Archive for » 2007 «

Dari materi kuliah Knowledge Management.

Knowledge Management adalah proses menjadikan Tacit Knowledge menjadi Explicit Knowledge.

Yang dimaksud Tacit Knowledge adalah: not teachable, not articulated, not observable in use, rich, complex, undocumented.

Sedangkan yang dimaksud Explicit Knowledge adalah: teachable, articulated, observable in use, schematic, simple, documented.

Intinya sih, Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang masih ada di kepala seseorang, sehingga susah untuk dipelajari orang lain. Akibatnya, ketergantungan terhadap orang itu menjadi sangat tinggi, karena hanya dia yang tau.

Dosenku pernah menyampaikan salah satu contoh tentang Tacit Knowledge. Alkisah ada suatu bengkel di suatu kota. Ini bengkel biasa, bukan bengkel resmi suatu merk mobil. Si pemilik bengkel itu sangat pintar memperbaiki kerusakan mobil-mobil, bahkan pada saat bengkel resminya pun sudah tak sanggup memperbaikinya. Dia bisa membuka suatu komponen yang katanya nggak bisa dibuka. Dia bisa membuat sesuatu yang katanya nggak bisa dibuat. Saking terkenalnya, ada satu STM yang beberapa kali mengirimkan siswanya untuk magang di situ. Si siswa mengamati dan membantu bapak tadi bekerja, dan kemudian menuliskan hasilnya dalam suatu tulisan. Di sini sudah ada proses membuat Tacit Knowledge menjadi Explicit Knowledge. Setelah selesai menulis, si siswa menunjukkan hasil tulisannya ke si bapak. Komentar si bapak adalah: “Prosedur itu betul untuk masalah itu. Tapi kalo masalahnya berbeda, maka prosedurnya nggak akan bisa seperti itu.” Wah.. ternyata bapak itu selalu berimprovisasi dengan pekerjaannya. Tidak ada standard operation procedure. Susah juga buat si penerus bengkel itu untuk meneruskan usahanya, jika suatu saat si bapak nggak ada lagi :-)
Ngomong2 tentang Tacit Knowledge , aku sempet ngalamin masalah dengan hal itu. Jadi ceritanya, ada satu manager di tempat kami yang sangat berpengalaman untuk mengorganisir suatu event. Dia biasa mengurusnya end-to-end, segala hal dia kerjakan sendiri. Kemudian aku mendapat tugas untuk menuliskan proses bisnis dari event tersebut. Di sini muncul masalah. Karena si manager itu begitu sibuk, dia nggak sempat membagi skenario yang ada di kepalanya ke aku. Ini membuat aku jadi sempet nggerundel karena aku nggak bisa selesai ngerjain tugas itu. Tapi kalo aku nggak kerjain, dan menyerahkannya ke si manager sampai dia punya waktu untuk menuliskannya sendiri, kayaknya itu juga nggak mungkin banget. Untung akhirnya masalah itu bisa dipecahkan.

Huh.. ternyata nggak gampang ya membagi knowledge. Pantes ada ilmu khusus yang mempelajarinya.

Category: Sharing  Leave a Comment

Starbucks, kedai kopi asal Seattle ini sering jadi contoh kasus. Baik di pelatihan, kuliah, atau seminar yang pernah aku ikuti. Pembahasannya pasti tentang betapa bagusnya budaya pelayanan di Starbucks. Mereka bukan hanya menjual kopi, tapi menjual pengalaman. Orang minum di Starbucks bukan cuma karena haus, tapi pengin dilihat orang bahwa dia sedang di Starbucks :-) Terus terang aku bukan peminum kopi, jadi dulu Starbucks tidak pernah masuk daftar tempat yang pengin aku datangi. Kalo pun selama setahun belakangan ini aku beberapa kali pergi ke sana, tentu bukan karena kopinya. Dan bukan juga karena pengin dilihat orang (emangnya gue siapa?) Alasan pertama mungkin karena penasaran, secara kadang-kadang aku punya rasa penasaran yang nggak masuk akal. Alasan kedua, karena pengin ngobrol ama temen-temen baik hati yang suka nongkrong di sana. Alasan lain? Mungkin karena sofanya yang nyaman :-) Lalu apa pengalamanku dengan layanan di Starbucks? Hmm.. kalo soal ramah, emang aku akui. Tapi kalo dibilang layanan mereka bagus banget, menurutku nggak juga. Aku pernah ngalamin lebih dari sekali mereka salah memenuhi pesanan kita. Pernah salah ngasih jenis minuman. Pernah juga salah ngasih ukuran minuman. Memang sih, setelah itu mereka ngakui kesalahan tersebut, minta maaf, dan menawarkan apakah kita ingin minuman yang salah itu ingin diganti. Nah bagian ini yang paling nggak enak. Menurutku, kalo mereka ngaku salah, maka sudah kewajiban mereka untuk mengganti. Nggak usah pake acara nawarin. Karena ada tipe orang yang nggak mau ribut. Sehingga meski jelas-jelas pesanan minuman itu salah, mereka memilih mengampuni kesalahan itu, menerima dan membayar minuman yang tidak sesuai pesanan itu. Bukankah hal ini bisa bikin para barrista itu jadi manja, dan mungkin akan mengulang kesalahan itu lain waktu? Karena mereka pikir toh pelanggan Starbucks akan memaklumi dan memaafkannya. Kalo udah gini, di mana jaminan layanan Starbucks?

