu merugi, sebaiknya bermain dalam dua currency. Sehingga kerugian di satu currency akan bisa ditutup dari keuntungan currency yang lain. Beliau pernah cerita tentang pergerakan harga saham di bursa, bagaimana sebuah corporate action bisa mengubah harga saham.
Beliau pernah juga cerita pengalamannya mengajar di kampus lain. Rupanya beliau mengajar di banyak tempat. Selain di kampusku, beliau mengajar di Unpad, Unpar, Maranatha, dan mungkin tempat lain juga. Beliau cerita bedanya mahasiswa Maranatha dan Unpad, dan bagaimana dia menerapkan sistem mengajar yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi mahasiswa yang ada. Pada saat mengajar tentang enterpreneur, beliau pernah dikomplain mahasiswa Maranatha, kenapa mahasiswa Unpad banyak diberi text book tapi mahasiswa Maranatha tidak. Trus beliau jelasin ke mahasiwa Maranatha, bahwa tanpa text book pun, mahasiswa Maranatha sudah ahli secara alami. Karena umumnya mahasiswa Maranatha berasal dari keluarga bisnis.
Dari cerita-cerita beliau tentang keluarga dan teman-temannya, aku lihat beliau berasal dari kalangan bisnis, kalangan orang-orang yang terbiasa berspekulasi, mengambil resiko yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi. Sempat timbul juga rasa heran di hatiku, kenapa bapak ini memilih jadi dosen yang, seperti kita ketahui sama-sama, tidak akan menghasilkan income yang mengesankan. Ternyata yang penasaran seperti itu bukan cuma aku. Salah satu temen kami melontarkan pertanyaan kepada beliau, kenapa beliau tidak seperti keluarga dan teman-temannya yang lain. Dan jawaban beliau sederhana, karena beliau merasa tidak cukup berani untuk mengambil resiko. Beliau cerita bahwa beliau tidak suka punya hutang di bank. Meski beliau juga punya usaha, tapi beliau hanya memakai modal sendiri. Kalo hanya mampu beli mesin kecil, ya itulah yang beliau beli. Beliau membeli mesin besar pada saat uangnya sudah cukup untuk itu, tanpa pinjaman dari bank. Bahkan kartu kredit yang dia punyai pun batasnya sangat kecil (lebih kecil dari kartu kredit aku). Padahal kalo beliau mau, beliau bisa mendapat 7-8 kali dari batas yang sekarang, karena kepala cabang bank tempat kartu kreditnya adalah sahabat beliau. Beliau pernah minta batas kartu kreditnya dinaikkan pada saat benar-benar membutuhkan, dan untuk bulan depannya minta diturunkan lagi ke batas semula. Hhhmm.. suatu kesederhanaan yang layak dicontoh.
Aku pernah melakukan suatu kebandelan kepada beliau. Ceritanya gini. Di suatu Jumat malam, aku mau pulang ke Purwokerto. Sebenarnya bukan sekali ini aku harus bolos kuliah demi bisa pulang, dan rasanya biasa aja. Tapi itu dulu pada saat awal-awal kuliah, waktu aku belum tau tipe-tipe dosen pengajar. Setelah tau kualitas Pak AJ ini, aku merasa sayang meninggalkan kuliahnya. Apalagi udah menjelang ujian. Jadi aku memutuskan pesan mobil travel untuk jemput ke kantor. Sambil menunggu jemputan, aku bisa kuliah dulu barang 1 jam. Aku pesan ke bapak satpam di depan untuk meneleponku jika jemputan datang. Seorang temen yang baik hati bersedia untuk membawakan buku-buku aku, sehingga aku bisa keluar kelas tanpa membawa apa-apa, supaya pak AJ tidak curiga aku kabur.
Tapi tentu saja keluarnya salah satu mahasiswa dan tidak kembali sampai kuliah selesai, menimbulkan pertanyaan dari Pak AJ. Dan temenku dengan jujurnya bilang, aku pulang kampung. Busyet.. waktu denger cerita temenku itu, aku jadi merasa nggak enak banget. Aku takut pak AJ merasa disepelekan olehku. Hwaduh.. mestinya temenku kan bisa ngasih jawaban lain. Rupanya kebaikan hatinya menolongku berbanding lurus dengan kebaikan hatinya memberi jawaban yang sebenarnya ke Pak AJ.
Ternyata kekhawatiranku terlalu berlebihan. Waktu ketemu beliau di kuliah selajutnya, beliau malah ngajak aku ngobrol. Dia nanya, apa bener aku pulang ke Purwokerto. Setelah aku mengiyakan, dia cerita bahwa salah satu adiknya sekarang tinggal di sana. Setelah sebelumnya tinggal di luar negeri. Aku sempet heran, kok bisa sih, dari luar negeri, trus pindahnya ke Purwokerto yang notabene bukan kota besar. Kata beliau, istri adiknya itu berasal dari daerah sana. Saat ini adiknya punya bisnis di Pasar Wage, toko apa gitu, aku lupa tepatnya. Hhmm.. mungkin lain kali kalo aku pulang ke Purwokerto, aku bisa nyari toko adik Pak AJ itu.
Hari Jumat malam kemarin, seperti biasa Pak AJ menyelipkan cerita di antara kuliahnya. Kali ini tentang salah satu temennya yang orang Thailand, yang jeli menangkap peluang bisnis. Temennya itu membuka restoran masakan Thailand di negara yang didatangi tentara PBB (biasanya sih negara yang bermasalah). Dan ternyata usahanya itu laku dibeli para tentara itu. Tapi kalo yang dibuka restoran Padang, mungkin nggak akan selaku itu, karena orang-orang luar tidak suka dengan cita rasa makanan Indonesia yang banyak bumbu. Dan sebaliknya, kita orang Indonesia biasanya kurang suka dengan makanan orang luar. Beliau cerita pernah ikut tour ke China selama 15 hari. Dan selama disana, beliau tidak bisa menikmati makanan yang katanya terkenal. Bahkan bebek peking pun beliau tidak suka. Beliau bilang, untung saja waktu itu beliau membawa bekal sambal botol, abon, dendeng, sehingga dia bisa menggunakannya sebagai lauk. Aku tertawa geli, inget cerita salah satu temen yang kalo pergi keluar negeri membawa beras sendiri, supaya bisa dimasak disana. Mulutku tak dapat kutahan untuk bertanya: ”Bawa beras juga nggak, Pak?”. Beliau tertawa (sampe matanya hilang lagi) dan menjawab: ”Yang itu sih nggak.” Hehehe…
Kuliah Keuangan sudah hampir selesai, tinggal satu minggu ini. Setelah itu ada ujian. Setelah itu mungkin aku nggak akan ketemu Pak AJ lagi, kecuali kalo aku memilih beliau sebagai pembimbing thesisku. Tapi aku akan mengingat beliau sebagai salah satu orang hebat yang pernah aku kenal secara langsung. Semoga semangat, dedikasi, kecintaan beliau pada profesi yang ditekuni, dan juga kesederhanaannya, dapat menjadi inspirasi buatku untuk menjadi lebih baik.










Recent Comments