Starbucks adalah salah satu merk yang banyak dibahas Hermawan Kartajaya di Surfing The New Wave Marketing. Dari mulai brandnya, produknya, manajemen pelanggannya, sampai para petani kopinya. Salah satu bahasan yang menarik perhatianku adalah bagaimana Starbucks memberikan “The Starbucks Experience” secara menyeluruh, mulai dari sapaan saat memasuki ruangan dan mencium aroma kopi, hingga ambience yang mendukung saat pelanggan bersantai dan hang out bersama teman. Ah ya.. jadi ingat, udah lama aku pengin baca buku “The Starbucks Experience”, tapi sampai sekarang belum terwujud.
Cerita tentang bagaimana memberikan pengalaman kepada pelanggan itu mengingatkanku pada hal yang telah dilakukan perusahaan tempat aku bekerja saat ini. Untuk memberikan pengalaman menggunakan internet yang menyenangkan, maka sejak tahun 2004, Telkom telah banyak memberikan pelatihan-pelatihan internet secara gratis kepada semua lapisan masyarakat, dari mulai anak sekolah (Program Internet Goes to School), ibu-ibu arisan, instansi pemerintah dan swasta, sampai ke para anggota TNI dan Polri. Pada tahun-tahun awal program, akses internet yang digunakan masih dial up Telkomnet Instan. Setelah Speedy mulai beroperasi, maka para peserta pelatihan pun diberi kesempatan untuk mengenal dan mencicipi akses internet broadband tersebut.
Seiring dengan berkembang pesatnya Web 2.0 yang ditandai dengan meningkatnya pengguna blog dan layanan social networking, maka Telkom pun melakukan penyesuaian materi pelatihan. Sejak pertengahan tahun 2009, Telkom Bandung membuat program pelatihan internet yang berbeda. Salah satunya adalah “Blog Vaganza”, sebuah program pelatihan internet yang ditujukan untuk pelajar SMA/SMK di Kota dan Kabupaten Bandung, dengan taglinenya yang provokatif “Jangan Ngaku Anak Bandung Kalo Belum Go Blog”. Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Blog Detik, Detik.com, dan salah satu vendor komputer Axioo, Telkom Bandung mendatangi sekolah-sekolah itu dengan membawa puluhan laptop, dan memberikan pelatihan bagaimana menggunakan dan memanfaatkan Facebook dan blog, secara gratis. Pelatihan internet ini dimasukkan ke dalam mata pelajaran dengan mengambil waktu sebanyak 2 jam pelajaran atau 2 kali 45 menit. Blog Vaganza diadakan selama dua hari di tiap sekolah, di mana per harinya ada 4 kelas yang selalu penuh diisi siswa/siswi yang ingin belajar. Setelah kelas untuk siswa selesai diadakan, biasanya akan diadakan satu kelas khusus untuk para guru sekolah tersebut. Kegiatan ini mendapat liputan dari Detik.com. Setelah para siswa/siswi dan guru itu merasakan bahwa Speedy memang merupakan akses internet dengan “Speed that you can trust”, mereka kemudian akan tertarik untuk menjadi pelanggan Speedy. Sebagai wujud kepedulian kepada dunia pendidikan, Telkom Bandung pun kemudian memberikan harga spesial kepada komunitas ini.
Selain kepada para siswa dan guru, Telkom Bandung pun mengadakan pelatihan internet untuk komunitas lain. Yang selama ini sudah pernah dilaksanakan adalah untuk komunitas ibu rumah tangga, perkumpulan istri karyawan bank, para pegawai instansi pemerintahan, dan lain-lain. Tempatnya pun bervariasi, dari mulai dilaksanakan di kantor Telkom, sampai di sebuah restoran cepat saji Tony Jacks di kompleks Bandung Indah Plaza. Semuanya diberikan secara gratis, dan selain itu, peserta juga mendapat snack. ![]()
Dengan memberikan pelatihan-pelatihan tersebut, Telkom Bandung telah membuktikan dukungannya kepada komunitas. Selain itu, Telkom Bandung telah berhasil melakukan kerja sama yang baik dengan para mitranya yaitu Axioo, Blog Detik dan Detik.com, serta Tony Jacks. Jadi selain melakukan promo, Telkom Bandung juga melaksanakan kewajiban Corporate Social Responsibility-nya, sekaligus melaksanakan kewajiban kepada para stake holdernya. Semoga kegiatan ini makin memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa bersama Telkom, maka “Dunia Dalam Genggaman”.