Category: Life  Leave a Comment
02
Oct

Tulisan ini aku dapet dari suatu milis. Terima kasih untuk rekan Henri Setiawan atas ijinnya untuk mengoleksi tulisan ini.

************************************************
Sekedar renungan….
Kita tentu pernah menemukan orang-orang hebat ditempat kerja. Namun, orang-orang itu karirnya biasa-biasa saja. Memang kadang mereka dipromosikan juga. Namun, karirnya mentok disana. Kita heran, mengapa bisa mentok. Ada banyak faktor memang; tetapi, salah satu faktor yang sering menjadi penyebabnya adalah sikap tidak luwes orang-orang itu dalam menyikapi lingkungan kerjanya. Mengapa hal ini terjadi, adalah karena mereka berpikir bahwa apa yang ada di dalam kepala mereka; itulah yang benar. Cara merekalah yang paling tepat. Sedang cara orang lain; adalah pilihan yang buruk, jika tidak boleh mengatakannya bodoh dan dungu. Mereka merasa pintar, merasa paling benar, dan mereka menghendaki semua orang mengikuti jalannya. Tetapi, mereka tidak menyadari, bahwa permainan dalam sebuah team disetiap organisasi; lebih dari sekedar sikap merasa lebih pintar, dan paling benar.
Dalam berdiskusi, orang-orang semacam ini cenderung kurang mendengarkan pendapat orang lain. Kalaupun mereka mendengarnya; hasil akhirnya tetap saja harus pendapat mereka yang diterima. Memang, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang cerdas dengan kemampuan berpikir logis yang tinggi. Argumen-argumennya kuat. Sehingga tidak mudah untuk dipatahkan. Sayangnya, ada satu hal yang sering dilewatkan oleh orang-orang cerdas dari jenis ini, yaitu; pemahaman terhadap situasi dalam lingkungannya. Kegagalan memahami situasi lingkungan menyebabkan mereka hanya sekedar menggunakan kacamata kuda. Mereka hanya menggunakan sudut pandang kebenaran secara logik, tetapi, mereka mencampakkan kesiapan dan perasaan lingkungan atas gagasan super logik itu. Maka terjadilah perbenturan, sehingga gagasan atau cara cerdas itu akhirnya mentok dan tidak produktif.
Resiko terbesar kegagalan memahami lingkungan sebenarnya tidak hanya terletak pada organisasi, melainkan bagi orang hebat itu sendiri. Sikap seperti itu memberikan signal kepada atasannya, bahwa dia bukanlah seorang team player. Dan seperti anda ketahui; di jaman ini, sebuah organsasi hanya bisa maju, jika dipimpin oleh seorang team player sejati. Dengan demikian, seorang karyawan, biarpun dia jagoan. Sekalipun dia terampil. Meskipun dia cerdas; jika bukan seorang team player, dia tidak layak untuk memimpin sebuah team. Itulah mengapa, banyak orang cerdas yang hebat ditempat kerjanya; tidak kunjung diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin. Dengan kata lain, promosi tidak kunjung datang baginya.
Jika anda termasuk orang yang cerdas dan hebat ditempat kerja; satu faktor lain yang perlu anda miliki adalah keluwesan dalam memahami dan berhubungan dengan lingkungan. Dengan keluwesan itu, anda dapat mengenali secara utuh, jiwa dari lingkungan dimana anda berada. Bahkan anda bisa ‘mengenali nafasnya’. Sehingga anda tahu kapan harus menambahkan oksigen kedalamnya; dan kapan harus mengeliminasi karbon dioksida. Dengan bagitu, anda bisa memastikan bahwa lingkungan anda selalu bisa mendapatkan udara paling murni untuk bernafas. Dan dengan demikian, organisasi dimana anda berada selalu sehat, bersemangat, dan memiliki vitalitas yang tinggi. Nah, sering kali hal ini hanya bisa anda lakukan jika anda bersedia mendengarkan mereka. Dan, kadang-kadang berarti anda harus menutup mulut anda sendiri, dalam arti; anda tidak memaksakan apa yang ada dalam pikiran anda untuk mereka lakukan.
