Archive for » December, 2006 «

Waktu itu aku sedang mencari buku lain yang direkomendasikan temen. Kebetulan buku itu nggak ada, karena sudah termasuk buku lama. Penjual buku yang ramah menawarkan buku ini. Aku baca sekilas, pemenang Pulitzer Prize, pengarangnya orang India, kumpulan cerpen. Lumayan juga kayaknya. Jadi aku beli buku ini.

Judul aslinya “Interpreter of Maladies”. Diterjemahkan jadi “Penerjemah Luka”. Pengarangnya Jhumpa Lahiri. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Tebalnya 248 halaman. Di sampul belakang bukunya tertulis gini : “Dalam kumpulan cerpen ini, secara cerdas dan lugas Jhumpa Lahiri menggambarkan berbagai detail kehidupan orang India, sekaligus secara universal membahas tema-tema tentang perasaan kesepian dan keterasingan”. Jadi inti dari sembilan cerpen di buku ini adalah perasaan kesepian dan keterasingan. Sendu banget ya.

Cerpen pertama berjudul “Masalah Sementara”, bercerita tentang pasangan suami istri yang mempunyai masalah komunikasi, sejak bayi mereka meninggal saat dilahirkan. Mereka baru bisa membuka diri lagi pada saat ada masalah pemadaman listrik di kompleks mereka. Daripada diam-diam berdua dalam gelap, akhirnya mereka memilih untuk saling bicara.

Cerpen kedua berjudul “Ketika Mr. Pirzada Mampir Makan Malam”, berlatar belakang peristiwa perang di kawasan India yang berujung pada pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Mr. Pirzada, warga Dacca yang sedang menjalankan penelitian di Amerika, setiap malam memantau berita perang tersebut, karena dia meninggalkan istri dan tujuh anak perempuannya di sana.

Cerpen ketiga berjudul “Penerjemah Luka”, yang dijadikan judul buku ini. Bercerita tentang Mr. Kapasi, seorang sopir mobil sewaan yang sekaligus bertindak sebagai tour guide. Selain itu, Mr. Kapasi juga bekerja di tempat praktek dokter sebagai penerjemah luka. Maksudnya adalah dia bertugas menerjemahkan keluhan pasien dalam bahasa Gujarat menjadi bahasa yang bisa dimengerti oleh sang dokter. Suatu kali, saat dia sedang mengantar keluarga Das berwisata, Mrs. Das mengomentari pekerjaan Mr. Kapasi sebagai penerjemah luka adalah pekerjaan yang romantis. Karena komentar tersebut, Mr. Kapasi menjadi berimajinasi tentang dia dan Mrs. Das.

Cerpen keempat, berjudul “Durwan Sejati”. Durwan berarti penjaga gedung. Menceritakan tentang wanita bernama Boori Ma, yang hidup sendirian menumpang di suatu gedung, sambil bertugas membersihkan tangga gedung tersebut. Sampai akhirnya gedung tersebut kemasukan pencuri, dan Boori Ma diusir para penghuni gedung karena dituduh membantu para pencuri.

Cerpen kelima berjudul “Seksi”. Menceritakan tentang Miranda, wanita yang mempunyai kekasih pria India yang sudah beristri. Miranda akhirnya memutuskan hubungan tersebut, setelah bertemu anak dari sepupu sahabatnya, yang ayahnya telah meninggalkan ibunya karena terpikat wanita lain dalam suatu penerbangan.

Cerpen keenam berjudul “Rumah Mrs. Sen”. Bercerita tentang Elliot, anak dari wanita yang single parent. Sepulang sekolah, sambil menunggu ibunya bekerja, Elliot dititipkan ke rumah Mrs. Sen. Sampai suatu saat, Mrs. Sen yang belum begitu lancar menyupir, mengajak Elliot pergi naik mobil untuk mengambil ikan pesanannya, dan akhirnya terjadi kecelakaan. Ibu Elliot memutuskan berhenti menitipkan anaknya pada orang lain, dan mengajari Elliot untuk bisa menunggu di rumah sendirian.

Cerpen ketujuh berjudul “Rumah yang Diberkati”. Bercerita tentang pasangan muda yang baru menempati rumah mereka. Rupanya penghuni lama meninggalkan banyak barang-barang simbol agama Kristen disitu. Sang suami merasa asing dengan ketertarikan istrinya terhadap barang-barang tersebut, padahal mereka adalah penganut Hindu.

Cerpen kedelapan berjudul “Pengobatan Bibi Haldar”, menceritakan wanita yang dipanggil Bibi Haldar yang mempunyai penyakit aneh. Dan akhirnya Bibi Haldar bisa sembuh setelah dia hamil dan mempunyai anak, meskipun tidak diketahui siapa ayah dari anak tersebut.

Cerpen kesembilan berjudul “Benua Ketiga dan Terakhir”, bercerita tentang imigran dari
India yang sebelumnya sekolah di Inggris dan mendapat pekerjaan di Amerika. Dia pernah menyewa kamar, dimana pemiliknya adalah seorang wanita tua berusia lebih dari 100 tahun yang tinggal sendirian, hanya ditengok anak perempuannya seminggu sekali. Setiap malam saat dia pulang kerja, dia harus melakukan semacam ritual kecil dengan wanita tersebut : pertanyaan yang sama, tempat duduk yang sama, cerita dan perintah yang sama.