Novel karya Donny Dhirgantoro ini memang bukan novel terbitan baru. Kubaca di halaman awal novel, terbitan pertamanya di tahun 2005. Aku membelinya juga udah cukup lama, meski lupa persisnya kapan, karena tidak kutulis tanggal pembeliannya. Kubaca juga bahwa novel yang kubeli itu adalah terbitan ke-12. Berarti bener2 novel Best Seller. Tapi aku baru bacanya hari Sabtu kemarin, pada kesempatan long weekend lebaran Idul Adha ini..
Dulu waktu pertama aku liat novel ini, dengan cover hitam pekat dan judul singkat “5 Cm”, aku kira ini sejenis novel detektif atau novel horor
. Baru setelah kubaca summary di cover belakangnya, ternyata ceritanya tentang persahabatan lima orang terdiri dari empat cowok dan satu cewek. Namanya masing-masing: Arial, Zafran, Ian, Genta, dan Riani. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama, kemana-mana berlima, makan bareng, nonton bareng, nongkrong bareng, gila-gilaan bareng. Sampe suatu hari mereka merasa bahwa mereka sudah terlalu sering bersama-sama, sehingga merasa terlalu nyaman tapi juga bosan. Lalu mereka sepakat untuk tidak bertemu dan berkomunikasi dulu selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan mereka berpisah, terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya.
Kira-kira itulah yang dibilang summary di cover belakang novel itu. Lalu apakah isi sebenarnya memang seperti itu? Berdasarkan yang kubaca, maka aku akan jawab: tidak sepenuhnya seperti itu. Kok bisa?
Awalnya memang masih sesuai. Perkenalan masing-masing tokoh dengan masing-masing karakternya. Lalu cerita-cerita mereka selama menghabiskan waktu bersama. Lalu sampai mereka memutuskan untuk berpisah selama tiga bulan. Lalu cerita bagaimana masing-masing tokoh itu melewatkan waktu selama tiga bulan itu. Dan berdasarkan yang kubaca, yang mengalami hal yang mengubah hidup mereka hanya dua orang, yaitu Ian dan Arial. Yang lain, menurutku, hanya menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.
Tiga bulan berlalu. Lima sahabat itu telah bertemu lagi. Ditambah satu tokoh lagi yaitu adiknya Arial, mereka berencana melakukan sebuah perjalanan. Sampai kisah ini, jumlah halaman novel yang kubaca sudah sekitar setengahnya, dari total 379 halaman. Pada titik ini, aku mulai meragukan ke-best-seller-an novel ini. Sudah setengah buku kok belum ada serunya. Lalu setengah buku lagi, bakal seperti apa ceritanya? Di summary hanya disebut, mereka merayakan pertemuan mereka dengan melakukan sebuah perjalanan. Nggak disebutkan perjalanan apakah itu.