Banyak orang mengira, bahwa hal itu berarti bahwa orang-orang disekitar kita boleh melakukan apa saja; dan pikiran anda itu tidak bisa digunakan. Tidak selalu demikian. Kadang memang kita perlu membiarkan orang-orang melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Jika cara atau pikiran mereka itu juga akan menghasilkan sesuatu yang produktif secara maksimal; mengapa harus kita paksa mereka melakukannya dengan cara kita? Tidak, bukan? Tetapi, adakalanya juga memang cara mereka bukan cara yang bisa membawa organisasi kedalam puncak prestasinya. Dalam situasi ini; kita harus membawa mereka kapada cara berpikir dan bertindak yang lebih baik. Cara anda.
Orang-orang cerdas yang kita bicarakan tadi berkata; “itulah kenapa saya paksa mereka mengikuti cara saya!” Itu benar. Tetapi, kadang orang cerdas tidak melakukannya secara elegan. Dalam menarik orang, memang kadang kita harus to the point. Tapi, dalam banyak situasi, kita perlu mengambil jalan memutar. Dan faktanya, ternyata kadang kita hanya butuh bersabar. Kadang, kita hanya butuh untuk menjaga perasaan mereka dan melindungi mereka dari kesan bahwa gagasan mereka selama ini agak sedikit dungu. Kita tahu, setiap orang memiliki personal pride-nya sendiri-sendiri, kan?
Ada sebuah contoh menarik. Disebuah organisasi, nyaris semua orang merasakan bahwa daya dukung dari salah satu departemen sangat kurang. Sehingga dampaknya dirasakan oleh departemen yang lain. Salah seorang karyawan cerdas mendatangi kepala departemen itu dan dengan lugas mengemukakan alasan-alasan; mengapa departemen itu harus berubah dan bergerak lebih cepat agar keseluruhan organisasi bisa meningkatkan kinerjanya. Tetapi, tidak ada perubahan apapun didepartemen itu; sekalipun orang cerdas kita ini sudah mengerahkan segala kemampuan untuk meyakinkannya. Lalu, seorang cerdas yang lain menemui orang penting didepartemen itu. Aneh sekali, cukup satu kali pertemuan saja yang mereka lakukan. Dan departemen yang dinilai membebani itu serta merta berubah menjadi departemen yang kinerjanya mengesankan.
Tahukah anda mengapa bisa demikian? Kata si kepala departemen: “ada orang-orang yang meminta agar kita memperbaiki kinerja kita seolah-olah cara yang kita gunakan selama ini sangat buruk. Dan ada orang-orang yang mengapresiasi cara kita itu baik, sekaligus menunjukkan kepada kita cara untuk menjadikan diri kita lebih baik lagi.” Apakah anda bisa menemukan perbedaannya? Tentu anda bisa. Dan apakah perbedaan itu? Sikap luwes kita ketika berusaha untuk membawa orang lain menuju tempat yang lebih baik. Ada orang yang main labrak. Menggunakan power agar orang lain berubah. Ada pula orang yang berusaha memahami dari sisi orang itu terlebih dahulu. Dan dia mengikuti pola orang itu untuk mengajaknya berubah. Itulah keluwesan.
Dengan keluwesan, anda bisa memenangkan hati orang-orang yang berada dilingkungan kerja anda. Jika anda seorang atasan, maka anda bisa membawa bawahan-bawahan anda untuk menuju perubahan yang positif. Dan jika anda seorang bawahan, maka atasan anda akan tahu bahwa anda adalah calon pemimpin dimasa depan. Dan jika suatu saat nanti anda mendapatkan kesempatan untuk dipromosikan; ingatlah bahwa, kadang memang anda perlu menggunakan kekuatan posisi anda, dan kadang anda hanya perlu mengikuti irama mereka. Dan memilih kapan menggunakan salah satunya, adalah sebuah seni yang langka.
Kepada orang-orang ndablek yang maunya menang sendiri, memaksakan kehendak, menutup telinga dari suara orang lain, dan selalu merasa dirinya benar. Racun bagi anggota kelompok lain; memang anda perlu tegas. Kalau perlu, gunakan position power anda. Namun, orang-orang yang seperti itu tidaklah banyak. Sebab, sebagian besar anggota team anda adalah orang-orang yang hanya membutuhkan cara yang tepat, yang bisa mereka terima; sebelum mereka mengikuti anda.

