Sekitar 3 minggu lalu, aku pulang ke rumah orang tua di Purwokerto. Aktivitas yang biasanya rutin kulakukan sebulan sekali waktu aku tinggal di Bandung, tapi jadi agak berkurang setelah aku pindah ke Jakarta, karena jarak yang lebih jauh. Menengok orang tua yang semakin tua, terutama Bapak yang keluhan sakitnya semakin banyak, ditambah kesibukan beliau yang semakin berkurang. Sementara sebagian besar anak-anaknya sibuk sendiri mencari rezeki di kota lain, sehingga perhatian kepada orang tua tidak sebanyak yang diharapkan.
Untuk mengisi waktu, Bapak suka membaca buku-buku agama. Jadi aku ajak Bapak untuk membeli buku baru, barangkali buku yang lama udah habis dibaca. Bapak setuju. Lalu kami pergi bertiga, bersama salah satu keponakan kecilku yang sedang dalam tahap haus buku bacaan. Setelah Bapak dan si keponakan milih buku, rasanya kok gak afdol kalo aku nggak beli juga
Pilih-pilih sebentar, akhirnya kuambil buku “The Journeysâ€, dengan alasan salah satu penulisnya adalah orang yang kukenal yaitu Okke Sepatu Merah. Alasan lain karena tampaknya isinya ringan-ringan saja, tidak akan bikin kening berkerut. Dari pengalaman yang dulu-dulu, buku2 serius yang kubeli akhirnya menumpuk di lemari, hanya sempat kubaca sedikit halaman depannya. Bahkan ada beberapa buku yang masih rapi dalam plastik pembungkusnya

The Journeys adalah kumpulan 12 kisah perjalanan dari 12 penulis dengan latar belakang yang berbeda. Kisah pertama yang kupilih untuk kubaca adalah “Lucerne: A Morning Kiss Bye from A Strangerâ€, dari Windy Ariestanty . Alasanku memilihnya simpel saja, karena aku sedang terobsesi dengan hal2 berbau perjalanan ke Eropa. Dari kisah Windy itu aku mendapat “Top 6 things to see in Lucerne’, semoga aku nanti bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dari Windy pula aku tau ada buku “1000 Places to See before You Dieâ€, dan Windy ternyata udah melihat 23 lokasi di 14 negara. Okay, aku mengiri padamu, Windy. Kayaknya aku akan menunggu buku kumpulan cerita perjalananmu yang katanya akan diterbitkan 
Dari kisah Windy, aku langsung lompat ke kisah yang ditulis Okke, berjudul “Sompralâ€. Artinya kurang lebih hal-hal yang tabu/pamali dilakukan di suatu tempat, karena percaya/nggak percaya, jika larangan itu dilanggar, ada hal buruk yang akan terjadi.
Setelah baca kisah Okke, aku meneruskan membaca buku tanpa perhatikan urutannya, dari kisah yang di bagian tengah buku, balik ke kisah di depan, dst.
Selain tulisan Windy yang udah kuceritain di atas, ada 3 kisah lagi yang menarik perhatianku. Pertama kisah Alexander Thian berjudul “Karimun Jawa – Surga Indonesiaâ€. Kisah ini menarik karena Karimun Jawa masuk ke dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi di Indonesia (selain Banda Aceh, Bunaken, dan Raja Ampat). Dari tulisan Alexander atau aMrazing itu, aku mendapat gambaran bagaimana perjalanan ke sana, dan apa aja yang bisa dilihat di sana. Perjalanan 6 jam naik ferry yang sebelumnya kubayangkan bakal menakutkan, sekarang tidak seseram lagi di bayanganku setelah membaca tulisan aMrazing.
Kedua adalah kisah dari Ferdiriva Hamzah, seorang dokter mata yang menulis kisah perjalanannya bersama mertua ke Amerika, dengan judul “Amerika Amertuaâ€. Di situ Ferdiriva mengisahkan bahwa awalnya dia tidak happy karena harus pergi bersama mertuanya menghadiri sebuah kongres untuk para dokter mata. Tapi akhirnya dia merasa bahagia dengan perjalanan itu. Kata dia di akhir tulisan: Travelling yang asik itu bukan masalah siapa teman perjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri.
Kisah terakhir yang kubaca adalah tulisan Raditya Dika berjudul “Kasih Ibu Sepanjang Belandaâ€, kubaca kira2 satu minggu setelah aku beli buku itu. Jujur aja, meski aku tau Raditya Dika itu penulis terkenal, aku belum pernah baca buku-bukunya. Hanya sempat melihat kekonyolan dia dua kali di acara Ngumbar Onliners di Bandung bulan September 2010 dan di training MarkPlus Inc di Jakarta bulan Oktober 2010. Meski tulisan Dika ditempatkan di bagian paling belakang dari buku The Journeys, dan kubaca paling terakhir, tapi ternyata kisahnya paling menyentuh aku. Dia cerita waktu dia dapat beasiswa summer course selama 2 minggu ke Belanda. Awalnya dia merasa terganggu dengan perhatian mamanya yang dinilai berlebihan, terlalu sering menelepon dia sampai dia malas mengangkat. Sampai suatu saat, seorang temennya cerita bahwa dia nggak bisa telepon ke ibunya lagi karena ibunya sudah meninggal. Hal itu menyadarkan Dika bahwa sebenarnya jarak dia dan ibunya “hanya satu kali pencetan teleponâ€. Dia ngerasa sangat bodoh karena malu ketika dicariin ibunya, sementara temennya tidak akan bisa lagi dicariin ibunya karena mereka sudah beda alam. Dan paragraf terakhir tulisan Dika betul2 menyentuh aku:
“Gue gak mau suatu malam, setelah Nyokap gue pergi, gue ngeliat handphone dan berpikir seandainya gue bisa denger suara Nyokap sekarang. Pada saat ini, gue pengen setiap waktu yang dihabiskan, bisa gue habiskan dengan mendengar Nyokap berkali-kali nelepon dan nanya, “Kamu lagi apa?†Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua ke kita adalah gangguan terindah yang pernah kita terimaâ€.
Tulisan itu mengharukan, karena aku sendiri udah pernah berpikir seperti itu. Aku nggak tau kapan waktu yang tersisa untuk aku bisa bertemu orang tuaku. Jadi seharusnya aku memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada untuk membuat mereka bahagia. Tapi entahlah, mungkin karena aku hanya manusia biasa, selalu saja punya alasan untuk tidak melakukannya. Sekedar nelepon ke rumah dan ngobrol ama orang tua pun aku jarang. Menyadari kemalasanku ngobrol melalui telepon itulah yang membuatku berusaha sering pulang kampung, dan berusaha menyenangkan Bapak Ibu selama aku sedang di rumah. Senada dengan yang ditulis Dika di atas, aku tidak mau suatu saat, ketika orang tuaku udah nggak ada, aku menyesal karena tidak melakukan apa-apa ketika aku masih bisa melakukannya untuk mereka. Ah.. mataku mulai basah. Sebaiknya aku cukupkan tulisan ini sampai di sini saja.