Archive for » January, 2007 «

14
Jan

http://www.salesdogs.com/pages/dogs/chihuahua.html

What type of SalesDog® is a Chihuahua?

The following excerpt comes from the book, SalesDogs®: Why some dogs can sell… and why some can’t! by Blair Singer. To learn more about your breed and how best to work to your own natural strengths - order the book.

Those that own this pocket rocket love them. They are probably the most intense of all the breeds.

They are technical wizards. Their product knowledge and understanding of processes is astounding. When they have a point to be made, they are insistent about driving their point home. But they have to be careful, because their constant high pitched “yipping” is sometimes enough to give everyone else a headache.

Don’t ever get a Chihuahua started on a subject they are passionate about. They won’t just talk, they will shout, scream, rant and rave a mile a minute. Prospects can only be amazed and impressed with the incredible exhibition of passion, emotion and technical detail.

While some of the other breeds need physical exercise to remain healthy, this breed needs mental exercise. Their brainpower is amazing.

Whilst the Chihuahua is not always the best lap dog, it’s the breed you want on your team when digging up data and putting together vital presentations. With boundless energy, Chihuahuas can pull off all-nighters better than any other breed. While others are curled up asleep, the Chihuahua is flitting from website to website, or page after page of annual reports, compiling information and assembling a report that would take others twice the time to draft.

Chihuahuas must learn to harness their incredible passion, brainpower and energy. Learn your strengths and weaknesses, tips on increasing personal sales and tips for avoiding the pitfalls so you can play to your natural talent.

And to get the full story about the Chihuahua and all of the other breeds, click here to get the latest copy of SalesDogs®: Why some dogs can sell… and why some can’t! 

*********************************

Catatan aku :

Materi di atas adalah salah satu oleh-oleh setelah mengikuti seminar ”Build your own Super Sales Team”, hari Jumat siang tanggal 12 Januari 2007, di Hotel Papandayan Bandung. Pembicaranya Mr. James Gwee. Ini kali kedua aku mengikuti seminar Mr. Gwee. Yang pertama dulu waktu aku masih di Palembang.

Dari sisi cara membawakan materi, Mr. Gwee ok juga. Dia selalu semangat,  dan lucu, sehingga tidak membosankan. Tapi kalo dari isi materinya, aku lebih suka seminar dari MarkPlus. Ini cuma pendapatku pribadi lho. Salah satu alasanku adalah karena seminar dari MarkPlus biasanya menyampaikan hal-hal yang bersumber dari buku karya mereka sendiri. Sedangkan dua seminar Mr. Gwee yang aku ikuti, dia menyampaikan materi dari buku hasil karya orang lain. Waktu seminar di Palembang dulu, Mr. Gwee membawakan materi yang bersumber dari bukunya Robert Kiyoshaki. Dan yang kemarin, dia membawakan materi dari bukunya Blair Singer. Kesannya jadi nggak orisinil. Dan akibatnya, ketika ada peserta seminar yang menanyakan pengembangan dari materi tersebut, dia nggak bisa menjawabnya.

Tapi bukan berarti seminar kemarin nggak ada manfaatnya lho. Setidaknya, dari seminar yang salah satu sponsornya Telkomsel itu, aku mendapatkan nomor kartu Halo yang cukup bagus. Belum langsung aktif sih. Kata petugas Telkomselnya, dataku masih perlu dicek dan disurvey. Mudah-mudahan prosesnya nggak terlalu lama. Supaya aku bisa segera mengganti kartu Simpatiku yang, kata salah satu temenku, susah dihafal. Mungkin karena kombinasi angkanya yang rada banyak. Duh.. siapa juga yang nyuruh dia menghafal, masukkin ke address book aja kan beres. Punya nomor telepon yang susah itu ada untungnya juga kok. Aku belum pernah terima SMS spam di nomor Simpatiku.