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Keteladanan konon adalah hal terpenting dalam usaha untuk meyakinkan orang lain, agar mereka mengikuti anda. Namun, banyak orang yang tidak mau mengikuti teladan yang baik; karena mereka lebih suka tinggal dalam comfort zone mereka masing-masing. Tetapi, tetaplah menjadi teladan. Sebab dengan cara itu, anda bisa menemukan orang-orang hebat yang jumlahnya sedikit; dan membedakannya dari sekumpulan orang-orang yang selamanya hanya akan menjadi pekerja dibawah perintah. Karena. Keteladanan anda. Akan selalu dapat. Menginspirasi. Calon-calon pemimpin masa depan.
************************************************

Category: Sharing  3 Comments

(Sekedar ngisi kevakuman nulis. Tapi nggak ada hubungannya ama Speedy yang produk Telkom itu :-) )

http://www.cosmopolitan.co.id/v2/artikel.php?aid=553&isdetail=true

Milla, 28 tahun, punya karier di jalan bebas hambatan. Hanya dalam waktu dua tahun, dia sudah menduduki jabatan manager. Tiga tahun kemudian, wanita ini sudah duduk dengan tegar di jajaran eksekutif eselon satu di perusahaannya. Semua itu tak didapatkannya dengan mudah. Bekerja keras hingga 12 jam sehari, tak terhitung akhir pekan, masih ditambah dengan berbagai training, semua ini membuatnya tak terlewati oleh rekan-rekan seangkatannya. Oh, ya, masih ada faktor lain yang ikut mendukung: wanita ini beruntung bekerja di perusahaan yang tepat yang memberikan berbagai kesempatan untuk pengembangan karier. Sejak pertama kali terjun ke dunia kerja, saya memang sudah punya target pribadi dan profesional. Saya tak pernah mengeluh melakukan semua kerja keras ini. Dan saya tak akan berhenti hingga di sini. Selama saya masih mampu, saya akan terus mengejar posisi yang lebih menantang, ujar Milla.

Sementara itu, Retty, 29 tahun, punya kebijaksanaan profesional sendiri. Bukannya tak punya target dan ambisi, tapi wanita ini memilih jalur yang sama sekali berbeda dengan rekannya, Milla. Buat Retty, karier bukan untuk dikejar, melainkan dinikmati. Tak heran, dia pun santai-santai saja dalam bekerja. Yang penting hatinya senang, titik. Urusan gaji dan jabatan, dia tak pernah ambil pusing. Selama masih bisa membayar tagihan telepon, listrik, kartu kredit dan membiayai liburan ke luar negeri sekali setahun, dia sudah cukup merasa happy.

Dunia ini memang penuh dengan dikotomi, hingga tak tersisakan ruang untuk menetap menjadi abu-abu. Termasuk dalam karier: berada di jalur cepat atau pelan, Anda diperbolehkan untuk memilih yang terbaik bagi hidup. Yang harus dilakukan adalah menyadari jalur yang Anda pilih, dan melakukan langkah yang tepat agar sesuai dengan target. Dengan begitu, Anda masih tetap tersenyum dan tak berangkat ke kantor dengan wajah cemberut dan stres, dengan alasan pekerjaan sudah mulai membosankan dan Anda merasa tersiksa. Baca ulasan berikut ini saja, endapkan ke dalam benak. Jika saja Anda ingin berubah pikiran, tak pernah ada kata terlambat! 