Cerpen kesembilan ini sedikit mengingatkan aku waktu di Palembang dulu, aku pernah menyewa kamar pada keluarga pensiunan. Si Bapak dan Ibu hanya tinggal berdua, anak-anaknya sudah pergi semua. Kebetulan waktu itu yang menyewa kamar hanya aku sendiri. Mirip cerpen tersebut, aku jadi sering ngobrol dengan si Bapak atau Ibu, mendengar cerita-cerita masa lalu mereka, kegiatan mereka, anak-anak mereka, dll.

Kembali ke buku. Hal yang aku suka dari buku ini adalah karena ceritanya tentang manusia secara apa adanya, bukan secara hitam putih. Di sini tidak ada yang jadi jagoan atau penjahat. Karena memang sebenarnya tidak ada manusia yang hitam sepenuhnya atau putih sepenuhnya (kecuali Nabi kali ya). Selain itu, cara bertuturnya yang detail tapi tidak bertele-tele, membuatku tertarik membacanya sampai selesai, meskipun tidak sekaligus dalam satu waktu :-)

Category: Book  Leave a Comment

Kompas, Minggu 24 Desember 2006. 

Ada banyak alasan yang terlontar dari mulut mereka yang tidak suka dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini, mulai dari ketidakcocokan dengan tugas yang diemban, beban kerja yang dinilai terlalu berat, sampai suasana kantor yang tidak nyaman. Kondisi ini memang sangat dilematis karena ketidaknyamanan di atas mau tidak mau harus dilakoni untuk bisa mendapatkan penghasilan.

Akan tetapi kondisi di atas bukanlah alasan untuk tidak meningkatkan atau paling tidak mempertahankan performa kerja, bagaimanapun hal tersebut akan mempengaruhi penilaian kerja dan track record seorang karyawan. Oleh karenanya, sambil berusaha mencari keadaan yang lebih baik, beberapa tips berikut bisa digunakan untuk menyiasati problem di atas.

1. Cobalah untuk tetap berpikir positif, antara lain dengan menganggap bahwa semua ini adalah sebuah proses belajar di mana Anda bisa memetik hal-hal baru untuk menghadapi tugas atau dunia baru di masa mendatang. Dengan begini, hati Anda akan tetap tenang saat bekerja, toh suasana hati yang panas juga tidak akan membawa Anda keluar dari masalah bukan?

2. Daripada terus-terusan mengeluh, lebih baik membuka mata kalau-kalau ada kesempatan yang terbuka, entah itu mutasi ke bagian lain dengan tugas atau pekerjaan yang lebih sesuai dengan bidang yang dikuasai, pelatihan-pelatihan yang tentunya akan menambah skill dan pengetahuan, atau bahkan lowongan kerja di tempat lain.

3. Cobalah untuk mencari kutipan kata-kata yang bisa memotivasi Anda saat bekerja. Tulis ulang kata-kata tersebut dengan rapi, hias sedemikian rupa sesuai dengan selera, dan letakkan di meja kerja Anda.

4. Sambil menjaga serta membuka jaringan sosial di luar kantor, Anda bisa mengembangkan hobi dan minat saat liburan atau pada waktu senggang daripada Anda hanyut memikirkan pekerjaan Anda. Lagipula, siapa tahu hobi tersebut bisa berguna di masa mendatang.

Catatan aku:

Kok bisa kebetulan banget ada artikel macam ini, setelah tanggal 22 Desember kemarin aku nulis tentang ketidakcintaan aku pada pekerjaan. Setelah membaca artikel di atas, aku coba menjalankan saran nomor 3 dan 4, dengan membuat kutipan sebagai berikut :

“Bekerjalah yang baik. Kalo tidak, kamu tidak akan memperoleh penghasilan yang berguna untuk mengembangkan hobi dan minatmu di bidang shopping dan travelling.

Hmm.. cukup masuk akal bukan? :-)

Category: Sharing  2 Comments
18
Dec

Seorang maniak blogging yang aku kenal menyuruhku membuat weblog. Buset.. yg terlintas pertama di kepalaku adalah menolaknya. Aku punya beberapa alasan. Alasan pertama, kira-kira setahun lalu aku pernah membuat sebuah weblog, dan nyatanya sampe sekarang nggak pernah aku isi. Alasan kedua, karena dia menyuruhku membuat weblog di suatu tempat yg berbau telkom. Alasan ketiga, khas aku banget, aku nggak suka disuruh-suruh, terutama oleh orang yg menurutku nggak punya hak nyuruh aku. Dan hal yg disuruh pun menurutku bukan hal yang penting. 

Si orang ini masih berusaha mempengaruhi aku beberapa kali. Katanya, nggak usah di telkom.tk juga nggak papa. Bosan menolak, akhirnya jawaban aku mulai berubah menjadi : iya deh ntar juga bikin. Tapi ntarnya nggak tau kapan. 

Tapi aku lupa bahwa kepala orang ini lebih keras daripada tiang telepon. Tiba-tiba hari ini aku mendapat email pemberitahuan bahwa telah terdaftar weblog dengan namaku, dan aku dipersilakan mengaktivasinya.  Dan ketika aku masuk ke link yg ditunjuk, ternyata dengan semena-mena dia menaruh salah satu judul lagu favoritku sebagai title dari weblog tsb. Buset… kalo ketauan Peterpan, aku bisa dituntut royalti. Maksud loh apa? 

Sebenarnya sih aku punya pilihan untuk tidak mengaktivasi weblog ini. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, daripada namanya diambil orang, kayaknya gak ada ruginya aku ambil duluan. Alasan yg sangat egois ya? Tapi siapa yg peduli? Siapa juga yg peduli apakah nanti weblog ini akan terus diisi atau nggak? 

So Mr. K.. r u satisfied now?

Category: Life  2 Comments