Tapi meskipun nanti nomor Halo itu sudah aktif, dia akan jadi nomor keduaku. Nomor pertama.. tetap Flexi dunk.. :-)

Kembali ke tipe-tipe salesdogs. Meski aku memasang tipe chihuahua itu disini, percaya deh, itu bukan berarti aku masuk tipe tersebut. Aku sudah lama memutuskan, aku bukan tipe penjual. Aku adalah tipe pembeli. :-)

Kalo ada yang berminat mengetahui tipe-tipe salesdogs yang lain, atau mencoba test untuk mengetahui anda termasuk tipe yang mana, silakan kunjungi site ini : http://www.salesdogs.com

Category: Marketing  2 Comments

http://www.cosmopolitan.co.id/v2/artikel.php?aid=533&isdetail=true

Sekilas, rentetan kebiasaan ini memang nampak sepele. Tetapi jika tak waspada, bisa jadi impian Anda mendomisili ruangan berjendela besar milik si bos hanya tinggal isapan jempol belaka. Maka dari itulah, teman, sebelum terlanjur menghela napas penyesalan, Cosmo siapkan kiat-kiat trampil untuk mengikis kebiasaan-kebiasaan yang bisa membahayakan masa depan. Tak lama, puncak karier yang gemilang itu akan jadi milik Anda. 

Unfriendly Habit 1: Waiting to be handed what you want

“Duh, kenapa, ya, promosi jabatan itu tak kunjung menghampiri saya? Ya sudah, saya tunggu saja hasil penilaian performa kerja berikutnya.” Oke, deretan kalimat itu tentu sering Anda dengar, atau jangan-jangan Anda juga pernah mengatakannya. Well, darling, sudah bukan zamannya lagi Anda duduk manis dan berharap posisi impian itu bakal jatuh ke pangkuan. Awas, bersikap pasrah seperti itu bisa membuat karier Anda terbengkalai.

Elaine Sampson, pemilik Avocado Vision, perusahaan komunikasi interpersonal di Afrika Selatan berpendapat bahwa tindakan pasif tersebut justru melanda banyak wanita muda, terutama buat yang baru bergabung di dunia kerja. “Sebagian besar wanita enggan membahas prestasi yang telah mereka capai selama ini. Dan, di kala mereka berani mengutarakannya, tak jarang dari mereka yang malah bersikap rendah hati, berharap bukti sukses yang telah diraihnya itu bisa ‘berbicara’ dengan sendirinya,” papar Elaine. Sayangnya, kenyataan itu jarang sekali terjadi.

Corner-office pointers:

- Entah Anda ingin kenaikan gaji atau promosi jabatan, jangan pernah sungkan untuk memaparkan kelebihan serta kemampuan kerja Anda di depan atasan. Pastikan juga para kolega tahu bahwa Anda benar-benar menguasai bidang pekerjaan yang Anda lakukan selama ini.

- Bersikap asertif dan jangan ragu untuk menawarkan bantuan atau tugas ekstra kepada atasan.

- Menurut Lois Frankel, pengarang Nice Girls Don’t Get The Corner Office, sebelum menghadiri sesi review tahunan, pastikan Anda persiapkan terlebih dahulu daftar sukses yang ingin diutarakan di hadapan bos. Selanjutnya, pikirkan masak-masak tentang apa yang Anda inginkan dan kenapa Anda layak mendapatkannya. Utarakan hasil-hasil positif yang pernah Anda sumbangkan untuk perusahaan serta kontribusi yang Anda berikan kepada sesama rekan kerja selama ini. Gunakan sesi penting ini untuk mempromosikan diri kepada atasan.