I PREFER THE FAST TRACK CAREER!

Ibaratkan saja dengan dunia yang bergerak dengan cepat. Setiap hari ada teknologi baru yang dikembangkan. Kalau dulu semua orang hanya puas dengan telegram, kini telepon, email, SMS dan berbagai teknologi canggih menggantikannya. Jika dulu orang mengirim uang via wesel pos, kini hanya dengan sekali klik pun Anda bisa mengirim uang ke belahan dunia paling jauh sekalipun. Semua berubah, bahkan dalam hitungan detik. Anda berlari, berlari, dan terus berlari. Sekali-sekali berhenti untuk beristirahat untuk mengisi energi, tapi hidup Anda bagaikan berada di atas treadmill dengan kecepatan sangat tinggi. Jika Anda berada di jalur ini, baca aturan mainnya!

Full speed 1: In Love with Your Job

Pekerjaan bukan sekadar untuk mendapatkan slip gaji dan membuat tabungan terisi penuh. Lebih dari itu, bekerja adalah satu cara untuk mengekspresikan diri dan merupakan refleksi yang terpancar dari diri Anda. Jadi, cobalah untuk mencintai pekerjaan atau apa yang sedang Anda lakukan. Dengan semangat di level tertinggi, Anda akan lebih mudah untuk membuat berbagai strategi demi kemajuan karier.

Jika saat ini Anda berada di titik awal karier, jangan segan untuk mencoba berbagai hal yang berbeda. Luangkan waktu untuk mempelajari hal-hal baru dan jangan tergantung pada orang lain. Anda pun akan menemukan berbagai penemuan baru dalam pekerjaan yang akan memberi Anda gambaran lebih jelas soal langkah karier Anda.

Full speed 2: Be a Smart Communicator

Sudah jelas kalau setiap hari Anda berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Anda berbicara, mendengarkan, mengeluarkan pendapat, dan mengekspresikan diri. Makanya, tak akan sulit bagi Anda untuk memahami pentingnya arti komunikasi di dunia kerja. Aturan nomor satu: komunikasikan informasi yang Anda berikan kepada atasan dalam kemasan yang menarik. Salah satu caranya adalah dengan mengetahui gaya dan kepribadian superior Anda. Jika atasan gemar dengan angka, presentasikan laporan Anda dalam berbagai grafik dan fakta berupa angka. Dia akan lebih mudah mencerna laporan yang Anda berikan. Sebaliknya, jika atasan lebih suka dengan analisis berupa kata-kata, formulasikan laporan Anda dalam bahasa yang teratur, rapi dan profesional.

Full speed 3: Show Me the Challenge

Manfaatkan berbagai kesempatan untuk memamerkan kelebihan dan kompetensi Anda. Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan ini, saya mulai mengerti kapan periode penuh acara dan kapan masa tenang. Saat bulan-bulan sibuk tiba, saya berusaha untuk selalu berada dalam kondisi prima. Dalam seminggu, saya bahkan bisa meng-handle 10 pesta pernikahan, ujar Frederika, 29 tahun, wedding coordinator yang bergabung di sebuah perusahaan yang melayani jasa pernikahan.

Di tempat kerja, Anda tidak akan bekerja sendiri. Sebagai seorang calon leader sejati, Anda juga harus bisa memberikan inspirasi kepada anggota tim kerja. Tebarkan energi positif untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman dan tenteram. Pendam rasa sirik karena sukses rekan kerja lain. Justru jadikan hal tersebut sebagai pemicu semangat untuk bekerja lebih giat lagi, sambil berharap bahwa aura kesuksesan akan merembet kepada diri Anda. Jangan pelit memberikan pujian kepada rekan kerja lain. Perlihatkan kepada perusahaan kalau Anda adalah team player yang baik yang bisa bekerja sama dengan semua orang. Karakter positif juga jadi titik penentu kemajuan karier Anda!

Full speed 4: Help Me, Coach!