Atas nama tanggung, akhirnya kupaksa diriku membaca terus. Ternyata mereka berlima, ditambah adik kembar Arial yang biasa dipanggil Dinda merencanakan untuk mendaki Gunung Mahameru dan ikut merayakan Peringatan Kemerdekaan Indonesia di puncaknya. Perjalanan dimulai dengan naik kereta ekonomi dari Jakarta menuju Malang. Selama perjalanan, meski ada bagian yang menceritakan sebuah peristiwa yang cukup mengharukan tentang para penjual nasi di stasiun Yogya, aku masih menganggapnya biasa saja. Akhirnya mereka sampai di tujuan di stasiun Malang, lalu mereka mencari angkot untuk dicarter menuju sebuah pangkalan jip. Begitu perjalanan dilanjutkan naik jip off road, aku baru mulai menemukan hal menarik. Dari mulai cerita dinginnya udara yang dirasakan para penumpang jip, lalu bagaimana mereka melompat menggapai daun minyak kayu putih dari pohon yang dilewati oleh jip, lalu ketika jip berhenti di sebuah tikungan untuk melihat pemandangan menakjubkan dari Mahameru dan Bromo. Ugh… dari deskripsi yang tertulis di situ, aku bener2 berharap bisa menyaksikan keindahan itu dengan mata kepalaku sendiri.
Dan sampai novel selesai kubaca, yang selalu menarik perhatianku adalah ketika penulis menggambarkan keindahan alam yang dilalui selama perjalanan sampai puncak Mahameru. Terutama ketika rombongan sampai di danau Ranu Kumbolo dan di puncak gunung Mahameru. Lagi2 aku berharap aku bisa menyaksikannya sendiri secara langsung.
Makanya ketika aku baca di blog 5 Cm, bahwa saat ini novel tersebut sedang dalam proses pembuatan menjadi film, aku termasuk yang setuju supaya syuting filmnya nanti beneran di Mahameru. Jangan hanya di studio. Katanya sih film tersebut akan rilis tahun depan. Smoga memang hasilnya bisa seindah gambaran novelnya.
Lalu gimana nih kesimpulannya, novel ini rekomended nggak? Hm.. kalo aku sendiri sih hanya suka membaca bagian perjalanan ke Mahamerunya. Tapi ini bener2 subyektif menurut aku lho… Sementara kalo aku baca-baca kesan dari pembaca lain yang juga sedikit dibahas di novel itu, ternyata ada pembaca yang termotivasi setelah membaca novel ini. Ada pembaca yang merasa hidupnya berubah setelah membaca novel ini. Dan dengan bukti bahwa novel ini sampe dicetak ulang sampe lima belas kali, maka secara logika novel ini memang bagus.
Kalo ada pertanyaan kenapa judulnya “5 cm”, di mana letak “5 cm” dalam novel tersebut? Hehehe.. aku nggak mau spoiler. Silakan temukan sendiri jawabannya dengan membaca novel itu. Buat sang pengarang, ide anda tentang “5 cm” ini keren.
Dan kalo ada pertanyaan kenapa aku nggak termasuk orang yang termotivasi setelah membaca novel ini, hmm.. mungkin memang motivasi dalam diriku sudah mati suri. Sehingga nggak mudah dibangunkan hanya dengan membaca sebuah novel best seller. Maaf, Donny. Masalahnya ada di aku kok, bukan di novelmu.. Tapi kalo boleh ngasih saran, berikan sedikit gambaran yang lebih menarik tentang perjalanan ke Mahameru itu di cover belakang novel, dari pada sekedar kalimat “perjalanan yang mengubah hidup mereka”.