Unfriendly Habit 2: Put networking on the back seat

Jangan pernah abaikan waktu untuk beramah-tamah dengan para kolega di kantor. Hei, tak ada salahnya sesekali bertukar cerita seputar akhir pekan Anda dengan mereka. Hanya pastikan kisah erotis Anda dan pasangan tetap jadi rahasia pribadi. Buhle Dlamini, pakar bisnis dari biro konsultan Young and Able berkata bahwa pada momen-momen inilah Anda punya peluang besar untuk lebih mengenal pribadi dari masing-masing rekan sejawat. Membangun jaringan relasi jelas penting. Karena di kala Anda butuh bantuan darurat, merekalah yang akan siap menolong Anda. Dan, hubungan sosial itu kerap lahir dari suatu kesamaan, seperti cara pandang, minat bahkan gaya hidup. “Tak bisa dipungkiri, setiap orang akan lebih semangat bekerja dengan kolega yang memiliki persamaan dengan dirinya,” ungkap Dlamini. Menjalin relasi baik dengan klien dan para profesional lainnya di bidang yang Anda geluti juga punya peranan yang tak kalah penting bagi masa depan karier Anda.

Corner-office pointers:

- Frankel menyarankan untuk selalu meluangkan waktu sekitar 5% dari total jam kerja Anda per hari untuk membangun jaringan relasi. Anda tak pernah tahu kapan butuh uluran tangan mereka.

- Kegiatan di atas juga meliputi sesi berbincang di telepon dengan para kenalan Anda. Jangan ragu menghubungi para relasi baru (baik via email, sms atau telepon). Buat apa mengoleksi kartu nama mereka jika Anda tak tahu cara menggunakannya secara maksimal.

- Terapkan nasehat Frankel: bergabunglah dengan asosiasi atau komunitas untuk para profesional muda yang bergerak di bidang kerja Anda. Di dalam wadah itu, Anda bisa berburu banyak relasi penting sekaligus mencari sosok “guru” yang bisa jadi penasehat karier Anda.

- Ikut dalam grup aktivitas yang tersedia di kantor Anda. Kelas yoga atau kelompok pecinta film, misalnya. Atau, ambil inisiatif untuk menggelar acara hang out bersama beberapa teman dari satu divisi seusai jam kantor.

Unfriendly Habit 3: Working hard (not smart)

“Kebiasaan menguras segenap tenaga untuk bekerja tanpa memedulikan kehidupan pribadi, lama-kelamaan bisa ‘menggerogoti’ kesehatan fisik dan batin Anda,” jelas Dlamini. Frankel pun menambahkan bahwa banyak wanita yang merasa perlu bekerja dua kali lebih giat dibanding pria agar dinilai mampu oleh atasan. Padahal, asumsi itu salah besar! Cara tercepat untuk mengembangkan karier Anda adalah dengan memiliki kebiasaan kerja yang efektif.

Corner-office pointers:

- Frankel sarankan agar Anda bekerja hanya pada jam kantor yang telah ditentukan. Bukan berarti Anda tak akan pernah lembur. Hanya saja, jika Anda terus menerus lembur, itu pertanda ada sesuatu yang perlu Anda benahi: baik itu cara Anda mengelola waktu kerja atau cara Anda memilah prioritas tugas yang patut dikerjakan saat itu. Inilah saatnya untuk introspeksi, teman.

- Daripada sibuk lembur di kantor, coba fokuskan diri untuk mengembangkan cara yang efektif agar orang-orang dapat melihat performa Anda selama ini. Caranya, jadilah karyawan yang profesional, miliki ketrampilan berorganisasi yang andal, jaga hubungan baik dengan bos dan seluruh kolega, tunjukkan kemampuan berpikir secara strategis, dan berani ambil inisiatif dalam tiap kesempatan.

- Sebelum mulai bekerja di pagi hari, tentukan dahulu dengan seksama hal-hal apa saja yang ingin Anda capai hari itu dan coba patuhi daftar rencana tersebut.

Unfriendly Habit 4: Taking feedback personally

Tak jarang wanita menanggapi kritik pedas dari sesama kolega atau bahkan atasan sebagai bentuk ’serangan’ yang bersifat pribadi. Ya, wanita memang gemar menggunakan emosinya, termasuk saat bertugas di kantor. Padahal menurut Dlamini, seharusnya wanita memandang kritik sebagai kesempatan emas untuk membenahi kinerja serta kemampuan yang mereka miliki. Tak hanya itu, deretan saran dari si bos, klien atau rekan kerja juga bisa membantu Anda untuk meneropong keunggulan serta kekurangan diri Anda. Jelas, kuncinya terletak pada bagaimana Anda mengolah kritik tersebut. Daripada bersikap defensif, biarkan opini tajam itu memompa semangat Anda untuk menjadi sosok karyawan yang lebih baik lagi.

