Waktu itu aku sedang mencari buku lain yang direkomendasikan temen. Kebetulan buku itu nggak ada, karena sudah termasuk buku lama. Penjual buku yang ramah menawarkan buku ini. Aku baca sekilas, pemenang Pulitzer Prize, pengarangnya orang India, kumpulan cerpen. Lumayan juga kayaknya. Jadi aku beli buku ini.
Judul aslinya “Interpreter of Maladies”. Diterjemahkan jadi “Penerjemah Luka”. Pengarangnya Jhumpa Lahiri. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Tebalnya 248 halaman. Di sampul belakang bukunya tertulis gini : “Dalam kumpulan cerpen ini, secara cerdas dan lugas Jhumpa Lahiri menggambarkan berbagai detail kehidupan orang India, sekaligus secara universal membahas tema-tema tentang perasaan kesepian dan keterasingan”. Jadi inti dari sembilan cerpen di buku ini adalah perasaan kesepian dan keterasingan. Sendu banget ya.
Cerpen pertama berjudul “Masalah Sementara”, bercerita tentang pasangan suami istri yang mempunyai masalah komunikasi, sejak bayi mereka meninggal saat dilahirkan. Mereka baru bisa membuka diri lagi pada saat ada masalah pemadaman listrik di kompleks mereka. Daripada diam-diam berdua dalam gelap, akhirnya mereka memilih untuk saling bicara.
Cerpen kedua berjudul “Ketika Mr. Pirzada Mampir Makan Malam”, berlatar belakang peristiwa perang di kawasan India yang berujung pada pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Mr. Pirzada, warga Dacca yang sedang menjalankan penelitian di Amerika, setiap malam memantau berita perang tersebut, karena dia meninggalkan istri dan tujuh anak perempuannya di sana.
Cerpen ketiga berjudul “Penerjemah Luka”, yang dijadikan judul buku ini. Bercerita tentang Mr. Kapasi, seorang sopir mobil sewaan yang sekaligus bertindak sebagai tour guide. Selain itu, Mr. Kapasi juga bekerja di tempat praktek dokter sebagai penerjemah luka. Maksudnya adalah dia bertugas menerjemahkan keluhan pasien dalam bahasa Gujarat menjadi bahasa yang bisa dimengerti oleh sang dokter. Suatu kali, saat dia sedang mengantar keluarga Das berwisata, Mrs. Das mengomentari pekerjaan Mr. Kapasi sebagai penerjemah luka adalah pekerjaan yang romantis. Karena komentar tersebut, Mr. Kapasi menjadi berimajinasi tentang dia dan Mrs. Das.
Cerpen keempat, berjudul “Durwan Sejati”. Durwan berarti penjaga gedung. Menceritakan tentang wanita bernama Boori Ma, yang hidup sendirian menumpang di suatu gedung, sambil bertugas membersihkan tangga gedung tersebut. Sampai akhirnya gedung tersebut kemasukan pencuri, dan Boori Ma diusir para penghuni gedung karena dituduh membantu para pencuri.
Cerpen kelima berjudul “Seksi”. Menceritakan tentang Miranda, wanita yang mempunyai kekasih pria India yang sudah beristri. Miranda akhirnya memutuskan hubungan tersebut, setelah bertemu anak dari sepupu sahabatnya, yang ayahnya telah meninggalkan ibunya karena terpikat wanita lain dalam suatu penerbangan.
Cerpen keenam berjudul “Rumah Mrs. Sen”. Bercerita tentang Elliot, anak dari wanita yang single parent. Sepulang sekolah, sambil menunggu ibunya bekerja, Elliot dititipkan ke rumah Mrs. Sen. Sampai suatu saat, Mrs. Sen yang belum begitu lancar menyupir, mengajak Elliot pergi naik mobil untuk mengambil ikan pesanannya, dan akhirnya terjadi kecelakaan. Ibu Elliot memutuskan berhenti menitipkan anaknya pada orang lain, dan mengajari Elliot untuk bisa menunggu di rumah sendirian.
Cerpen ketujuh berjudul “Rumah yang Diberkati”. Bercerita tentang pasangan muda yang baru menempati rumah mereka. Rupanya penghuni lama meninggalkan banyak barang-barang simbol agama Kristen disitu. Sang suami merasa asing dengan ketertarikan istrinya terhadap barang-barang tersebut, padahal mereka adalah penganut Hindu.
Cerpen kedelapan berjudul “Pengobatan Bibi Haldar”, menceritakan wanita yang dipanggil Bibi Haldar yang mempunyai penyakit aneh. Dan akhirnya Bibi Haldar bisa sembuh setelah dia hamil dan mempunyai anak, meskipun tidak diketahui siapa ayah dari anak tersebut.
Cerpen kesembilan berjudul “Benua Ketiga dan Terakhir”, bercerita tentang imigran dari
India yang sebelumnya sekolah di Inggris dan mendapat pekerjaan di Amerika. Dia pernah menyewa kamar, dimana pemiliknya adalah seorang wanita tua berusia lebih dari 100 tahun yang tinggal sendirian, hanya ditengok anak perempuannya seminggu sekali. Setiap malam saat dia pulang kerja, dia harus melakukan semacam ritual kecil dengan wanita tersebut : pertanyaan yang sama, tempat duduk yang sama, cerita dan perintah yang sama.
Cerpen kesembilan ini sedikit mengingatkan aku waktu di Palembang dulu, aku pernah menyewa kamar pada keluarga pensiunan. Si Bapak dan Ibu hanya tinggal berdua, anak-anaknya sudah pergi semua. Kebetulan waktu itu yang menyewa kamar hanya aku sendiri. Mirip cerpen tersebut, aku jadi sering ngobrol dengan si Bapak atau Ibu, mendengar cerita-cerita masa lalu mereka, kegiatan mereka, anak-anak mereka, dll.
Kembali ke buku. Hal yang aku suka dari buku ini adalah karena ceritanya tentang manusia secara apa adanya, bukan secara hitam putih. Di sini tidak ada yang jadi jagoan atau penjahat. Karena memang sebenarnya tidak ada manusia yang hitam sepenuhnya atau putih sepenuhnya (kecuali Nabi kali ya). Selain itu, cara bertuturnya yang detail tapi tidak bertele-tele, membuatku tertarik membacanya sampai selesai, meskipun tidak sekaligus dalam satu waktu










Recent Comments