Hari Kamis tanggal 26 November kemarin, ada dua orang yang kutemui yang menyebutku “aktivis blogger”. Sebutan yang membuat aku jadi senyum agak malu, karena udah dua bulan lebih aku tidak mengupdate blog-ku ini. Yang membuatku cukup surprise, salah seorang yang mengatakan hal itu adalah Pak Widi Nugroho, Head of Digital Business PT Telkom. Meski kami bekerja di perusahaan yang sama dan berteman di Facebook, tapi baru kali itu aku bersalaman dengan beliau di dunia nyata. Eh ternyata beliau menyebutku seperti itu. Hihihi.. aku pun jadi seperti termotivasi untuk segera mengupdate blog-ku. Makasih ya, Pak.. Makasih juga buat seorang temen lain yang juga menyebutku seperti itu. Aku menerimanya sebagai pujian ![]()
Oh iya, hari itu aku ke Jakarta karena ada undangan acara sosialisasi tentang Speedy Games. Jadi ya, seperti sudah banyak diekspose di media massa, Telkom telah bertransformasi dari perusahaan yang semula hanya berbisnis Telekomunikasi, menjadi perusahaan yang berbisnis TIME (Telekomunikasi, Informasi, Media, dan Edutainment). Sebagai salah satu perwujudan perubahan portofolio bisnis itu, maka untuk ke depan, Telkom tidak hanya menyediakan pipa seperti yang selama ini telah dilakukan, tapi juga akan lebih fokus di bisnis konten, baik melalui akuisisi perusahaan yang sudah ada atau membuat anak perusahaan baru. Beberapa waktu lalu Telkom telah melaunching situs Mojopia yang diharapkan akan menjadi portal e-commerce terbesar di Indonesia. Dan untuk layanan Speedy, Telkom akan menyediakan konten-konten spesial yang akan makin memanjakan pelanggannya. Salah satunya Speedy Games ini, yang merupakan hasil kerja sama Telkom dengan sebuah content developer.
Dengan sistem berlangganan bulanan, yang tagihannya akan digabung dengan tagihan Speedy biasa, pelanggan Speedy akan bisa menikmati berbagai games berlisensi, yang jumlahnya akan bertambah terus. Games berlisensi akan membuat para pecinta games tidak perlu khawatir dengan razia yang belakangan ini sering dilakukan pihak berwenang. Selain itu, dengan tersedianya games-games yang bisa dinikmati di rumah melalui layanan Speedy, maka para pecinta games tidak perlu mendatangi games center, dan para orang tua jadi berkurang kekhawatirannya karena anak-anaknya tidak perlu keluar rumah untuk bermain games. Kedengarannya menarik ya? Makanya buruan kunjungi Speedy Games dan segera daftarkan nomor Speedy-mu di situ. Bagaimana jika belum punya Speedy? Ya gak usah bingung. Tinggal datang ke kantor Telkom terdekat dan segera pasang Speedy. ![]()
Ok deh, cukup berpromosinya. Sekarang aku mau cerita sisi lain dari perjalanan ke Jakarta itu. Sebenarnya aku udah berencana untuk cuti pada hari Kamis itu, ngambil moment lebaran Idul Adha untuk pulang kampung lebih lama. Tapi kemudian rekan kantorku ngajak aku untuk ikutan acara sosialisasi Speedy Games itu. Ngeliat topik yang nampak menarik itu, secara aku sedang tertarik dengan hal-hal terkait konten dan komunitas, maka aku pun memutuskan untuk menunda cutiku demi acara itu. Tadinya aku pikir kami akan naik mobil, seperti yang orang-orang lakukan jika melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Tapi pada hari Rabu sore itu, temenku ngajak naik kereta api, dari pada harus bermacet-macet naik mobil. Semula aku enggan, karena aku khawatir kalo naik kereta api, maka kami akan kemaleman sampe ke Bandung, secara di undangan tercantum acara selesai jam 15.30 WIB. Sementara aku udah pesen tiket travel pulkam untuk hari Kamis malem. Kemudian aku tanya ke temenku yang jadi tuan rumah acara itu, kira-kira selesainya jam berapa. Dia jawab, nggak akan sampe sore kok. Akhirnya aku mau juga naik kereta api. Aku cari jadwal kereta api Bandung – Jakarta – Bandung, dan menemukan jadwal yang kira-kira pas adalah berangkat naik kereta jam 6.35 pagi dan pulang naik kereta jam 13.30. Aku infokan ke temenku yang mau berangkat bareng, dan dia setuju. Nampaknya semua akan beres, pikirku malam itu.