Corner-office pointers:

- Kembangkan sifat “tebal muka”. Lain kali Anda dikritik, sisihkan sejenak perasaan sakit hati itu. Lalu, ikuti dahulu saran tersebut. Jika Anda merasa kritik tersebut tak masuk di akal, mintalah pendapat orang lain. Jika tanggapan mereka sama, barulah rombak sifat Anda itu secara perlahan.

- Ucapkan terima kasih kepada sang kritikus meski Anda tak setuju dengan pendapatnya, dan jangan beberkan alasan Anda itu di sela perkataan.

- Tanyakan pada atasan tentang hal-hal apa saja yang perlu dibenahi dari diri Anda. Lakukan sesi review ini secara rutin. Sifat Anda yang berani ambil inisiatif untuk meminta saran dan kritik dari si bos, jelas menunjukkan bahwa Anda adalah pekerja serius dan selalu coba untuk menjadi seorang profesional yang lebih baik lagi. 

Unfriendly Habit 5: Gossiping as your daily work

“Sulit memang menghindari kebiasaan yang satu ini. Kalau para wanita sudah berkumpul, hasrat untuk bergosip rasanya tak bisa dibendung lagi,” ujar Ceti Prameswari, Psi, psikolog. Sah-sah saja jika sekali dua kali Anda ikut terlibat dalam ajang rumpi bersama rekan-rekan sekantor. Tetapi menurut Ceti, jika Anda terlalu sering memancing gosip, maka tindakan itu sangat berpotensi untuk mengganggu lingkungan kerja Anda. Waspadalah, teman. “Bisa jadi, kolega yang menjadi si topik gosip hilang kesabarannya dan melakukan tindakan balasan yang bisa ‘melukai’ karier Anda,” papar Ceti. Belum lagi, jika atasan beserta rekan kerja lainnya mulai hilang kepercayaannya pada Anda. Bisa jadi, Anda dikucilkan dari arena pergaulan di kantor.

Corner-office pointers:

- Kerahkan segenap aura positif dengan selalu membicarakan keberhasilan serta kebaikan orang lain. Itu berlaku kapan pun dan di mana pun Anda berada. Termasuk di dalam toilet kantor sekalipun. Ingat, dinding kantor biasanya “bertelinga”, teman.

- Jika Anda keceplosan berkata negatif tentang seorang kolega, buru-buru ralat dengan sebuah pernyataan positif tentang dirinya di akhir perbincangan.

- Jaga tiap rahasia yang telah dipercayakan oleh bos, rekan kerja, klien, atau narasumber kepada Anda. Sikap mulia itu akan meningkatkan kredibilitas Anda sebagai sosok profesional yang dapat dipercaya. 

Category: Sharing  Leave a Comment

LITERASI – Suplemen Kampus – Pikiran Rakyat Edisi Online – 28 Desember 2006

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/122006/28/kampus/literasi.htm 

“SEBENARNYA yang penting bukan seberapa banyak buku yang telah kita lahap, tapi penelaahan kita atas apa yang kita baca”.

Begitu kata seorang teman. Di lain waktu, saya ngobrol santai dengan kawan kampus yang lain. Ia bertanya, adakah saya menganggarkan uang buat membeli buku dalam sebulan. Setelah saya jawab, ia menyampaikan pemikirannya bahwa ia senantiasa ragu untuk membeli sebuah buku yang baru bila bukunya yang lama belum tuntas dibaca. Ia merasa belum yakin apakah ilmu di dalamnya sudah teramalkan, minimal tersampaikan kepada orang lain. Sayang, ia tidak memberi contoh buku apa misalnya, dan saya lupa bertanya. 