Di banyak negara, layanan career coaching sudah lumrah terjadi dan banyak dimanfaatkan oleh para profesional muda dalam meraih sukses karier. Career coach antara lain akan membuat analisa terhadap kondisi pekerjaan Anda, membuat survei mengenai potensi dan kemampuan Anda, dan kemudian menyesuaikannya dengan kondisi market yang sedang terjadi saat ini. Rencana pengembangan karier ini akan dibeberkan dengan lebih terarah dan sistematis.

Aturan ini memang tak mudah untuk diterapkan. Karena selain biayanya cukup tinggi, Anda juga perlu menemukan career coach yang jagoan dan pintar membuatkan program karier yang sesuai dengan kondisi Anda. Nah, adopsi saja prinsip brilian ini! Caranya, cari seorang rekan kerja yang lebih senior dan tahu dengan bidang kerja yang sedang Anda geluti. Atau, bisa juga tokoh idola Anda yang bisa diakses dengan mudah melalui website pribadi atau bahkan blog mereka. Dengan rasa hormat, minta tokoh tersebut untuk berkenan menjadi mentor Anda. Pastikan bahwa dia memiliki kemampuan yang ingin Anda sadap dan dia pun menaruh minat terhadap kepribadian dan potensi yang Anda miliki. Suatu ketika, saat sedang browsing di internet, saya menemukan blog seseorang yang sudah lama bergelut di bidang advertising. Di blog itu, dia membeberkan berbagai trik dan tips perjalanan kariernya. Saya pun memberanikan diri mengkontak orang tersebut. Hingga kini, kami rajin berkirim e-mail dan saya banyak mendapatkan masukan dan informasi bagi kemajuan profesi saya! ujar Clara, 28 tahun, senior copywriter.

I AM GOING SLOWLY!

Anda berprinsip bahwa kehidupan profesional dan personal harus berjalan di arah yang sama, dengan kecepatan yang sama pula. Anda tak ingin kehidupan sosial terampas gara-gara harus berkutat dengan setumpuk file yang seakan melambai-lambai minta diselesaikan saat itu juga. Berambisi di tempat kerja, buat Anda, sama saja dengan setiap hari pulang jam 11 malam, atau keluar dari kantor jam 7 malam tapi masih menenteng pekerjaan ke rumah, hingga pacar merasa terabaikan karena Anda lebih cinta pada kantor daripada dirinya. Sambil menggidik, Anda membayangkan tak ingin mempunyai kehidupan seperti rekan Anda, si Melissa, yang punya posisi menarik di kantor tapi tak punya pendamping. Atau seperti Sonia, yang kerap mengeluh berantem dengan suami yang tak setuju dia terlalu sering pulang lewat tengah malam saat deadline. Atas pertimbangan hal-hal tersebut, Anda merasa kalau jalan karier yang biasa-biasa saja jauh lebih baik bagi kesehatan fisik dan jiwa. Anda ingin merasakan setiap proses dengan hati tenang, karena Anda punya prinsip kalau pekerjaan yang bisa dinikmati memberi kepuasan yang jauh lebih tak ternilai harganya daripada sekadar jabatan dan gaji. Jika Anda bertipe seperti ini, pelajari beberapa hint berikut ini:

Slowly 1: Make a Plan

Yang penting, keputusan untuk berjalan pelan-pelan dalam kehidupan profesional ini karena memang menjadi pilihan Anda, dan bukan karena kepepet. Kondisi ini akan memberi hasil yang positif jika Anda menyadari sepenuhnya hal ini. Selain itu, Anda pun akan banyak energi dan keinginan untuk lebih mencerna segala sesuatu yang terjadi sepanjang perjalanan karier. Buatlah rencana jangka pendek untuk setiap target yang ingin dicapai. Jika ternyata goal sudah bisa tercapai lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan, maka Anda akan membuat rencana lanjutan. Dengan mempelajari berbagai kemungkinan dan rencana strategis, Anda akan memutuskan untuk tetap berada di jalur tersebut atau tidak. Jika ya, Anda juga membuat rencana berbagai pengetahuan baru yang ingin dipelajari dalam kurun waktu tersebut. Sebaliknya, jika Anda merasa kalau posisi yang ditekuni kurang menantang, tak membuat Anda terinspirasi atau bosan, Anda bisa putar haluan sesegera mungkin. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan. Terlalu sebentar bekerja pada suatu posisi tak akan memberi Anda cukup waktu untuk mempelajari berbagai hal dan menjadi ahli di bidangnya. Sedangkan terlalu lama bekerja pada satu posisi membuat atasan menganggap kalau Anda tak punya ambisi.