Hari Kamis paginya, sekitar jam 6 pagi kurang sedikit, temenku nelepon. Dia udah sampe di stasiun, sementara aku baru mau berangkat. Dia usul gimana kalo nanti kami pulang lebih awal, jangan jam 13.30. Dia bilang dia ada acara jam 15.00 di Bandung. Jadi kalo bisa, jam 12.00 kami udah pulang dari Jakarta. Meski kaget dan sebel, aku bilang supaya dia coba liat jadwal kereta api, apakah ada yang ke Bandung jam segitu. Sambil kubilang juga, bahwa kalo kami pulang jam 12.00, berarti acara pasti belum selesai. Dia bilang nggak apa-apa, nanti kami bisa minta ijin ke penyelenggaranya. Aku males berdebat. Aku pun berangkat ke stasiun. Di sana bertemu dengan temenku, lalu dia bilang dari pada harus nunggu kereta jam 13.30, gimana kalo nanti pulangnya naik travel aja. Pembicaraan nggak berlanjut, karena kami lalu masuk kereta api. Perjalanan cukup lancar, kereta nyampe di Gambir tepat waktu jam 09.45. Sebenarnya jika ngikuti skenario awal bahwa kami mau pulang naik kereta api jam 13.30, aku mau langsung beli tiket pulang di Gambir. Karena aku pikir menjelang long weekend ini, penumpang kereta pasti penuh. Tapi karena tadi di Bandung, si boss itu bilang pengin naik travel, maka aku pun nggak jadi melaksanakan rencana awal. Disambut gerimis di luar stasiun, kami kemudian mencari bajaj untuk menuju ke kantor Telkom tempat pelaksanaan acara.
Acara dimulai sekitar jam 10, dibuka oleh Pak Widi. Jujur aja aku selalu suka acara sharing knowledge seperti ini, karena bisa membuka wawasan. Jadi pikiran nggak melulu terpaku pada sales, program, event, dan rutinitas-rutinitas lain. Tapi konsentrasiku agak terganggu dengan pikiran tentang tiket pulang yang belum kepegang. Sekitar jam 11-an aku coba hubungi agen travel ke Bandung buat pesen tiket. Tapi ternyata aku disuruh langsung datang ke pool, nggak boleh pesen via telepon. Aku kemudian bergeser ndeketin tempat duduk temenku buat ngomongin hal itu. Ternyata dia juga udah nelepon agen travel yang sama dan dapet jawaban serupa. Dia bilang travel itu banyak, kami pasti dapet tempat duduk. Saat itu udah mulai ada perasaan gondok di hatiku, karena kami sudah melepaskan kesempatan naik kereta, tapi ternyata travel pun belum ada kepastian kami dapat yang jam berapa.
Mendekati jam 12, acara break untuk pelaksanaan sholat dan makan siang. Setelah sholat, temenku ngajak kami pergi duluan ninggalin acara. Aku bilang, mending kami makan siang dulu. Kemudian temenku mengatakan sesuatu yang bikin aku harus menyabar-nyabarkan diri. Dia bilang, dari pada ke travel belum tentu dapet kursi, mending kami ke Gambir aja naik kereta jam 13.30. Halloww, apa kabar dengan keinginan dia pulang lebih cepat naik travel? Kalo akhirnya mau pulang naik kereta, mending beli tiket dari tadi. Kalo ngedadak gini, aku nggak yakin dapet, karena mau long weekend. Lalu aku mengatakan pada diriku sendiri, menggerutu sekarang tidak ada gunanya. Jadi setelah makan siang dan sedikit mengikuti kelanjutan acara, maka sekitar jam 13 kurang, kami perlahan-lahan meninggalkan ruangan. Naik bajaj lagi menuju Gambir. Sampai di sana, kami menjumpai antrian calon penumpang untuk membeli tiket jam 13.30, tapi ternyata kursinya udah abis. Yang mungkin masih ada kursi adalah kereta yang jam 14.30. Temenku nggak mau, jadi dia ngajak kami pergi nyari travel. Pada saat kami berjalan menuju keluar stasiun, aku sempet berharap, kalo saja ada calo tiket, mungkin masalah kami akan terbantu. Tapi kayaknya calo memang sudah diberantas.