Ihwal kegemaran membeli dan memiliki buku dan tentu saja membacanya, orang-orang negeri ini jadi menarik buat saya. Mungkin bagus buat bahan penelitian bila saya peneliti. Apalagi, bila soal ini dikaitkan dengan nilai human development index (HDI) kita yang rendah, yaitu sebesar 0,697 dan menempati peringkat ke-110 dari 174 negara. Bila data dalam Human Development Report dari UNDP tahun 2005 ini valid, berarti secara umum standar dan kualitas hidup bangsa kita ada di bawah negara lain di kawasan Asia Pasifik, bahkan di ASEAN. 

Lantas, bila hendak lanjut dikejar, inikah yang menyebabkan budaya membaca kita masih rendah –yang tercermin dari–, misalnya, realitas penerbitan buku di Indonesia belum ada apa-apanya dibanding Amerika Serikat atau Inggris. Pada pertengahan 1990-an saja, masing-masing negara maju ini dalam sebulannya mampu menerbitkan 100.000 dan 61.000 judul. Sedangkan negara kita hanya sanggup menerbitkan buku kurang dari 10 ribu judul setiap tahun. Atau sebaliknya, kualitas hidup yang rendahlah, yang merembet pada kemampuan ekonomi, yang jadi biang minimnya budaya membaca. Soal yang rada berpusing ini punya dua kemungkinan: retoris belaka atau benar-benar — meminjam judul sebuah lagu pop — menanti sebuah jawaban. **

BEBERAPA waktu lalu, saya berkunjung ke Pesta Buku Bandung. Ada pengalaman membekas bagi saya di Gedung Landmark di Jalan Braga itu. Benar-benar “ajaib”, sebuah kalimat tanya yang sama tanpa sengaja saya dengar dari dua orang berbeda, di dua stan buku yang berbeda pula. Dua orang remaja putri bertanya pada temannya masing-masing saat menimang sebuah buku. Agaknya untuk dihadiahkan bagi seseorang. Dan dua orang ini punya keraguan tertentu. Kalimat tanya itu, “Memang dia senang baca?” 

Saya lupa apakah mereka jadi membeli. Tapi, bila saya mencoba mengingat-ingat mungkin saya malah tersenyum karena justru yang muncul kembali adalah pertanyaan teman saya di awal tulisan ini. Jadi, bisa saja banyak orang punya buku di rumahnya –dengan membeli atau dari hadiah. Tapi, seberapa persenkah koleksi buku itu tuntas terbaca — jangan dululah membicarakan apakah ilmu-ilmu yang berkubang dalam lembar-lembar bisu itu hingga tersampaikan dan teramalkan.

Sekejap sebuah laci di kepala saya terbuka. Suatu waktu saya bertandang ke rumah kawan yang dari mulutnya keluar kalimat pembuka esai ini. Sebuah rumah yang resik, yang dari jendela depannya kita bisa melihat Gunung Cikuray berdiri penuh dari kaki hingga puncaknya. Di sebuah kamar di sana, yang belakangan saya tahu sebagai “ruang belajar” buat siapa saja yang mau, saya mendapati buku-buku berderet dan bertebaran tidak sedikit. 

Sungguh, terbukanya arsip-arsip ingatan ini membuat saya jadi merasa tersesat di padang kemungkinan yang seketika menghutan. Walau semestinya di titik ini saya tidak perlu merasa gamang dan rawan karena kadang hal-hal “sepele” sifatnya memang “ajaib” — seperti rasa payah yang muncul di pertengahan untuk terus memamah buku sampai habis — sehingga kita menyimpannya dulu untuk dibaca kelak dengan keyakinan bahwa nanti buku itu akan “berubah”; atau seperti sehabis membaca ulang sebuah cerita panjang, kita tersentak oleh sesuatu di dalamnya yang luput pada pembacaan sebelumnya.

(Wildan Nugraha, mahasiswa Faperta, bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung)***

Catatan aku:

Sering tidak berhasil membaca buku sampe habis? Mmm.. gue banget deh :-)

Category: Sharing  Leave a Comment