Slowly 2: Explore and Expand

Saat Anda tak terlalu memaksakan diri untuk suatu target tertentu membuat lebih banyak pilihan terbentang lebar bagi Anda. Mungkin lebih tepatnya, Anda jadi punya banyak waktu untuk membagi perhatian kepada hal lain yang menyenangkan dan tentu saja memberi keseimbangan bagi kehidupan Anda, baik personal maupun profesional. Beberapa tahun yang lalu, saya mulai mempelajari fotografi. Kebetulan banyak teman saat kuliah yang jago di bidang tersebut. Secara teratur, saya meluangkan waktu untuk berkumpul dalam komunitas ini dan hunting foto bersama. Saya juga pernah mengikuti kursus singkat fotografi untuk mendapatkan teori dasarnya. Selain fotografi, saya juga tertarik untuk belajar menulis. Kebetulan kantor bersedia membiayai program penulisan jurnalistik yang diselenggarakan oleh sebuah institusi pemerintah. Keahlian menulis dan fotografi ini juga menunjang pekerjaan saya, terutama saat berada di lapangan, kata Widya, 31 tahun, project officer di sebuah LSM yang bergerak di bidang politik.

Slowly 3: Hidden but Visible

Anda boleh saja mengerem kecepatan berkarier. Anda boleh saja bersikap down to earth atau mendekam di belakang layar sambil menikmati dunia Anda. Tapi ada satu hal yang tak boleh terlupakan: Anda harus tetap marketable. Soalnya dunia bisnis berkembang dengan sangat cepat. Jadi, tak ada waktu buat Anda untuk duduk diam begitu saja. Suatu ketika, dalam kondisi tertentu, Anda tetap akan dituntut untuk dinamis dan gesit. Jadi, persiapkan diri untuk kondisi ini!

Slowly 4: Shift Your Focus

Salah satu kelebihan berkarier di jalur lambat adalah Anda bisa berganti pekerjaan dengan masa transisi yang lebih smooth. Soalnya, Anda mempunyai ritme kerja yang biasanya lebih mudah untuk beradaptasi. Begitupun, saat memasuki dunia kerja yang baru, Anda biasanya juga lebih punya lebih banyak waktu untuk melewati masa proses dengan lebih hati-hati. Jika suatu saat Anda merasa ingin berpindah profesi, cobalah cari tantangan baru. Misalnya dengan pindah ke departemen lain atau mengembangkan ide baru dalam bisnis yang sesuai dengan minat Anda. Jangan ragu untuk mengembangkan berbagai kemungkinan!

Category: Sharing  One Comment

(Mode Serius = ON)

Senin pagi kemarin di radio K-Lite aku denger tips dari James Gwee tentang Law of Leadership. Apaan tuh? Ada banyak hal yang dia katakan. Tapi karena aku dengerin sambil nyetir sehingga nggak konsen, dan secara aku ini gampang lupa, hanya sebagian yang bisa aku inget (halah.. ngeles..). Dan dari sebagian itu, yang aku tulis di sini juga hanya sebagian. Kalo aku tulis semua, kasian James Gwee-nya dunk. Ntar seminarnya nggak laku.

Pertama, leadership bukan jabatan. Leadership adalah perilaku. (Tuh.. makanya nggak usahlah rebutan jabatan. :-) )

Kedua, leadership itu harus didukung ego yang sehat. Apaan tuh? Kata si James, ciri ego yang sakit antara lain selalu menganggap dirinya paling benar, selalu mencari seseorang/sesuatu untuk disalahkan. Beda kalo orang yang egonya sehat, yang dipikirkan adalah apa yang perlu dilakukan. (hhmm… kayaknya di sekitar aku ada tuh orang yang egonya nggak sehat kayak gitu. :-P )

Ketiga, orang yang memiliki leadership akan dipatuhi orang, meskipun dia nggak punya jabatan. Jadi bila ada orang yang dipatuhi hanya karena jabatannya, dan akan ditinggalkan bila sudah nggak punya jabatan lagi, berarti dia nggak punya leadership.

Dah ah.. segitu aja.

Category: Sharing  Leave a Comment