Setelah sedikit kena gerimis di luar stasiun, kami lalu naik taksi menuju ke pool travel di Jalan Blora. Pada saat naik taksi, temenku sempat nanya ke sopir taksi, barangkali si sopir mau nganterin sampai Bandung dengan harga tertentu. Rupanya temenku itu sudah gelisah karena mikirin acara dia di Bandung. Tapi sopir taksinya menolak, karena itu udah di luar wilayah dia, sehingga kalo ada apa-apa dia tidak akan ditanggung oleh perusahaan. Kami nyampe di pool travel sekitar jam 13.20 dan langsung mendaftar travel. Ternyata untuk keberangkatan jam 13.30 dan jam 14.00, kursi udah penuh. Jadi kami dapet keberangkatan jam 14.30. Deg… keki rasanya hati ini. Udah dibela-belain jauh-jauh ke sini, akhirnya dapet jadwal sama dengan jadwal kereta api yang kami tinggalkan di stasiun tadi. Tapi ya sudahlah, udah kejadian gini. Aku hanya bisa berharap, semoga kami tidak terjebak macet menjelang long weekend, karena aku takut kalo kemaleman sampe Bandung, bisa-bisa aku ditinggal travel pulkam-ku.
Sambil nunggu waktu keberangkatan, temenku bilang, harusnya kami tadi langsung beli tiket kereta pulang begitu nyampe di Gambir tadi pagi. Aku jawab, tadinya aku udah rencana gitu. Tapi karena katanya mau naik travel karena pengin lebih cepet, maka aku batalin. (Lalu aku sambung dalam hati, akhirnya malah gini. Bukannya lebih cepet, malah lebih lama dan berputar-putar. Padahal udah bela-belain ninggalin acara yang belum selesai.) Temenku bilang, dia lupa kalo besok itu long weekend, makanya dia nggak nyangka kalo tiket kereta cepet habis. Aku bergumam dalam hati, itulah kalo nggak mau ndengerin orang lain. Perasaanku sih aku udah bilang soal long weekend itu dari malam sebelum kami pergi itu, pada saat aku bilang soal jadwal kereta api pulang pergi itu.
Akhirnya travel berangkat juga membawa kami. Sempat mengalami kemacetan dalam kota Jakarta, tapi alhamdulillah menjelang Bandung tidak ada antrian di pintu keluar. Bahkan sebaliknya, aku liat antrian berkilo-kilometer di pintu tol Padalarang ke arah Jakarta. Sempet bikin aku heran, karena biasanya kalo long weekend maka tol ke Bandung yang macet. Malamnya aku baca status Fesbuk temenku, dia harus menghabiskan waktu 2 jam dari jalan layang Pasupati sampai tol Padalarang.
Meski seharusnya travel berhenti di poolnya di Jalan Cihampelas, kami berdua memilih turun di Jalan Pasteur, dengan pertimbangan di Jalan Cihampelas pasti akan macet. Sementara kami masih harus kembali ke stasiun kereta, di mana kami meninggalkan mobil kami tadi pagi. Hujan gerimis yang cukup rapat menyambut kami waktu keluar dari travel. Taksi yang biasanya banyak di sepanjang jalan, kali ini sulit kami temukan. Mungkin karena cuaca yang hujan. Daripada berlama-lama kena hujan, akhirnya kami menyetop angkot jurusan stasiun. Di dalam angkot, temenku berkata, “Hari ini kita naik bermacam mode transportasi umum ya. Dari mulai kereta api, bajaj, taksi, travel, dan akhirnya angkot. Betul-betul perjalanan yang panjang.” Aku menjawab dengan senyum. Dalam hati aku bersyukur bahwa hari itu aku membawa jaket yang ada tutup kepalanya. Jadi meski berkali-kali kami bertemu hujan gerimis, aku ngerasa cukup terlindungi. Tidak seperti temenku itu yang terpaksa menaruh tas di atas kepala untuk melindunginya. Kami sampe di stasiun pada saat adzan maghrib berkumandang. Di situ kami berpisah, menuju mobil masing-masing, dan pulang ke rumah.
Dan malamnya, sekitar jam 9, travel lain menjemputku dan mengantarku ke rumah orang tua di kampung halaman. Alhamdulillah, jadi juga aku berlebaran dan bersilaturahmi dengan keluarga tercinta. Saatnya menge-charge hati dan me-refresh diri supaya lebih segar menghadapi rutinitas di perantauan pada hari-hari selanjutnya.
PS:
Sebenarnya aku agak berharap pada acara di Jakarta itu aku punya kesempatan bertemu dengan seorang temen yang udah lama tak kutemui. Tapi nampaknya dia sedang sibuk, atau ada acara lain, sehingga dia tidak ada di acara itu. Tak papa lah.. toh tujuanku ke Jakarta memang bukan untuk ketemu dia, tapi untuk menambah ilmuku..
Undangan acara ini aku terima dari Diki via Facebook pada hari Kamis 3 September 2009 jam 4 sore. Sempet ragu, mau dateng atau nggak. Apalagi sebelumnya aku abis keliling mengunjungi pelanggan2 Telkom, sebagai salah satu tugas pelatihan yang sedang kuikuti, dan sekaligus dalam rangka Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada tanggal 4 September 2009. Capek dan kepanasan, pengin segera pulang. Tapi kemudian aku inget, pada hari2 sebelumya aku sering ngerasa iri ngeliat banyaknya acara2 menarik di Jakarta yang tidak mungkin kuikuti. Dan aku juga sering berpikir, seandainya ada acara2 sejenis itu ada di Bandung, pasti aku mau dateng. Nah sekarang beneran ada acara menarik yang dilaksanakan di Bandung, masa sih aku melewatkan kesempatan ini. Jadi aku pun memutuskan menunda kepulanganku untuk dateng di acara itu.
Aku nyampe ke Common Room sekitar jam setengah 6 lewat. Seperti biasa, meski di undangan disebutkan acara mulai jam setengah 6, nyatanya masih belum banyak yang dateng. Menjelang dan setelah adzan maghrib, satu persatu muncul blogger yang kukenal. Tamu lain yang datang nampaknya dari komunitas industri kreatif. Setelah buka puasa selesai, sekitar jam 7, barulah acara inti dimulai.
Presentasi pertama disampaikan oleh Enda Nasution. Beliau memaparkan latar belakang pengembangan portal Indonesia Kreatif. Mengenai besarnya potensi industri kreatif di Indonesia, tapi selama ini infonya masih tersebar di banyak situs. Belum ada wadah yang terpadu, yang akan memudahkan pelaku industri kreatif untuk saling berinteraksi, antara yang membutuhkan dengan yang bisa menyediakan. Itulah salah satu tujuan dibuatnya portal Indonesia Kreatif yang beralamat di http://indonesiakreatif.net. Situs ini nantinya diharapkan akan seperti deviantART-nya Indonesia, di mana para pelaku industri kreatif bisa menyimpan karyanya, sehingga jika ada yang membutuhkan, akan mudah menemukannya.
Presentasi kedua disampaikan oleh konsultan Departemen Perdagangan sebagai pemilik program ini, Cokorda Istri Dewi, atau biasa disapa Bu Dewi. Beliau memaparkan mengenai Perjalanan Pengembangan Ekonomi Kreatif oleh Pemerintah sejak tahun 2006, sampai akhirnya pada tanggal 5 Agustus 2009, terbit InPres No. 6 Tahun 2009 tentang Ekonomi Kreatif. Beliau mengatakan bahwa program ini merupakan kerja bersama beberapa departemen dan BUMN (khususnya bank pemerintah), karena program ini tidak akan berhasil tanpa dukungan berbagai pihak.
Materi presentasi dari Enda dan Dewi bisa dilihat di page Ekonomi Kreatif di Facebook. Jika berminat untuk mengetahuinya, silakan jadi fan di page itu dulu..
Presentasi ketiga disampaikan oleh Gustaff Hariman Iskandar, dari komunitas kreatif Common Room. Beliau memaparkan perjalanan dan potensi industri kreatif di Bandung, berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan Common Room. Sayangnya, kata beliau, survey yang dia lakukan adalah atas biaya dari lembaga luar negeri, sehingga biasanya ada hidden agenda dari para donator itu.
Berita tentang acara malam itu bisa juga dibaca di halaman Pikiran Rakyat ini.
Diskusi dengan komunitas kreatif antara lain mempertanyakan mengenai cara mendaftarkan paten yang dinilai masih cukup sulit. Sang penanya membandingkan dengan salah satu negara lain, di mana pemerintah menyebarkan lembaran kertas resmi kepada warganya, dan jika ada seorang warga Negara yang membuat karya di atas kertas itu, maka otomatis dia mendapatkan paten untuk karyanya itu. Sempat juga ditanyakan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu tentang klaim-klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, yang menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia memang belum terlalu peduli dengan masalah hak cipta. Bu Dewi menjawab bahwa masalah prosedur hak paten itu akan menjadi masukan.
Acara yang semula dijadwalkan akan selesai pada pukul 9 malam ternyata mundur sampai lebih dari jam setengah sepuluh. Dan seperti biasa, setelah acara selesai, ada sesi foto-foto peserta. Tapi tetep aja yang gila foto adalah para blogger. Sedangkan komunitas kreatif lainnya sudah berpindah ke bagian depan gedung Common Room, melanjutkan diskusi dalam suasana yang lebih informal.
Foto diambil dari album di page Ekonomi Kreatif.
Buat pihak penyelenggara, terima kasih atas sharingnya. Mengutip komentar dari Endhoot terhadap acara tersebut, seandainya semua kebijakan pemerintah disosialisasikan dengan cara yang menyenangkan sebagaimana Depdag mennsosialisasikan program Indonesia Kreatif ini, pasti orang-orang akan semangat mengikutinya. Setuju banget! ![]()
Btw, sedikit tambahan informasi, Telkom melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) sudah cukup lama mendukung industri kreatif. Sesuai aturan pemerintah, maka sekian persen dari profit Telkom digunakan untuk memberikan pinjaman lunak dengan syarat mudah dan bunga rendah kepada para pengusaha kecil. Program ini dikelola oleh sebuah unit khusus yang dinamakan CDC (Community Development Center). Tiap tiga bulan, unit ini mendistribusikan bantuannya di semua wilayah Kandatel (Kantor Daerah Pelayanan Telekomunikasi). Selain itu, dukungan Telkom untuk industri kreatif diwujudkan melalui kompetisi Indigo Fellowship Award 2009 dengan tag-nya “For Brighter Indonesian Digitalpreneur”, di mana dalam kompetisi ini semua ide kreatif yang didaftarkan akan dinilai, dan pemenangnya akan mendapatkan dana pembinaan serta kesempatan untuk menggunakan semua fasilitas di Playground-nya Indigo. Informasi terakhir dari situs reminya itu, dari 700 pendaftar, sebanyak 80 abstraksi telah lolos seleksi awal. Rencananya pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2009. Semoga tidak mundur
. Dan entah kebetulan atau memang direncanakan, pengumuman pemenang ini dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Pesta Blogger 2009 pada tanggal 24 Oktober 2009.




















Recent Comments